Kitab Oetoesan Wahabi dan Peran Organisasi Al Irsyad dalam Lintasan Sejarah Perkembangan Gerakan Wahabi di Indonesia (Bag. 4)

0
90

Dari penelusuran yang kami lakukan diketahui bahwa Perhimpunan Idh-haroel Haq ini merupakan organisasi yang berada di bawah Organisasi Al Irsyad pimpinan Syaikh Ahmad Syurkati. Idh-haroel Haq bertugas menjadi semacam “mantel” Al Irsyad dari serangan-serangan pihak-pihak yang tidak suka dengan Al Irsyad, dan juga bertanggung jawab dalam menyebarluaskan dakwah Al Irsyad kepada masyarakat. Peran Idh-haroel Haq sangat vital bagi Al Irsyad karena saat itu banyak sekali tuduhan dan fitnah dilancarkan kepada Al Irsyad sehingga membuat sebagian masyarakat a priori terhadapnya.

Idh-dharoel Haq dipimpin oleh Ali Harharah, yang merupakan salah satu penyalin Kitab Oetoesan Wahabi. Ali Harharah sendiri tercatat merupakan murid Syaikh Ahmad Surkati dan lulusan sekolah Al Irsyad Jakarta. Ali Harharah juga tercatat pernah bertahun-tahun lamanya menjabat sebagai sekretaris organisasi Al Irsyad sebelum akhirnya mengundurkan diri karena sakit berkepanjangan pada tahun 1949.

Ali Harharah sangat terkenal sebagai orator Al Irsyad. Oleh wartawan terkemuka saat itu bernama Saerun, Ali Harharah dijuluki “Spreker” dari Gang Kenari, yang berarti seorang pembicara dan ahli pidato yang memikat pendengar rakyat awam. Gang Kenari merupakan tempat di Salemba Raya, Jakarta dimana Sekolah Al Irsyad dan kegiatan dakwah Al Irsyad dilaksanakan.

Ketika Jong Islamieten Bond (JIB) meminta bantuan Al Irsyad untuk mengirimkan da’i untuk mengajarkan kepada mereka pengetahuan agama Islam dan bahasa arab, Al Irsyad secara resmi menunjuk Ali Harharah sebagai pengajar di JIB mulai bulan November 1929. Kajian Ali Harharah ini dilakukan pada setiap hari ahad.

Kembali ke pembahasan tentang Idh-haroel Haq. Dalam perjalanannya, organisasi ini diperkuat oleh para ahli dan da’i, diantaranya adalah Firmansyah, Wiryosugondo, Tubagus Syu’aib Sastradiwirya, Dahlan Abdullah (di kemudian hari menjadi Duta Besar RI yang pertama untuk Iraq). Setelah lahirnya Persis pada tahun 1923, dan munculnya Haji Fachrodin sebagai salah seorang pemimpin Muhammadiyah, kegiatan dakwah menjadi semakin semarak. Kegiatan dakwah Muhammadiyah dan Persis sering juga diisi oleh da’i-da’i Al Irsyad, khususnya dari Idh-haroel Haq.

Untuk memperkuat penyebaran dakwah, Idh-haroel Haq kemudian menerbitkan majalah bernama “Al Haq” yang terbit setiap bulan. Diantara para penulis tetap yang mengisi majalah ini adalah Ahmad Sjoekrie, salah seorang penyalin kitab Oetoesan Wahabi selain Ali Harharah.

Ahmad Sjoekrie memiliki nama lengkap Ahmad Abdullah Sjoekrie. Sama seperti Ali Harharah, Beliau adalah murid Syaikh Ahmad Surkati dan lulusan sekolah Al Irsyad Jakarta. Tulisan-tulisan Ahmad Sjoekrie dalam Majalah Al Haq kemudian dikumpulkan menjadi beberapa jilid. Jilid pertamanya kemudian diterbitkan oleh penerbit Gema Insani Press Jakarta pada tahun 1986 dengan judul “Pelita Islam” (foto terlampir), dengan bantuan suntingan dari Ahmad Yani Syamsi dan Hussein Badjerei. Ahmad Syukrie sendiri wafat di Jakarta pada 25 Januari 1990. Semoga Allah merahmati Beliau.

Pada perkembangan selanjutnya, Idh-haroel Haq boleh dikatakan terhenti kegiatannya sejak Ali Harharah berangkat ke Hijaz dan bermukim di sana sekitar 1 tahun 8 bulan dan baru kembali ke Jakarta pada bulan Juni 1929.

