pencil

TADABBUR TODAY | Al-Fatihah: 6-7

 

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

(6) Tunjukilah kami jalan yang lurus (7) (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

  1. Setelah menyebutkan bahwa hanya padaNya kita memohon pertolongan, Allah mengajari kita bahwa hal yg paling pertama dan paling utama untuk kita memohon pertolongan Allah atasnya adalah “istiqamah di atas jalan yang lurus”. Mustaqim itu dalam ilmu Sharf merupakan kata pelaku dari istiqamah. Kita pasti ingat dalam matematika, jarak paling dekat antara dua titik adalah dengan menarik garis lurus di antara keduanya. Begitupun jalan menuju surga.
  2. Ada seseorang datang bertanya pada Nabi: Wahai Rasulullah, beritahukan padaku sebuah nasihat yg aku bisa mencukupkan diri mengamalkannya tanpa perlu meminta nasihat pada selain engkau!, Rasul yg mulia menjawab, “Katakanlah: Aku beriman. Kemudian istiqamahlah!” [HR Muslim]. Lihat firman Allah ta’ala QS. 41 : 30-32 dan QS. 46 : 13-14 yang senada dengan hadits ini.
  3. “Orang-orang yang Allah ta’ala berikan nikmat” di sini ada tafsirannya di QS. 4 : 69-70 Yaitu 4 kelompok: Para Nabi (Nabi Muhammad adalah yg terdepannya), Ash-Shiddiqin (Abu Bakar di barisan terdepan), Syuhada (Umar, Utsman, & Ali menjadi penghulu kelompok ini), dan Orang-orang Shalih (semoga kita minimal termasuk kelompok ini, amin).
  4. Ibnu Jarir rahimahullah berkata saat menafsiri ayat ini: Tafsiran yg paling utama adalah “Berilah kami taufik untuk teguh di atas apa yang Kau ridhai berupa ucapan ataupun perbuatan, yang telah Engkau tunjuki para Nabi, Ash-Shiddiqin, syuhada, & orang-orang shalih menuju padanya.”
  5. Dalam firman Allah ta’ala “Ihdinaa” ada isyarat bahwa meminta hidayah jangan egois, jangan cuma buat diri sendiri aja. “Jangan mau masuk surga sendirian”, demikian sering dikatakan. Berdoa juga baiknya begitu, misalnya berdoa minta lulus ujian dan ampunan, pakai kata “kami” jangan cuma “saya”.
  6. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa tatkala Rasul sedang di atas kuda beliau, ada seorang lelaki bertanya: Siapakah al-maghdhub ‘alaihim?, Rasul menjawab, “Orang2 Yahudi”, Lantas siapa gerangan adh-dhallin?, Beliau menjawab, “Orang2 Nasrani.”
  7. Ada isyarat larangan mengikuti jalannya Yahudi yg dimurkai Allah akibat berilmu tapi tidak beramal. Juga larangan menyerupai Nasrani yang banyak melakukan ritual tanpa landasan.
  8. Dalam surat Al-Fatihah ini tampak jelas nilai-nilai Tauhid Rububiyyah (bahwasanya Allah-lah yg mencipta, membina, dan membangkitkan), Tauhid Uluhiyyah (bahwa hanya pada-Nya ibadah ditujukan), dan Tauhid Asma wa Shifat (bahwasanya Dialah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Sang Raja yg Menguasai, Yang Maha Menolong, Yang Maha Memberi Petunjuk, Yang Maha Mengaruniai Nikmat, memiliki sifat kasih sayang dan murka).

Wallahu A’lam.