pencil

HAMKA Pernah Berpaham Pluralisme Agama ?

Tema ini pernah menjadi ramai beberapa tahun yang lalu. Beberapa cendekiawan memperdebatkannya, dengan merujuk pada perkataan Buya HAMKA rahimahullah dalam Tafsir AlAzharnya.

Pluralisme sendiri, sebagaimana didefinisikan oleh Majelis Ulama Indonesia pada fatwanya tahun 2015, adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

Kami tidak akan menyinggung perkataan Buya HAMKA dalam Tafsir al Azharnya karena itu telah berlalu didebatkan. Disini kami akan menukil perkataan Beliau pada bukunya yang lain, yakni “Pelajaran Agama Islam”.

Yang kami temui memang agak mengejutkan: Buya memang “pernah” berpaham “mirip-mirip” pluralisme agama.

Hanya saja, alhamdulillah, beliau menarik pendapatnya tersebut.

Pada cetakan ke-1 tahun buku Pelajaran Agama Islam yang diterbitkan oleh Bulan Bintang pada tahun 1956, ketika Buya HAMKA menjelaskan tentang kepercayaan terhadap Hari Akhir sebagai salah prinsip agama, Beliau kemudian menukil firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat ke-62:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلصَّٰبِ‍ِٔينَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (percaya) dan orang-orang yang beragama Yahudi, dan Nasrani, dan agama Shabi’, siapa yang percaya dengan Allah dan hari yang akhir, dan mengerjakan amal yang saleh, maka bagi mereka itu pahala di sisi Tuhan ; dan tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka itu akan berduka cita.”

Setelah menukil firman Allah di atas, Buya HAMKA seterusnya menjelaskan sebagai berikut:

“Alangkah luas pandangan yang ditanamkan Tuhan dengan perantaraan Nabi-Nya kepada sidang manusia di dalam ayat ini. Tujuan seluruh keagamaan hanyalah satu, yaitu ‘percaya kepada Allah dan Hari Kemudian’, diiringi dengan bukti, yaitu berbuat baik, beramal saleh. Adapun nama agama yang dipeluk, meskipun berlain-lain, ada Yahudi, ada Nasrani, ada Shabi’, dan ada Islam, itu semuanya hanya kulit belaka. Sebab manusia kadang-kadang terledor memonopoli agama Tuhan menjadi hak bagi suatu golongan. Padahal intisari seluruh agama itu ialah kesatuan kepercayaan.”

“Bagaimana juapun manusia mempersempit pandangan di dalam hidup, namun manusia tidaklah dapat memungkiri bahwasanya manusia yang berbakti didalam memeluk setiap agama, akan mendapat derajat dan martabat yang tinggi karena tingginya mutu kepercayaan kepada Tuhan Allah dan Hari Kemudian. Bagaimanapun kadang-kadang sempitnya pandangan hidup manusia, mereka tidak dapat memungkiri bahwa di seluruh agama itu ada orang yang berbuat baik dan beramal saleh. Baik dia Yahudi, atau Nasrani, atau Shabi’, dan apatah lagi Islam.”

“Dan kepercayaan kepada Allah dan Hari Akhirat, hanyalah didapat karena menyerahkan diri dengan rela-hati kepada llahy. Penyerahan hari dengan rela kepada Ilahy, dalam bahasa Arabnya ialah ‘Islam’.”

(selesai nukilan)

Pernyataan Buya di atas memang kuat sekali menunjukkan bahwa saat itu Beliau berpaham “mirip” pluralisme agama. Ini terlihat dari ungkapan Beliau bahwa nama agama yang dipeluk, entah Yahudi, Nasrani, Shabi’, ataupun Islam itu hanyalah “kulit belaka”. Pandangan Buya ini mengingatkan pada definisi pluralisme agama yang disebutkan oleh MUI, yaitu “suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif”.

Beliau juga menyinggung tentang sebagian kelompok yang secara sembrono “memonopoli agama Tuhan menjadi hak bagi suatu golongan”, karena sesungguhnya intisari seluruh agama itu, baik Yahudi, Nasrani, Shabi’, maupun Islam, ialah kesatuan kepercayaan. Pendapat Buya ini sejalan dengan pandangan pluralisme yang disebutkan oleh MUI, bahwa menurut paham pluralisme “setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah”.

Beliau selanjutnya menegaskan bahwa orang-orang yang berbakti didalam memeluk “setiap agama” akan mendapat martabat dan derajat yang tinggi seiring dengan tingginya mutu dan kepercayaannya kepada Allah dan Hari Akhir. Bahkan Buya juga menegaskan bahwa di seluruh agama itu ada orang yang “berbuat baik dan beramal saleh”. Pendapat ini, lagi-lagi, sejalan dengan definisi pluralisme yang disebutkan oleh MUI bahwa menurut paham pluralisme agama “semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga”.