Sekembalinya dari Hijaz, Ali Harharah sempat menyalin kembali sebuah risalah yang menceritakan jalannya sebuah kongres ulama Wahabi yang diselenggarakan di Arab Saudi. Risalah ini disalin dan diterbitkan dengan judul “Congres Wahabi (Di Read Nadjd)” dan diterbitkan oleh Penerbit Penjiaran Islam Djokjakarta pada tahun 1929 (foto terlampir). Penerbitan risalah ini dilakukan juga dalam rangka memberikan informasi secara utuh kepada masyarakat Nusantara mengenai hakikat ajaran dan dakwah kaum Wahabi.

Dari sederet fakta-fakta diatas terlihat bagaimana peran Al Irsyad (Syaikh Ahmad Surkati dan murid-muridnya) dalam mencoba mengklarifikasi segala tuduhan yang dilemparkan kepada kaum Wahabi. Klarifikasi ini penting sekali bagi Al Irsyad saat itu – dan juga organasasi reformis lainnya seperti Muhammadiyah dan Persis – yang gencar dituduh sebagai pembawa paham Wahabi di Indonesia.

Penerbitan kitab “Oetoesan Wahabi” dan “Congres Wahabi (Di Read Nadjd)” menunjukkan kesungguhan mereka dalam mencoba memberikan penjelasan kepada masyarakat Nusantara saat itu tentang hakikat dakwah yang disampaikan oleh kaum Wahabi, yang memang banyak juga kesamaannya dengan paham Al Irsyad sendiri, bahwa dakwah mereka sebenarnya tidak bertentangan dengan apa yang dibawa oleh ulama-ulama salafus shalih. Usaha-usaha yang dilakukan Al Irsyad ini juga mendapat dukungan dari organisasi-organisasi reformasi lainnya. Ini terbukti dengan gencarnya Majalah Pembela Islam milik Persis dalam mengiklankan kitab “Oetoesan Wahabi” terbitan Al Irsyad. Meski berbeda jama’ah, mereka bersatu dalam usaha-usaha mengembangkan paham reformis dan pemurnian ajaran Islam di Indonesia.

Selain dalam bentuk penerbitan kitab, usaha-usaha pengembangan ajaran pemurnian Islam juga dilakukan dengan melakukan dialog dan perdebatan. Para ulama reformis saat itu tidak segan mengundang ulama-ulama lain untuk mendiskusikan berbagai macam isu keagamaan, baik yang bersifat ushul maupun furu’. Meski tidak semuanya mendapat respon yang memadai.

Dalam konteks diataslah para penyalin kitab “Oetoesan Wahabi” memberikan sedikit catatannya mereka tuliskan pada bagian-bagian akhir kitab. Setelah menyalin berita dari surat kabar Ummul Qura tentang diskusi antara ulama Makkah dengan Ulama Najd, para penyalin kemudian mencoba membandingkan peristiwa itu dengan yang terjadi di Indonesia. Para penyalin menyinggung perihal undangan-undangan diskusi dan debat yang disampaikan oleh organisasi reformis dan menyesalkan sikap para ulama yang diundang yang sama sekali tidak merespon undangan diskusi tersebut.

Selanjutnya para penyalin menyinggung 3 undangan diskusi yang tidak mendapat respon dengan baik, yaitu :

1. Undangan dari Perhimpunan Idh-haroel Haq kepada seorang ulama bernama Haji Mansyur Penghulu Kampung Sawah, Jakarta. Undangan ini tidak ditanggapi. Haji Mansyur yang disinggung disini adalah yang terkenal dengan sebutan Guru Mansyur (1878 – 1967), yang merupakan kakek buyut dari da’i terkenal Yusuf Mansyur.

2. Undangan dari organisasi Sarikat Islam (SI) Bogor kepada seorang ulama di Bogor bernama Hadji Mansoer. Undangan ini juga tidak ditanggapi.

3. Undangan diskusi di Bandung yang diselenggarakan oleh Persatuan Islam dengan mencoba menghadirkan Syaikh Ahmad Surkati dan Syaikh Ali ath Thayyib asy Syami. Syaikh Ahmad Surkati menghadiri undangan tersebut, sedangkan Syaikh Ali tidak bersedia hadir.

Khusus undangan yang ketiga ini, ada cerita menarik tersendiri. Undangan diskusi tersebut sebenarnya bermula justru dari selebaran yang disebarkan di Bandung oleh Syaikh Ali ath Thayyib dari komunitas Alu Ba’alawi. Dalam selebaran tersebut Syaikh Ali menantang Syaikh Ahmad Surkati untuk berdebat mengenai beberapa permasalahan agama dan menuduh Syaikh Ahmad Surkati bukanlah seorang ulama yang pantas dijadikan sandaran. Menanggapi selebaran tersebut, organisasi Persis Bandung berinisiatif untuk menyelenggarakan pertemuan debat antara keduanya. Namun setelah ditunggu pada waktu yang telah ditentukan, Syaikh Ali tidak menampakkan diri dan terdengar kabar bahwa dirinya pergi ke Surabaya.

