Romantika Cinta Bersama Secangkir Kopi

0
507

Perjalanan Secangkir Kopi Negeri

Dari benua Afrika ia berasal, dibawa oleh kapal – kapal kolonial, tepat di abad ke 17 masehi ia berlabuh ke nusantara. Bijih kopi itulah namanya, sudah lebih dari empat abad lamanya tertanam di bumi pertiwi, hingga ia menjadi salah satu komoditi andalan nusantara saat ini, dan mengukuhkannya sebagai eskportir bijih kopi terbesar nomor empat dunia.[1]

Dalam perjalanannya kopi pun menjadi sebuah budaya yang melekat pada masyarakat kita. Mulai dari aktivitas materiil semacam budidaya kopi di sebagian daerah, hingga mengenalkan daerah Gayo sebagai salah satu penghasil kopi Arabika terbaik dunia.

Ataupun non materiil, dimana budaya minum kopi sudah menjadi gaya hidup tersendiri masyarakat kita. Dari penyajian ekslusif kaum urban, sampai adukan pekat kopi hitam orang pinggiran. Saking lekatnya gaya hidup tersebut, membuat secangkir kopi negeri memiliki nilai filosofi tersendiri.

 

Kopi Dan Keakraban

  Hanya bisa bertatap suara dalam siaran udara, akhirnya anak – anak radio amatir mempopulerkan istilah “kopi darat” untuk mengakrabkan pertemuan mereka.[2] Banyak sekali jenis minuman di negeri ini, namun uniknya kopilah yang dipilih oleh masyrakat kita dalam mengakrabkan suasana.

Ini bukti nyata bahwa kopi merupakan ikon penting dalam istilah kongko – kongko, nongkrong bersama, keakraban, dan keramah tamahan. Jargon jadul macam “nongkrong di warung kopi” pun nyatanya masih tetap eksis hingga saat ini.

 

Kopi Dan Pasutri

  Kalau boleh saya katakan, kopi memiliki nilai harmonisasi dalam kehidupan berumah tangga. Mulai dari filosofinya dalam pahit manisnya kehidupan, ataupun sajian nikmat secangkir kopi itu sendiri yang membalut intimnya sebuah keromantisan.

  1. Berkesan Bak Kopi Hitam

Meminjam ungkapan dari AM. Lindbergh, “Good communication is just as stimulating as black coffe, and just as hard to sleep after.” Yang berarti, “(Terjalinnya hubungan karena) komunikasi yang baik itu sama menariknya dengan kopi hitam, yang setelahnya anda menjadi sulit tidur.”

Rumah tangga yang harmonis ialah, rumah tangga yang memiliki jalinan komunikasi yang baik diantara pasangannya. Dimana komunikasi bisa dikatakan sebagai ruhnya kehidupan rumah tangga. Tanpa komunikasi yang baik, rumah tangga serasa hambar dan tidak memiliki kesan sama sekali. Bahkan komunikasi buruk bisa menjadi pemicu utama terjadinya perceraian.

Lady Diana secara paras mungkin terbilang cantik, namun kecantikan tidak menjanjikan kenyamanan berkomunikasi di mata suaminya, hingga rumah tangga wanita yang paling top di era 90an ini harus kandas. Karena dinamika rumah tangga yang sedemikian rupa, menjadi jelaslah alasan kenapa Nabi menyuruh umatnya untuk lebih memilih agama dan akhlak pasangan daripada kriteria lain.

Rasulullah bersabda,

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Jadilah pemenang dengan memilih agamanya, jika tidak!. Sungguh tanganmu berkemul debu (kerugian).”[3]

Seorang lelaki bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, “Beberapa pemuda datang melamar putriku, sebaiknya aku memilih yang mana?.” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa. Karena jika ia mencintainya maka ia akan memuliakannya, dan jika ia membencinya, maka ia tidak akan berbuat zhalim kepadanya.”[4]

 

  1. Senikmat Rasa Kopi

“Sepandai apapun anda meracik kopi, tentulah ada rasa pahitnya”. Filosofi kopi yang sangat selaras dengan kehidupan berumah tangga. Yang jika diterjemahkan kurang lebih berarti, “Sepandai apapun sepasang suami istri menata rumah tangganya, tentulah akan selalu ada dinamika dan konflik kehidupan di tengah jalan”.

