pencil

Ibadah Haji dan Umrah Ternyata Rawan Riya’, Maka Waspadalah!

Haji merupakan salah satu ibadah yang cukup mendapatkan tempat istimewa dalam Islam. Betapa tidak? Setatusnya sebagai salah satu rukun Islam, tepatnya rukun ke-5, menjadi perkara yang sangat urgen nun penting untuk diperhatikan. Oleh karena itu, setiap muslim, tanpa terkecuali, selalu mendambakan dapat melaksanakan ibadah haji walaupun harus melalukan apapun demi terwujudnya cita-cita mulia tersebut. Bahkan di antara kisah yang sampai kepada kita terkait perjuangan seorang muslim untuk mewujudkan impiannya bersimpuh khusyu’ do baitullah ialah seseorang yang menjual ladangnya kepada orang lain untuk mengumpulkan dana haji. Namun karena uang hasil menjual tanah tersebut belum lagi mencukupi biaya naik haji, akhirnya ia menjadi buruh di ladang yang dahulu miliknya. Setelah uang perjalanan haji tercukupi, akhirnya ia dapat sampai ke Baitullah. Dan ternyata Allah wafatkan dia di rumahnya saat tengah menunaikan ibadah mulia. Allahuakbar!

Saudaraku, demikianlah gambaran semangatnya kaum muslimin untuk dapat menggenapi rukun Islam yang lima. Namun demikian, ada satu hal yang lebih penting dari sekedar menunaikan ibadah haji secara fisik. Yaitu masalah ikhlas yang harus terus dipertahankan hingga akhir hayat. Jangan sampai ikhlas itu terluput dari diri seorang muslim. Sebab jika ikhlas dalam hati sudah pergi, maka akan diganti oleh riya’ dan sum’ah yang pada gilirannya hanya akan mendatangkan murka Allah Ta’ala.  Dalam sebuah hadits yang dilaporkan oleh Abu Sa’id, katanya:

خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن نتذاكر الدجال فقال: ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من الدجال؟ قلنا: بلى، فقال: الشرك الخفي، أن يقوم الرجل يصلي فيزين صلاته لما يدرك من نظر رجل

“Pernah suatu ketika Rasulullah ﷺ menjumpai kami yang pada saat itu tengah berdialog mengenai Dajjal. Sabda beliau, ‘Maukah kalian aku beri tahu tentang sesuatu yang lebih aku khawaturirkan daripada kekhawatirkanku terhadap kalian terkait Dajjal?’ Kami menjawab, ‘Tentu.’ Beliau bersabda, ‘Syirik yang samar, yaitu seseorang yang mengerjakan ibadah shalat lalu kemudian memperelok shalatnya itu karena dia tahu ada orang yang melihatnya.’” [HR Ahmad]

Meskipun hadits di atas secara khusus mencontohkan shalat, namun maksudnya lebih luas dari sekedar shalat, yaitu mencakup seluruh praktik ibadah yang dilakukan umat Islam.

Sedangkan berkaitan dengan ibadah haji, ada sebuah ayat yang patut kita renungkan bersama karena ada isyarat penting bahwa ibadah haji merupakan ritual ibadah yang ternyata rentan dinodai oleh penyakit riya’. Ayat tersebut ialah ayat ke-196 dari surat Al-Baqarah:

وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ

“Dan sempurnakanlah haji dan umrahmu karena Allah.”

Potongan ayat di atas oleh Imam Syihabuddin Abul ‘Abbas bin Abul ‘Ala Idris Ash-Shanhaji Al-Qarafi dijadikan sebagai dalil bahwa ibadah haji merupakan sebuah ritual ibadah yang galak diseludupi rasa riya’. Karena, kata beliau, sering kali orang yang telah menunaikan ibadah haji apabila berbicara tentang suatu tema yang sedikit saja berhubungan dengan Makkah atau ibadah haji, ia biasanya akan mengkait-kaitkannya dengan pengalaman hajinya dahulu walapun sesungguhnya tema pembicaraan tidak terlalu dekat dengan tema haji atau Makkah. Namun, sekali lagi, karena ibadah haji rentan dihinggapi rasa riya’, maka terjadilah apa yang terjadi.

