pencil

Wisata Religi Ziarah Kubur

Wisata religi merupakan sebuah istilah yang cukup dikenal baik di tengah masyarakat muslim di Indonesia, bahkan mungkin muslim di seluruh dunia. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah ini ialah bepergian ke berbagai tempat yang membuahkan manfaat rohani atau tapak tilas Islam dan ulama. Namun dari sekian banyak bentuk wisata religi yang ada, ziarah kubur merupakan bentuk wisata religi yang paling banyak digemari di seluruh dunia. Betapa tidak? Banyak sekali iming-iming yang biasanya ditawarkan kepada khalayak yang kesemuannya berdasarkan nama agama. Puluhan hadits dimunculkan untuk menarik para wisatawan. Akan tetapi sayang, mayoritasnya tidak pantas dijadikan dalil karena mungkin dha’if sekali dan bahkan maudhu’!

Di Indonesia sendiri pemandangan trevel-trevel yang menawarkan perjalanan wisata religi teramat sangat banyak sekali. Biasanya kuburan yang paling banyak mendapatkan perhatian ialah kuburan Wali Sanga yang tersebar di beberapa tempat di Tanah Jawa. Selain itu, masih banyak kuburan-kuburan lain yang dianggap kramat yang tidak kalah istimewanya dengan kuburan Wali Sanga. Seperti misalnya, di Palembang ada sebuah travel yang khusus menawarkan perjalanan religi ke makam Syaikh ‘Abdush Shamad Al-Falimbani di Thailand. Di Madura ada makam Syaikh M. Khalil Bangkalan. Di Jombang ada makam H. ‘Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dan masih banyak contoh lainnya.

Ketidaktahuan masyrakat akan hukum agama membuat trevel-trevel tersebut meraih keuntungan besar. Selain hadits-hadits palsu yang dipasarkan, kesaksian-kesaksian peziarah sepulang dari makam bahwa hajatnya terpenuhi, dagangannya lancar, dan ibadahnya semakin rajin menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat awam. Sedangkan anak-anak sekolah yang hendak menghadapi ujian akhir tidak lupa sowan ke makam-makam tersebut untuk istighatsah, mujahadah, atau lain sebagainya yang intinya agar dimudahkan ketika ujian berlangsung. Para jomblo yang tidak kunjung dapat jodoh tidak tertinggal turut mendatangi makam-makam itu demi terhindar dari bulian kawannya. Dan demikian pula dengan hajat-hajat lainnya yang semuanya selalu dimuarakan ke makam-makam tersebut.

Ketahuilah, saudaraku, bahwa sesungguhnya ziarah kubur di awal kemunculan Islam sangat dilarang.  Sebab, kata Imam As-Suwaidi, ia merupakan awal munculnya penyembahan berhala. Sedangkan kaum muslimin pada saat itu belum lagi kuat imannya sehingga sisa-sisa praktik jahiliyah menyembah berhala masih menyisakan bekas atau setidaknya rentan muncul kembali.

Pernyataan bahwa ziarah kubur merupakan pintu masuk menyembah berhala terbukti dengan keterangan ‘Abdullah bin ‘Abbas tatkala menafsirkan firman Allah Ta’ala:

قَالَ نُوحٞ رَّبِّ إِنَّهُمۡ عَصَوۡنِي وَٱتَّبَعُواْ مَن لَّمۡ يَزِدۡهُ مَالُهُۥ وَوَلَدُهُۥٓ إِلَّا خَسَارٗا ، وَمَكَرُواْ مَكۡرٗا كُبَّارٗا ، وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّٗا وَلَا سُوَاعٗا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسۡرٗا ، وَقَدۡ أَضَلُّواْ كَثِيرٗاۖ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا ضَلَٰلٗا

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa´, yaghuts, ya´uq dan nasr.” [QS Nuh: 21-24]

Kata beliau dan ulama salaf lainnya, “Mereka adalah kaum Nabi Nuh yang shalih. Ketika mereka meninggal dunia, orang-orang pun beri’tikaf di pekuburan mereka. Kemudian mereka membuat gambar mereka. Manakala masa telah berlalu, mereka pun mulai disembah oleh generasi berikutnya.”

Ketika memang ziarah kubur merupakan awal munculnya kemusyrikan pertama kali di dunia, maka tak perlu heran kenapa Islam di awal-awal kemunculannya melarang kaum muslimin berziarah. Namun tatkala tauhid kaum muslimin semakin kokoh, maka Islam pun membolehkan bahkan menganjurkan ziarah kubur dengan alasan dapat mengingatkan kematian sehingga dapat memicu semangat ibadah. Rasulullah –shallallah ‘alaihi wa sallam– bersabda:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور، ألا فزوروها

“Dahulu aku pernah melarang kalian menziarahi kubur. Tapi sekarang, ziarahilah kubur itu.”

