pencil

Ulama Nusantara Beriman Allah Bersemayam di Atas ‘Arsy

Lebih lanjut Ash-Shiddieqy menjelaskan dalam Tafsir Al-Quran Al-Majid “An-Nur” (II/123), “Kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, menurut keadaan yang Allah sendiri lebih mengetahui, serta  keadaan itu suci dari menyerupai keadaan makhluk. Pernah ditanya kepada Malik tentang makna istiwa’=bersemayam, berketetapan. Maka beliau menjawab, ‘Menurut bahasa istiwa itu terang. Bagaimana Tuhan bersemayam di atas ‘Arsy, kita tidak dapat mengetahuinya. Menanyakan tentang bagaimana Tuhan bersemayam di atas ‘Arsy adalah bid’ah.’ Demikian pendapat sahabat dan ulama salaf (klasik).

Ulama salaf menerima hal tersebut dengan tidak menjelaskan begini dan begitu, dan tidak menyerupakan keadaan itu dengan keagaan makhluk. Mereka menyerahkan hal itu kepada Allah sendiri.

Adapun Asy’ariyah menakwil (baca: mentahrif/mengobah) makna itu dengan menyatakan bahwa sesudah menciptkan langit dan bumi, Allah mengatur segala urusan yang berkaitan dengan itu dan menentukan sistemnya menurut takdir dan hikmah yang telah ditentukan.”

Berkaitan dengan penjelasan ayat-ayat istiwa di atas, selain Ash-Shiddieqy sebagai pemberi penjelasan yang sesuai dengan pemahaman Salaf Shalih yang mewakili ulama-ulama Nusantara, ternyata ada pula ulama yang jauh hidup dari zamannya yang juga telah terlebih dahulu menjelaskan kepada masyarakat bahwa Allah berada di atas langit, bukan di mana-mana. Beliaulah Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali Al-Fanshuri As-Sinkili, qadhi Kerajaan Aceh pengganti Al-Qadhi Nuruddin Muhammad Ar-Raniri.

Baiklah, untuk mempersingkat waktu, saya persilakan Anda mendengarkan penjelasan beliau dalam Tafsir Turjuman Al-Mustafid.

Pertama, pada (I/209) beliau mengatakan, “Bahwasanya Tuhan kamu, Allah, yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi pada sekira-kira enam hari daripada segala dunia. Kemudian, maka tetap Ia atas ‘Arsy dengan tetap yang patut dengan Dia.”

Kedua, pada (I/250) beliau megatakan, “Allah Ta’ala jua yang mengangkatkan tujuh petala langit dengan tiada tiang yang kamu lihat akan dia. Kemudian dari itu, maka disahjanya atas ‘Arsy dengan sahaja yang patut dengan dia dan dimudahkan-Nya matahari, dan bulan adalah tiap-tiap suatu dari keduanya pada peredarannya  datang kepada hari kiamat.”

Ketiga, pada (II/21) beliau menulis, “Yang menjadikan bumi dan tujuh petala langit yang tinggi itu, yaitu Tuhan yang bernama Rahman atas ‘Arsy tetap Ia dan yaitu dengan tetap yang berpatutan dengan Dia.”

Keempat, pada (II/74) beliau menuturkan, “Ia jua yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi dan antara keduanya pada sekira-kira enam hari dunia. Kemudian maka yaitu Tuhan yang bernama Rahman itu atas ‘Arsy dengan nyata yang laik (baca: layak) dengan Dia.”

Kelima, pada (II/124) beliau menjelaskan, “Allah Ta’ala jua yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi dan antara keduanya di dalam enam hari. Pertama menjadikan itu hari Ahad dan akhirnya hari Jum’at. Kemudian dari itu, maka tetaplah Ia dan nyata atas ‘Arsy dengan nyata yang berpatutan dengan Dia.”

Keenam, pada (II/247) beliau menulis, “Ia jua Tuhan yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi pada enam hari daripada segala hari dunia . Awal harinya Ahad dan akhirnya Jum’at. Kemudian dari itu, maka Ia mengrasa Ia dan nyata Ia atas Kursi dengan yang berpatutan dengan Dia.”

