pencil

Ketenaran, Dicari Atau Dijauhi?

Siapapun yang membaca sejarah kaum salaf shalih, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka, akan mendapati bahwa mereka sangat membenci ketenaran.

Betapa banyak ungkapan mereka yang sangat nampak menjauhinya, contohnya “Tidak ada yang mencegahku untuk duduk di majelis kalian kecuali karena aku takut ketenaran”, atau “Sebarkan ilmu yang engkau miliki, tapi berhati-hatilah dari ketenaran”, atau ungkapan “Seseorang tidak jujur pada Allah jika ia menyukai ketenaran”, dan ungkapan lain yang senada.

Tak dapat disangkal, para imam tersebut tidaklah berkata demikian kecuali mereka telah benar-benar memahami efek ketenaran dalam hati manusia. Semakin melebar sayap popularitas maka semakin berat beban di hatinya, semakin berat perjuangan mencapai keikhlasan karena Allah Ta’ala, juga perjuangan hati untuk membersihkan noda-nodanya.

Yang mereka lakukan tak lain adalah suatu yang benar, hanya saja yang disaksikan pada sebagian penuntut ilmu, sebagian para juru dakwah ilallah, mereka menyebutkan atsar-atsar tersebut -baik dengan teksnya maupun maknanya- kerapkali ketika diberi tawaran untuk berkontribusi dalam menyebarkan ilmu atau berdakwah di jalan Allah, seolah-olah atsar tersebut satu-satunya jalan yang harus ditempuh.

Padahal, jika kita balik bertanya kepada mereka: Bagaimana atsar-atsar tersebut bisa sampai pada kita? Bagaimana kita bisa mengenal imam-imam tersebut? Bagaimana mereka bisa menjadi imam yang diteladani?

Semua itu tidak mungkin terjadi kecuali dengan sebab perjuangan dan kontribusi mereka. Andaikata mereka memilih bermalas-malasan atau bersantai-santai, tentu manusia tidak akan bisa mengambil manfaat dari ilmu mereka.

Oleh karena itu, atas dasar fikih mereka yang kokoh, peringatan mereka terhadap ketenaran sama sekali tidak menghalangi mereka untuk menyumbangkan apa yang Allah berikan, yaitu ilmu. Kalau tidak, dari mana kita bisa mengenal mereka?!

Bukan perkara yang samar lagi bagi para penuntut ilmu, bahwa terkenal dengan ilmu dan pencarian hadits adalah salah satu syarat agar riwayat seseorang diterima. Jika tidak, maka keshahihan riwayatnya menjadi bermasalah; karena menyebabkan dia masuk kategori perawi yang tidak dikenal dan tidak diketahui keadaannya.

Imam Ahmad rahimahullah, salah satu imam yang terkenal dalam masalah membenci ketenaran dan lari dari popularitas, sampai-sampai beliau pernah mengucapkan: Aku ingin tinggal di salah satu kampung di Makkah agar aku tidak dikenal, karena aku telah diuji dengan ketenaran, sesungguhnya aku ingin meninggal dunia setiap pagi dan petang.

Beliau juga pernah bertutur: Tidak ada sesuatu apapun yang mengimbangi kefakiran, seandainya aku menemukan jalan, aku akan keluar sampai tidak ada lagi yang menyebut namaku.

Beliau juga pernah menasehatkan kepada muridnya yang bernama Al-Marrudzi: Katakan kepada Abdul Wahhab: Sembunyikan dirimu, karena aku telah diuji dengan ketenaran.

Ungka[an-ungkapan beliau dapat dibaca dari kitab Siyar A’lam An-Nubala cet. Ar-Risalah 11/216-226, Al-Adab As-Syar’iyah 2/27.

Seorang imam yang menyebutkan tentang ketenaran sedemikian rupa, ternyata tidak menghalangi beliau untuk menunaikan kewajiban Allah dalam menyampaikan ilmu, membaur dengan manusia, bahkan di hadapan para penguasa dan ulama jelek ketika dipaksa untuk mengucapkan kalimat bid’ah dan kufur, yaitu mengucapkan Al-Qur’an adalah makhluk.

