pencil

Diskusi Masalah Aqidah (Bag. 1)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين و به نستعين على أمور الدنيا و الدين، و الصلاة و السلام على أشرف الأنبياء و المرسلين، سيدنا و نبينا محمد –صلى الله عليه و سلم-، و على آله و صحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:

Pada kesempatan kali ini, penulis mendapatkan sebuah pernyataan mengenai masalah aqidah atau keyakinan yang menurut pernyataan tersebut, aqidah tersebut dianggap bermasalah, sehinggan penulis merasa perlu untuk meneliti pernyataan tersebut. Pada artikel ini, penulis akan membawakan pernyataan tersebut beserta hasil riset penulis terhadap kebenaran dari pernyataan tersebut.
Sebelum memulai pembahasan, penulis akan memberikan pendahuluan yang terkait dengan ilmu aqidah yang wajib diketahui oleh setiap muslim:
Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah mempunyai dasar dalam menetapkan suatu hukum dalam masalah aqidah, yaitu :
Al-Qur’an.
As-Sunnah, dengan derajat hadits atau atsar shahih dan hasan.
Ijma’ (kesepakatan) para sahabat Nabi –Semoga Allah meridhoi mereka semua- dan para pengikutnya yang mengikuti manhaj (pemahaman) mereka dengan baik sampai hari kiamat.
Ahlussunnah wal Jamaah mencari kebenaran dari dalil-dalil tersebut dan bukan mencari pembenaran.
Penyimpangan yang terjadi dalam masalah aqidah adalah akibat dari pemahaman ilmu aqidah dengan pendekatan ilmu filsafat. Akibat yang ditimbulkan dari kesalahan pendekatan ini menyebabkan penyerupaan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan makhluknya ataupun sebaliknya, kemudian pemahaman ini menginginkan bahwa Allah Ta’ala maha suci, sehingga mereka mencari pembenaran lewat dalil-dalil dari Al-Quran maupun As-Sunnah, namun hanya mengambil satu atau dua ayat, beserta satu atau dua hadits tanpa melihat pemahaman para sahabat Nabi –shalallahu alaihi was salam-. Pemahaman ini dikenal dalam ilmu aqidah sebagai pemahaman (تَشْبِيْهٌ، وَ أَرَادَ التَّنْزِيْهَ، ثُمَّ تَعْطِيْلٌ).
Dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala, sebagai seorang muslim kita hanya boleh menetapkan seluruh nama dan sifat yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk dirinya yang Maha Agung dan yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad –shalallahu alaihi was salam-, tanpa mengubahnya, tanpa menambahnya, dan tanpa menguranginya. Hal ini sebagai wujud dari kesempurnaan iman kepada Allah Ta’ala dengan mengikuti apa yang diperintahkan kepada hambanya dan menjauhi segala larangannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala : “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 7). Ayat mutasyaabihat yang dimaksud ayat ini adalah seluruh ayat yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala. Sedangkan ayat muhkamah adalah ayat-ayat yang tidak berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala.

Demikian pendahuluan penulis, sekarang penulis akan membahas pernyataan tersebut. Penulis mengedepankan pembahasan yang menyeru kepada persatuan dan kesatuan sebagai Bangsa Indonesia dan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan antar Umat Islam dan Bangsa Indonesia

Penanya mengawali pernyataan tersebut dengan kalimat: “BEBERAPA AKIDAH WAHABI YANG TIDAK DISEBARKAN HTI DI INDONESIA:”.
Maksud penanya yang penulis pahami adalah penanya menemukan beberapa kejanggalan terhadap aqidah wahabi yang tidak disebarkan oleh beberapa pendakwah di Indonesia. Untuk pembahasan istilah wahabi, penulis membahasnya dalam artikel tersendiri.