Sementara dalam kesempatan lain beliau bersabda, “Ziarahilah kubur karena itu dapat mengingatkan akhiran.” [HR Al-Hakim]

Perhatikanlah alasan kenapa ziarah kubur dianjurkan, yaitu agar mengingatkan pada kematian dan akhirat sehingga memicu semangat ibadah. Demikianlah kondisi ulama salaf masa silam. Adalah Ar-Rabi’ bin Khaitsam, contohnya, apabila mulai lalai semangat ibadahnya, beliau akan segera melakukan ziarah kubur dan menangis di sana. Ia berkata, “Dahulu kita pernah bersama-sama.” Sekembalinya dari ziarah kubur itu, semangat ibadahnya kembali muncul sehingga malamnya pun ia gunakan untuk shalat malam. Ketika pagi harinya, seolah-olah ia baru dibangkitkan dari kuburnya.

Para ulama mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati, terutama yang sudah berkarat, selain ziarah kubur. Karena ziarah kubur dan mengingat kematian dapat membendung maksiat, melembutkan hati yang keras, melenyapkan rasa senang terhadap dunia, dan membuat musibah-musibah yang datang menjadi ringan dirasa.

Terkait hal ini, As-Subki pernah berkata, “Makna semacam ini terdapat dalam semua kuburan. Dan tujuan dilalah kubur untuk tujuan ini sama saja. Sebagaimana halnya semua masjid selain tiga masjid sama saja.” [Faidh Al-Qadir no. 4554]

Bandingkan dua hadits di atas dengan perilaku sebagian umat Islam saat ini. Betapa maksud tujuan mereka ketika berziarah semata-mata karena dunia, bukan untuk mengingatkan kematian sehingga menumbuhkan semangat ibadah sepulang dari ziarah. Kalau memang maksud mereka adalah akhirat, tentulah kuburan di sekitar mereka sudah memadai untuk hal tersebut sebagaimana kata Imam As-Subki di atas.

Imam Abul Ma’ali ‘Ali bin Abu As-Su’ud As-Suwaidi Asy-Syafi’i (w. 1237 H/ 1822 M) menjelaskan dalam Al-‘Iqd Ats-Tsamin fi Bayan Masail Ad-Din hlm. 438-seterusnya, “Nabi Muhammad ﷺ telah menjelaskan pada kita manfaat ziarah kubur, yaitu berbuat baik kepada diri sendiri dan kepada penghuni kubur. Adapun berbuat baik kepada diri sendiri maka dengan ziarah kubur itu dapat mengingat kematian dan akhirat. Sementara berbuat baik kepada penghuni kubur maka dengan menebar doa salam (keselamatan) kepada mereka dan mendoakan agar mereka memperoleh limpahan rahmat, ampunan, dan sentosa.

Perhatikanlah bagaimana beliau ﷺ menyiapkan pondasi masalah ini yang beliau bolehkan untuk kita praktikkan dengan perkara-perkara yang beliau jelaskan. Sehingga beliau tidak menyisakan sedikit pun untuk kita bergantung karena khawatir terhadap tipu daya setan dan kejahatannya.

فإن الشرك بقبر الرجل المعروف بالصلاح أقرب إلى النفس من الشرك بالأحجار

“Sesungguhnya kemusyrikan terhadap seseorang yang terkenal keshalihannya lebih dekat daripada kemusyrikan terhadap bebatuan.”

Beliau melanjutkan, “Karena setan memiliki makar tipu daya yang ia bisikkan pada hati manusia. Bahkan ia betul-betul telah memasukkannya dalam hati sehingga nampaklah hal tersebut sebagai sesuatu yang syar’i padahal ia semata-mata tipu daya. Kemudian apabila manusia telah terbiasa dengan tipu daya yang dianggapnya syariat tersebut, sekali-kali mereka tidak akan meninggalkannya meskipun telah ditebas dengan pedang.

Di antara sekian banyak yang dimasukkan oleh setan pada diri manusia ialah apa yang mereka katakan bahwa mereka penghuni kubur tersebut merupakan manusia-manusia shalih, dekat dengan Allah, apa yang mereka inginkan akan terwujud, berkedudukan tinggi, bermaqam mulia. Siapa yang datang mendatangi mereka, maka usahanya tidak akan pernah sia-sia dan pikirannya tidak akan diremehkan. Dan sesungguhnya dengan barokah mereka, segala bentuk musibah akan tertolak, segala hajat akan terpenuhi, dengan syafaat mereka akan mendekatkan para peziarah itu kepada Allah, dan dengan syafaat mereka pula dosa-dosa peziarah akan terampuni oleh Allah.”

As-Suwadi melanjutkan, demikianlah setan mempermainkan manusia dengan berbagai angan-angan kosong. Setan benar-benar telah menampakkan bid’ah menjadi sunnah, sedangkan sunnah nampak bid’ah. Selain itu, setan juga telah memunculkan hikayat-hikayat serta khurafat-khurafat yang mendorong manusia semakin antusias melakukan bujuk rayu mereka.