Mengamati biografi imam ini dan imam-imam lainnya yang membenci ketenaran, seperti Ibnu Sirin, Ayyub As-Sikhtiyani, At-Tsauri dapat ditarik benang kesimpulan bahwa mereka seimbang dan dalam masalah ini sementara kebanyakan manusia dalam posisi berat sebelah.

Tengoklah ungkapan indah dari Imam Nawawi rahimahullah saat berkata dalam kitab al-qadha dari kitab “Raudhah At-Thalibin” 11/92:

“Adapun orang yang layak -menjadi hakim- ada dua keadaan: yang pertama adalah ditunjuk sebagai hakim maka wajib baginya untuk menerima, dan ia harus mengenalkan dirinya di sisi imam jika ia tidak terkenal, dan tidak diberi udzur karena alasan takut jiwanya condong atau menyimpang, justru ia harus menerima dan berhati-hati, jika tidak mau, maka dia telah bermaksiat.”

Beliau juga berkata tidak jauh setelah itu 11/93:

“Adapun mengejarnya, jika dia adalah orang yang tidak terkenal, seandainya ia mendapatkan gelar tersebut, lalu menjadi terkenal dan manusia mengambil faidah dari ilmunya, maka dianjurkan baginya untuk mengejarnya menurut pendapat yang shahih.”

Ini adalah fikih yang ditopang oleh banyak dalil, lalu semakin indah karena bersumber dari seorang alim, ahli ibadah dan orang yang zuhud.

Yang nampak dan dapat diamati bersama dalam sejarah, juga disaksikan dalam fakta yang sedang berjalan, sesungguhnya ketenaran itu bagaikan kepemimpinan. Siapa yang mencarinya maka ia yang harus menanggung dan menerima pengaruh buruknya sesuai tingkatan ambisi dalam hatinya. Sedangkan orang yang diberi tanpa ambisi, ia akan ditolong.

Jika hal ini jelas, maka orang yang cerdas pasti tidak berambisi mengejar ketenaran atau popularitas, misalkan yang disebutkan dalam biografi salah seorang di antara mereka : “Ketika shalat tarawih ia membaca qiraah syadzah karena ingin terkenal”, atau yang lebih buruk lagi “Ia memiliki nafas ambisi popularitas dan mengejar kedudukan”. Semua ini justru malah menyebabkan kehinaan dan tidak mendapatkan keberkahan ilmu, bahkan malah menyebabkan amalnya tidak diterima, wal iyadzu billah!

Pembahasan ini perlu penjabaran yang cukup, namun ini hanyalah isyarat. Yaitu hendaklah para penuntut ilmu dan juru dakwah lebih semangat dan tidak bermalas-malasan dengan alasan takut terkenal atau semisalnya.

Apalagi di saat manusia membutuhkan ilmu agama mereka, dan mereka siap untuk mempelajari ilmu syar’i, maka sepatutnya orang yang diberi keutamaan Allah berupa ilmu untuk menyambut peluang amal shalih yang berharga tersebut.

Adapun jika tiba-tiba terlintas dalam hatinya ingin mengejar popularitas atau bangga dengan ketenaran maka hendaklah berjuang untuk memeranginya dan menjaga keikhlasannya.

Sebenarnya masalah ini berkaitan erat dengan dua masalah besar, yaitu ikhlas dan masalah mana yang lebih baik antara membaur dengan manusia ataukah menyendiri? Para ulama sudah menuliskan masalah ini mana yang lebih utama.

Orang yang jujur maka Allah akan menolongnya, adapun orang yang berbicara omong kosong, Allah akan menghinakannya. Semoga Allah menjaga kita dari keburukan diri kita dan memberi taufik ke arah yang dicintai dan diridhai.

 

Sumber utama :

Makalah Syaikh Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil dalam website Ad-Durar As-Saniyyah.