Pandangan Beliau ini masih Beliau pertahankan, setidaknya sampai dengan cetakan ke-3 buku Pelajaran Agama Islam yang terbit pada tahun 1961. Bahkan pada cetakan ke-3 Beliau mempertegas pendirian Beliau tersebut dengan memberikan tambahan keterangan pada catatan kakinya sebagai berikut :

“Timbul pertanyaan dari beberapa peminat, bahwa kalau Islam membuka pintu seluas itu, sehingga orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in pun akan diberi ganjaran dan tidak merasa takut di dalam hidupnya, jika dia percaya kepada Allah dan Hari Akhirat, dan suka pula berbuat kebajikan, apakah lagi kelebihan kita sebagai orang Islam ? Dan bukankah itu menyebabkan orang mudah saja pindah ke agama lain ?”

“Kemusykilan itu tidak akan timbul jika seorang Muslim berfikir dengan tenang dan tha’at dalam lingkungan agamanya. Bila dia membaca ayat ini niscaya dia akan berkata dalam hatinya : ‘Sedangkan orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in lagi dijamin oleh Tuhan akan diberi ganjaran dan akan merasa ketentraman jiwa, lantaran percaya kepada Allah dan hari akhirat, lagi berbuat kebajikan, betapa lagi saya sebagai seorang Muslim yang beriman ?”

“Lantaran itu tidaklah dia akan mudah pindah agama, melainkan dia akan berusaha mempertinggi mutu imannya, sehingga mendalam benar-benar kepercayaannya kepada Allah dan hari akhirat dan diperbanyaknya amalnya yang saleh.”

(selesai nukilan)

Nukilan di atas menunjukan bahwa saat itu Buya masih berpandangan bahwa menurut ajaran Islam yang Beliau pahami “orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in pun akan diberi ganjaran dan tidak merasa takut di dalam hidupnya, jika dia percaya kepada Allah dan Hari Akhirat, dan suka pula berbuat kebajikan”.

Pada paragraf selanjutnya Beliau juga menegaskan pula bahwa orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in mendapat jaminan dari Tuhan akan mendapat ganjaran dan akan diberikan ketentraman jiwa jika mereka kepada Allah dan hari akhirat, lagi berbuat kebajikan.

Pandangan Buya HAMKA yang “nyerempet” ke paham pluralisme agama tersebut masih Beliau pertahankan pula sampai dengan cetakan ke-4.

Namun pada cetakan ke-5 tahun 1971, akhirnya Buya HAMKA menarik pendapatnya tersebut.

Pada halaman pendahuluan dari cetakan ke-5 Beliau menyinggung bahwa ada ketidakpuasan dalam diri Beliau ketika menafsirkan Surah Al Baqarah ayat 62 yang dimuat pada cetakan ke-1 sampai dengan cetakan ke-4.

Beliau rahimahullah menjelaskannya sebagai berikut ;

“Sekali lagi pengarang mengucapkan syukur, Alhamdulillah, karena ketika akan dicetak kelima kali ini dapat menelitinya kembali ; dapat menambah lagi mana yang kurang, menjelaskan lagi mana yang kurang jelas.”

“Lebih-lebih ketika menafsirkan ayat 62 Surat Al Baqarah, tentang orang beriman, orang Yahudi, orang Nashrani, dan Shabi-in yang telah benar-benar percaya kepada Allah dan Hari Kemudian, yang dijanjikan pahala dari sisi Tuhan dan dijanjikan tidak akan merasa takut dan tidak merasa dukacita, – terus terang pengarang nyatakan – bahwa tafsir ayat itu, baik di cetakan pertama atau sampai ke cetakan keempat, belumlah memuaskan. Tetapi sekarang, Alhamdulillah, setelah mempelajari lebih teliti di dalam hadits-hadits dan kitab-kitab tafsir yang mu’tamad, telah dapat kita jelaskan duduk perkara, dan buah penyelidikan yang seksama itu jauh berbeda dengan apa yang telah ditulis pada cetakan-cetakan yang telah lalu itu. Oleh sebab itu maka pada cetakan kelima ini para peminat telah dapat mengetahui perubahan atau telah meluasnya pendapat pengarang tentang ayat 62 Surat Al Baqarah itu.”

(selesai nukilan)

Buya dalam nukilan diatas mengakui bahwa penafsiran Beliau terhadap ayat 62 Surah Al Baqarah belum memuaskan dan dalam cetakan kelima ini Beliau menjanjikan revisi yang “jauh berbeda dengan apa yang telah ditulis pada cetakan-cetakan yang telah lalu itu”.

Lalu revisi apa yang Beliau lakukan ?

Dalam cetakan ke-5 dan seterusnya, Beliau menambahkan sekitar 8 halaman lagi – setelah penjelasan yang “berbau pluralisme agama” di atas – sebuah jawaban dari pertanyaan yang datang dari seseorang bernama Markasim dari Tuban.

