pencil

Perhatian Ustadz Moenawar Chalil Terhadap Kemurnian Sirah Nabi ﷺ

Dalam muqaddimah kitab “Kelengkapan Tarikh Nabi Nabi Muhammad”, Ustadz Moenawar Chalil rahimahullah menceritakan bahwa dirinya diminta oleh banyak kalangan untuk menuliskan sebuah kitab sejarah Nabi Muhammad yang terbebas dari kisah-kisah palsu, yang dikarang oleh musuh-musuh Islam atau kaum Muslimin yang pengecut.

Ustadz Moenawar Chalil sendiri juga merasakan bahwa pada masa itu (sekitar dekade 1930-an) sudah sangat mendesak untuk segera ditulis riwayat Nabi Muhammad yang bersih dari riwayat-riwayat dusta.

Ustadz Moenawar Chalil mengatakan sebagai berikut :

“Lagi pula karena aku mengingat, bahwa perkara yang dimaksud oleh mereka itu memang sudah pada masanya. Karena sesudah kuselidiki benar-benar dan kuteliti dengan seksama, ternyata bahwa kita umat Islam Indonesia, hingga sampai pada masa ini, belumlah mempunyai salinan kitab tarikh Nabi Kita Muhammad SAW yang agak luas dan sempurna serta bersih dari ceritera-ceritera palsu, dalam bahasa yang umum, yang dapat dipahamkan oleh para kawan Umat Islam di Indonesia khususnya, dan oleh bangsaku, rakyat Indonesia pada umumnya.”

“Sedang menurut riwayat, agama Islam masuk dan tersiar di seluruh kepulauan Indonesia ini, dari mula-mula sampai pada masa ini sudah lebih dari empat abad lamanya. Lain dari itu teringat pula olehku, bahwa banyaknya penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam, menurut catatan seorang Islam ahli pengetahuan di Eropa, ada lebih dari empat puluh juta jiwa. Tetapi umat yang sekian jumlahnya itu, jika diselidiki benar-benar nyata tidak seberapa yang mengerti bahasa Arab dengan secukupnya, belum ada lima persen, padahal kitab-kitab tarikh Nabi Muhammad yang panjang, luas, dan bersih itu, kebanyakan dalam bahasa Arab ; dan sekalipun pada masa yang akhir-akhir ini telah ada beberapa salinan kitab tarikh Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Indonesia dan lain-lainnya, akan tetapu belumlah salinan-salinan itu dapat memuaskan mereka yang telah sadar dan insyaf, yang hendak mengetahui betapakah tarikh dan riwayat hidup pribadi Nabi Muhammad SAW, yang agak panjang dan sempurna lagi yang bersih dari ceritera-ceritera kosong atau bohong ; dan bilakah tarikh Nabi kita yang sedemikian itu akan tersalin dalam bahasa yang umum, yang dipahamkan oleh rakyat Indonesia seluruhnya ?”

“Oleh karena itu, timbullah perasaan yang mendorong dari dalam hati sanubariku, bahwa wajiblah rasanya aku menyalin kitab tarikh Nabi Muhammad SAW yang agak panjang, luas, dan agak sempurna serta yang bersih dari kepalsuan-kepalsuan itu, dengan bahasa yang umum, yang dapat dipahamkan oleh bangsa dan umat Islam di Indonesia, ialah dengan dengan bahasa Indonesia.”