Apa yang dijelaskan oleh Imam Al-Qarafi di atas memang sering terjadi. Kalau beliau berbicara di masanya yang belum ditemukan kamera pengabadi momen-momen tertentu sehingga yang beliau singgung hanyalah masa setelah usai menunaikan ibadah haji, maka di masa modern  ketika kamera dapat dibeli dengan harga yang amat sangat terjangkau kondisinya lebih sangat memperihatinkan lagi. Sesampainya seseorang di Tanah Suci justru terkadang yang kali pertama ia lakukan ialah selfi di depan Ka’bah atau Masjidil Haram. Tidak cukup sampai di situ saja, malahan sampai diunggahnya di semua media sosial yang ia miliki, baik itu WA, FB, Twitter, Instagram, Telegram, dan lain sebagainya. Sementara itu yang lain ada yang menyengaja membawa juru kamera untuk mengabadikan aktifitas hajinya dari sejak datang ke Makkah hingga meninggalkannya, dari A sampai Z. Tindakan-tindakan semacam ini sangat membahayakan keikhlasan seorang muslim. Tentu sangat disayangkan apabila selama ini telah bekerja keras mengumpulkan dana untuk supaya bisa datang ke Tanah Suci namun sesampainya di Tanah Suci malah disibukkan dengan perkara-perkara yang berkaitan dengan photo dan selfi. Padahal seyogyanya ia bersungguh-sungguh beribadah dengan berbagai macam bentuknya, shalat, zikir, membaca Al-Quran, sedekah, i’tikaf, membaca shalawat, dan lain sebagainya.

Kemudian, saudaraku. Di antara hal yang memotofasi seseorang melakukan tindakan riya’ atau sum’ah ialah gelaran “H” atau “Hj” yang biasanya disematkan di awal nama orang yang pernah menunaikan ibadah haji. Sayangnya sebagian orang merasa direndahkan apabila namanya tidak diiringi dengan gelaran “H” atau “Hj”. Bahkan kalau dahuhu orang-orang memanggilnya Pak “A”, kini sepulangnya dari haji berubah menjadi Pak Haji. Untuk mengukuhkan kehajiannya, peci yang dibelinya dari Makkan dipakainya di mana pun bepergian. Tidak peduli apakah ke pasar, ke sawah, atau kondangan. Sementara kalau ada orang yang belum haji koq ‘berani’ menggunakan peci semacam itu, maka terkadang akan dikomentari dengan komentar yang tidak-tidak.

Saudarku, semua hal di atas tidak layak dilakukan seorang muslim. Jangan sampai ibadah haji yang pahalanya besar itu justru berubah menjadi bala karena sikap kita yang tidak ikhlas karena Allah. Segala ibadah yang kita lakukan, cukup Allah saja yang tahu. Tidak perlu kemudian kita ceritakan kepada orang lain kalau nantinya membuat kita bangga diri atau sum’ah.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Riya. Allah berfirman setelah masing-masing manusia diberi balasan, ‘Pergilah meunuju orang-orang yang kepada mereka kalian berbuat riya’. Apakah kalian akan mendaparti ganjaran dari mereka?!’”

Baginda Rasulullah ﷺ saja, sebagaimana yang diriwayatkan Anas bin Malik, berusa semaksimal mungkin agar hajinya murni karena Allah dan berdoa agar tidak dicampuri riya’. Beliau bersabda:

اللهم حجة لا رياء فيها ولا سمعة

“Ya Allah, haji ini bukan karena riya ataupun sum’ah.” [Kitab Al-Manasik no. 2890]

Oleh karena itu, mari masing-masing di antara kita menjaga kemamruran ibadah haji kita. Jangan sampai sia-sia digerogoti oleh sikap riya’ ataupun sum’ah.