Kitab Oetoesan Wahabi dan Peran Organisasi Al Irsyad dalam Lintasan Sejarah Perkembangan Gerakan Wahabi di Indonesia (Bag. 1)

0
229

Dalam sebuah suratnya kepada A. Hassan tertanggal 1 Desember 1934, Bung Karno – saat itu sedang menjalani hukuman pembuangan di Endeh, Flores – menulis :

Assalamu’alaikum,

Jikalau saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini: Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al-Muchtar, Debat Talqien. Al-Burhan Complete, Al-Jawahir.

Kemudian, jika saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal sayyid. Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal sayyid itu, tetapi toh menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusyrikan itu. Alasan-alasan kaum sayyid misalnya, mereka punya ‘brosur kebenaran’, saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya.

Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu ‘Aristokrasi Islam’. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebathilan!

Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.

Wassalam,

(selesai nukilan)

Bung Karno menyinggung sebuah buku berjudul “Utusan Wahabi”. Agaknya buku tersebut menempati kedudukan dan kepopuleran yang sangat penting pada masa itu, hingga membuat seorang Bung Karno memohon kepada A. Hassan untuk menghadiahkannya.

Bertahun-tahun kami mencoba menelusuri jejak buku legendaris tersebut. Sayang sekali, informasi lebih lanjut mengenai buku tersebut sulit dijumpai. Beberapa waktu lamanya kami hanya mendengar nama kitabnya saja, dan tidak pernah melihat wujudnya langsung.

Saat itu kami – dan juga sebagian kalangan – menduga bahwa buku tersebut merupakan karya A. Hassan. Ini karena saat meminta untuk dihadiahkan – seperti terlihat dalam surat, Bung Karno menyebut buku tersebut diantara buku-buku karya A. Hassan yang lain.

Dugaan tersebut semakin menguat, ketika suatu saat kami berkesempatan mengoleksi bundel Majalah Pembela Islam edisi awal yang saat itu dikomandoi oleh A. Hassan. Dalam Majalah Pembela Islam Tahoen 1 No. 7 April 1930, tepat pada halaman paling akhir, buku “Oetoesan Wahabi” diiklankan (gambar iklan terlampir).

Dalam iklan Majalah Pembela Islam tersebut, setidaknya kami mendapat informasi tambahan mengenai isi buku tersebut, setelah sebelumnya kami hanya mendengar nama judulnya saja. Majalah Pembela Islam mereview isi “Oetoesan Wahabi” sebagai berikut :

“Satoe kitab jang menerangkan haloean, toedjoean, kepertjajaan dan ‘amal ‘ibadat kaoem Wahabi. Kebanjakan orang jang memoeji kaoem Wahabi, tidak taoe betoel haloean dan kepertjajaan kaoem itoe. Kebanjakan orang jang mengedji Wahabi poela tidak taoe di tentang mana kesalahannja kaoem itoe. Lantaran itor, patoet doea golongan jang terseboet tadi membatja kitab ‘Oetoesan Wahabi’. Besarnya 135 katja. Kertasnja haloes. Sekalian Ajat dan Hadits jang terseboet di kitab itoe pakai hoeroef Arab jang di boenjikan dengan hoeroef Latijn. Harga seboeah f 1.25. Siapa beli 20 kitab dapat potongan 30 % dan ongkost vrij. Boleh pesan dan boleh dapat beli dari ‘Persatoean Islam Bandoeng’.”

(selesai nukilan)

Iklan tersebut sempat menguatkan dugaan kami bahwa kitab “Oetoesan Wahabi” merupakan karya A. Hassan, atau setidak-tidaknya berasal dari kalangan organisasi Persatuan Islam (Persis). Jika ini benar, maka merupakan sebuah fragmen berharga yang menampakkan peran vital A. Hassan dan Persis dalam mengisi lintasan sejarah masuknya paham Wahabi di Indonesia, setidaknya dari 2 sisi :

1. Boleh jadi kitab tersebut merupakan kitab pertama yang beredar di Nusantara ini yang mencoba mengklarifikasi paham kaum Wahabi dan menerangkan hakikat tujuan, i’tiqad, dan amal ibadah mereka.

2. Penulisan kitab ini menunjukkan kepada kita bahwa A. Hassan dan Persis, telah mengakses secara langsung karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan murid-muridnya.

3. Peran A. Hassan dan Persis dalam menyebarluaskan dan mempopulerkan ajaran Wahabi melalui kitab ini, bahkan hingga terdengar kepopulerannya oleh seorang tokoh Nasionalis semacam Bung Karno.

Namun karena kami belum mendapat wujud fisik kitab tersebut secara nyata, maka hipotesis di atas masih sebatas dugaan saja. Oleh karenanya saat menulis tentang pengalaman-pengalaman awal pengajaran kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Indonesia kami belum menyinggung peran A. Hassan dalam mengajarkan kitab-kitab gerakan Wahabi.

Segala rasa penasaran akan kitab “Oetoesan Wahabi” tersebut, atas izin Allah, akhirnya terlunasi juga. Melalui bantuan beberapa rekan – semoga Allah membalas kebaikan mereka – perpustakaan sederhana kami akhirnya berkesempatan mengoleksi kitab “Oetoesan Wahabi” tersebut.

Segera saja setelah kami menelaah koleksi baru kami tersebut, beberapa hipotesis yang kami kemukakan di muka akhirnya harus banyak direvisi.

