pencil

Mengimani Allah Berada di Atas Langit (Bag. 1)

Urgensi Tema Pembahasan

Mempelajari tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan semua-mulia ilmu pengetanhuan. Oleh karena itu para ulama menyebutkan bahwa kemuliaan ilmu itu mengikuti kemuliaan apa yang diketahui.

Di antara bukti jelas akan hal tersebut di atas ialah bahwa ayat yang paling mulia yang terdapat dalam Al-Quran ialah ayat Kursi. Kenapa? Karena isi kandungan ayat kursi semuanya membicarakan tentang Allah Ta’ala.

 

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَ‍ُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa´at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [QS Al-Baqarah: 255]

Dari sini kita mengetahui betapa penting dan urgennya tema yang akan kita kupas pada kali ini. Karena itu, kita pusatkan konsentrasi kita dengan memohon pertolongan kepada Allah agar apa yang akan kita bahas ini memperoleh taufiq, sampai kepada kebenaran sesuai yang Allah ajarkan.

Prinsip Ahlussunnah dalam Pembahasan Masalah ‘Aqidah

Sebelum masuk kepada tema inti, baik diketahui bahwa dalam pembahasan ‘aqidah, seorang wajib berpedoman sepenuhnya dengan Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan ijma’ Salaful Ummah dengan disertai menundukkan hawa nafsu. Seorang muslim harus yakin betul bahwa dua dalil di atas mengungguli segala bentuk dalil lain, termasuk dalil logika, adat kebiasaan, dan lain sebagainya. Dalil-dalil yang berasal dari dua wahyu tersebutlah yang hanya akan menyampaikan manusia kepada keyakinan (baca: qath’i), tidak memiliki kemungkinan (baca: ihtimal) lain melainkan satu saja. Lain halnya dengan dalil-dalil lainnya yang tidak berasal dari wahyu yang dalam banyak kasus memiliki banyak kemungkinan sehingga tidak meyakinkan alias zhanni (praduga) saja. Oleh sebab itu, apabila ada dalil Al-Quran dan Asu-Sunnah yang nampaknya bertentangan dengan dalil-dalil lain semacam akal logika dan adat kebiasaan, misalnya, maka harus diunggulkan dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah. Karena dalil qath’i selalu mengalahkan dalil zhanni.

Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy ketika mengatakan ketika mengemukakan cara pemahaman ulama salaf dalam beraqidah, “Ulama salaf secara utuh mengikuti pemahaman sesuai yang diutarakan Al-Quran Al-Karim. Mereka beriman kepada segala apa yang didatangkan Al-Quran. Apabila mereka menghadapi ayat yang menimbulkan perasangka tasybih, mereka mengimaninya dengan i’tiqad tanzih, mereka tidak berdaya upaya membahas ayat-ayat itu dan mentakwilkannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan akal. Mereka menyerahkannya itu kepada Allah sendiri. Lantaran yang demikian itu berpautan dengan zat Allah dan sifat-sifat-Nya, sedang zat Allah itu bukanlah materi dan tak dapat dianalogikan.”

Kemudian beliau membawakan keyakinan istiwa’ sebagai contoh pemahaman salaf. “Inilah jalan yang ditempuh Asy-Syafi’i, Muhammad Al-Hasan Asy-Syaibani, Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain. Pendapat ini benar-benar dipertahankan oleh segolongan ulama di setiap masa. Di antaranya Al-Imam Ibnu Taimiyyah,” lanjut Ash-Shiddieqy. [Lihat: Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam hlm. 28]

Inilah keyakinan Islam yang senantiasa diperjuangkan oleh ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari sejak terbitnya cahaya Islam hingga hari kiamat kelak. Ini berbeda dengan prinsip yang dianut oleh kalangan ahlul bid’ah.

Prinsip Sekte-sekte Sesat dalam Beraqidah

Syaikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul Muttalib Al-Mandili, ulama Masjidil Haram asal Mandailing Indonesia, menegaskan, “Dan tiada menolak akan segala hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melainkan Al-Jahmiyyah[1] dan Al-Mu’attilah[2] dan Al-Mu’tazilah[3] dan Ar-Rafidhah[4].

