Senyum Berkemul Asap

0
340

Love is a smoke raised with the fume of sighs;

Being purged, a fire sparkling in lovers’ eyes;

Being vexed, a sea nourished with loving tears.”[1]

(W. Shakespeare: 1616 M)

Asap Cinta

Jika cinta adalah asap, benci adalah api; maka ia semakin mengepul dengan meredupnya api, dan semakin menipis dengan mengangahnya api. Selalu ada cinta dan benci, api dan asap. Karena rumah tangga adalah dinamika antara tersulutkan api kebencian, dan kepulan asap cinta. Kenapa cinta harus berperan asap?. Karena ia harus menjadi ending di setiap padamnya api kebencian.

Jika cinta adalah api, maka asapnya adalah kecemburuan. Ia nampak membubung dari jauh, meski api kecil tersahap pauh. Ia bukti adanya cinta, sebagaimana asap bukti adanya api. Kenapa cinta harus berperan api?. Karena asap cemburu acapkali membutakan mata pecinta, sehingga harus dijernihkan dengan api cinta.

Asap dan Rumah Tangga

  Entah bagaimana cara menjelaskannya, yang jelas asap begitu akrab dengan rumah tangga. Ia muncul disertai senyum penghuni rumah tangga, dan jika ia tidak kunjung muncul, maka senyum penghuni rumah tangga akan tersimpul dengan sifat qanaah.

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah berkata kepada Urwah bin Zubair, “Wahai anak saudariku, sesungguhnya kami pernah memperhatikan dari hilal ke hilal, hingga terbit tiga hilal dalam dua bulan, sedangkan di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah dikepulkan asap.” Urwah menimpali, “Duhai bibi, lantas apa yang membuat kalian bertahan hidup?.” Beliau menjawab, “al-Aswadan yakni kurma dan air (saja).”[2]

Asap + Istri = Cinta

  Istri sangat akrab dengan asap, hari-hari ia bergelut di dapur; terpeletik bunga api, terpercik minyak, tersembab bawang, terpacak duri, teriris pisau, hingga tubuhnya pun berpeluh keringat dan berbau apek. Namun semua itu tetap setia ia lakukan, tanpa pamrih. Karena ia sadar betul bahwa sajiannya sangat berharga bagi orang-orang tercinta. Banyak masakan enak tersaji di restoran, tapi masakan istri tetap lebih spesial, karena ia dibumbui dengan cinta.

For the First Time in Forever

Untuk menghargai istri yang telah begitu berjasa menyiapkan makanan di setiap harinya, maka Anda sebagai suami sesekali harus ikut andil di dalamnya. Jika ingin menambah keseruan, maka ajak anak-anak pula untuk ikut membantu di dalamnya. Jika momen ini tidak Anda dapati di saban harinya, maka jadikanlah satu kali setidaknya selama ini, satu waktu, satu kesempatan, Anda membuat dapur penuh cinta dan keceriaan. For the first time in forever, memasak bersama-sama.

Koki Cinta

Untuk menghargai istri yang telah berjasa selama ini, jadikanlah ia nakhoda, membimbing Anda dan anak-anak Anda dalam membuat suatu masakan. Menurutlah, sebagaimana penumpang menurut kemana nakhoda membawa. Andai kemampuan memasak Anda sekelas cheff sekali pun, tetap mengaculah pada peresepannya. Dan ketahuilah, bahwa Anda tidak lebih master darinya; karena Anda memasak dengan keahlian, sedang istri Anda memasak dengan perasaan.

Banyak sekali koki-koki terbaik, yang menyajikan menu masakan terbaik, tapi tidak ada yang lebih baik daripada koki cinta, yang menyajikan masakannya dengan penuh cinta. Koki cinta tidak hanya terfokus pada rasa dan kreasi penyajian saja, namun koki cinta menanamkan dasar-dasar keutuhan rumah tangga pada setiap masakan. Cita rasa boleh nomor dua, namun keharmonisan rumah tangga tidak akan ternilai dengan rasa rendang terenak sekalipun.

Kebersamaan Pada Intinya

  Anda membantu apa yang bisa Anda bantu, anak-anak Anda menolong apa yang bisa mereka tolong, istri Anda mengarahkan, meracik, mengaduk, membumbui, mengecap. Sajikan bersama. Itu jika konteksnya masakan. Jika konteksnya kue, Anda pun bisa membuat keseruan yang sama, bahkan lebih, karena benih-benih cinta di kue lebih gampang diilustrasikan, disamping kue lebih tahan lama menyimpan kenangan di dalam toples.

Apapun masakannya, bumbunya tetap cinta. Karena bukan masakan pada intinya, namun keharmonisan dan keceriaan dalam rumah tangga. Acara boleh masak bersama, menghasilkan kreasi bersama; namun keceriaan, kegembiraan, kehangatan, kasih sayang, dan keseruan di dalam acara, tidak akan pernah terbayarkan dan tergantikan.

Tak Mencela Masakan

  Karena dimasak dengan cinta dan perasaan, tentu hasilnya memuaskan. Apalagi jika masakan tadi adalah hasil kreasi bersama. Bagaimana pun rasanya tentu akan tetap berkesan. Tapi taruhlah bahwa rasanya ternyata mengecewakan, maka jangan sampai keluar celaan; karena kita tidak boleh mencela makanan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sekalipun mencela makanan. Jika beliau berselera, maka beliau makan, jika tidak, maka beliau biarkan.”[3]

al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hal ini (yakni tidak mencela makanan) merupakan salah satu diantara adab makan yang sangat ditekankan, dan (yang dimaksud) mencela makanan ialah dengan mengatakan (ungkapan) seperti; asin banget, kurang asin, asem, terlalu lembek, bantat, belum matang dan semisalnya.”[4]

Ibarat Makanan

  Pujian sangat besar maknanya bagi seorang istri. Terlebih lagi jika seorang istri memang telah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang layak untuk dipuji. Banyak sekali variasi kata-kata pujian, atau lebih cocok dengan istilah gombal untuk istri kita. Sesekali buatlah variasi pujian dengan menggunakan ibarat makanan, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah membuat ibarat makanan bagi istrinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya keutamaan Aisyah diatas seluruh wanita, seperti keutamaan ats-Tsarid (bubur daging) diatas seluruh makanan.”[5]

Maka Anda pun bisa membuat perumpamaan yang serupa untuk istri Anda, semisal; perumpamaan adinda bagaikan kue klepon, luarnya hijau lembut dan menarik, dalamnya manis, jika digigit terasa lebih manis, seperti adinda yang cantik luar dalam, dan jika disakiti maka adinda balas dengan kebaikan.

Tidak harus mahal untuk ceria, tidak mesti jauh untuk gembira, hanya di dapur, Anda dan keluarga pun bisa tersenyum gembira, colekan adonan bisa lebih seru dari bianglala, kepulan asap pun terasa lebih meriah.

 

 

 

[1] Terjemahannya kurang lebih : “Cinta ibarat asap, membubung dari uap keresahan. Menjadi lenyap, dengan pancaran api di mata pecinta. Membuat perih, laut pun terbumbui dengan air mata terkasih.”

[2] HR. al-Bukhari no. 2567 dan Muslim no. 2972

[3] HR. al-Bukhari no. 3563, 5409 dan Muslim no. 2064

[4] Syarh Shahih Muslim, 14/26

[5] HR. al-Bukhari no. 3411, 3433 dan Muslim no. 2431