pencil

Nasihat Untuk Anak Bangsa

Tujuh puluh tiga tahun sudah bangsa ini merdeka. Dalam waktu yang cukup lanjut tersebut, bangsa ini telah berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya. Bangsa ini pun merangkak setapak demi setapak tuk kembangkan peradabannya. Walaupun kadang tersendat karena krisis, pembangunan bangsa ini tetap eksis tiada terhenti. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, jalan raya tertumpuk bak dedaunan tersusun rapi. Kemajuan teknologi informasi pun tak kalah pesat. Pada zaman now yang serba moderen, untuk mendapatkan sebuah informasi semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya bisa didapatkan dalam hitungan detik.

Namun sayang seribu sayang, kemajuan Iptek yang pesat tersebut tidak diimbangi dengan usaha untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa yang tangguh; dapat menghadapi segala tantangan zaman.

Anak-anak bangsa ini cenderung mengikuti arus bebas yang menyeret mereka ke dalam kenistaan. Narkoba, miras, seks bebas, homo, lesbian, pornografi dan pornoaksi menodai harian bangsa ini. Mereka cenderung mengikuti gaya hidup orang barat yang kebablasan, berdalihkan HAM.

Orang memberi nasihat dikatakan ikut campur. Orang tanya keadaannya dibilang kepo. Orang berbuat baik dicap munafik. Orang hijrah menuju sunnah disangka teroris. Tapi mirisnya, anak cewek ‘main’ dengan cowok malam-malam sudah biasa, bahkan kumpul kebo dianggap lumrah, orang umbar aurat dipuja, orang tutup aurat dikucilkan, berbagai bentuk eksploitasi kecantikan dielukan, konser musik pemuja syetan digandrungi. Belum lagi tawuran, kenakalan remaja, pelecehan seksual dan berbagai kebejatan moral membuat kita elus dada.

Tapi kita tidak bisa hanya menyalahkan mereka. Karena bangsa merupakan satu-kesatuan yang saling terkait. Itu semua terjadi karena kita belum bisa membentengi anak-anak bangsa ini dengan iman. Kita belum bisa menjadi tauladan yang baik bagi mereka. Sebagai kepala keluarga mungkin kita lalai menjaga mereka. Sebagai guru mungkin kita masih hilaf dalam mendidiknya. Sebagai pemimpin bangsa dan pejabat negara mungkin kita lebih sibuk memenuhi ambisi  dan kepentingan golongan. Mungkin kita lebih banyak lalai dan teledor, sehingga banyak kebobolan.

Wahai Anak Bangsa…!

Sadarlah…!

Bangkitlah…!

Belum terlambat untukmu tuk berbaiki keadaan negeri ini. Sadarlah, bahwa semua yang terjadi pada anak-anak bangsa ini bukanlah kemajuan! Itu bukanlah sesuatu yang keren! Bukan pula peradaban! Justru itu semua merupakan kemunduran dan keterbelakangan.

Wahai para pemimpin sadarlah akan tanggung jawabmu atas apa yang kamu pimpin. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kalian pimpin. Seorang imam adalah pemimpin bagi rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.” [HR. Bukhari: 893]

Sebenarnya, apa yang kau kejar di kehidupan yang fana ini?! Kekayaan?! Ketenaran?! Kepuasan hawa nafsu?!

Ingatlah sesunggunya kita hanya mampir sejenak dan akan melanjutkan perjalanan yang nan jauh dalam kehidupan yang kekal. Untuk apa menumpuk harta tanpa keimanan?! Untuk apa ketenaran yang akhirnya akan menjadikanmu budak dunia?! Bertahanlah sejenak! Dunia ini tidaklah lama; hanya sekejap.

Allah subhanahu wa ta’ala berfiman:

{قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى}

Artinya: “Katakanlah: Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang yang bertaqwa.” [QS. An-Nisa`: 77]

Dalam ayat lain Dia juga berfirman:

{كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا}

Artinya: “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” [QS. An-Nazi’at: 46]

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

Artinya: “Jadilah (hiduplah) di dunia ini seakan-akan seperti orang asing atau seorang pengembara.”  [HR. Bukhari: 6416]

Apabila kita sadar betul akan ke-fana-an dunia ini, dan sadar betul akan adanya kehidupan kekal setelah kematian, dan bahwasannya kita akan kembali ke haribaan-Nya, niscaya kita akan lebih mawas diri dalam bertindak. Niscaya kita akan memanfaatkan potensi pada diri kita untuk sesuatu yang lebih bermanfaat untuk umat. Niscaya kita akan mengefektifkan setiap modal yang kita miliki.

Sebagaimana Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam titahkan dalam sabdanya:

«اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ»

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu dan hidupmu sebelum kematianmu.” [HR. An-Nasa`i dalam kitab As-Sunan Al-Kubra: 11832]

Jadikanlah hari kemerdekaan negara ini sebagai momen untuk introspeksi diri dan up grade kualitas iman dan amal kita. Semoga negara ini akan benar-benar merdeka dalam segala aspek kehidupan. Merdeka dan berdaulat yang sempurna, baik secara kenegaraan, politik, ekonomi serta dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Semua itu tidaklah mungkin dapat dicapai -wahai Anak Bangsa!-, melainkan dengan kerja kerasmu dan usaha untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan kita –rahimahumullah-, dalam menggapai masa depan yang gemilang, merdeka dengan sebenar-benarnya merdeka.

 

Jakarta, 17 Agustus 2018