Yang berkata mereka itu, ‘Dalil-dalil naqliyah (Al-Quran & As-Sunnah) tiada memberi faidah akan yakin.’ Maka menutup mereka itu atas segala hati manusia akan pintu mengenal Allah Ta’ala dan sifat-Nya dengan jalan dan petunjuk Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Dan memalingkan mereka itu akan manusia kepada barang yang menamakan mereka itu akan dia dengan segala hujjah yang bangsa ‘aqal dan segala dalil yang bangsa yaqin. Dan tiada ada ia atas yang tahqiq melainkan alang-alang.” [Anak Kunci Syurga:]

Apa yang dikatakan oleh Syaikh Al-Mandili di atas bukan tanpa dasar atau hanya tuduhan belaka. Dalam kitab-kitab ahlul bid’ah dinyatakan dengan jelas akan konsep di atas. Fakhruddin Ar-Razi, misalnya, dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib (I/63) mengatakan:

أن التمسك بالدلائل اللفظية لا يفيد اليقين، و الدلائل العقلية تفيد اليقين

“Bersandar dengan dalil-dalil lahiriah Al-Quran (demikian pula As-Sunnah) tidak memberikan keyakinan, sedangkan dalil-dalil akal itulah yang memberikan keyakinan.”

Beliau juga menegaskan lagi pada paragraph berikutnya:

و لا يمكن ترجيح النقل على العقل؛ لأن العقل أصل العقل

“Dan tidak mungkin mengunggulkan  dalil-dalil naqli (Al-Quran dan As-Sunnah) di atas dalil-dalil akal. Sebab akal itulah yang menjadi asal daripada dalil-dalil naqli.”

Pernyataan Ar-Razi di atas juga ia ungkapkan dengan jelas dalam kitabnya yang lain berjudul Ma’alim Ushul Ad-Din (cet. Dar Adh-Dhiya’) pada masalah ketujuh.

Persisi pernyataan di atas, ditegaskan pula oleh Al-Juwaini dalam Kitab  Al-Irsyad hlm. 358-360), seorang pembesar sekte Asy’ariyyah.

Bukti lainnya yang menunjukkan bahwa ulama-ulama khalaf lebih mengunggulkan akal daripada wahyu ialah buku-buku ‘aqidah yang mereka tulis selalu diawali dengan pembahasan hukum akal yang tiga, yaitu wajib, mustahil, dan boleh. Tiga pokok inilah yang menjadi pijakan mereka dalam pembahasan ‘aqidah.

Ash-Shiddieqy menjelaskan, “Ulama khalaf (ulama kalam), dalam menetapkan dalil tidak mengikuti cara yang ditempuh oleh Al-Quranul Karim. Mereka beriman seperti orang-orang dahulu juga, Mereka menghadapi ayat-ayat mutasyabihah, tidak seperti yang dihadapi oleh ulama-ulama salaf. Ulama khalaf tidak merasa puas dengan cara-cara berpikir yang ditempuh ulama salaf. Cara mereka berdeba dengan cara ulama salaf.

Pertama, mentakwil sesuatu yang mutasyabih sesuai dengan kehendak akal dan sesuai pula dengan it’iqad  mensucikan Allah dari sifat yang tak layak bagi-Nya.

Kedua, mempergunakan dalil-dalil aqli manthiqi (logika) membahas jauhar-jauhar, aradh, gerak, diam, dan kebaharuan alam.” [Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam hlm. 29]

Imam Sunnah Abu Muhammad Al-Hasan Al-Barbahari menegaskan pula, “Ketahuilah semoga Allah merahmarimu, bahwa agama Islam ini bersumber dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, tidak diserahkan pada akal dan pendapat manusia. Ilmu pengetahuan tentang agama itu datang dari Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, jangan mengikuti sesuatu pun dengan hawa nafsumu sehingga kamu akan keluar dari agama dan murtad dari Islam.” [Syarh As-Sunnah hlm. 66]

Berkaitan dengan manhaj Ahlul Bid’ah wal Ahwa’ ini, Abul Muzhaffar As-Sam’ani Asy-Syafi’i –rahimahullah– mengatakan pula:

“Sedangkan sekte-sekte sesat selain aliran ahli hadits, maka mereka mencari agama tidak melalui jalurnya. Sebab mereka selalu merujuk pada akal-akal mereka, besitan yang melintas di benak mereka, dan pendapat-pendapat mereka. Mereka pun mencari agama dari jalan tersebut. Oleh karena itu, apabila mereka mendengarkan sesuatu yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah, mereka akan mencocokkannya dengan barometer akal mereka. Jika keduanya saling bermufakat, mereka baru akan menerimanya. Namun apabila terjadi perbedaan antara keduanya, mereka pun tidak segan-segan menolaknya. Kalau pun mereka terpaksa menerimanya, mereka akan berusaha terlebih dahulu mengobah-obahnya dengan takwil yang jauh dari kebenaran dan penafsiran yang buruk. Sehingga mereka itu condong menjauhi kebenaran dan tersesat dari jalan yang lurus tersebut. Mereka membuang agama di belakang punggung-punggung mereka dan memposisikan As-Sunnah di bawah kaki-kaki mereka. Mahatinggi Allah dari segala apa yang mereka sifatkan.” [Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah (II/223)]