Markasim menanyakan kepada Buya : orang Yahudi, Nashara, dan Shabi’in yang manakah yang dimaksud dalam Surah Al Baqarah ayat 62 ?

Buya kemudian menjawabnya sebagai berikut :

“Yang dimaksud dengan Yahudi, Nashara, dan Shabi’in pada ayat ini ialah Yahudi, Nashara, dan Shabi-in disegala zaman sejak zaman ayat diturunkan 14 abad yang telah lalu, sampai kepada zaman kita sekarang. Demikian juga orang-orang yang beriman yang disebut pertama kali, ialah orang beriman di segala zaman, sampai kepada zaman kita sekarang ini dan seterusnya.”

“Sebab, apabila orang yang telah mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat, niscaya sudah pasti dia musti percaya pula kepada rangkaian iman yang lain. Yaitu iman kepada malaikat, kepada kitab-kitab, dan kepada rasul-rasul Allah.”

(selesai nukilan)

Kemudian Buya menukil ayat ke-285 Surah al Baqarah yang menegaskan bahwa orang yang telah mengaku beriman kepada Allah, selain dari mempercayai malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, tidak membedakan di antara seorang pun daripada rasul Allah.

Selanjutnya Buya menegaskan suatu hal yang sangat berbeda dan belum pernah ada pada cetakan-cetakan sebelumnya sebagai berikut :

“Kalau ada di antara mereka yang hanya mengakui Nabi Musa jadi Rasul, tetapi mereka tidak mau mengakui kerasulan Nabi Isa dan Nabi Muhammad, sebagaimana orang Yahudi selama ini, tentu iman mereka belum diterima.”

“Kalau mereka hanya percaya kepada Nabi Isa saja, dan menolak dengan keras kerasulan Nabi Muhammad, niscaya iman mereka belum diterima.”

(selesai nukilan)

Pernyataan Buya di atas secara tidak langsung telah menarik pendapat lama Beliau pada cetakan-cetakan sebelumnya sebagaimana telah disebutkan diatas.

Buya kemudian menegaskan kembali pandangan “baru” nya tersebut, setelah sebelumnya menukil ayat ke-213 Surah al Baqarah, dengan menyatakan sebagai berikut

“Ayat ini (QS. Al Baqarah : 213) menjadi dasar dari apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW yang telah kita salinkan di atas tadi, yaitu bahwa sekalian Nabi itu agama mereka adalah satu.”

“Lantaran itu sudahlah sewajarnya dan sudahlah seyogyanya bagi orang yang mengakui dirinya Yahudi dan Nashara, atau Shabi-in apabila telah datang kepadanya berita Nabi Muhammad SAW sebagai penutup segala Nabi dan Rasul itu, bahwa dia sambut seruan itu dan dia pun menyatakan percaya ; ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah’ jua, sebagai Rasul-Rasul yang dahulu dari padanya jua.”

“Kalau mereka mengakui Nabi Allah Musa dengan Tauratnya, mengapa mereka tidak akan mengakui Nabi Muhammad dan Al Qur’annya dan Nabi Isa dengan Injilnya ? Padahal agama Nabi-Nabi itu hanya satu ?”

“Mengapa terjadi perselisihan ? Mengapa mereka menolak kerasulan Muhammad dan kesucian Al Qur’an, kalau mereka mengakui bahwa mereka percaya kepada Allah dan Hari Akhirat ?”

(selesai nukilan)

Dengan nukilan-nukilan yang ada pada cetakan ke-5 di atas Buya HAMKA ingin menegaskan bahwa seseorang, baik dia Yahudi, Nashara, maupun Shabi-in, tidak bisa disebut telah beriman kepada Allah dan Hari Kemudian tanpa beriman pula kepada kerasulan Nabi Muhammad dan kitab suci Al Qur’an. Dan dengan pendapat inilah Buya merevisi pendapat-pendapat “lama” Beliau yang ada pada cetakan ke-1 sampai cetakan ke-4.

Dan inilah pendapat terakhir Beliau, dan dengan pendapat inilah seharusnya Beliau dinisbatkan, bukan dengan pendapat lamanya.

Buya HAMKA mengucap syukur – Alhamdulillah – ketika Beliau berhasil menemukan pendapat yang benar dan memuaskan tentang tafsir Surah Al Baqarah ayat 62, maka kita pun mengucap syukur – Alhamdulillah – karena Beliau, ulama besar dan panutan umat Islam Indonesia itu, telah ruju’ dan menarik pendapat lamanya.

Semoga Allah merahmati Beliau.

Referensi :

Peladjaran Agama Islam, HAMKA, Bulan Bintang, Cetakan ke-1, tahun 1956

Peladjaran Agama Islam, HAMKA, Bulan Bintang, Cetakan ke-3, tahun 1961

Pelajaran Agama Islam, HAMKA, Bulan Bintang, Cetakan ke-5, tahun 1971

Pelajaran Agama Islam, HAMKA, Bulan Bintang, Cetakan ke-12, tahun 1996