Saudariku, Tutupilah Auratmu!

0
247

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putirmu, dan istri-istri orang Islam, hendaklah mereka menutup badan mereka dengan jilbab. Yang demikian itu, lebih mudah orang mengenali mereka –mana yang merdeka, mana yang budak- sehingga mereka tidak diganggu oleh laki-laki jahat. Dan Allah maha pengampun dan senantiasa mencurahkan rahmat-Nya.” [QS Al-Ahzab: 59]

Islam merupakan satu-satunya agama yang memperjuangkan hak asasi manusia dan menggariskan sejumlah rambu-rambu atas umat Islam agar tidak lepas kontrol dan melampaui batas. Sehingga undang-undang Islam dapat dimpulkan dalam dua kalimat, yaitu “Islam hanya akan memerintahkan sesuatu yang murni atu dominan bermasalahat, dan hanya melarang sesuatu yang murni atau dominan merugikan.”[1]

Dalam pada itu, tidak sedikit orang yang sementara belum mengerti menuduh bahwa agama Islam mengekang dan membatasi pemeluknya dengan larangan-larangannya yang begitu banyak. Namun tuduhan tersebut hanya akan dianut oleh mereka yang –sekali lagi- tidak mengerti hakikat syariat Islam. Ia hanya melihat banyaknya larangan, tanpa memperhatikan betapa Islam memberikan keluasan kepada manusia sehingga dalam Al-Quran sendiri, Allah memberi kaedah penting yang intinya: pada dasarnya segala sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan ibadah boleh dikerjakan kecuali jika ada keterangan dalam Al-Quran atau Sunnah yang jelas melarangnya[2]. Kemudian orang yang cerdas akan melihat undang-undang Islam sebagai layaknya rambu-rambu yang ada di jalan. Ada larangan parkir di tempat tertentu, larangan belok, larangan berhenti, dan lain sebagainya. Tujuan rambu-rambu tersebut bukan untuk membatasi para pengguna jalan, namun agar para pengguna jalan tersebut selamat sampai tujuan dan tidak merugikan pengguna jalan lainnya. Demikian juga syariat Islam yang menginginkan agar manusia kelak selamat sampai tujuan utamanya, yaitu surga. Sehingga tidak perlu mengalami kemacetan di hari kiamat dengan hisabnya yang lama atau mampir terlebih dahulu di neraka, atau bahkan selama-lamanya menghuni nereka.

Berkaitan dengan ayat yang penulis bawakan di atas, tentu pembaca yang budiman sudah dapat dengan sendirinya mengambil kesimpulan bahwa ada aturan khusus untuk wanita muslimah, yaitu kewajiban hijab. Hijab ialah kain yang lebar yang diikat di kepala dan tepi-tepinya diturunkan ke atas dada atau kain yang menyelimuti badan, sebagaimana penafsiran Ash-Shiddieqy[3].

Sementara itu, Syaikh Dr. Bakar Abu Zaid menulis, “Hijab, menurut syariat Islam, ialah penutup seluruh badan dan hiasan wanita sehingga membuat laki-laki non mahram terhalang memandang sekecilpun bagian badannya dan perhiasan yang ia kenakan. Penutup ini bisa direalisasikan dengan adanya pakaian dan (atau) rumah.”[4]

Setelah mengutip beberapa pendapat ulama tentang makna jilbab, Al-Qurthubi berkesimpulan, “Pendapat yang benar ialah bahwa jilbab merupakan pakaian yang menutup seluruh badannya.”[5]

Pendapat yang mewajibkan wanita menutup wajahnya merupakan pendapat ulama Syafi’iyyah yang dianggap mu’tamad (baca: legal) dan ulama-ulama lainnya[6]. Bahkan Al-Bantani –seorang ulama besar madzhab Syafi’i- mengisyaratkan, menutup wajah merupakan perkara yang dipraktikkan wanita Islam sepanjang masa. “Tidak henti-henti sepanjang zaman (umat Islam, pent) bahwa laki-laki itu keluar rumah dalam keadaan tidak bercadar,” jelas beliau, “sedangkan kaum wanita itu bercadar jika mereka keluar dari rumah.”[7]

Sementara itu, segolongan ulama lainnya seperti Al-Qurthubi[8] berpendapat berbeda, yaitu wajah wanita tidak termasuk aurat sehingga wajib ditutupi. Namun demikian beliau mengutip pernyataan Ibnu Khuwaizmandad, “Jika wanita itu cantik dan khawatir terjerumus pada kenistaan yang menimpa wajah dan kedua taapak tangannya, maka ia wajib menutupnya. Akan tetapi jika ia merupakan wanita tua atau berwajah tidak cantik, maka ia boleh membuka wajah dan kedua telapak tangannya.”

Kesimpulannya, baik ulama yang mewajibkan wanita menurut wajah maupun tidak, sama-sama bersepakat bahwa wanita yang menutup wajah lebih baik daripada membukanya. Apalagi di zaman yang penuh dengan fitnah.

Sebagai penutup, perlu diingatkan di sini bahwa dunia Barat telah melancarkan propagandanya agar wanita muslimah tidak lagi malu-malu mengumbar auratnya. Mereka menyadari betul bahwa dengan cara itulah mereka akan menghancurkan Islam. Berbagai usaha telah mereka realisasikan demi tercapaianya tujuan keji ini, termasuk melalui media-media cetak maupun elektronik dan tidak kalah andilnya propaganda fation yang dipamerkan setiap awal tahunnya.

Terakhir, penulis berpesan agar para kepala rumah tangga betul-betul memperhatikan keluarganya dan tidak membiarkan mereka membuka auratnya sembarangan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS At-Tahrim: 6]

[1] Lihat, misalnya, Al-Qawa’id wa Al-Ushul Al-Jami’ah (hlm. 19 beserta Ta’liq-nya karya Ibnu Utsaimin)) karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

[2] Lihat: QS Al-Baqarah: 29.

[3] Lihat: dalam Tafsir Al-Bayan (II/963).

[4] Lihat: Hirasah Al-Fadhilah (hlm. 26).

[5] Lihat: Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran (VII/532).

[6] Syaikh Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni, antara lain, menukil sejumlah ulama ahli tafsir yang sependapat dengan pendapat ini, seperti Ibnul Jauzi, Abu Hayyan, Abu As-Su’ud, Ar-Razi, Al-Mahalli, dan Ath-Thabari. Periksa Rawai’ Al-Bayan (II/382-383). Syaikh ‘Abdurrazzaq bin Marzuq Ath-Tharifi dalam At-Tafsir wa al-Bayan li Ahkam Al-Quran (III/1999) menukil sejumlah ulama salaf yang setuju dengan pendapat ini, yaitu: Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah, ‘Abidah As-Salmani, Ibnu Sirin, dan Ibnu ‘Aun. Beliau bahkan menyimpulkan, “Saya tidak tahu ada seorang pun shahabat Rasulullah ♥ yang menyelisihi penafsiran ini.

[7] Lihat Syarh Uqud Al-Lujjain hlm. 18, dan lihat pula Nihayah Az-Zain (hlm. 58), keduanya karya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani.

[8] Lihat Al-Jami’ Li Ahkam Al-Quran (VI/519).