Penanya melanjutkan pernyataannya:
“1. AKIDAH BIN BAZ
Ibnu Baz berkata: “TINGGINYA ALLAH SAMA DENGAN TINGGINYA ADAM YAITU 60 HASTA ATAU KURANG LEBIH 30 METER. (MAJMU’ FATAWA ‘ALLAMAH ABDUL AZIZ IBNU BAZ DAR AL-IFTA JILID 4, FATWA NO. 2331, HAL. 368). Bin Baz dalam kitab Akidah Ahli Al-Iman fii Khalqi Adama ‘Alaa Suratir Rahman”, Juga menjelaskan hal yang sama, bahwa Allah seperti Nabi Adam.”
Di dalam pernyataan ini, terdapat nama Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz –Semoga Allah Merahmatinya- yang telah wafat pada tahun 1999. Beliau merupakan ulama besar Arab Saudi dan merupakan mantan Rektor Universitas Islam Madinah. Setelah melakukan riset dalam buku tersebut, penulis tidak menemukan pernyataan Syaikh Ibnu Baz tersebut, melainkan penulis temukan di buku lain yang berjudul “Aqidah Orang Beriman pada Masalah Penciptaan Adam –’alaihis salam- dengan Bentuk yang Allah Ta’ala Tetapkan” karya Syaikh Hamud bin Abdullah bin Hamud At-Tuaijiri yang telah diberi lisensi untuk dicetak oleh kantor urusan penelitian ilmiah, fatwa, dan dakwah pada kebenaran yang saat itu dipimpin oleh Syaikh Ibnu Baz –semoga Allah Ta’ala merahmatinya-.
Kalimat “Tingginya Allah…dst” merupakan kutipan dari hadits Nabi –sholallahu alaihi wa sallam – yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 27388, Imam Bukhori dalam Shahihnya No. 6227, Imam Muslim dalam Shahihnya No. 2841, dan Imam Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid miliknya No. 44 dari sahabat Abu Hurairah, sehingga tidak ada keraguan pada keshahihan dan kebenaran hadits tersebut. Matan atau isi dari hadits tersebut adalah seperti gambar berikut ini :

Gambar tersebut penulis ambil dari kitab “عقيدة أهل الإيمان في خلق آدم على صورة الرحمن” halaman 6. Arti matan hadits yang tertera dari gambar tersebut adalah : Berkata Rasulullah –shalallahu alaihi wa sallam- : “Allah telah menciptakan Adam sebagaimana rupa-Nya, tingginya (Adam) 60 dziro’, maka ketika Allah menciptakannya, Allah berkata : “Pergilah dan ucapkanlah salam kepada mereka yang berkelompok (kelompok malaikat yang sedang duduk), kemudian dengarkan apa jawaban mereka atas salammu, sesungguhnya itu (salam) merupakan ucapanmu dan ucapan keturunanmu”, Berkata Rasulullah : “Maka pergilah Adam, kemudian berkata Adam : “Assalamualaikum (kesejahteraan bagi kalian)”, maka para malaikat tersebut menjawab : “Assalamu ‘alaika wa rahmatullah (kesejahteraan bagimu beserta rahmat Allah)”, maka mereka (para malaikat) menambah kalimat “beserta rahmat Allah”, kemudian Rasulullah bersabda : “Maka, semua yang akan masuk surga adalah berbentuk seperti rupanya Adam tingginya 60 dziro’, namun keturunannya terus mengecil (bertambah pendek) sampai saat ini”. 1 dziro’ = 46 cm.
Dari gambar tersebut, penulis menarik kesimpulan bahwa yang benar –wallahu a’lam- adalah Syaikh Hamud At-Tuaijiri menyampaikan sebuah hadits Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam-, bukan menyampaikan pendapatnya dari dirinya sendiri. Rasulullah –shalallahu alaihi wa sallam- menyampaikan bahwa Allah Ta’ala menciptakan Adam –’alaihis salam- yang tingginya 60 hasta dan tidak ada maksud bahwa Rasulullah –shalallahu alaihi wa sallam- menyerupakan tingginya Allah Ta’ala dengan tingginya Adam –’alaihis salam-. Rasulullah – shalallahu alaihi wa sallam – bermaksud memberikan permisalan bahwa Adam –’alaihis salam- bentuknya adalah gambaran dari dzat Allah Ta’ala, namun dzat Allah Ta’ala Maha Agung dan tidak sama persis dengan makhluknya, sehingga kita diperintahkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wa sallam– untuk mengimaninya tanpa menanyakan bagaimananya.

