Kitab Oetoesan Wahabi dan Peran Organisasi Al Irsyad dalam Lintasan Sejarah Perkembangan Gerakan Wahabi di Indonesia (Bag. 3)

0
235

Perlu disampaikan disini bahwa kitab “Oetoesan Wahabi” tidak menyalin mentah-mentah kitab Al Hadiyyah as Saniyyah. Penjelasannya sebagai berikut :

1. Para penyalin kitab “Oetoesan Wahabi” melakukan beberapa peringkasan terhadap uraian-uraian yang ada pada Al Hadiyyah as Saniyyah dengan alasan menghindari pengulangan penjelasan yang tidak perlu. Ini jelas terlihat bagi siapa saja yang membandingkan antara kitab “Oetoesan Wahabi” ini dengan kitab Al Hadiyyah as Saniyyah.

2. Risalah kelima yang ada pada Al Hadiyyah as Saniyyah tidak diterjemahkan dan dimasukkan dalam Kitab Oetoesan Wahabi. Tidak diketahui apa alasan para penyalin tidak memasukkan risalah kelima ini.

3. Para penyalin memberikan beberapa catatan kaki singkat disela-sela isi kitab. Isi catatan kaki akan dijelaskan lebih lanjut dibawah.

Selain ketiga hal tersebut diatas, para penyalin “Oetoesan Wahabi” juga menambahkan beberapa hal dalam kitab ini, yaitu ;

1. Cuplikan berita dari surat kabar Ummul Qura yang memberitakan berlangsungnya diskusi antara Ulama-Ulama Makkah dengan Ulama-Ulama Najd pada tahun 1343 H. Dalam diskusi tersebut disepakati beberapa masalah ushul (terlampir). Cuplikan diskusi ini di kemudian hari dicetak secara terpisah dan dimasukkan dalam kitab yang berjudul “Al Bayan al Mufid fi Maa Ittifaq ‘alahi ‘Ulama Najd wa Makkah min ‘Aqa-id at Tauhid”. Kitab Al Bayan al Mufid ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Kesepakatan Ulama Mekkah dan Nejd dalam Masalah Aqidah” yang diterbitkan oleh Pustaka Darul Ilmi (koleksi yang ada pada perpustakaan kami cetakan tahun 2009).

2. Cuplikan berita dari surat kabar Ummul Qura yang berisi seruan dan maklumat dari Amir Abdul Aziz alu Su’ud bertanggal 12 Jumadi Awwal 1343 H (terlampir). Seruan ini berisi visi dan misi Amir Abdul Aziz dalam mengelola Tanah Suci.

3. Penyalin menambahkan sebuah pasal peringatan singkat terhadap sebuah kitab berjudul “Al Kawakibul Mudhi’ah fi Raddu ‘ala Jahalatil Wahabiyyah” yang ditulis oleh da’i asal lampung bernama Abu Muhammad Fadlullah Muhammad Nawawi.

Mengenai sebab-sebab yang mendorong para penyalin menerbitkan kitab “Oetoesan Wahabi”, disini setidaknya ada 2 sebab.

Pertama, sebab secara umum. Yakni keinginan para penyalin untuk memberikan informasi yang lengkap dan utuh mengenai paham kaum Wahabi sehingga dengan adanya informasi tersebut masyarakat mampu memberikan penilaian yang adil dan objektif terhadap paham Wahabi.

Disini akan kami nukil penjelasan para penyalin yang ada pada bagian pendahulan kitab ini sebagai berikut (ejaan kami sesuaikan) :

“Amma ba’du. Dengan mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, dapatlah kita memenuhkan cita-cita kita, yaitu menyalin ini kitab dari bahasa Arab ke bahasa Melayu, teruntuk kepada saudara-saudara kaum muslimin yang hendak mencari kebenaran. Maka dari sini dapatlah kita menimbang mana yang salah, mana yang pembohong dan mana yang benar, tentang perbincangan orang-orang di seluruh Alam ini, yaitu keadaan, tujuan, haluan, dan kepercayaan kaum Wahabi.”

“Perbincangan mana, selagi yang telah maklum pada saudara-saudara kaum muslimin, bahwa surat-surat kabar diseluruh Hindia ini, rata-rata sedang asyik memperbincangkan hal keadaannya kaum Wahabi, yaitu penduduk kota Najd. Diantara surat-surat kabar itu, ada yang memuji-muji melewati batas. Dan ada yang mencerca dan mencela dengan makian-makian begitu juga. Perkumpulan-perkumpulan pun tak ketinggalan membicarakan hal keadaan yang demikian, sehingga orang Islam yang ingin mencari kebenaran dari antara dua perbincangan itu, amat sukar sekali didapatinya.”

“Jika kita pandang saja keadaan yang serupa itu, dengan tidak berikhtiar hendak memberi satu hakim yang memperhentikan percideraan atau perbincangan itu, tentu semakin lama gelap dan lenyap kelak kebenaran yang dicari itu. Malah persatuannya kaum Muslimin menjadi cerai berai dan tali persaudaraannya menjadi putus.”

“Keadaan yang sebegitu itu, tentu sekali tidak menyenangkan pada orang-orang yang ada perasaan keislaman, yang cinta pada bangsanya, cinta pada agamanya.”

“Dari sebab itu, kita sebagai dari orang-orang Muslimin, dengan hati yang girang, berdaya upaya buat memperbaiki keadaan itu.”

“Perjalanan yang baik sekali dalam pendapatan kita, dan obat yang manjur sekali buat melenyapkan penyakit perselisihan itu, ialah menyalin kitabnya kaum Wahabi sendiri.”

“Moga-moga Tuhan Allah Ta’ala memberi taufik tentang mencari kebenaran, terjauhlah kita daripada fitnah orang-orang yang semata-mata pada masa ini, kebanyakan mengadakan kebaktian dengan membuta-babi.”

(selesai nukilan)

Kedua, sebab secara khusus. Yakni kitab ini diterbitkan sebagai tanggapan secara khusus kepada kitab “Al Kawakibul Mudhi’ah fi Raddu ‘ala Jahalatil Wahabiyyah” yang ditulis oleh Abu Muhammad Fadlullah Muhammad Nawawi dari Kampung Lingai Menggala, Lampung. Ini terlihat dari adanya pasal khusus di akhir kitab Oetoesan Wahabi yang menanggapi kitab Al Kawakibul Mudhi’ah. Ini juga terlihat dari isi catatan-catatan kaki yang ditambahkan oleh para penyalin yang hampir seluruhnya berisi sindirian tajam kepada Muhammad Nawawi. Dan kebetulan memang salah satu penyalin, yakni Ahmad Sjoekri, berasal dari daerah yang sama dengan Muhammad Nawawi. Mengenai Muhammad Nawawi dan kitab Al Kawakibul Mudhi’ah ini kami belum memperoleh informasi lebih lanjut.

Selanjutnya akan kita bahas mengenai profil para penyalin dan apa itu Perhimpunan Idh-haroel Haq yang memegang hak penerbitan atas kitab “Oetoesan Wahabi” ini.