Ketujuh, pada (I/158) beliau pun menulis, “Bahwasanya Tuhan Kamu itu Allah yang telah menjadikan tujuh petala langit dan bumi di dalam enam hari daripada segala hari dunia. Kemudian maka diqashad-Nya atas ‘Arsy-Nya.”

Ringkasnya, Syaikh ‘Abdurrauf Al-Fanshuri yang merupakan ulama no wahid sebumi Aceh menjelaskan dengan gambling bahwa Allah Ta’ala bersemayam di atas ‘Arsy dengan semayam yang bersesuaian dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Maksudnya ialah bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy itu tidak menyerupai sedikit pun dengan bersemayamnya makhluk di atas singgasananya. Karena memang, “Tiada seperti-Nya suatu dan yaitu yang amat mendengar segala yang dikata lagi amat melihat  akan segala yang diperbuat oleh sekalian makhluk,” jelas beliau pada (II/193).

Apa yang dipaparkan di atas ini sekaligus sebagai bantahan tajam terhadap kaum bid’ah yang bersembunyi di balik nama mulia Ahlussunnah wal Jama’ah yang pada hakekatnya berfaham sekte Asy’ariyyah atau Asya’irah. Padahal Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri berlepas diri dari mereka yang menisbatkan diri kepada beliau.  Sebab pernyataan beliau dalam Al-Ibadah (II/105-113). Sedangkan para ahli bid’ah Asy’ariyyah dan sekte-sekte yang sepaham dengan mereka dari kalangan Muktazilah dan lainnya berpendapat bahwa Allah Ta’ala tidaklah berada di atas ‘Arsy! Artinya Allah tidak berada di atas. Lalu di manakah? Di antara mereka ada yang menegaskan bahwa Allah berada di mana-mana. Sehingga menurut mereka Allah berada di tempat-tempat yang baik dan juga di tempat-tempat yang kotor sekalipun yang lisan saja enggan mengucapkannya! Padahal mereka sendiri sedikit pun tidak mau bertempat di tempat-tempat yang kotor. Mereka pastilah lebih memilih di tempat-tempat yang bersih dan baik. Namun ketika mereka berbicara tentang Allah, mereka katakana, “Allah ada di mana-mana!”

Subhanallah, Mahasuci Allah dari segala yang mereka katakana tentang Allah. Kita hanya mengatakan pada mereka:

تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ

“Kalau begitu, pembagian semacam itu tidak adil alias curang!” [QS An-Najm: 22]

Ini sama seperti sikap orang-orang musyrikin yang malu memiliki anak perempuan sehingga mereka tega mengubur mereka hidup-hidup. Namun ketika mereka bicara tentang Allah, mereka katakana bahwa Allah memiliki anak-anak perempuan, yaitu para mailakat! “Kalau begitu, pembagian semacam ini curang!”

Sebagian ahli bid’ah pula ada yang mengatakan tanpa rasa malu dan dosa, sebagaimana kawan sejawat mereka sebelumnya yang mengatakan Allah ada di mana-mana, bahwa Allah tidak layak dikatakan apakah di atas, di bawah, atau di arah tertentu yang diketahui manusia. Bahkan mereka katakan, tidak layak dikatakan Allah berada di dalam atau di luar alam semesta!

Salah seorang imam mereka, yaitu Ibnu Faurak, pernah terjebak debat terkait masalah ini dengan seorang ulama Ahlussunnah yang sekaligus panglima perang terkenal bernama Mahmud bin Subuktikin. Di antara yang dikatakan Ibnu Faurak ialah, “Saya tidak mengatakan bahwa Allah ada di atas, tidak pula di bawah, tidak pula di kanan, dan tidak pula di sebelah kiri.” Mendengar itu, Mahmud bin Subuktikin menimpali, “Sesungguhnya Tuhanmu tidak ada!” [Majmu’ Al-Fatawa (III/37)]

