pencil

Terjemahan Kitab Aqidah Wasithiyyah Pertama di Nusantara

Kapan pertama kali Kitab Aqidah Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah diterjemahkan di Nusantara ?

Boleh jadi karya dalam foto terlampir berikut ini merupakan terjemahan pertama atas Kitab Aqidah Wasithiyyah karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di Nusantara..

Terjemahan ini dikerjakan oleh 3 orang da’i, yakni Ustadz Bey Arifin, Ustadz Drs. H. Abd. Rasyid, dan Ustadz H. A. Alchamdany, serta diterbitkan oleh Bina Ilmu pada tahun 1987.

Tentang Ustadz Bey Arifin rahimahullah, telah berlalu tulisan kami beberapa waktu lalu yang mengulas juhud Beliau dalam memurnikan ajaran tauhid di Nusantara.

Terjemahan ini diberi judul “Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirk : Bagian Kedua”.

Mengapa disebut “Bagian Kedua” ?

Ini karena karya ini merupakan lanjutan dari bagian pertama yang berisi terjemahan pertama dalam bahasa Indonesia atas Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Bagian pertama ini dikerjakan pula oleh Ustadz Bey Arifin dengan dibantu oleh rekan-rekannya dari Kodam Brawijaya.

Ustadz Bey Arifin dkk memilih menggunakan judul atas kedua karya terjemahannya itu dengan judul : “Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirk”.

Ini tentu saja sebuah isyarat bahwa bagi Ustadz Bey Arifin dkk, tauhid seorang muslim akan menjadi bersih, murni, dan lurus jika telah mengamalkan apa yang menjadi kandungan dari Kitab Tauhid dan Kitab Aqidah Wasithiyyah tersebut.

Lebih lanjut mengenai latar belakang diterbitkannya terjemahan Kitab Aqidah al Wasithiyyah ini, Ustadz Bey Arifin menjelaskan sebagai berikut :

“Sebenarnya buku ‘Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirk’ yang pertama baru berisi sebagian dari ilmu tauhid, yaitu Tauhid Uluhiyah.”

“Sedang segi lain tauhid yaitu Tauhid Rububiyah belum diuraikan dalam buku tersebut. Guna melengkapi pengetahuan para pembaca tentang tauhid itulah, penerjemah tergerak untuk menerbitkan buku ini dan kami beri judul ‘Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirk’ bagian kedua.”

“Buku ini adalah terjemahan dari kitab ‘al Aqiedah al Washitiyah’ karangan Ibnu Taimiyah, yang berisi tentang uraian Tauhid Rububiyah dengan gamblang dan jelas, yang sengaja ditulis dengan metode dan sistematika yang sesuai bagi pelajar dan mahasiswa.”

“Al-Aqiedah al-Wasithiyah secara harfiah berarti ‘kepercayaan moderat’, yang dimaksud adalah kepercayaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu suatu aliran tauhid yang sesuai dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw, serta diikuti oleh para Sahabat dan para Ulama Salaf.”

“Dengan menghidangkan buku ‘Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirk’ bagian kedua ini, penerjemah bermaksud melengkapi perbendaharaan ilmu para pembaca yang budiman dengan ilmu tauhid yang benar. Insya Allah buku ini akan sangat bermanfaat bagi para pelajar dan mahasiswa serta umat Islam umumnya yang ingin memperdalam pengetahuan agamanya yang kita cintai ini.”

(selesai nukilan)

Mengapa terjemahan Kitab Tauhid dijadikan bagian pertama ketimbang terjemahan Kitab Aqidah Wasithiyyah ?

Hal tersebut merupakan bentuk kefaqihan dan kejelian dari Ustadz Bey Arifin dkk. Beliau memulainya dengan penjelasan dan dakwah tentang tauhid uluhiyyah (mengesakan Allah dalam ibadah), dimana hal ini juga merupakan hal yang pertama kali didakwahkan oleh Rasulullah kepada kaumnya. Ustadz Bey Arifin jelas ingin meneladani Rasulullah dalam hal ini.

Kemudian setelah dipandang cukup pemahaman umat tentang tauhid uluhiyyah, barulah Ustadz Bey Arifin dkk beranjak kepada marhalah yang kedua, yakni pemantapan sisi tauhid rububiyyah, dimana salah satu poin dalam pembahasan tauhid rububiyyah ini adalah pembahasan tentang aqidah nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Dan Kitab Aqidah Wasithiyyah merupakan kitab yang sangat representatif dalam menjelaskan hal tersebut. Apalagi dalam Kitab Aqidah Wasithiyyah diuraikan juga poin-poin penting aqidah ahlus sunnah wal jama’ah lainnya yang wajib diketahui oleh seorang muslim, selain pembahasan tentang aqidah asma’ wa shifat.

Hanya saja, sangat disayangkan pada edisi terjemahan bagian kedua ini terdapat kesalahan fatal pada cover buku, dimana masih mencantumkan nama Kitab at Tauhid dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai judul kitab dan penulisnya, padahal bukan.

Kekeliruan ini yang membuat beberapa kalangan yang hanya melihat cover saja tanpa isinya kemudian menganggap bahwa terjemahan bagian kedua ini sebagai lanjutan dari terjemahan Kitab Tauhid yang telah diterjemahkan sebelumnya.

Padahal terjemahan bagian kedua ini merupakan terjemahan Aqidah Wasithiyyah, bukan terjemahan Kitabut Tauhid.