Kitab Oetoesan Wahabi dan Peran Organisasi Al Irsyad dalam Lintasan Sejarah Perkembangan Gerakan Wahabi di Indonesia (Bag. 2)

0
154

Siapakah Syaikh Sulaiman bin Sahman ini ? Apakah Beliau cukup otoritatif mewakili ulama Wahabi ?

Syaikh Sulaiman bin Sahman (wafat 1349 H) merupakan murid dari Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab, penulis kitab Fathul Majid syarah Kitab at Tauhid yang terkenal itu. Syaikh Sulaiman juga belajar kepada Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan dan Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif. Jadi Syaikh Sulaiman bin Sahman belajar kepada 3 generasi keluarga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dari kakek (Syaikh Abdurrahman), anak (Syaikh Abdul Lathif), dan cucu (Syaikh Abdullah). Melihat profil Beliau ini, maka tak ada lagi keraguan mengenai “kewahabian” Syaikh Sulaiman bin Sahman ini.

Kitab Al Hadiyyah As Saniyyah sendiri sebenarnya merupakan kumpulan tulisan/risalah para ulama Wahabi, yang sengaja dikumpulkan oleh Syaikh Sulaiman bin Sahman dalam rangka menjelaskan hakikat dakwah yang dibawa oleh ulama-ulama Wahabi Nejd, pembelaan terhadapnya, serta untuk meluruskan kebohongan-kebohongan yang dibuat-buat oleh sebagian kalangan untuk menjatuhkan nama Wahabi. Kitab ini sendiri diterbitkan atas perintah dari Sultan ‘Abdul Aziz bin Su’ud.

Judul lengkap kitab ini sebagaimana tertulis dalam cover kitab ini adalah “Al Hadiyyah as Saniyyah wa at Tuhfah al Wahabiyyah an Najdiyyah li Jami’ Ikhwanina al Muwahiddin min Ahlil Millah al Hanifiyyah wa ath Thariqah al Muhammadiyyah”.

Syaikh Sulaiman bin Sahman dalam muqaddimah kitabnya ini juga menamakan kitab ini dengan “Rasaa-il A-immatu Najd wa Ulamaa-uha fi Ad Da’wah Al Wahabiyyah li Tajdid Al Islam”.

Kitab Al Hadiyyah as Saniyyah terdiri atas 5 risalah, yaitu :

1. Risalah pertama ditulis oleh Al Imam Abdul Aziz I bin Imam Muhammad bin Su’ud rahimahullah. Risalah ini secara umum berisi penjelasan mengenai hakikat tauhid dan ibadah kepada Allah. Dalam risalah ini juga dijelaskan makna syirik, serta dibahas isu-isu seperti meminta pertolongan kepada makhluk, tawassul, bersumpah dengan selain nama Allah, dan lain-lain. Risalah ini di kemudian hari dicetak secara terpisah

2. Risalah kedua ditulis oleh oleh Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab, yang merupakan guru dari Syaikh Sulaiman bin Sahman. Pada risalah kedua ini dijelaskan hakikat dakwah pemurnian tauhid yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan penjelasan bahwa apa yang Beliau dakwahkan tidaklah bertentangan dengan apa yang dibawa oleh para Salafush Shalih dan Imam-Imam madzhab. Dalam risalah ini Syaikh Abdul Lathif banyak menukil langsung perkataan-perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam menjelaskan hakikat dakwah yang dibawanya.

3. Risalah ketiga ditulis oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab yang didalamnya berisi klarifikasi terhadap tuduhan-tuduhan palsu yang dilemparkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan murid-muridnya. Di kemudian hari, risalah ini ikut dicetak di dalam kitab Ad Durar as Saniyyah fi Ajwibatil an Najdiyyah.

4. Risalah keempat ditulis oleh Syaikh Hamd bin Nashir bin Utsman Alu Mu’amar an Najdi at Tamimi. Beliau merupakan murid dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Risalah ini diberi judul “Al Fawakihul ‘Idzab fi Raddu ‘ala Man lam Yuhakkimu as Sunnah wal Kitab”. Risalah ini ditulis sebagai jawaban yang disampaikan oleh Syaikh Hamd bin Nashir ketika Beliau berdiskusi dengan dengan ulama-ulama Makkah mengenai 3 isu utama, yaitu (1) tentang orang yang menyeru kepada para nabi dan wali serta beristighatsah dengan mereka dalam melepaskan kesulitan ; (2) tentang hukum orang yang mengucapkan syahadatain namun tidak shalat ; dan (3) tentang membangun bangunan di atas kuburan. Risalah ini telah dicetak secara terpisah. Muhaqqiq risalah ini memberi sedikit catatan bahwa terjadi kekeliruan dalam pelafalan nama penulis risalah yang ada dalam Al Hadiyah as Saniyah. Pada Al Hadiyah as Saniyah tertulis nama penulis risalah ini adalah “Syaikh Ahmad bin Nashir”, dan yang benar adalah “Syaikh Hamd bin Nashir”. Kekeliruan yang ada pada Al Hadiyah as Saniyah ini ikut terbawa pada Kitab Oetoesan Wahabi.

5. Risalah kelima ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Syaikh Abdul Lathif bin Syaikh Abdurrahman bin Hasan. Risalah ini berisi penjelasan mengenai aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di kemudian hari, risalah ini ikut dicetak di dalam kitab Ad Durar as Saniyyah fi Ajwibatil an Najdiyyah

Setelah menyalin kelima risalah tersebut di atas, Syaikh Sulaiman bin Sahman kemudian mengakhiri kitab Al Hadiyyah as Saniyyah dengan membeberkan sebab-sebab munculnya fitnah dan tuduhan tidak benar kepada kaum Wahabi dan pihak-pihak dibaliknya. Syaikh Sulaiman menegaskan bahwa setidaknya ada 2 musuh Wahabi saat itu yang menurut Beliau bertanggung jawab terhadap munculnya segala fitnah dan tuduhan yang tidak benar. Musuh yang pertama adalah Syarif Hussain – mantan penguasa Makkah – dan anak keturunannya, yang Beliau sebut sebagai musuh dalam bidang politik. Musuh yang kedua adalah kaum Syi’ah, yang Beliau sebut sebagai musuh dalam bidang aqidah dan madzhab.