(selesai nukilan)

Pada halaman-halaman selanjutnya, Ustadz Moenawar Chalil kembali menegaskan keterbatasan kaum Muslimin Indonesia dalam mengakses kitab-kitab sirah Nabi yang lebih luar dan murni dengan mengatakan sebagai berikut :

“Kalau penulis ingat akan kepentingan tarikh Nabi Muhammad bagi segenap kaum Muslimin, maka timbullah kekecewaan hati penulis terhadap keadaan sebagian besar kaum Muslimin di Indonesia, yang hingga dewasa ini masih amat sedikit sekali yang sungguh-sungguh rajin mempelajari kitab-kitab tarikh (sirah) Beliau yang utama itu. Ada juga yang mempelajarinya, tetapi hanya sekelumit saja dari kitab-kitab tarikh yang kecil-kecil, karena yang diajarkan oleh para kiai/gurunya ialah kitab-kitab tarikh Nabi Muhammad yang kecil-kecil itu. Dengan demikian, tentu saja sebagian besar kaum Muslimin tidak mengerti bagaimana riwayat perjalanan Nabi Muhammad dalam menyiarkan agama Allah di muka bumi dan dalam memperjuangkan cita-cita Islam di tengah-tengah masyarakat umat manusia. Bahkan ada di antara kaum Muslimin di Indonesia dalam mempelajari tarikh Nabi Muhammad itu hanya dengan perantaraan buku-buku atau kitab-kitab Maulid, seperti karangan Syekh Jafar al Barzanji, padahal kitab-kitab Maulid itu bukanlah berisi tarikh Nabi Muhammad yang sebenarnya, tetapi berisi pujian dan sanjungan kepada pribadi Beliau. Peristiwa-peristiwa yang sangat mengecewakan hati setiap Muslim yang telah sadar itu hendaknya diambil perhatian oleh segenap ulama dan zuama Islam. Buat di Indonesia hingga dewasa ini, buku yang berisi tarikh/sirah Nabi Muhammad SAW yang agak besar serta luas pembahasannya dengan bahasa Indonesia hanya baru dua, yaitu yang disusun oleh al Mukarram Ustadz H. Zainal Arifin Abbas, Medan, setebal 2000 halaman lebih, dan yang disusun oleh penulis ini, juga lebih dari 2000 halaman.”

(selesai nukilan)

Keinginan untuk menyajikan kisah sirah Nabi Muhammad secara murni dan bebas dari riwayat-riwayat dusta dan lemah membuat Ustadz Moenawar Chalil sangat berhati-hati dalam menampilkan riwayat dalam bukunya tersebut. Sikap kritis dikedepankan agar keinginan tersebut sejauh mungkin dapat direalisasikan.

Sikap kritis dan hati-hati yang ditempuh oleh Ustadz Moenawar Chalil sangat terlihat dalam karyanya ini ketika Beliau mengkritik beberapa riwayat yang menurut Beliau dusta. Beliau juga tidak jarang mengambil pendapat yang saat itu kurang masyhur di masyarakat berdasarkan pentahqiqan yang Beliau lakukan.