Yang perlu anda perhatikan saat itu ialah bagaimana caranya anda tetap bisa menikmati dinamika dan konflik kehidupan, sebagaimana anda memilih minum kopi karena ada rasa pahitnya. Rasulullah bersabda,

إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُهُمْ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يُحَوِّيهَا وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ

Sesungguhnya diantara orang shalih ada diantara mereka yang diuji dengan kefakiran hingga tidak mendapatkan sesuatu kecuali kain sarung yang menutupinya. Dan ada pula diantara mereka yang senang ditimpa cobaan hidup, sebagaimana seorang diantara kalian yang senang mendapat kemewahan.”[5]

 

  1. Idealis Tak Berasa Manis

Orang yang terlalu idealis dalam menilai sajian kopi, selalu memiliki celah dalam mengkritisi cita rasa dan cara penyajian. Demikian pula, orang yang terlalu idealis dalam membanderol kriteria pasangan, selalu saja memiliki celah dalam menilai kekurangan pasangan.

Padahal disamping kekurangan, tentu ada nilai lebih yang kasat mata jika kita mau jujur. Untuk bahagia, resepnya cukup lihat kelebihan pasangan, dan lengkapi kekurangannya, maka seperti anda menyeruput capucino hangat di malam hari di dangau[6] pada peralihan musim kemarau.

Rasulullah sendiri telah bersabda,

 

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

 

Janganlah seorang suami membenci istrinya, jika ia memang tidak suka pada salah satu perilakunya, maka ia tentu ridha dengan perilaku yang lain.”[7]

 

  1. Secangkir Kemesraan

Jika anda dan pasangan termasuk penikmat kopi, maka jadikanlah momen tersebut sebagai sebuah bumbu kemesraan dalam rumah tangga.

Buatkanlah secangkir kopi untuk pasangan anda, di waktu – waktu yang tepat, waktu dimana secangkir kopi lebih bermakna dalam mengakrabkan suasana. Jangan sungkan untuk saling berbagi cita rasa secangkir kopi berdua, di bekas seruputan dari bibir pasangan anda.

Ibunda Aisyah pernah bertutur, “Aku pernah menyeruput (segelas minuman) pada saat aku haid, kemudian kuberikan minuman tersebut kepada Nabi, maka beliau pun meletakkan bibir beliau tepat dibekas (seruputan) bibirku (di gelas tadi), lantas beliau meminumnya.”[8]

Lihat, bagaimana Rasulullah benar – benar menjadikan momen yang dipandang oleh kebanyakan manusia sepele, tapi beliau jadikan momen tersebut berasa istimewa. Hanya tegukan air, namun sangat mengesankan hati pasangannya.

Dan lihat, betapa ibunda Aisyah sangat terkesan dengan keromantisan suaminya, hingga akhirnya beliau pun meriwayatkan hadits tersebut secara detail, guna mengenang keromantisan mereka berdua.

Ajaibnya, air tersebut hanyalah air tawar, namun aura keromantisan sangat kental terasa. Maka bagaimana ihwalnya jika pemanis tersebut adalah kopi yang mengakrabkan suasana?. Apakah anda mampu melakukan hal serupa?.

Wallahu a’lam.

 

[1] Menurut data International Coffee Organization pada tahun 2015. Lihat jurnalbumi.com

[2] Sumber id.wikipedia.org

[3] HR. al-Bukhari no. 4700 dan Muslim no. 2661

[4] Ihya Ulumuddin (2/41)

[5] HR. Ibnu Majah no. 4014

[6] Gubuk kecil tempat orang berteduh di sawah. Lihat KBBI

[7] HR. Muslim no. 2672

[8] HR. Muslim no. 453