Sementara itu Imam Abul Fadhl ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi dalam Shaun Al-Manthiq hlm. 230 merekam pula pernyataan As-Sam’ani lain, “Ketahuilah bahwa benang merah antara kita Ahlussunnah wal Jama’ah dengan ahli bid’ah ialah permasalahan akal. Sebab ahli bid’ah itu membangun agama mereka berdasarkan akal pikiran dan memposisikan ittiba’ kepada nash mengikuti akal pikiran.”

 

Manakah Dua Jalan Tempuh di Atas yang Paling Unggul?

Tidak ragu lagi bahwa jalan (baca: manhaj) yang ditempuh oleh ulama-ulama salaf dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah lebih unggul dan benar. Sedangkan metodologi ulama khalaf dalam hal ini jauh dari kebenaran dikarenakan mereka tidak taslim (tunduk) terhadap wahyu. Mereka lebih mensucikan akal mereka daripada wahyu itu sendiri, walaupun mereka masih malu-malu mengakuinya.

Apa yang ditempuh oleh ulama-ulama khalaf ini secara jelas telah bertentangan dengan manhaj Al-Quran yang menegaskan:

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [Al-Ahzab: 36]

Syaikh Ibrahim Al-Laqqani menjelaskan:

وَ كُلُّ شَرٍّ فِي ابْتِدَاعِ مَنْ خَلَفْ   فَكُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفْ

“Setiap kebaikan adalah ada pada mengikuti orang-orang salaf, dan setiap kejelakan ada pada mengikuti bid’ahnya orang-orang khalaf.”

Beliau juga mengatakan:

وَ جَانِبِ البِدْعَةَ مِمَّنْ خَلَفَا   فَتَابِعِ الصَّالِحَ مِمَّنْ سَلَفَا

 

“Selanjutnya, ikutilah orang-orang salafush shalih, dan jauhilah bid’ah orang-orang khalaf.”

Syaikh Syihabuddin Abu Ats-Tsana’ Mahmud bin ‘Abdullah Al-Alusi dalam wasiatnya kepada anak-anaknya berkata: “Anakku, wajib atasmu dalam perkara aqidah berpegang dengan ‘aqidah salaf. Karena ‘aqidah salaf itu paling selamat (aslam), bahkan paling moderat (anshaf). Diketahui pula bahwa ia juga paling tahu (a’lam) dan paling kokoh (ahkam). Sebab ‘aqidah salaf jauh dari berkata-kata tentang Allah ‘Azza wa Jalla dengan sesuatu yang tidak diketahui (baca: tanpa ilmu).” [Inba’ Al-Abna’ hlm. 18]

Syaikh Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah Al-Banjari jauh-jauh telah berpesan dalam kitabnya, Tuhfah Ar-Raghibin fi Bayan Haqiqah Iman Al-Mukminin Wa Ma Yufsiduhu Min Riddah Al-Murtaddin hlm. 24, “Hubaya-hubaya! Hai saudarakau yang beriman, wajib atasmu beri’tiqad demngan i’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu jalan Nabi Allah dan shahabatnya dan segala mereka yang mengikuti mereka itu hingga hari kiamat. Dan wajib atasmu menjauhi sekalian i’tiqad bid’ah yang sesat, (seperti) i’tiqad segala kaum yang tujuh puluh dua yang tersebut bilangan mereka itu di dalam hadits yang tersebut.”

[1] Al-Jahmiyyah mereka yang mengikuti akan Jahm bin Safwan As-Samarqandi, ialah yang mula-mula mengkosongkan Allah Ta’ala daripada sifat.

[2] Al-Mu’attilah puak (baca: kelompok/sekte) yang mengkosongkan Allah Ta’ala daripada segala sifat seperti Al-Jahmiyyah.

[3] Al-Mu’tazilah: ‘Umar bin ‘Ubaid dan Wasil bin ‘Atha dan yang mengikuti keduanya. Dinamakan mereka itu dengan Al-Mu’tazilah karena menjauhkan diri mereka itu daripada muslimin.

[4] Ar-Rafidhah  satu puak daripada Syi’ah negeri Kufah yang meninggalkan mereka itu akan Zaid bin ‘Ali karena melarang ia akan mereka itu daripada mencela Sahabat ╚.