Beberapa contoh yang dapat diambil diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Dalam masalah tanggal kelahiran Nabi Muhammad, Ustadz Moenawar Chalil lebih menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad lahir pada Senin, 09 Rabi’ul Awwal, atau bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi. Pendapat Beliau ini tentu saja berbeda dengan pendapat yang masyhur bahwa Nabi Muhammad lahir pada 12 Rabi’ul Awwal. Pentahqiqan Beliau ini mengikuti pentahqiqan seorang ulama Ahli Falaq yang bernama Syaikh Mahmud Pasya al Falaki.
  2. Beliau mengkritik riwayat-riwayat yang bercerita tentang kapan Nabi Muhammad dikhitan. Menurut Beliau, khitannya Nabi Muhammad adalah menurut adat kebiasaan yang saat itu berlaku di bangsa Arab. Riwayat yang menyatakan bahwa Nabi dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan dan terpotong pusarnya adalah riwayat yang dusta.
  3. Beliau meragukan keshahihan riwayat pertemuan Nabi dengan Pendeta Bahira di Syam. Menurut Beliau meskipun riwayat tersebut banyak terdapat dalam kitab-kitab sirah, namun para ulama hadits belum dapat menerima begitu saja riwayat tersebut. Beliau berpesan bahwa hendaknya kita berhati-hati dalam meriwayatkan kisah tersebut. Beliau sendiri saat itu masih terus melakukan penyelidikan terhadap sanad riwayat tersebut.
  4. Beliau menolak riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad di kala mudanya pernah pergi berdagang ke Yaman, sebagaimana yang banyak dikutip oleh para orientalis dengan bersandar pada riwayat Imam ath Thabari. Beliau berpesan bahwa hendaklah berhati-hati dalam soal riwayat. Jangan terburu-buru menerima dan mempercayai riwayat-riwayat yang tidak bersumber dari kitab-kitab mu’tabar.
  5. Beliaumenolak riwayat dusta tanpa sanad yang menyebutkan bahwa saat bertemu dengan Malaikat Jibril pertama kali untuk menerima wahyu, Jibril menyuruh Beliau membaca sambil mengeluarkan sehelai kain sutera halus yang dihiasi dengan intan permata yang ditengah-tengahnya tertulis beberapa tulisan. Menurut Beliau riwayat ini menyalahi ayat-yata Al Qur’an dan beberapa riwayat yang shahih yang menerangkan sifat ke-ummi-an Nabi.
  6. Beliau menolak dengan keras riwayat Gharaniq yang sangat masyhur itu, bahkan membuat satu bab khusus untuk membantah kedustaan kisah ini dari sisi kajian sanad maupun matan. Mengenai kisah sujudnya kaum musyrikin saat Nabi membacakan surah an Najm, Ustadz Moenawar Chalil berpendapat bahwa bahwa sujudnya kaum musyrikin tersebut bukan karena bacaan Nabi ada yang memuji-muji berhala-berhala mereka, bukan karena tergelincirnya bacaan Nabi disebabkan oleh angan-angan dan keinginan Beliau sendiri, dan bukan pula karena Beliau terpedaya oleh setan ; namun sujud mereka itu tidak lain karena tajamnya bahasa ayat-ayat yang Beliau baca dan dari hebatnya arti/makna ayat-ayat itu.
  7. Beliau menolak riwayat yang menyatakan bahwa Abu Thalib wafat dalam keadaan muslim. Beliau juga menerangkan bahwa semua riwayat yang menerangkan Abu Thalib wafat dalam keadaan muslim, tiada ada yang sah dari Nabi, dan kebanyakannya palsu, serta karangan sebagian orang-orang Rafidhah.
  8. Beliaumengingatkan bahwa riwayat-riwayat yang berkenaan dengan Isra’ dan Mi’raj banyak yang tidak benar dan bahkan palsu. Oleh karenanya Beliau mengingatkan bahwa para ulama harus berhati-hati apabila meriwayatkan peristiwa Isra’ Mi’raj di depan umum. Dalam pembahasan ini, Ustadz Moenawar Chalil mempersilakan pembaca untuk merujuk kepada bukunya yang khusus membahas tentang riwayat Isra’ Mi’raj. Dan alhamdulillah perpustakaan kami pun telah mengoleksinya.
  9. Beliau mengkritisi riwayat-riwayat palsu yang yang berkenaan dengan perkawinan Nabi dengan Zainab binti Jahsy. Riwayat-riwayat palsu ini menurut Beliau dibuat-buat oleh musuh-musuh Islam untuk menodai kehormatan Nabi dan agama yang dibawanya.

Beberapa contoh di atas membuktikan bahwa bagaimana usaha Ustadz Moenawar Chalil dalam berijtihad untuk menyajikan kisah sirah Nabawiyah yang bersih dari riwayat dusta.

Sikap kritis Beliau dalam menerima riwayat dari Nabi merupakan ciri khas yang juga Beliau tampakkan dalam karya-karya Beliau lainnya.

Semoga Allah merahmati Beliau.

 

Sumber :
Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shalallallahu ‘Alaihi Wasallam, penerbit Bulan Bintang, tahun 1994