Kemudian penanya melanjutkan:
“2. SYAIKH UTSAIMIN
“ALLAH SEPERTI ADAM MEMPUNYAI WAJAH, MATA, TANGAN, DAN KAKI. ( Ibnu Utsaimin, Syarh al-Aqidah li Ibni Taimiyyah, Dar ats-Tsuraya Cetakan 1, Hal. 107, 293).”
Pernyataan kedua ini menyebutkan bahwa yang berkata di atas adalah perkataan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin. Dalam buku aslinya yang berjudul “شرح العقيدة الواسطية لشيخ الإسلام ابن تيمية” yang merupakan karya tulis dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin ini, perkataan tersebut terdapat pada halaman 110. Beliau Syaikh Al-Utsaimin berkeyakinan seperti itu, karena beliau memiliki dasar dari Al-Quran maupun As-Sunnah.
Dalil dari Al-Quran, Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kalian kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.” (QS. Al-Araf : 11)
Dalil dari As-Sunnah Rasulullah –shallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti bentuknya”, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, No. 6227 dan Imam Muslim dalam Shahihnya No. 2612 dari jalur sahabat Abu Hurairah. Matan atau isi asli dari terjemahan hadits di atas adalah sebagai berikut :

Dari kedua dalil tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang benar –wallahu ‘alam- adalah Allah ta’ala menciptakan Adam –’alaihis salam- dalam bentuk yang paling sempurna, sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna” (QS. At-Tin: 4), dan bukan merupakan pendapat Syaikh Utsaimin yang menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluknya.
Dalil-dalil yang menetapkan bahwa Allah Ta’ala mempunyai wajah, mata, tangan, dan kaki adalah:
Dalil Allah Ta’ala memiliki wajah, firman Allah Ta’ala : “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (QS. Ar-Rahman: 27).
Dalil Allah Ta’ala memiliki mata, firman Allah Ta’ala : “…maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami ….”. (QS. At-Thur: 48).
Dalil Allah Ta’ala memiliki tangan, firman Allah Ta’ala : “…tetapi kedua tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki”. (QS. Al-Maidah: 64).
Dalil Allah Ta’ala memiliki kaki, hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah –shalallau ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Setiap kali Jahannam dilempari dengan penghuninya, ia senantiasa mengatakan ‘masih adakah tambahan?’, sehingga Rabbul ‘Izzah (Allah Ta’ala) meletakkan telapak kakinya di dalamnya, maka sebagian lainnya menjadi kecil atas sebagian yang lain, lalu Jahannam berkata ‘cukup, cukup’”.

Kemudian penanya melanjutkan pernyataannya :
“3. AKIDAH IBNU TAIMIYAH
Dalam kitabnya “Bayan Talbiis al-Jahmiyyah” juz 7, hal. 290, Ibnu Taimiyah menshahihkan hadits dha’if dan munkar ru’yah Ibn ‘Abbas ra dengan lafal pemuda Amrad, sedangkan redaksinya sebagai berikut Rasulullah SAW, bersabda : ”Aku melihat Rabb-ku dalam bentuk pemuda Amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau.””
Setelah melakukan riset terhadap buku yang dimaksud oleh penanya, penulis mendapatkan pernyataan penanya di halaman 290, namun pada catatan kaki di halaman tersebut, penulis diminta untuk kembali ke halaman 182 sampai halaman 198 dari buku tersebut dengan tujuan melihat kembali hukum hadits tersebut. Gambar asli halaman 290 dari kitab tersebut adalah sebagai berikut :

Ternyata, penulis mendapatkan ada 2 jalur periwayatan dari hadits tersebut, yaitu:
Riwayat yang disebutkan oleh Al-Khotib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdadi, juz 11, halaman 214. Dalam riwayat ini Ibnu Adi dalam bukunya Al-Kamil, juz 2, halaman 677, Ibnul Jauzi di kitabnya Al-‘Ilal, juz 1, halaman 36, dan Al-Lalakai, juz 2, halaman 512 melemahkan hadits tersebut yang berasal dari jalur ini. Matan asli dari terjemahan ini adalah sebagai berikut :
Riwayat yang dikeluarkan oleh Ad-Daruquthni dalam kitabnya Kitabut Tauhid, halaman 347, dan dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, juz 1, halaman 285, beserta anaknya Abdullah dalam kitabnya As-Sunnah, juz 1, halaman 175, Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitabnya As-Sunnah, juz 1, halaman 191, no. 440, Al-Lalakai no. 947, dan Al-Baihaqi dalam kitabnya Al-Asma wa As-Sifat, juz 2, halaman 191. Berkata Al-Haitsami tentang seluruh periwayat hadits ini dalam kitabnya Al-Mujma, juz 1, halaman 78 : “Seluruh periwayat pada hadits ini adalah orang yang benar”. Berikut adalah gambar dari matan asli dari terjemahan ini :