Sebagaian ulama ada yang menyatakan bahwa Ibnu Faurak inilah sosok di balik semakin runyamnya akidah Asy’ariyyah. Sebab sekte Asy’ariyyah generasi awal masih meyakini Allah berada di atas ‘Arsy, bukan di mana-mana apalagi seperti keyakinan Ibnu Faurak di atas. Namun setelah Ibnu Faurak memodifikasi ‘aqidah Asy’ariyyah, pengikut sekte ini di kemudian hari justru lebih mengikutinya daripada mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri selaku ‘pendiri’ sekte Asy’ariyyah ini.

Kemudian kenyataan di atas bahwa dua ulama senior Aceh yang bahkan salah satunya qadhi atau mufti Kerajaan Aceh yang masyhur itu sebagai tamparan keras untuk mereka-mereka kalangan Ahlul Bida’ wal Ahwa’ yang akhir-akhir ini mulai menampakkan kedunguan serta kebodohan mereka dengan cara membubarkan dan memporak-porandakan setiap kajian yang jauh-jauh hari didakwahkan oleh pembesar ulama Aceh di atas. Sehingga amat sangat disayangkan sekali manakala orang-orang yang hanya berbekal semangat tanpa sedikit pun mengerti apa sebetulnya corak Islam yang mewarnai bumi rencong itu. Kebodohan tersebut jelas-jelas terlahir lantaran malasnya belajar dan membaca peninggalan-peninggalan intelektual ulama mereka sendiri. Ahlul Bida’ wal Ahwa’ tersebut justru lebih suka mengadopsi faham-faham asing yang diseludupkan ke dalam ajaran agama Islam. Sehingga wajarlah apabila mereka justru mendurhakai ‘orangtua kandung’ mereka sendiri, dan malah lebih berbakti mentaati ‘orangtua angkat’ yang datang tiba-tiba!

Sebetulnya ulama-ulama masa silam Aceh yang sefaham dengan ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Salafiyyah tidak sedikit jumlahnya. Bahkan sebagiannya adalah pejuang kemerdekaan Indonesia penulis kisah Perang Sabi yang mampu membangkitkan dan membakar semangat jihad kaum muslimin Aceh melawan penjajah Belanda yang kafir. Namun sebagaimana kata orang, “Orang yang cerdas sudah cukup hanya dengan singgungan saja. Sementara orang yang dungu tidak akan pernah faham meskipun dengan seribu bahasa sekalipun.”

Syaikh Daud bin ‘Abdullah Al-Jawi Al-Fathani menulis dalam Sullam Al-Mubtadi fi Ma’rifah Thariqah Al-Muhtadi hlm. 3 menurut cet. Dar Ihya’ Al-Kutub Mesir yang dicoppy oleh Maktabah Bin Hullabi Pattani Thailand atau hlm. 7 menurut cet. Al-Hidayah Selangor:

“Maka adalah Ia sekarang seperti adaNya dahulu jua sebelum lagi diadakan kaun (baca: alam semesta) ini dan tiada adaNya itu dilalu atasNya zaman dan tiada meliputi pada makan (tempat), bersemayam di atas ‘Arsy bersamaan yang berpatutan dengan kebesaran-Nya seperti barang yang dikehendaki-Nya. Dan tiada mengambil akan Dia oleh mengantuk dan tidur.

Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada barang yang dikata oleh orang yang zalimun. Adalah Ia Tuhan yang amat ketinggian-Nya dana mat kebesaran-Nya.”

Syaikh Muhammad Sa’id bin ‘Umar Kedah mengemukakan dalam tafsirnya yang bertajuk Nur Al-Ihsan pada ayat dalam Surat Thaha, “Ialah Tuhan ar-Rahman itu atas ‘Arsy bersamaan yang layak dengan-Nya. Maka ‘Arsy pada logat itu tempat duduk raja. Ini jalan Salaf. Maka jalan khalaf makna istiwa itu memerintah.”

