pencil

Hakikat At Tamadzhub (bermadzhab) dalam Ilmu Fikih

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا

 

Berbicara tetang ilmu fikih, maka tidak akan lepas dari pembahasan tentang madzhab dan bermadzhab.

 

Pada tulisan yang telah lalu, telah kita jelaskan definisi dari kata madzhab secara Bahasa dan istilah serta deifnisnya dari sisi ilmu fikih. Dan pada tulisan ini, insyaAllah akan dibahas tentang hakikat dari bermadzhab atau yang sering diisitilahkan dengan “At Tamadzhub”.

 

Melihat fakta yang ada di tengah kaum muslimin khususnya kalangan awam yang nampaknya sebagian besar dari mereka -jika tidak seluruhnya- sudah sangat akrab sekali dengan istilah madzhab dan bermadzhab, bahkan kita tidak merasa  aneh lagi jika kita mendengar salah satu dari mereka mengatakan: “saya bermadzhab syafii” atau “madzhab saya hambali” dan kalimat sejenis lainnya yang menggambarkan bahwasanya mereka adalah pengikut madzhab tertentu. Padahal jika ditanyakan kepada mereka apa sebenarnya hakikat madzhab dan bermadzhab, kemungkinan besar jawaban mereka tidak selantang pengakuan mereka. Bahkan mungkin mereka tidak tau nama dari imam madzhab yang -katanya- mereka ikuti.

 

Oleh karna itu, sangat tepat sekali setelah membahas tentang madzhab kita membahas hakikat dari bermadzhab dalam ilmu fikih karna kuatnya hubungan antara keduanya. Apalagi jika melihat fakta di lapangan seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya.

 

Definis secara bahasa

 

Secara bahasa at tamadzhub (التَّمَذْهُبُ) merupakan bentuk mashdar dari kata kerja tamadzhaba   (تَمَذْهّبّ) yang maknanya mengikuti atau mengambil. Hal ini karna wazan تَمَفْعَلَ menunjukkan makna mengambil (الأَخْذُ). . (At Tamadzhub dirasah nadzhariyyah naqdhiyyah 1/58)

 

Definsi secara istilah

Adapun hakikat At Tamadzub sebagai sebuah istilah dalam ilmu fikih, para ulama berbeda pendapat terkait definisi dari  Tamadzhub. Bahkan jika diteliti lebih jauh lagi, para ulama terdahulu (dari kalangan ushuliyyun dan fuqaha) tidak pernah memberikan definisi Tamadzhub secara eksplisit dalam kitab kitab mereka.

 

Dr. Khalid bin Musaid berkata:

“Ahli Ushul terdahulu -berdasarkan refrensi yang saya telaah- belum menjelaskan makna secara istilah dari kata tamadzhub. Dan sejauh yang saya telaah, istilah  tamadzhub muncul sekilas dalam perkataan sebagian ahli ushul, seperti abul wafa’ ibnu ‘aqil yang mana beliau mengatakan: Al wuquf (tidak mengambil sikap/pendapat) bukanlah sebuah madzhab karna hal itu sebenarnya adalah berpaling dari tamadzhub. (At Tamadzhub dirasah nadzhariyyah naqdhiyyah 1/73-74)

Kembali pada definis tamadzhub, terdapat lebih dari 10 definisi dari tamadzhub yang disebutkan oleh para ulama meskipun sebagian dari definisi tersebut memang tidak disebutkan untuk menjelaskan hakikat tamadzhub.

 

Dr. khalid bin Musaid di dalam kitab beliau “At Tamadzhub” membawakan 16 definisi tamadzhub yang disebutkan oleh para ulama. Setelah mengkaji seluruh definisi yang dibawakan, beliau lalu mengajukan sebuah definisi tamadzhub yang -menurut saya- paling jelas dan lengkap memberikan gambaran tentang hakikat tamadzhub jika dibandingkan definisi lainnya karna definisi yang beliau ajukan  mencakup hampir seluruh poin poin mendasar dari semua definisi sebelumnya.

