pencil

Ulama Tergelincir? Tahan Lisanmu!

Sebagai seorang insan biasa tentu yang namanya jatuh kepada kesalahan atau tergelincir dari kebenaran adalah hal yang lumrah dan bukan barang asing; karena syaithan yang tak pernah letih menyebarkan jaring-jaringnya untuk menjerat siapapun, begitu pula nafsu didalam jiwa ini yang kerap kali membujuk rayu untuk melakukan penyimpangan, dan sebagai seorang muslim yang jatuh kepada kekeliruan hendaknya berlapang dada saat diingatkan seraya memanjatkan taubat dan kembali ke jalan yang lurus, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كل ابن آدم خطاء، وخير الخطائين التوابون..

“setiap anak adam itu berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat” HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan dihasankan oleh syaikh Al Bani

Namun untuk memvonis saudara kita yang keliru, sepatutnya kita berhati-hati dan memperhatikan rambu-rambu syari’at, apalagi yang tergelincir dari kebenaran adalah seorang ulama –rahimahullah-, menjadi suatu kewajiban tingkat tinggi serta kewaspadaan ekstra saat menjatuhi vonis salah, karena para ulama punya wibawa dan kehormatan dimata umat yang harus dijaga, sehingga wibawa dan kehormatannya tersebut tetap tegar dan tidak jatuh.

Sebelum masuk kebahan inti, penulis berwasiat kepada diri penulis pribadi dan para pembaca yang budiman agar senantiasa memanjatkan doa kebaikan kepada para ulama secara umum dan guru-guru kita secara khusus di waktu-waktu yang mustajab, karena tidak sedikit jasa-jasa mereka terhadap umat islam secara global dan diri kita secara personal.

Thayyib sekarang penulis akan memberikan hal apa saja yang perlu diperhatikan ketika kita mendapati ketergelinciran para ulama –gafarallahu lah-:

  1. Memastikan bahwa kelasahan itu betul-betul bersumber dari ulama yang bersangkutan.

Hal ini sangat vital sekali, mengingat bisa saja kita mendapati kesalahan ulama ternyata, ulama tersebut berlepas diri dari kesalahan tersebut, disebabkan karena ketidakvalidan berita yang kita terima, jikalah ketika mendapati kabar yang kurang sedap terhadap saudara kita, kita diwajibkan untuk memastikan kebenaran berita tersebut, maka bagaimana pendapatmu jika kabar yang kurang elok itu disematkan kepada ulama kita??

  1. Memastikan kesalahan itu pada hakikatnya adalah sebuah kesalahan.

Setelah kita memastikan kesalahan ini bersumber dari ulama tersebut, selanjutnya adalah memastikan bahwa hal ini adalah sebuah kesalahan, dan ini merupakan tugas ulama yang kuat dalam keilmuannya, sekali lagi penulis tekankan, bahwa ini adalah tugas ulama yang kuat dalam keilmuannya, sehingga kita sebagai seorang yang awam tidak bisa mendeteksi ini sebuah kebenaran atau sebuah kesalahan, maka tugas kita bertama kepada ulama, apakah benar pada permasalahan ini pendapat ini salah? Karena hal ini termasuk permasalahan yang mutasyabih (samar) yang bisa jadi mengandung kebenaran dan kesalahan jika dilihat sepintas. Oleh karena itu perkara ini dikembalikan kepada ulama yang kompeten dalan ilmu dan ketakwaan.

  1. Tidak mengikuti pada permasalahan yang keliru.

Jika semua sudah jelas dan gamblang, maka tidak udzur bagi kita untuk tetap mengikuti kesalahan ulama tersebut, karena kita hanya diwajibkan untuk mengikuti kebenaran.

  1. Mencarikan alasan dengan memberikan takwil yang diperbolehkan (dibawa ke maksud lain).

Tentunya seorang ulama yang bertakwa kepada Allah ta’ala tidak akan pernah menyengaja untuk jatuh kepada sebuah kesalahan, sekali lagi bahwa mereka tidak akan sengaja untuk salah dan mereka tidaklah mencari ilmu kecuai untuk mendekatkan diri kepada Alllah ta’ala, oleh karenanya hal yang perlu dikedepankan adalah berbaik sangka dahulu bahwa mereka pada asalnya tidak menginginkan kesalahan, sehingga hendaknya kita membawa perkataan yang keliru itu kepada kemungkinan yang baik, karena pengambilan kesimpulan dari sebuah dalil termasuk tempat yang banyak berselisih pandang diantara para ulama. Karena bisa jadi seorang ulama berpendapat dengan hadits yang dianggap kuat namun disisi lain dianggap lemah oleh ulama lain, atau menganggap suatu ayat itu umum kemudian ada dalil lain yang mengkhususkan namun disisi lain dianggap ayat tersebut tidak bisa ditakhshish, dan lain sebagainya. Dan tentunya ini adalah tugasnya ulama, karena hanya ulama yang tahu dari mana sebuah hukum bisa dihasilkan.

  1. Memberikan nasihat secara lemah lembut dan sembunyi-sembunyi dan tidak dengan cara yang kasar dan terang-terangan.

Siapapun kita pasti tidak akan senang apabila salah kemudian ditegur dengan cara yang kasar dan terang-terangan, terlebih lagi ini adalah seorang ulama, dan tentunya tujuan dari menasihatinya adalah membantah kesalahannya, dan ini bisa direalisasikan dengan lemah lembut dan sembunyi-sembunyi, adapun menegur dengan cara yang kasar dan terang-terangan maka ini bisa membawa mereka kedalam jurang ta’ashshub dan terus menerus diatas kesalahannya.

  1. Menjaga wibawanya dan kehormatannya dimata kaum muslimin.

Tujuan dari menasehati adalah meluruskan apa yang bengkok sehingga kembali lurus, bukan untuk menjatuhkan harga diri dan merendahkan dimata manusia, bahkan jika ternyata dia adalah seorang yang dikenal sebagai ulama yang berpegang diatas sunnah maka wajib dijaga kehormatannya sebagai bentuk pengagungan terhadap syariat islam.

 

Dirangkum dan dibahasakan ulang dari kitab “SYARH TA’DZIMUL ‘ILMI” karya Syaikh Shalih Al-‘Ushaimiy di poin ke 14 tentang “memuliakan ahli ilmu”.