Dalam disiplin ilmu hadits, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Lemahnya jalur periwayatan, tidak menutup kemungkinan isi dan makna dari hadits tersebut adalah benar”.
Kesimpulan dari riset pada buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tersebut yang benar –wallahu a’lam- adalah bahwa beliau tidak serta merta mencantumkan hadits, kemudian beliau biarkan begitu saja, namun beliau jelaskan bahwa hadits tersebut, baik hukumnya maupun jalur periwayatannya ada yang lemah dan ada yang kuat, namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membawakan hadits tersebut beserta dengan dalil-dalil yang lain. Bahkan, di dalam buku tersebut, beliau menempatkan hadits tersebut sebagai sandaran dari pendapat Al-Kholal dalam masalah Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- melihat Allah Ta’ala dan bukan merupakan sandaran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara langsung.
Selain itu, hadits tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah – shalallau alaihi wa sallam – melihat Allah Ta’ala secara langsung, namun kita hanya mengimani bahwa hanya informasi tersebut yang disampaikan kepada kita tanpa kita menanyakan bagaimananya, sebagaimana firman Allah Ta’ala : “…dan apa-apa yang Rasulmu berikan pada kalian maka terimalah, dan apa-apa yang dilarang olehnya bagi kalian maka tinggalkanlah….” (QS. Al-Hasyr: 7), kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al-Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Maidah: 101)

Kemudian penanya melanjutkan pernyataannya:
“4.AKIDAH PENDIRI WAHABI
Dalam Kitab Fathu al Majîd Syarh Kitab al Tauhid: 515-516) karya Muhammad bin Abdul Wahab panutan wahabi, Imam Besar sekte wahabi menegaskan bahwa Allah bersemayan di atas arsy. Arsy-Nya berada di atas laut yang berada di atas langit ke tujuh dan memiliki kedalaman seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya yaitu 71 atau 72 atau 73 tahun perjalanan. Nah di atas lautan itu ada delapan ekor kambing hutan yang ukurannya sangat besar, antara kuku-kuku dan lutut-lututnya seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya.. di atas punggung-punggung kedelapan kambing hutan itulah Arsy Allah bertempat, lalu Allah bersemayam di atas Arsy-Nya yang berada di atas punggung-punggung kambing hutan.”
Penulis mendapatkan kitab فتح المجيد شرح كتاب التوحيد dengan pengarang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, namun penulis tidak mendapatkannya. Yang penulis dapatkan adalah kitab Fathul Majid dengan judul yang sama persis, namun dengan pengarang yang berbeda, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh.
Pada buku فتح المجيد شرح كتاب التوحيد karya tulis Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh, penulis temukan pernyataan tersebut pada halaman 753, berikut gambar dari buku aslinya :

Gambar di atas mencantumkan pernyataan tersebut secara lengkap yang ternyata pernyataan tersebut adalah hadits Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- dengan derajat hadits adalah hasan. Artinya, hadits ini wajib diimani kebenarannya bahwa hadits ini merupakan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam- dan bukan merupakan hadits yang lemah maupun palsu. Untuk periwayat hadits ini adalah Abu Daud dalam Sunan Abi Daud, no. 4723, At-Tirmidzi dalam kitabnya Jami’ut Tirmidzi, no. 3320, dan Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, no. 193 dari sahabat Ibnu Abbas.
Terjemahan dari gambar di atas adalah sebagai berikut : “Dari Al-’Abbas bin ’Abdil Muthallib radhiyallaahu ’anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam : ”Tahukah kamu sekalian berapa jarak antara langit dan bumi?”. Kami menjawab : ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Antara langit dan bumi jaraknya 500 tahun perjalanan, dan antara satu langit ke langit lainnya jaraknya 500 tahun perjalanan, sedangkan ketebalan masing-masing langit adalah 500 tahun perjalanan, antara langit yang ketujuh dengan ’Arsy ada samudera, dan antara dasar samudera itu dengan permukaannya seperti jarak antara langit dan bumi. Allah ta’ala di atas semua itu dan tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan anak keturunan Adam”.
Maka yang benar dalam masalah ini –wallahu a’lam- adalah pernyataan tersebut merupakan hadits Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam- dan bukan pernyataan dari Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh.
Sebagaimana yang telah disampaikan di pendahuluan sebelumnya bahwa kita mengimani apa yang datang dari Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- tentang kabar-kabar yang ghaib yang tidak kasat mata tanpa bertanya bagaimana dan bagaimananya.

