Dalam Selimut Cinta

0
161

Canda dalam berumah tangga adalah kebutuhan. Sama seperti paduan warna dalam penglihatan. Tanpa warna, hidup hanya terasa hitam putih. Coba bayangkan, seandainya semua yang terlihat ini hanya berwarna hitam dan putih, maka itu akan terlihat murung sebagaimana penampilannya.

Canda terbukti efektif mengharmoniskan rumah tangga, namun canda tetap dalam batasan-batasan yang diperbolehkan oleh syariat. Dari sini dapat kita lihat bahwa canda dalam rumah tangga memiliki urgensi yang patut kita ketengahkan pembahasannya.

Canda Nabi Bersama Istri

Sebaik-baik teladan kita dalam setiap perkara adalah Nabi, tanpa terkecuali teladan kita dalam bercanda bersama keluarga.

Aisyah pernah menuturkan, “Aku pernah pergi bersama Nabi pada suatu safar, sedang saat itu aku masih belia, belum memiliki lemak, dan belum berbadan sintal. (Mendadak) Nabi berkata kepada sahabatnya, ‘Buat barisan!.’ Maka mereka pun membuat barisan. Kemudian beliau memanggilku, ‘Ayo kesini, kita balapan lari!.’ Dan aku pun berhasil mengalahkan beliau. (Waktu pun berlalu) beliau tidak mengungkit lagi kejadian itu.

Hingga ketika aku sudah memiliki lemak dan bertubuh sintal, serta aku pun sudah tidak ingat lagi (peristiwa itu), maka (di suatu waktu) aku pergi (bersafar) kembali dengan beliau, (mendadak) beliau perintahkan sahabatnya, ‘Buat barisan!.’ Mereka pun membuat barisan, beliau berkata, ‘Ayo, balapan lari!.’ Aku pun mampu mendahului beliau (tapi akhirnya) beliau lah yang mendahuluiku, maka beliau pun tertawa dan berkata, ‘Sekarang kita satu sama!.’”[1]

Aisyah juga menuturkan, “Pernah aku datang membawa kuah daging yang telah kumasak untuk Nabi, maka aku katakan kepada Saudah, sedang Nabi tatkala itu berada di tengah-tengah kami, ‘Makanlah!.’ Lantas dia menolak, ‘Kamu makan, atau kalau tidak aku oleskan kuah ini ke wajahmu!.’ Maka dia tetap menolak, sehingga kucelupkan tanganku ke dalam kuah dan kuoleskan kuah tadi ke wajahnya. Nabi berkata kepadanya, ‘Ayo olesi dia juga!.’ Dan beliau pun tertawa.’”[2] Dalam redaksi lain beliau menghalangi Aisyah agar Saudah bisa membalas olesannya.

Itulah potret canda dalam rumah tangga nubuwah, yang penuh dengan keharmonisan dan kemesraan. Canda semacam inilah yang seyogyanya menghiasi rumah tangga setiap muslim, agar rumah tangganya senantiasa langgeng dan harmonis.

Etika Saat Bercanda

Bercanda pun ada norma-normanya, tidak setiap bahan candaan layak untuk kita lakukan. Berikut beberapa etika yang harus diperhatikan ketika bercanda bersama keluarga.

  • Tidak bercanda dengan agama

Tidak menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an, Nabi, sahabat, atau simbol-simbol agama sebagai bahan candaan, karena hal tersebut termasuk mengolok-olok agama yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Allah berfirman artinya, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok?. Tidak Usah kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…”[3]

 

  • Tidak berdusta saat bercanda

Hindari perkataan dusta ketika bercanda, karena orang yang berkata dusta hanya untuk membuat orang lain tertawa mendapat ancaman yang sangat berat.

Rasulullah telah bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Jurang dalam neraka bagi orang yang membuat lelucon kemudian berdusta hanya agar manusia bisa tertawa. Jurang dalam neraka, benar-benar jurang dalam neraka diperuntukan untuknya.”[4]

 

  • Tidak merendahkan orang lain

Tidak boleh bercanda dengan merendahkan orang lain, apalagi pasangan kita sendiri, karena selain hal tersebut diharamkan juga memicu keretakkan hubungan rumah tangga.

Allah berfirman artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan lelaki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan tersebut lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan suka mencela dirimu sendiri, dan jangan memanggil dengan gelaran-gelaran yang mengandung ejekan…[5]

 

  • Tidak menakut-nakuti orang lain

Tidak menakut-nakuti orang lain dalam bercanda, karena hal tersebut dapat membahayakan keduanya. Karena boleh jadi seorang yang ditakut-takuti memiliki penyakit jantung, atau dalam keadaan serius sehingga ia marah dan menaruh dendam.

Rasulullah bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim lainnya.”[6]

  • Bercanda di waktu yang tepat

Hindari bercanda diwaktu yang tidak tepat, karena bercanda di waktu yang tidak tepat akan menyulut pertikaian, atau menghilangkan kewibawaan. Imam adz-Dzhabi menjelaskan tentang sebab yang dapat menyulut amarah seorang muslim, diantaranya beliau menyebutkan, “….bercanda tidak pada waktunya.”[7]

 

  • Tidak melakukan ghibah

Ghibah meskipun dilakukan dalam keadaan bercanda tetap diharamkan, karena esensi dari ghibah adalah menggunjing orang lain tanpa sepengetahuannya.

Salah seorang istri Nabi berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, cukup sudah, Shafiyyah itu seperti ini dan itu…”. Maka beliau menimpali, “Sungguh engkau telah mengucapkan sebuah kalimat, yang andaikata dicampur dengan air laut maka akan membuatnya keruh.”[8]

Dalam Selimut Canda

Tidak hanya bermanfaat mencairkan suasana, bercanda antara suami istri juga terhitung sebagai pahala.

Rasulullah bersabda,

كُلُّ شَيْءٍ يَلْهُو بِهِ الرَّجُلُ بَاطِلٌ إِلَّا رَمْيَ الرَّجُلِ بِقَوْسِهِ أَوْ تَأْدِيبَهُ فَرَسَهُ أَوْ مُلَاعَبَتَهُ امْرَأَتَهُ، فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ

Setiap permainan yang dilakukan oleh seorang lelaki adalah batil, kecuali; melempar anak panah, melatih berkuda, atau bercanda dengan istri, karena semuanya adalah benar.”[9]

  Nampak sudah pentingnya bercanda bagi kehidupan berumah tangga, akan tetapi sebagaimana yang sudah dipaparkan bahwa bercanda harus tetap dalam koridornya, tidak melampaui batas, namun sekedar candaan yang dapat mempererat hubungan antara suami dan istri.

Wallahu a’lam.

 

[1] HR. Ahmad 6/264. Muasasah Qurthubah

[2] HR. an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra 5/291. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

[3] QS. at-Taubah : 65-66

[4] HR. Abu Dawud no. 4992. Dar al-Kutub al-Arabi

[5] QS. al-Hujurat : 11

[6] HR. Abu Dawud no. 5006

[7] Syarh Kitab Huquq al-Jar, adz-Dzahabi hal. 70. Dar al-Kutub al-Ilmiyah

[8] HR. Abu Dawud no. 4877

[9] HR. al-Baihaqi dalam Syu’abu al-Iman 8/451. Maktabah ar-Rusyd