Sedangkan pada tafsir ayat dalam Surat Al-Furqan beliau mengatakan pula, “Kemudian bersamaan atas ‘Arsy oleh Tuhan Ar-Rahman akan sebagai bersamaan yang layak dengan-Nya. Maka makna ‘Arsy pada logat kursi raja. Dan dikehendaki di sini jisim yang besar yang meliputi dengan alam atas tujuh lapis langit.”

Syaikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul Muttalib Al-Indonesi Al-Mandili, ulama Masjidil Haram asal Mandailing Indonesia, mengemukakan dalam Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah yang berjudul Perisai Bagian Sekalian Mukallaf, “Dan bagi-Nya[1] tangan tiada seperti tangan hamba-Nya, dan baginya muka sabagai muka yang patut padanya dengan dia, dan bershifat ia dengan istiwa’ tetapi tiada seperti istiwa’ yang baharu.

Bertanya seorang laki-laki akan Imam Malik daripada ayat:

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ

Artinya, “Bermula Tuhan yang sangat pemurah tetap ia di atas ‘Arsy.”

Maka menundukkan Imam Malik kepalanya pada masa yang panjang kemudian berkata ia, “bermula ‘tetap’ itu diketahui akan dia, dan kelakuannya tiada dapat dengan akal, dan beriman dengan dia wajib, dan bertanya daripadanya bid’ah. Dan tiada aku sangka akan dikau melainkan sesat.”

Maka menyuruh oleh Imam Malik dengan menghalau laki-laki yang bertanya itu,maka dihalau akan dia.

Pendeknya, shifat Allah Ta’ala bersalah-salahan dengan shifat makhluk, seperti dzat Allah Ta’ala bersalah-salahan dengan dzat baharu. Dan tiada mengetahui oleh makhluk  akan hakikat shifat Allah ta’ala sekalipun rasul dan malaikat. Seperti tiada mengetahui oleh yang baharu akan hakikat dzat-Nya yang Maha Mulia. Dan kita serahkan akan hakikatnya kepada Allah Ta’ala serta kita i’tiqadkan bahwasannya segala shifat itu semuanya shifat kesempurnaan yang laik dan patut padan dengan kebesaran-Nya, seperti firman-Nya:

Artinya, “Tiada seumpama-Nya sesuatu dan Ia jua yang sangat mendengar lagi sangat melihat.”[2]

Dan firman Allah Ta’ala:

 

Artinya, “Bersabda olehmu, hai Rasulullah, bermula Tuhan aku yang kamu bertanya daripada-Nya Allah Ta’ala, Tuhan yang Maha Esa. Dan Allah Ta’ala itu Tuhan yang diqasad pada segala hajat selama-lamanya, tiada ia beranak dan tiada diperanakkan, dan tiada ada seorang yang menyamai dan sama tara dengan dia.”[3] Wallahua’lam.”

Selesai kutipan dari Al-Mandili.

Prof. Dr. ‘Abdul Malik [bin] ‘Abdul Karim Amrullah yang akrab disapa Buya HAMKA turut pula menjelaskan dalam Pelajaran Agama Islam hlm. 49, “Tuhan telah menunjukkan sifat-sifat di dalam sabda yang disampaikan-Nya kepada Nabi-Nya. Sepintas lalu seakan-akan serupa sifat itu dengan sifat makhluk-Nya. Misalnya melihat, mendengar, berkata, hidup, dan lain-lain. Tetapi bila dijalankan fikiran selangkah lagi, akan kenyataanlah bahwasanya sifat itu mesti berbeda keadaannya. Persamaan adalah mustahil. Bagaimanalah akan sama sifat yang dipunyai oleh zat Yang Maha Besar, dengan sifat yang dipunyai oleh zat yang terjadi hanyalah karena izin dari Yang Maha Besar itu. Kadang-kadang kita hendak tahu benar bagaimana perbedaan sifat itu. Padahal terlalu banyak hijab atau dinding yang membatasi kita di dalam jalan hendak menyelidiki dan memngupas hakikat itu. Jangankah mengetahui perbedaan  sifat Dia dengan sifat alam, sedangkan alam itu sendiri belum lengkap kita ketahui, dan yang kita dapat hanya sejumput kecil saja. Jangan hakikat alam itu yang kita ketahui, sedang hakikat diri kira sendiri pun adalah satu perkara besar.