Setelah itu, penanya memberi pernyataan berikutnya, yaitu:
“Bin Baz mengatakan tinggi Allah 60 hasta kayak Nabi Adam. Lha kalau kambingnya saja besar sekali seperti diungkap Muhammad bin Abdul Wahab, berarti Tuhan Wahabi maha kecil dong belum seujung kukunya KAMBING.”
Pemahaman ini timbul sebagai akibat dari memberi perumpaan bahwa Allah Ta’ala serupa dengan makhluknya, seperti yang telah dipaparkan pada bagian pendahuluan nomor 2, yaitu pemahaman تَشْبِيْهٌ، وَ أَرَادَ التَّنْزِيْهَ، ثُمَّ تَعْطِيْلٌ (mengumpamakannya dan ingin mensucikannya, kemudian menyimpangkannya). Padahal, dalam hadits Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- beliau menyampaikan bahwa Allah Ta’ala menciptakan Adam sebagaimana bentuknya, tidak dipahami bahwa tingginya Allah adalah 60 hasta. Namun, yang dipahami oleh setiap muslim adalah Allah Ta’ala Maha Tinggi, sedangkan Adam –’alaihis salam- memiliki tinggi yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita sebagai muslim tidak diperbolehkan oleh Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluknya ataupun menyerupakan makhluk dengan Allah Ta’ala.
Maka yang benar dalam masalah ini adalah mengimani apa yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulnya –shalallahu ‘alaihi wa sallam- dalam masalah aqidah, tanpa menetapkan apa-apa yang tidak berasal dari Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’.

Setelah itu, penanya meneruskan pernyataannya:
“Masih banyak pula contoh akidah generasi Wahabi yang intinya disebutkan oleh sahabat dan kaum salaf sebagai akidah Musyabbih dan Mujassim yang dicap kafir oleh mereka.”
Pernyataan ini telah disebutkan oleh Syaikh Ibnu Abil ‘Izz dalam bukunya “Penjelasan Al-Aqidah At-Thohawiyah”, yaitu: “Ada yang berselisih bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala dapat dilihat dengan bentuk seperti ini (sebagaimana yang telah Allah Ta’ala dan Rasulnya –shalallahu ‘alaihi wa sallam- tetapkan), dan akhirnya ia menganggap bahwa apa yang Allah Ta’ala dan Rasulnya tetapkan adalah tasybih”. Demikian pernyataan Syaikh Ibnu Abil ‘Izz.
Maksud beliau adalah ada suatu kelompok yang ingin menetapkan nama dan sifat Allah Ta’ala tanpa memiliki dasar dari Al-Quran, As-Sunnah, ataupun Ijma’. Hal ini merupakan hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasulnya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. As-Syura: 11). Kemudian, hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- : “Aku tinggalkan bagi kalian 2 perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila kalian memegang keduanya: Al-Quran dan Sunnah Nabi-Nya” diriwayatkan oleh Imam Malik dan hadits tersebut derajatnya adalah shahih.
Tasybih adalah menjadikan sesuatu mirip dengan yang lain, walau tak sama persis. Musyabbih adalah orang yang melakukan tasybih. Mujassim adalah orang yang menyerupakan Allah Ta’ala dengan gambaran bahwa ia memiliki badan, seperti makhluk-makhluknya.

Setelah selesai memberikan pernyataan, penanya memberikan pertanyaan, yaitu:
“Apakah Allah yang Anda yakini itu Allah dalam konteks sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dst. Atau Allah berbentuk berhala yang memiliki tempat dan berbentuk seperti makhluk-Nya ?”
Maksud penanya di sini adalah perbedaan antara kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah dengan kelompok Mu’tazilah. Kelompok Mu’tazilah akan dijelaskan pada artikel selanjutnya. Intinya, Ahlussunnah wal Jama’ah menetapkan apa yang ditetapkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya –shalallahu ‘alaihi wa sallam- dalam hal nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang Maha Mulia, sedangkan kelompok Mu’tazilah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala menggunakan pendekatan ilmu filsafat. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Kemudian, penanya menyampaikan beberapa firman Allah Ta’ala, yaitu:
“Saya hanya ingin sampaikan firman Allah :
“…. Kursi Allah (tempat keberadaan Allah) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar.” –(QS.2:255). “Maha Suci dan Maha Tinggi Dia, dari apa yang mereka katakan (sifatkan), dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.” – (QS.17:43) dan (QS.21:22, QS.23:91, QS.37:159, QS.43:82).
“…. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami), supaya kamu memikirkannya.” – (QS.57:17) dan (QS.16:11, QS.2:164,QS.13:3, QS.16:67, QS.16:69).
“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih (dekat) kepadanya daripada urat lehernya,” –(QS.50:16).”
Seluruh ayat-ayat suci Al-Quran di atas, merupakan dalil-dalil yang menyatakan kebesaran dan maha sucinya Allah subhanahu wa ta’ala.