Kitab Oetoesan Wahabi ternyata merupakan sebuah salinan dari sebuah kitab berjudul “Al Hadiyyah as Saniyyah” karya seorang ulama Wahabi Nejd yang bernama Syaikh Sulaiman bin Sahman, dengan beberapa ringkasan dan tambahan yang disisipkan oleh penyalinnya. Salinan tersebut dikerjakan oleh dua orang penyalin, yaitu Ahmad Sjoekrie dan Ali Harharah.

Pada bagian cover kitab, kita akan dapati beberapa informasi penting :

1. Hak penerbitan kitab ini ada pada sebuah organisasi yang bernama “Perhimpoenan Idh-haroel Haq”. Pada cover terdapat larangan terhadap pihak lain untuk melakukan pengutipan dan penyalinan tanpa seizin organisasi tersebut atau penyalinnya ;

2. Kitab ini dicetak dan diedarkan oleh “Drukkerij Boro-Budur” yang beralamat di Pintoe Besar 52 Bt (Batavia/Jakarta).

3. Terdapat review singkat tentang isi kitab sebagai berikut :

“Menerangkan haloean, toedjoean dan kepertjajaannja pendoedoek kota Nadjed, jang termasjhoer dengan nama Wahabi, terhaep kepada Agama Islam jaitoe dengan beralasan Al Quran dan Hadits jang benar, serta pendapetannja Oelama-Oelama Islam jang sahih.”

4. Terdapat keterangan singkat mengenai organisasi “Perhimpoenan Idh-haroel Haq” sebagai berikut :

“Persjarekatannja kaoem Moeslimin jang memadjoekan Agama Islam dan menjetoedjoekan kalimatnja sekalian pemeloeknja. Berpokok di Batavia Java.”

Tidak diketahui kapan tepatnya proses penyalinan kitab ini selesai dan kapan awal mula diterbitkannya. Namun dalam bagian Pendahuluan, tertulis nama tempat dan tanggal yang diduga merupakan nama tempat dan tanggal selesai penyalinan atau penerbitan, yaitu”Batavia 15 Ramadlan 1343. Jang berbetoelan dengan 1 April 1925”.

Merujuk pada informasi tanggal tersebut diatas, maka kitab ini sudah terbit beberapa tahun sebelum Majalah Pembela Islam edisi awal terbit (Desember tahun 1929). Ini menunjukkan bahwa kitab ini pada masa itu sangat populer, karena bahkan setelah kurang lebih 5 tahun sejak penerbitannya, kitab ini masih diiklankan oleh Majalah Pembela Islam – yang merupakan salah satu majalah Islam paling populer saat itu. Maka tidaklah heran, jika seorang Bung Karno sangat menginginkan untuk membaca kitab ini.

Sebelum beranjak lebih lebih jauh, kiranya kita memastikan terlebih dahulu apakah benar kitab “Oetoesan Wahabi” yang baru saja kami koleksi ini adalah kitab yang sama yang diiklankan oleh Majalah Pembela Islam. Atau jangan-jangan ada 2 kitab yang berjudul sama, dimana yang satunya lagi merupakan kitab “Oetoesan Wahabi” yang ditulis oleh A. Hassan atau Persis.

Mengenai hal tersebut, kami bisa pastikan bahwa kitab Oetoesan Wahabi yang ada pada koleksi kami ini adalah merupakan kitab yang sama yang diiklankan oleh Majalah Pembela Islam, serta merupakan kitab yang sama dengan yang diminta oleh Bung Karno kepada A. Hassan untuk dihadiahkan kepadanya. Ada 2 hal yang menguatkan hal tersebut :

1. Review kitab yang ada pada cover “Oetoesan Wahabi” koleksi kami mirip dengan yang review kitab yang ada pada iklan Majalah Pembela Islam seperti yang sudah kami nukilkan diatas. Perhatikan bagaimana kedua review tersebut menggunakan frasa “haloean, toedjoean, kepertjajaan” dengan urutan yang sama persis.

2. Dalam iklan Majalah Pembela Islam disebutkan bahwa kitab ini mempunyai jumlah halaman sebanyak 135 halaman, dan ini sama persis dengan jumlah halaman kitab “Oetoesan Wahabi” yang ada pada koleksi kami (diluar halaman cover depan dan belakang).

Dengan dua argumen diatas maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Kitab Oetoesan Wahabi yang ada pada koleksi kami merupakan kitab yang sama yang diiklankan oleh Majalah Pembela Islam

2. Kitab Oetoesan Wahabi yang ada pada koleksi kami merupakan kitab yang dimintakan kepada A. Hassan untuk dihadiahkan kepada Bung Karno

3. Kitab Oetoesan Wahabi bukan merupakan karya A. Hassan, dan bukan pula produk keluaran organisasi Persis. Dalam beberapa buku biografinya, tidak tercatat A. Hassan pernah menulis sebuah kitab berjudul “Oetoesan Wahabi” (silakan lihat daftar karya-karya A. Hassan pada biografi Beliau yang ditulis oleh Syafiq A. Mughni)

4. Meski bukan penulisnya, A. Hassan (dan juga Persis) memberikan perhatian yang sangat tinggi atas kitab Oetoesan Wahabi ini, terbukti dengan gencarnya promosi atas kitab ini pada Majalah Pembela Islam yang diasuhnya. Persis juga menjadi salah satu agen penjualan kitab ini.

Seperti yang telah disampaikan diatas, Kitab Oetoesan Wahabi ini secara umum merupakan salinan (terjemahan) atas sebuah kitab yang berjudul “Al Hadiyyah as Saniyyah” karya Syaikh Sulaiman bin Sahman, dengan beberapa ringkasan dan tambahan-tambahan.