“Maka kalau dikatakan Tuhan Allah bersifat mendengar, bukanlah artinya pendengaranNya itu sama dengan pendengaran kita yang memakai telinga macam ini. Kalau Dia melihat bukanlah artinya alat penglihataNya adalah mata sebagai mata kita yang diberikanNya ini. Kalau Dia berkata tidaklah Dia berlidah dan bermulut sebagai kita. Dia membina langit, Dia menghamparkan bumi, Dia duduk di Arsy, dan lain-lain sebagainya. Semuanya itu tidaklah serupa dengan yang kita pikirkan atau terdapat dalam kebiasaan kita. Kalau Dia berkata bahwa Dia bertangan yang terletak di atas tangan kita, bukanlah Dia beranggota tubuh sebagai anggota tubuh kita ini. Alhasil, sifat alam yang dijadikan oleh Tuhan tidaklah serupa dengan sifat Tuhan, sebab Tuhan bukan alam dana lam bukan Tuhan. Bertengkar-tengkar dan kadang-kadang mengambil tempo berlama-lama, sampai berpisah kepada beberapa firkah dan mazhab diantara ahli-ahli fikir islam membicarakan sifat-sifat Tuhan itu, tentang Dia memandang dengan mataNya, Dia bertangan, Dia duduk di atas Arsy, Dia turun ke langit pertama di pertiga malam dan lain-lain.”

Buya HAMKA juga mengemukakan dalam Tafsir Al-Azhar (VIII/366) dalam kutipannya dari Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’i yang merupakan guru daripada Imam Al-Bukhari, yang tengah membahas tafsir ayat ke-54 dari Surat Al-A’raf “Dalam sifat Allah tentang diri-Nya, atau diterangkan oleh Rasul-Nya, tidaklah terdapat perserupaan dengan makhluk. Maka barangsiapa yang mengakui apa yang tersebut dalam Nash yang demikian jelasnya di dalam Al-Quran dan demikian pula dari kabar-kabar (Hadits) yang shahih, menurut keadaan yang layak bagi Kemuliaan Allah, serta menafikan daripada Allah segala kekurangan, maka orang itulah yang telah berjalan di atas garis petunjuk yang benar.”

Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir-nya, ‘Pembicaraan orang tentang soal ini memang banyak. Tetapi Mazhab yang baik ditempuh dalam hal ini ialah mazhab Salaf yang shahih, yaitu Imam Malik, dan Al-Auza’i, dan Al-Tsauri, dan Al-Laits bin Sa’d. dan Asy-Syafi’i, dan Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih, dan ulama-ulama ikutan kaum muslimin yang lain, yang dahulu dan yang kemudian. Yaitu membiarkannya sebagaimana yang tersebut itu, dengan tidak menanyai betapa, dan tidak pula menyerupakan-Nya, dan tidak pula menceraikan-Nya dari sifat. Dan segala yang cepat terkenang di dalam otak orang yang hendak menyerupakan Allah dengan yang lain, sekali-kali tidaklah sesuai dengan keadaan Allah, sebab tidak ada makhluk yang menyerupai Allah. Tidak sesuatu yang menyerupai-Nya, dan Dia adalah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.”

Selesai kutipan dari Buya HAMKA.

Drs. Bakri Syahid, rektor IAIN Jogjakarta, dalam Tafsir Al-Quran Al-Karim “Al-Huda” ketika menafsirkan ayat ke-5 dari Surat Thaha berkata, “Panjenenga-Ne Pangeran kang  Maha Murah, kang pinarak siniwaka ana ing sadhuwure ‘Arsy.”