Terakhir, penanya mengakhiri pernyataanya dengan:
“Semoga ada manfaat bagi kita semua khususnya saudara-saudaraku Aswaja agar tidak salah dalam berakidah.“ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TIDAK BERARAH””
Demikian yang penanya sampaikan, penanya mengakhiri kalimat dengan firman Allah Ta’ala : “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Thaha: 110). Akhir kalimat dari penanya merupakan kebenaran dan disepakati kebenarannya oleh Syaikh Ibnu Abil ‘Izz, beliau berkata : “Allah tidak diliputi oleh arah yang enam sebagaimana yang diyakini oleh kelompok-kelompok lain (di luar Ahlusunnah wal Jama’ah) adalah pernyataan yang hak (benar), dengan maksud bahwa Allah Ta’ala tidak diliputi oleh satupun dari makhluknya, namun Allah Ta’ala Maha Meliputi bagi seluruh makhluknya dan ia Maha di atas segala sesuatunya.”
Namun, ketika berbicara dengan pernyataan “Allah tanpa tempat”, maka ini pernyataan yang perlu diteliti, sebab Allah Ta’ala memiliki tempat, yaitu ‘arsy milik Allah Ta’ala. ‘Arsy dalam Bahasa Indonesia adalah singgasana. Allah Ta’ala menetapkan bahwa dirinya mempunyai ‘arsy yang sesuai dengan keagungan dan kebesarannya dan ‘arsy-Nya tidak seperti singgasana makhluknya. Berikut adalah firman-firman Allah Ta’ala yang menetapkan bahwa Allah mempunyai ‘arsy:
“(Ia) yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia” (QS. Al-Buruj: 15)
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)
“Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar.” (QS. An-Naml: 26)
Maka kesimpulan dari ayat-ayat di atas adalah Allah Ta’ala memiliki tempat, yaitu bersemayam di atas ‘arsy yang Maha Agung, tanpa dikelilingi oleh enam arah, namun Allah Ta’ala yang mengelilingi dan meliputi seluruh makhluk ciptaannya.

Demikian diskusi masalah aqidah 1 ini, semoga Allah Ta’ala memberi rahmat dan hidayah bagi penulis khususnya dan bagi kaum muslimin pada umumnya. Mohon maaf bila ada kesalahan kalimat dan pernyataan pada diskusi kali ini. Sesungguhnya yang benar datang dari Allah Ta’ala dan yang salah datang dari syaithan dan dari penulis pribadi.

و صلى الله على نبينا محمد، و على آله و صحبه أجمعين.
سبحانك اللهم و بحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك و أتوب إليك، و الحمد لله رب العالمين.

أخوكم في الله

محمد إحرام

*المراجع:
شرح العقيدة الطحاوية، للإمام علي بن علي بن محمد بن أبي العزّ
القول المفيد على كتاب التوحيد، لشيخ محمد بن صالح العثيمين
عقيدة أهل الإيمان في خلق آدم على صورة الرحمن، لحمود بن عبد الله بن حمود التويجري
شرح العقيدة الواسطية لشيخ الإسلام ابن تيمية، لشيخ محمد بن صالح العثيمين
بيان تلبيس الجهمية، لشيخ الإسلام ابن تيمية
فتح المجيد شرح كتاب التوحيد، لشيخ عبد الرحمن بن حسن آل الشيخ

Ringkasannya:
AKIDAH BIN BAZ, Ibnu Baz berkata…. ( Bukan perkataan Syaikh Bin Baz, melainkan hadits Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam-
SYAIKH UTSAIMIN “ALLAH SEPERTI ADAM… ( Bukan perkataan Syaikh Utsaimin, melainkan hadits Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam-
AKIDAH IBNU TAIMIYAH Dalam kitabnya “Bayan Talbiis al-Jahmiyyah”…. ( Bukan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, melainkan hadits Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam-
AKIDAH PENDIRI WAHABI Dalam Kitab Fathu al Majîd Syarh Kitab al Tauhid…. ( Bukan perkataan Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh, melainkan hadits Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam-