pencil

Mutiara Bidayatul Mujtahid: Batasan Membasuh Wajah (edisi 2)

Masalah Keempat: Terkait Batasan Membasuh Wajah

Telah disepakati ulama bahwa mencuci muka secara menyeluruh termasuk fardhu wudhu, karena firman Allah Ta’aala:

فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ…٦

“…Maka basuhlah muka-muka kalian…” (QS: Al-Maaidah: 6).

Namun para ulama berbeda pendapat dalam tiga perkara:

  1. Masalah membasuh bagian bawah telinga disamping janggut
  2. Mengusap janggut
  3. Menyela-nyela daerah tumbuhnya janggut

Apakah ketiga perkara itu termasuk bagian dari perintah mengusap wajah atau tidak ? Adapun masalah pertama yang populer dari madzhab Imam Malik ialah bagian yang terletak antara bawah telinga dan janggut bukan bagian daripada wajah. Adakalanya dalam madzhab dibedakan antara yang berjanggut dan yang tidak, sehingga menjadi tiga keadaan dalam madzhab beliau.

Imam Asy-Syafi’iy dan Abu Hanifah melihat bahwa hal itu “Termasuk bagian daripada wajah”.

Masalah kedua Imam Malik dan salah satu pendapat Imam Asy-Syafi’iy menyatakan wajibnya membasuh janggut yang tumbuh, berbeda dengan pendapat Imam Asy-Syafi’iy yang lainnya menilai tidak wajib membasuh janggut, begitu pula Imam Abu Hanifah -rahimahumullah-.

Adapun sebab perbedaan dari kedua masalah tersebut ialah terletak pada samarnya cakupan makna “Wajah” dalam pandangan syari’at, apakah kedua masalah itu termasuk bagian wajah atau bukan.

Masalah ketiga Imam Malik menilai bukan kewajiban menyela-nyela janggut dalam wudhu’, begitu pula dalam pendapatnya Imam Asy-Syafi’iy dan Abu Hanifah, kecuali Ibnu Abdil Hakam (seorang ‘alim dalam madzhab Maliki).

Sebab perbedaan dalam masalah ini ialah karena beda dalam menilai hadits/atsar yang terkait perintah menyela-nyela janggut, dan mayoritas dari hadits/atsarnya adalah tidak shahih, bahkan hadits-hadits yang shahih yang menjelaskan sifat wudhunya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak menyebutkan perihal menyela-nyela janggut disana. (perkataan beliau disini perlu dikaji, karena cukup banyak hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu menyela-nyela janggutnya ketika berwudhu, bahkan berkata Imam At-Tirmidzi: Haditsnya Hasan Shahih. Dan berkata Muhammad bin Isma’il: Paling Shahih dalam bab ini ialah haditsnya ‘Amir bin Syaqiiq dari Abi Wa-il dari Utsman, selesai. Namun demikian ini merupakan perkara sunnah yang sering terlupakan atau tidak banyak diketahui -pent).

 

Masalah Kelima: Batasan Membasuh Kedua Tangan dan Sikut

Telah sepakat para ulama bahwasanya membasuh tangan dan sikut hukumnya fardhu (wajib), berdasarkan firman Allah Ta’aala:

…وَأَيۡدِيَكُمۡ إلى المرافق…٦

“…dan tangan-tanganmu (basuhlah) sampai sikut…”. (QS: Al-Maaidah: 6).

Mereka berbeda pendapat tentang termasuknya sikut dalam ayat, adapun jumhur Malik, AsySyafi’iy dan Abu Hanifah, mengatakan yang demikian itu termasuk dalam perintah dan wajib. Sementara itu beberapa Ahli Zhohir, dan generasi akhir dari pengikut madzhab mailiki dan Imam At-Thabary mengatakan yang demikian itu ialah bukan bagian dari perintah, sehingga tidak wajib dibasuh.

Sebab perbedaannya ialah karena bergabungnya beberapa makna dalam satu kata, yaitu huruf “إلى” dan kata “اليد” dalam perkataan Arab. Huruf “إلى” dalam perkataan orang Arab terkadang menyatakan akhir tujuan, dan adakalanya menyatakan penyertaan. Dan kata “اليد” pun dalam perkataan orang Arab digunakan untuk 3 makna, bisa telapak tangan saja, atau telapak tangan dan lengan, atau telapak, lengan dan hasta. Dari sini maka didapat 2 keputusan:

  1. Siapa yang menjadikan “إلى” penyertaan atau memahami makna “اليد” adalah telapak, lengan dan hasta, maka ia mewajibkan sikut ikut terkena basuh.
  2. Siapa yang meyakini makna “إلى” hanya akhir tujuan, serta makna “اليد” itu yang dibawah sikut, dan batas akhir itu bukan termasuk dari batasan itu sendiri, maka tidak memasukkan sikut dalam bagian anggota yang wajib dibasuh.