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Imam As-Suwaidi ini. Bahkan kesuksesan setan semakin jelas tatkala para peziarah lebih memadati makam-makam itu daripada masjid yang dibangun di dekatnya. Malah mereka lebih khusyuk di pekuburan daripada di masjid. Apabila di pekuburan mereka tidak akan berani mengangkat suara, namun jika di masjid mereka akan merasa leluasa mengangkat suara, mengobrol seenak hati, dan lain sebagainya.

Kekhawatiran semacam ini telah lama menghampiri ‘Umar bin Al-Khattab. Sehingga tatkala beliau mendapati banyak orang mendatangi pohon yang dahulu menjadi saksi baiat Hudaibiyyah, beliaupun segera menebasnya. Karena baginya, tauhid lebih utama daripada sekedar tapak tilas atau situs sejarah. Apalah arti sebuah sejarah jika tauhid justru ternodai yang membuat kekal di dalam Neraka!

Demikian juga tatkala ‘Umar mencium Hajar Aswad, beliau mengatakan, “Aku tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu yang tidak dapat memberikan celaka ataupun manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah menciummu, tentulah aku tak akan menciummu.”

Umar benar-benar faham bahwa segala sesuatu selain Allah tidak akan memberi berkah kecuali atas kehendak-Nya.

Sebagian ulama mengatakan, termasuk bid’ah yang mungkar ialah berkumpulnya orang-orang awam di sebagian kuburan orang-orang shalih pada saat-saat tertentu, karena Rasulullah ﷺ bersabda:

صلوا في بيوتكم و لا تتخذوها قبورا

“Shalatlah di rumah kalian. Jangan kalian menjadikannya seperti kuburan.” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Hadits di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya kuburan bukanlah tempat shalat. Sedangkan orang-orang yang gemar mendirikan shalat di pekuburan, maka berarti telah menyelisi hadits di atas.

Terakhir penulis sampaikan sebuah hadits yang menjadi dasar para ulama semacam Imam Al-Juwaini sebagaimana yang dinukil oleh Ash-Shan’ani dalam Subulussalam haram bepergian dengan maksud ibadah kecuali ke tiga tempat:

لا تشد الرحال إلا إلى ثلاث مساجد، للمسجد الحرام، و المسجد الأقصى، و مسجدي هذا

“Tidak boleh bepergian dalam rangka ibadah kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Aqsha, dan masjidku ini.” [HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah]

Hadits adalah dalil melakukan bepergian dengan maksud ziarah kubur, karena ziarah kubur termasuk ibadah. Oleh karena itu, Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, “Yang lebih utama bagi orang yang hendak bepergian ke Madinan Al-Munawwarah berniat mengerjakan shalat di Masjid Nabawi –bukan berniat menziarahi kubur Nabi ﷺ- agar ia memperoleh susuatu hal dengan penuh keyakinan dan mendaptkan dua kebaikan –yaitu ziarah Masjid Nabawi dan ziarah kubur Nabi- tanpa ada khilaf perbedaan di tengah kaum muslimin akan hal tersebut.”

Artinya ialah bahwa ziarah kubur Nabi Muhammad  ﷺtaba’ (baca: mengikuti niat) ziarah Masjid Nabawi. Sehingga ziarah Masjid Nabawi merupakan prioritas utama sedangkan ziarah kubur Nabi ﷺ merupakan prioritas kedua. Demikian kesimpulan moderat Ibnu Hajar penulis Tuhfatul Muhtaj Syarhul Minhaj.

Kalau saja makam Nabi saja bukan prioritas utama, apalagi makam Wali Sanga dan semisalnya.

Bahkan di antara sekian banyak cerita menggelitik seputar ziarah kubur ialah kisah yang datang dari negeri Afrika. Dikatakan bahwa di sana terdapat sebuah makam terkenal yang selalu diziarahi oleh umat Islam. Hampir penggemar wisata religi di sana tidak mengenal makam tersebut. Sehingga tidak heran apabila makam tersebut tidak pernah sepi dari para peziarah dengan berbagai maksud keduniaan yang bermacam-macam karena memang isunya makam tersebut makam salah seorang wali Allah. Namun setelah diadakan penelitian oleh para ahli, ternyata hasilnya sangat mengejutkan. Betapa tidak? Isi kuburan tersebutkan bukan saja milik wali yang tadi dikhayalkan, bahkan bukan pula makam manusia, namun justru makam seekor keledai!

Kenyataan di atas bukan sesuatu yang aneh. Sebab ketika orang-orang mengetahui keuntungan yang raup dari panitia dan pengurus kuburan “keramat” yang sangat besar, bahkan menurut berita melebihi gaji para menteri, ada sebagiannya membuat-buat cerita palsu bahwa makam ini memiliki keistimewaan demikian. Orang kedua yang kawannya memberikan kesaksian palu, orang ketiga melakukan hal yang sama, dan demikian seterusnya hingga dikenal oleh masyarakat luas.

Oleh karena itu, marilah sejenak kita berfikir akan kenyataan yang awalnya sunnah malah berubah menjadi syirik!