Selanjutnya beliau menerangkan lagi, “Kodos pundi tehnis pinarakipun Gusti Allah ing sanginggiling  ‘Arsy punika kawontenan ghaib, boten saged kekantha-kantha. Bab punika kuwajiban kita iman serta yakin bilih Kaagunganipun Allah serta Kesucianipun  trep kalayan anggenipun Maha Kawasa Murbeng – Jagad pinarak siniwaka ing ‘Arsy ingkang Agung.”

Pada tafsir ayat ke-54 dari Surat Al-A’raf, beliau juga berkata, “Sanyata Pengeranira iku Allah kang wus anitahake Langin lan Bumi sajeroning mangsa nem dina, tumuli PanjenengaNe lenggah ana ing ‘Arsy.”

Bey Arifin, ulama penulis Surabaya asal Sumatera Barat, ketika akan menjawab pertanyaan tentang “dimanakah Tuhan atau Allah itu ?”, Beliau menjelaskan terlebih dahulu sebuah “kaidah umum” dalam memahami nash-nash yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah sebagai berikut,

“Sebelum menjawab pertanyaan ini, agar jangan timbul kekeliruan perlu kita ingatkan kembali akan apa yang kita tetapkan tentang (sifat-sifat, atribut-atribut, dan ketentuan-ketentuan) Allah menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yaitu berdasarkan ayat-ayat Kitab Suci Al Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang shahih.”

“Bahwa kita tetapkan dan yakinkan (imani) bahwa Allah itu ada, tidak membutuhkan tempat, Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, Maha Kekal tak berawal dan tak berakhir, berbeda dengan segala makhluk, tak ada persamaan dan bandingannya, Maha Kuasa menciptakan segala dan memberi bentuk, mengendalikan dan mengatur seluruh alam, Maha Mendengar, Melihat dan Mengetahui, tak satu pun di langit dan di bumi, yang bagaimana halusnya yang tersembunyi dari penglihatan, pendengaran, dan pengetahuan-Nya.”

“Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, suci dari segala kekurangan dan kesalahan, mempunyai Nama-Nama Yang Baik. Bagi-Nya ketinggian, pujian, dan sanjungan, berkedudukan di Arasy yang tak dapat dibayangkan dengan khayal, tidak terbatas dengan batas apapun, tak dapat dicapai dengan ilmu (akal atau faham), kecuali sekedar apa yang diajarkan-Nya dengan perantaraan Kitab-Kitab Suci-Nya dan para Rasul-Nya.”

“Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Ia. Yang hidup, Yang Berdiri mengendalikan segala yang ada, Maha Suci, Maha Besar, Maha Halus (teliti), Maha Pengasih, Penyayang, Berkata-kata, Berkehendak, Menciptakan apa saja yang Ia kehendaki, Mengambil dan Memberi, Suka dan Benci, Cinta dan Marah, Gembira dan Ketawa, Menyuruh dan Melarang, Mempunyai Wajah yang mulia, Telinga yang mendengar, Mata yang melihat, Dua Tangan dan dua genggaman, Kekuatan, dan Kekuasaan. Senantiasa demikian buat selama-lamanya, berkedudukan di Arasy-Nya, Mengatur segala perkara atau urusan dari langit, tidak dapat dilihat oleh mata dari dunia ini, tetapi dapat dilihat oleh mata dari Surga-nya, Maha Agung Ia dengan segenap Sifat dan Perbuatan-Nya itu.”

Ustadz Bey Arifin kemudian menegaskan kembali aqidah tersebut di atas dengan kalimat yang lebih “keras” dengan mengatakan sebagai berikut, “Tuhan yang demikian itulah yang kita imani, terhadap Ia saja kita menyembah dan minta pertolongan, beribadat, rukuk dan sujud. Barang siapa yang menyembah kepada Tuhan yang lain sifatnya dari sifat-sifat yang tersebut di atas, berarti dia menyembah selain Allah, Maka inilah yang dinamakan syirk atau kafir, satu kekufuran dan kesyirkan yang tak dapat diampuni.”

