Mentari yang Dirindu

0
118

Mentari tak nampak memudar

            Sebab ia tetap berseri

            Hanya siang memanjangkan rindu

            Melipatkan rasa ingin bertemu

            Mentariku tak banyak menyimpan rahasia

            Hanya senyumannya yang dirindu.

 

Cerah Bagai Mentari

Saat binar terkelambu, saat itulah suasana menjadi kelabu. Terlebih jika rintik hujan menyertai, derasnya pun melaburkan kesedihanmu, coba saja engkau berisak tangis di bawah guyurannya, tentu tak kentara, mana hujan dan mana air mata.

Namun saat cerah terdedah, suasana pun berubah semringah. Pelangi mewarnai, birunya langit mencandai, kegembiraan pun meluap seperti semula. Tangan-tangan kecil ini terlalu gamang tak mengibaratkan cerah seperti ceria, karena keduanya sama-sama menyejukkan mata.

Maka dimana pun keceriaan datang, disitulah kecerahan berada. Bagiku mentari tidaklah terbit di ufuk timur, tapi ia terbit di wajah yang ceria.

 

Suami Paling Merindukan Mentari

Seorang suami tentulah akrab dengan mentari, derap langkahnya membayang dari arah barat menuju timur, pagi hingga sore, mentari setia menyuluhi jalannya, sebutir nasi di setiap langkah sangat berarti untuk menyambung nafas di esok hari.

Meski akrab dengan mentari, itu tak berarti ia tak merindukan mentari. Memang perkawanannya erat dengan terbit dan terbenam sehari-hari, namun mentari yang terbit dua kali sehari, di awal langkah berjuang dan gegap langkah pulang, itulah yang paling dirindukan.  Mentari yang terbit di wajah istri, melepas kepergian, dan menyongsong kedatangan.

Tak ada yang paling dirindukan, selain terbitnya mentari di wajah istri, meringankan jalan dan melepas kepenatan.

 

Lebih Membekas Dari Sengatan Mentari

            Jarir itulah namanya, tak semasyhur Abu Bakar dan Umar memang, namun ia memiliki pengalaman syahdu yang tiap kali kita terhenti padanya, terlalu iba jari ini membalik lembaran al-Bukhari dan Muslim, pengalaman yang tak pernah jemu untuk dikenang.

Nabi tak pernah sekali pun menghalangiku (untuk bersua dengannya) sejak aku mengikrarkan Islam, dan tidaklah beliau memandangku kecuali (menyambut bersamanya) sebuah senyuman.”[1]

Apatah itu sengatan mentari, melegamkan kulit dan melepuhkan ari, hanya itu bekas-bekasnya. Namun bekas mentari yang satu ini, tak akan menyisakan hari-hari, untuk terus manis mengenang, tajam diingatan, karena ia begitu melekat di hati. Senyuman tulus lebih membekas dari sengatan mentari.

 

Urgensi Senyuman Istri

Saat mengetahui bahwa senyuman secerah mentari yang memancarkan keceriaan terbit, lebih membekaskan kenangan dan kelapangan. Maka seorang suami tentu lebih berhak mendapatkan yang demikian dari istrinya.

Suami manakah yang tidak ridha, melihat bunga – bunga cinta dan kasih sayang bersemi setiap hari. Suami manakah yang tidak ridha, melihat beban hidupnya diringankan oleh keramah tamahan. Suami manakah yang tidak ridha, melihat qanaah terpancar dari sebuah senyuman.

Yang andai bersujud itu diperbolehkan bagi sesama manusia, maka tentulah istri lebih berhak bersujud di hadapan suaminya.

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

            “Andaikata boleh bagiku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seorang manusia, maka sudah tentu aku akan memerintahkan para istri bersujud kepada suaminya.” Dalam riwayat, “Karena agungnya kebaktian yang Allah jadikan untuk mereka.”[2] Demikianlah penuturan baginda Nabi.

Itulah hak yang sangat besar, yang menuntut sebuah ketaatan yang besar pula. Dan hal tersebut sejatinya tidak perlu dibayar dengan sujud kepatuhan, namun cukup dibayar dengan sebuah senyuman.

Maka urgensi senyuman seorang istri, tidaklah terhenti di satu sisi, bahkan ia saling bersinergi, menumbuhkan mutualisme dalam hubungan pasutri. Di satu sisi istri mendapat berkah ketaatan, di sisi lain suami mendapat spirit kehidupan. Inilah bumbu rahasia dari keluarga sakinah.

 

Hadapi Dengan Senyuman

Hidup di dunia pastilah selalu menuai banyak masalah, tanpa terkecuali masalah-masalah yang berimbas dari kehidupan berumah tangga, dari masalah hutang, beban hidup keluarga, biaya pendidikan, ujian sakit, konflik sosial dan seterusnya. Yang sejatinya masalah-masalah tersebut ialah masalah-masalah yang bisa kita hadapi dan selesaikan.

Namun emosi dan kurangnya ilmu seringkali lebih mendominasi, sehingga masalah-masalah diatas diklaim sebagai masalah-masalah yang sangat berat, yang tidak akan mampu dihadapi dan diselesaikan, dan lebih nahasnya lagi ialah anggapan bahwa takdir Allah tidak berlaku adil bagi dirinya.

Dalam kondisi semacam ini, hendaknya senantiasa kita mengingat firman Allah,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidaklah membebani seorang manusia di luar kesanggupannya.”[3]

Sejatinya permasalahan-permasalahan rumah tangga menjadi berat disebabkan oleh cara pandang kita terhadap permasalahan-permasalahan tadi, dan bagaimana langkah kita dalam menghadapinya. Permasalahan-permasalahan tadi terasa berat karena kita begitu jauh dari Allah, dan kita sendiri tidak berusaha merenungi hikmah dibalik ujian tersebut.

Andaikata kita sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah ujian, yang akan berlalu dan dipertanggungjawabkan. Dan bahwa kehidupan akhirat itulah sebenar-benarnya kehidupan, maka tentulah segala permasalahan rumah tangga akan menjadi ringan bagi kita.

Pada titik kesadaran ini, hari-hari dalam rumah tangga Anda akan senantiasa dihiasi dengan senyuman. Mentari pun akan kalah pamor, dan saat itu Anda tidak akan bisa membedakan lagi, sebenarnya rumah tangga Anda cerah dengan cahaya mentari atau binar kegembiraan.

 

Mentari Yang Dirindukan     

Mentari memang sangat dibutuhkan bagi kehidupan, sebagaimana mentari rumah tangga pun sangat dibutuhkan darinya keberlangsungan. Mentari-mentari yang selalu cerah menyambut para suami inilah yang senantiasa menjadi motivasi mereka untuk tetap bertahan, di bawah terik mentari dan hujan.

Meski mentari yang lain hanya terbit bersamanya dari pagi hingga petang, tapi mentari yang satu ini tetap setia bertahan, dalam sanubari berupa kerinduan, melecutkan semangat juang, betah akan pulang, kelelahan yang lunas terbayar, dengan senyuman cerah, sambutan hangat, tiada gerutu dan ujaran kebencian, hanya keikhlasan dari apa yang Allah rezekikan, tapi mentari itu saja sudah merupakan karunia yang besar. Layaklah demikian, ia menjadi mentari yang dirindukan.

[1] HR. al-Bukhari no. 2871, 5739 dan Muslim no. 6519

[2] HR. at-Tirmidzi no. 1159, Abu Dawud no. 2142

[3] QS. al-Baqarah : 286