Beberapa waktu kemudian, ketika Syaikh Ahmad Surkati berkunjung ke Surabaya, Beliau tiba-tiba mendapat surat tantangan debat kedua dari Syaikh Ali. Syaikh Ali mengundang Syaikh Ahmad Surkati untuk berdebat dengannya di Masjid Ampel ba’da shalat Isya’ pada 21 Sya’ban tahun 1343 H. Tema debat pada 3 masalah, yakni masalah ijtihad dan taqlid ; masalah sunnah dan bid’ah ; serta masalah ziarah qubur, tawassul dan syafa’at. Meski tanpa persiapan yang memadai, Syaikh Ahmad Surkati menghadiri undangan tersebut pada tempat dan waktu yang telah ditentukan, namun lagi-lagi setelah ditunggu lama Syaikh Ali tidak tampak batang hidungnya.

Atas kejadian diataslah, Syaikh Ahmad Surkati kemudian menulis kitab terkenal berjudul “Al Masaa-il ats Tsalats” dalam bahasa Arab yang terbit pada tahun 1925. Kitab ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Tiga Persoalan” dan diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah pada tahun 1988 (foto terlampir)

Sebagai tambahan informasi, kitab “Al Masaa-il ats Tsalats” ini dipuji oleh ulama salafi yang tinggal di Saudi bernama Syaikh Abdurrahman bin Yahya al Mu’alimi al Yamani (penulis kitab At Tankil yang merupakan bantahan terhadap Muhammad Zahid al Kautsari). Bahkan setelah membaca kitab Al Masaa-il ats Tsalats ini, Syaikh Abdurrahman al Mu’alimi terinspirasi untuk menulis kitab dengan tema serupa yang kemudian diberi judul “Tahqiq al Kalam fi Masaa-il ats Tsalats” (foto terlampir).

Pada tahun 2019 kitab ini diterbitkan oleh penerbit Saudi (Darus Salaf) dengan ditahqiq oleh Ali bin Muhammad al ‘Imran, yang juga merupakan salah seorang muhaqqiq kitab-kitab Syaikh Abdurrahman al Mu’alimi.

Dengan memperhatikan uraian-uraian diatas, maka dapat kita ketahui kekeliruan sebagian kelompok mustasyaddid yang dengan tergesa-gesa mendakwa bahwa Syaikh Ahmad Surkati membenci Wahabi. Lebih dari itu mereka bahkan telah mentahdzir dan mengeluarkan Syaikh Ahmad Surkati dari barisan salafiyyun ahlus sunnah wal jama’ah, mengecapnya sebagai mubtadi’ hizbiyyun, memfitnahnya sebagai agen orang kafir, serta menggelari pengikut-pengikut dan pembela-pembelanya dengan sebutan “Surkatiyyun atau Irsyadiyyun”, seolah-seolah Syaikh Ahmad Surkati ini seorang ahli bid’ah semacam Jahm bin Shafwan yang merupakan pencetus bid’ah pemikiran Jahmiyyah.

Bagaimana hal itu bisa diterima dakwaan ini, sedangan karya Beliau sendiri telah dipuji oleh ulama salafi dan diterbitkan di negeri Wahabi. Selain itu, Beliau dan murid-murid Beliau juga bahu-membahu membela paham Wahabi di Indonesia, baik lisan maupun tulisan, jauh sebelum kelompok mustasyaddid dan ustadz-ustadz mereka itu lahir.

Selesai..

Referensi :

1. Kitab Oetoesan Wahabi

2. Congres Wahabi (Di Read Nadjd)

3. Majalah Pembela Islam, Persatuan Islam

4. Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, H. Hussein Badjerei

5. Al Hadiyyah as Saniyyah, Syaikh Sulaiman bin Sahman

6. Al Fawakihul ‘Idzab fi Raddu ‘ala Man lam Yuhakkimu as Sunnah wal Kitab, Syaikh Hamd bin Nashir

7. Sanad Ijazah 100 Ulama, Ustadz Abu Abdillah Rikrik Aulia Rahman As Surianji

8. Syaikh Ahmad Syurkati (1874 – 1943) Pembaharu & Pemurni Islam di Indonesia, Prof. Dr. Bisri Affandi, M.A.

9. Al Masaa-il ats Tsalats, Syaikh Ahmad Surkati

10. Tahqiq al Kalam fi Masaa-il ats Tsalats

11. Ad Durarus Saniyyah fi Ajwibah an Najdiyyah

12. Dan lain-lain