 

Beliau mengatakan:

فَالتَّمَذْهُبُ هُوَ اِلْتِزَامُ غَيْرِ العَاِمي مَذْهَبَ مُجْتَهِدٍ مُعَيًنٍ فِي الأُصُوْلِ وَالفُرُوْعِ أَوْ أَحَدِهِمَا أَوْ اِنْتِسَابُ مُجْتَهِدٍ إِلَيْهِ

“Maka At Tamadzhub (bermadzhab) adalah komitmen selain ‘aamiy (awwam) terhadap madzhab seorang mujtahid tertentu dalam masalah ushul dan furu’ atau salah satunya atau intisab seorang mujtahid terhadap madzhab tersebut.  . (At Tamadzhub dirasah nadzhariyyah naqdhiyyah 1/87)

 

Dari definis diatas kita dapat mengambil beberapa poin penting, diantaranya:

  1. seorang awam tidak memiliki madzhab atau tidak bermadzhab. Maka pengakuannya sebagai pengikut madzhab tertentu tidaklah tepat karna itu hanya sebatas pengakuan tanpa ada hakikatnya. Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnul qayyim ketika beliau membahas masalah hukum seorang awam mengikuti madzhab tertentu, beliau mengatakan:

لا يصح للعامي مذهب ولو تمذهب به فالعامي لا مذهب له

“Madzhab tidak sah bagi seorang yang awam meskipun -ia mengaku- bermadzhab dengannya karna awam tidak memiliki madzhab” (I’lamul muwaqqi’in ‘an rabbil ‘alamin hal 1142)

Namun yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apa Batasan atau definisi awam itu sendiri.

 

  1. Seorang yang bermadzhab maka ia mengikuti madzhab salah satu dari mujtahid, seperti Al Imam Asy Syafii, dalam masalah ushul dan furu’ atau salah satu dari keduanya yang dipegang oleh imam madzhab tersebut. Yang dimaksud dengan ushul disini adalah ushul fikih yang mencakup kaidah-kaidah serta metode dalam mengambil kesimpulan hukum dari nahs-nash syariat. Sedangkan yang dimaksud dengan furu’ adalah masalah masalah syariat yang bersifat ijtihadiyyah yang bukan bagian dari perkara al maklum minaddin bidh dharurah.

 

  1. Komitmen seorang yang bermadzhab tidak mengharuskannya untuk terikat secara penuh. Bahkan dibenarkan untuk menyelisihi madzhabnya pada permasalahan yang nampak bagi dia bahwa dalil dalil yang ada lebih menguatkan madzhab lain. Hal ini tidak menghilangkan statusnya sebagai pengikut madzhab.

 

  1. Sekedar menisbatkan diri terhadap sebuah madzhab, hal itu bisa dianggap sebagai bentuk bermadzhab meskipun orang tersebut tidak mengikuti ushul dan furu dari imam madzhab. Namun hal ini hanya berlaku bagi seorang yang telah mencapai derajat ijtihad muthlaq.

Sebagai contoh, Al Imam Ibnu Khuzaimah dikatakan oleh sebagian ulama bahwa beliau termasuk ulama yang mencapai derajat ijtihad muthlaq. Meskipun demikian, beliau tetap dianggap sebagai bagian dari Asy Syafiiyyah.

 

Tajuddin as subuki berkata:

“Muhammad yang empat: Muhammad bin Nashr, Muhammad bin Jarir, Ibnu Khuzaimah dan Ibnul Mundzir adalah ashab kami yang mana mereka telah mencapai derajat ijtihad muthlaq. Namun hal tersebut tidaklah mengeluarkan mereka dari barisan pengikut Asy Syafii” . (At Tamadzhub dirasah nadzhariyyah naqdhiyyah 1/76)

  

Semoga tulisan yang ringkas ini bisa memberikan sedikit gambaran yang lebih jelas tentang hakikat dari At Tamadzhub atau bermadzhab dan semoga Allah senantisa memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan tiap tetes ilmu yang kita dapatkan.

 

وصل اللهم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم

 

InsyaAllah pada bagian ke 3 dari silsilah ini akan dibahas tentang madaris dan madzahib fiqhiyyah.