pencil

Yang Membedakan antara Generasi Kita dengan Generasi Para Sahabat –radhiyallahu ‘anhum-

Alhamdulillah wassholaatu wassalaamu alaa rosulillah, amma ba’du :

Para pembaca yang dirahmati Allah, mungkin pernah terbesit dihati kita sebuah pertanyaan, tentang hal  yang membedakan antara generasi kita dengan generasi para sahabat Nabi Muhammad –shalallahu alaihi wasallam-, tentang bagaimana Allah –azza wa jalla- memilih mereka untuk membantu Rosulullah –shalallahu alaihi wasallam- dalam menyebarkan agama islam, sehingga kita bisa merasakan nikmat islam tersebut hingga hari ini.

Dan mungkin juga kita masih bertanya tanya, tentang rahasia dan penyebab dari nihilnya hasil dari amal perbuatan kita, yang mana itu sangatlah berbeda dari besarnya hasil yang terlihat dari amal perbuatan para sahabat –rodhiyallahu anhum-,  dimana mereka hanya melakukan dan mengerjakannya pada masa yang singkat dan pada tahun-tahun yang sedikit, tetapi dengan izin Allah-azza wa jalla-  mereka berhasil merealisasikan sebuah pencapaian yang luar biasa, melalui tangan-tangan merekalah islam berhasil tersebar luas di muka bumi, dan tidaklah mereka wafat kecuali mereka telah saksikan bagaimana islam telah menyebar ke penjuru dunia, dari belahan timur hingga barat.

Kondisi tersebut sangatlah berbeda dengan kondisi yang kita alami hari ini, dimana kita hidup pada masa yang sangat panjang, pemeluk islampun sudah berjumlah sangat banyak, sementara yang kita lihat hanyalah kemunduran-kemunduran yang terjadi pada setiap tahunnya, contoh nyatanya adalah permasalahan yang terjadi di Palestina, sebuah negara islam, yang padanya terdapat Baitul maqdis, salah satu dari 3 masjid mulia, yang pernah menjadi kiblat kaum muslimin. Lalu apa yang terjadi padanya saat ini? yang terjadi sekarang adalah penjajahan tanpa henti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, kehormatan yang dirampas, harga diri yang diinjak-injak, dan pembantaian tanpa ampun siang dan malam.

Lantas, apa yang menjadi penyebab dari perbedaan-perbedaan itu ?

Jawabannya terletak pada kesegeraan mereka (para sahabat) untuk melaksanakan perintah-perintah Allah-azza wa jalla-, Allah-azza wajalla- berfirman :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُم}

Artinya :

“ Wahai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberikan kalian kehidupan “ [QS.Al-anfal :24]

Dan tidaklah sampai kepada mereka sebuah ayat, melainkan mereka akan pahami ayat tersebut dengan segenap jiwa mereka, lalu mereka amalkan apa yang menjadi perintah pada ayat tersebut dan mereka tinggalkan larangan yang terkandung padanya. Sementara kita, yang sering mendengar ayat tersebut dibacakan oleh imam ketika sholat, kita malah tidak tahu apa artinya, dan kalau kita tahu artinya sekalipun kita masih susah mengamalkannya, padahal ayat tersebut mengandung makna yang sangat agung.

Tidakkah anda tahu, bagaiaman reaksi spontanitas para sahabat –rodhiyallahu anhum- ketika sampai kepada mereka firman Allah :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Artinya :

“ Kamu sekali kali tidak akan sampai pada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan sesungguhnya Allah maha mengetahui” [QS. Alimron : 92]

Sahabat Umar bin khottob –rodhiyallahu anhu- berkata : “ aku berpikir semalaman tentang harta apa yang paling aku cintai, maka beliau datangi nabi Muhammad –shlallahu alaihi wasallam- dan berkata : Wahai rosulullah, sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah sebuah kebun yang aku miliki di tanah khaibar, maka ketahuilah wahai Rosulullah bahwa kebun tersebut telah menjadi sedekah untuk Allah dan RosulNYA”.

Begitupula dengan sahabat Abdullah bin umar bin khottob –rodhiyallahu anhu-, beliau memiliki seorang budak perempuan yang cantik jelita dan sangat beliau cintai, maka ketika mendengar ayat ini beliaupun langsung memerdekakannya.

Sahabat Zaid bin haritsah –radhiyallahu anhu- juga demikian,beliau memiliki seekor kuda pacu yang sangat bagus dan sangat beliau cintai, maka tatkala mendengar ayat ini beliau bekata : aku infakkan ia dijalan Allah.

Subhanallah, maka seperti itulah sedikit contoh dari perilaku para sahabat Nabi Muhammad –shalallahualaihi wasallam- dalam meenyikapi perintah Allah, sehingga dengan itu Allahpun meridhoi mereka, dan memberkahi amal perbuatan mereka, dan berkah dari amal perbuatan merekapun bisa kita rasakan hingga saat ini.

Dan inilah yang sangat bertolak belakang dengan yang dialami oleh generasi kita pada hari ini, kita seolah berteriak dengan lantang akan “free Palestine !” (Bebaskan Palestina !) ,tetapi untuk melaksanakan kewajiban sholat subuh saja kita masih sering lalai, tidak percaya ? lihat saja masjid-masjid ketika di waktu subuh ! anda akan dengan mudah menghitung jumlah jamaahnya hanya dengan hitungan jari.

Apakah dengan generasi yang seperti ini Allah akan bebaskan palestina dari penjajahan orang-orang Yahudi ….? Saya rasa anda sudah tahu jawabannya.

 

NB : tulisan ini diterjemahkan dari situs milik Syeikh Khalid bin Utsman Assabt –hafizhahullah-dengan judul “majlisaani fil farqi bainanaa wa baina jail asshohabah” dengan sedikit perubahan.