Peristiwa Mihnah, Bentuk Kesabaran Ulama Ahlussunnah dan Dampaknya Terhadap Pengokohan Aqidah

0
69

            Al-Qur’an merupakan kitab suci umat islam. Selain menjadi pedoman hidup,  Al-Qur’an merupakan sebuah mukjizat akan kebenaran Nabi Muhammad –shalallahu alaihi wasallam- sebagai pembawa risalah terakhir, hal itu karena Al-Qur’an mengandung berbagai hal yang sangat amat luar biasa, dari susunan gramatikalnya, kesastraannya, hukum-hukum yang terkandung padanya, validitas tentang kisah-kisah yang ada didalamnya, serta kesesuaiannya dengan sains modern. Kesimpulannya, Al-Qur’an akan selalu relevan dengan perkembangan zaman, kapanpun dan dimanapun.

Mengenai pengertian Al-Qur’an, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- (w. 728 H) berkata :

Termasuk beriman kepada Allah dan kepada kitab-kitab Allah ialah, beriman bahwa al-Qur`an Kalam Allah yang diturunkan dan bukan makhluk. Dari Allah al-Qur`an bermula dan kepada-Nya ia akan kembali. Dan sesungguhnya, Allah berbicara dengan al-Qur`an ini secara hakiki. Sesungguhnya al-Qur`an yang telah Allah turunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah perkataan Allah yang sebenarnya, bukan perkataan selain-Nya.”
            Pada perkembangannya, tidak ada perbedaan pendapat tentang Al-Qur’an sebagai Kalamullah, yang mana hal tersebut menjadi sebuah keyakinan (Aqidah) yang diimani oleh kaum muslimin. Hingga lahirlah sekte Mu’tazilah, sebuah sekte menyimpang dalam islam, yang dalam ajarannya lebih mengutamakan rasionalitas (akal) ketimbang wahyu (Dalil Naqli) dalam menyikapi ayat-ayat Al-Qur’an, terkhusus pada ayat-ayat yang bersifat Al-Mutasyabihat, hingga timbulah sebuah ideologi baru yang mereka yakini, bahwa Al-Qur’an adalah Makhluk dan bukan Kalamullah.

Secara bahasa kata Mihnah memiliki arti cobaan, ujian atau bala. Sedangkan secara istilah mihnah adalah ujian keyakinan yang ditujukan kepada para ulama, ahli hadis dan hukum sehubungan dengan permasalahan penciptaan al-Quran.

Adapun peristiwa mihnah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah yaitu pada masa khalifah al-Ma’mun (170 H/ 785 M-218 HI 833 M). Peristiwa mihnah tersebut terjadi selama tiga periode pemerintahan yaitu al-Makmun, al-Mu’tasim (W 227 H) dan al-Watsiq (W 232 H).

Pada periode tersebut, paham Mu’tazilah ditetapkan sebagai Mazhab resmi negara, sehingga paham tentang Al-Qur’an adalah makhluq merupakan sebuah ideologi yang harus dipahami dan diterima oleh semua rakyat.

Banyak Ulama Ahlussunnah yang diuji keimanannya agar tunduk terhadap ideologi tersebut. Diantara ulama yang mendapat cobaan berupa hukuman dari penguasa adalah imam Ahmad bin Hambal (w.250 H), karena keteguhan beliau mempertahankan paham bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk. Berbagai siksaan beliau terima, dari mulai dimasukkan kedalam penjara, berbagai cambuk dan dera yang tiada henti, hingga hampir berujung kepada pembunuhan. Akan tetapi siksaan-siksaan tersebut tidaklah membuat nyali Imam Ahmad bin Hambal ciut dan lemah, malah membuatnya semakin kuat.

Dan akhirnya, dengan izin Allah melalui ulama-ulama yang Rabbani, paham mu’tazilah pun tidak lama menjadi mazhab resmi negara dan kembali dihapuskan, sehingga paham Al-qur’an adalah kalamullah kembali menjadi aqidah yang diimani oleh kaum muslimin.

Sebagian ulama salaf berkata :

أعز الله الإسلام بأبي بكر يوم الردة وبأحمد يوم المحنة

“ Allah telah muliakan Islam dengan Abu bakar pada hari Riddah, dan dengan Ahmad bin Hambal pada hari Mihnah”

            Semoga Allah merahmati ulama-ulama kita, dan memasukkan mereka kedalam Surga-NYA, sebagai balasan akan kegigihan dan perjuangan mereka dalam menjaga kemurnian agama ini.