Pada bagian yang lain, Ustadz Bey Arifin menjelaskan lebih lanjut sebagai berikut, “Begitu juga dengan kata-kata lain yang dihubungkan dengan Allah di dalam ayat-ayat Kitab Suci Al Qur’an dan Hadis-Hadis. Misalnya kata-kata : tangan, mata, wajah, dll. Allah bermata, bertangan, dan berwajah, yaitu mata, tangan, dan wajah yang sesuai dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Mata, tangan, wajah yang tak sama dengan tangan, mata, wajah manusia atau lain-lain makhluk.”

Beliau rahimahullah kemudian melanjutkan sebagai berikut, “Orang-orang yang dibukakan Allah hatinya akan dapat mengenal Tuhannya dengan ayat-ayat Kitab Suci-Nya yang disampaikan oleh Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari ta’wil, ta’thil, takyif, dan tamtsil, menghindarkan diri dari mengubah-ubah arti kata dari Kalamullah, membayangkan suatu cara atau bentuk bagi Allah, atau membayangkan suatu cara atau bentuk tertentu bagi Allah seperti bentuk makhluk.”

[1] Ungkapan, “Baginya Tangan…,” bermula tangan itu terjemah bagi lafal al-yad dengan bahasa Melayu. Maka adakah harus diterjemah akan segala shifat Allah Ta’ala yang mutasyabih seperti al-yad dan al-wajh denghan bahasa Melayu dan lain daripadanya atau tiada harus?

Jawab: berkata Al-Imam Abu Saiful Haq wad-Din Abul Mu’in An-Nasafi $ di dalam kitabnya, Bahrul Kalam:

و يجوز أن يقال بأن لله تعالى يدا بالعربية، لا يجوز بالفارسية. انتهى.

Artinya, “Dan harus bahwa dikatakan dengan bahwasanya ada bagi Allah Ta’ala yad dengan bahasa ‘Arab, tiada harus ia dengan bahasa Persi.

Dan berkata Al-Imam Abu Hanifah $ di dalam kitab Al-Fiqh Al-Akbar:

و كل ما ذكره العلماء بالفارسية من صفات الله تعالى عزت أسماؤه و تعالت صفاته فجاز القول به سوى اليد بالفارسية، و يجوز أن يقال بروى خدا (أي وجه الله)بلا تشبيه و لاكيفية.

Artinya, “Dan tiap-tiap barang yang menyebut akan dia oleh ulama dengan bahasa Persia daripada segala shifat Allah Ta’ala Mahamulia nama-Nya dan Mahatinggi segala shifat-Nya, maka harus berkata dengan dia, kecuali al-yad dengan bahasa Persia. Dan harus bahwa dikatakan بروي خدا (artinya: muka Allah) dengan ketiadaan menyerupakan dan ketiadaan kaifiyat.

Difaham daripada perkataan dua imam ini akan bahwasannya tiada harus diterjemah akan al-yad dan harus diterjemah ajan yang lain daripada yang lain daripadanya seperti al-wajhu. Tetapi berkata oleh Al-Imam Nashirus Sunnah Mulla ‘Ali bin Sukthan Muhammad Al-Qari di dalam Syarah-nya atas Al-Fiqh Al-Akbar pada halaman 93:

و إذا كان القول مقرونا بالتنزيه و نفي التشبيه فالفرق بين اليد و الوجه تدقيق يحتاج إلى تحقيق. انتهى.

Artinya, “Dan apabila adalah perkataan itu disertakan dengan menyucikan dan meniadakan menyerupakan, maka farq antara al-yad dan al-wajh tadqiq yang berhajat ia kepada tahqiq.”

Berkata aku, “Maka barangkali karenma ini menerjemah oleh ulama Melayu kita akan shifat mutasyabihah di dalam kitab-kitab mereka itu seperti Firidah Al-Faraid, dan kitab Ad-Durr Ats-Tsamin, dan kitab ‘Aqidah An-Najin. Wallahua’lam.

[2] Qs Asy-Syura: 11.

[3] Qs Al-Ikhlas: 1, 2, 3, 4.