Imam Muslim mengeluarkan hadits dalam shahihnya dari sahabat Abi Hurairah:

“أَنَّهُ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى حَتَّى أَشْرَعَ فِي الْعَضُدِ، ثُمَّ الْيُسْرَى كَذَلِكَ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى حَتَّى أَشْرَعَ فِي السَّاقِ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى كَذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَتَوَضَّأُ “

Artinya: “Bahwasanya beliau mencuci tangannya yang kanan hingga mencapai lengan (melebihi sikut), kemudian yang kiri pun demikian, kemudian mencuci kakinya yang kanan hingga mencapai betis (melebihi tumit), kemudian yang kiri pun demikian, kemudian beliau berkata: “Begitulah saya melihat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berwudhu”.

Hadits tersebut menjadi hujjah bagi yang meyakini bahwa sikut termasuk yang wajib di basuh bersama tangan, karena qaidah mengatakan: “Jika suatu lafazh berada diantara dua makna yang sama kuatnya, tidak boleh condong ke salah satunya kecuali dengan adanya dalil”. Walaupun makna “إلى” dalam pembicaraan orang Arab lebih dekat kepada makna akhir tujuan daripada makna penyertaan dan begitupula makna “اليد” lebih jelas pada yang dibawah lengan daripada yang diatas lengan.

Maka dari itu bisa kita ambil kesimpulan bahwa yang tidak menyertakan sikut dalam bagian tangan yang wajib dibasuh dari segi kaidah bahasanya lebih kuat, sedangkan yang menyertakan sikut dalam bagian tangan yang wajib dibasuh dari segi dalil atsar dan haditsnya lebih jelas. Kecuali jika diarahkan maksud atsar itu kepada hal yang mandub (dekat dengan makna sunnah). Masalah ini mengandung banyak kemungkinan sebagaiman yang telah kita lihat. Beberapa orang berpendapat bahwa: “sesungguhnya batas tujuan itu jika termasuk dari jenisnya sendiri maka ikut serta bersamanya, namun jika ia diluar/bukan dari jenisnya sendiri maka tidak bisa disertakan bersamanya.

 

Masalah Keenam: Batasan Mengusap Kepala

Telah sepakat para ulama bahwa mengusap kepala merupakan fardhu dalam wudhu, akan tetapi mereka berselisih faham tentang ukuran yang mencukupi dalam mengusap.

  • Imam Malik menyatakan bahwa seluruh kepala wajib diusap
  • Imam Asy-Syafi’iy dan beberapa pengikut Maliki dan Abu Hanifah menyatakan bahwa sebagian kepala saja yang wajib diusap
  • Diantara pengikut Imam Malik ada yang menilai sebagian itu sepertiga dari kepala
  • Dari mereka juga ada yang berpendapat dua pertiga dari kepala
  • Adapun Abu Hanifah membatasi sebagian itu dengan seperempat kepala sekurang-kurangnya dan beliau membatasi tangan yang digunakan untuk mengusap jika kurang dari 3 jari maka tidak mencukupi.
  • Imam Asy-Syafi’iy tidak menentukan apapun dari sebagian itu, baik yang diusap ataupun yang mengusapnya.

Asal perbedaan ini terletak pada penafsiran huruf “ب” dalam ayat wudhu surat Al-Maaidah tersebut di atas, karena dalam perkataan orang Arab “ب” terkadang berfungsi sebagai tambahan penguat bahasa, seperti pada ayat {تَنْبُتُ بِالدُّهْنِ} [المؤمنون: 20] bagi yang membaca dengan dhommah pada “ت” pertama (تُنْبِتُ), dan “ب” adakalanya menunjukkan sebagian, seperti perkataan “أَخَذْتُ بِثَوْبِهِ وَبِعَضُدِهِ” yang berarti: “saya memegang pakaiannya dan lengannya”, karena tidaklah mungkin dia menjangkau seluruhnya. Dan ini tidak dapat diingkari dalam perkataan Arab, sebagaimana yang diyakini oleh ahli nahwu kufah.

Dari situ kita ketahui siapa yang melihat huruf “ب” sebagai tambahan penguat maka dia mewajibkan usap kepala seluruhnya, dan siapa yang melihatnya sebagai penunjuk sebagian maka ia mewajibkan usap sebagiannya saja. Dan yang memahami ini berhujjah dengan hadits dari Mughirah bin Syu’bah -radhiallahu ‘anhu-:

«أَنَّ النَّبِيَّ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ – تَوَضَّأَ فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَى الْعِمَامَةِ» خَرَّجَهُ مُسْلِمٌ.

“Bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu lalu mengusap rambut depannya dan atas sorbannya” (Hadits dikeluarkan oleh Imam Muslim).

Jika saja kita meyakini huruf “ب” itu bermaksud sebagai tambahan penguat saja dalam ayat, maka tidak menutup adanya sebab lain yang menyebabkan berbeda, yaitu apakah yang wajib dilaksanakan itu mengacu pada awal setiap nama atau akhir bagian dari nama tersebut ? (ini perlu dikaji kembali pada masalah ushul fiqh -pent).

Wallahu Ta’aala A’lam bis Showab

 

Bersambung pada sesi berikutnya…

Written By: Abu Hatim Hanifuddin