pencil

Cara Bertaubat dari Dosa

Sesungguhnya tidak ada seorangpun di atas muka bumi ini yang terlepas dari dosa dan kesalahan. Bahkan dalam Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda:


لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَ لَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَغَفَرَ لَهُمْ

“Kalaulah kalian tidak berbuat dosa, tentu Allah akan melenyapkan kalian, dan Dia akan menciptakan suatu kaum yang berlaku dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah pun mengampuni mereka.” [HR Muslim]

Maknanya ialah, sebagaimana penjelasan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, “Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan pasti terjadinya dosa sehingga nampak pengaruh maghfirah dan rahmat-Nya, serta namanya At-Tawwab, Al-Ghafur, dan Al-‘Afwu. Sebab kalaulah tidak ada dosa, tentu Al-‘Afwu, Al-Ghafur, dan  At-Tawwab tak bermakna.”

Oleh karena itu sebaik-baik pendosa adalah mereka yang segera bertaubat kepada Allah Ta’ala  sebagaimana sabda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Setiap anak Adam pasti berdosa. Dan sebaik-baik pendosa adalah orang-orang yang bertaubat.”

Di dalam Al-Quran, terdapat banyak ayat yang mengajak manusia agar bertaubat, antara lain firman-Nya:


وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [An-Nur: 31]

Allah juga berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [At-Tahrim: 8]

Juga firman-Nya:


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az-Zumar: 53]

Melalui berbagai keterangan beberapa ayat dan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa pintu taubat masih akan terus terbuka lebar bagi siapa saja yang mau mengetuknya dan kembali ke jalan Allah Ta’ala, hanya saja pintu taubat akan segera ditutup pada dua kondisi, yaitu seketika nyawa sudah sampai kerongkongan (baca: sekarat) dan manakala matahari sudah tidak lagi terbit dari sebelah Timur, melainkan dari sebelah Barat.

Lalu, bagaimanakah cara taubat yang benar?

Di dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin (I/86-91), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah- menjelaskan bahwa taubat yang benar harus memenuhi lima syarat:

Pertama, tulus ikhlas karena Allah Ta’ala, bukan karena takut manusia atau mencari perhatian sesama makhluk yang sama sekali tidak bisa memberi kecelakaan maupun manfaat.

Dalil-dalil yang menunjukkan akan hal ini teramat banyak, salah satunya apa yang Allah katakana dalam Surat Al-Bayyinah ayat yang ke-3, “Tidaklah mereka diperintahkan melainkan hanya agar menyembah Allah dengan memurnikan beragamanya hanya untuk-Nya semata, dengan tetap lurus.”

Kedua, menyesali segala perbuatan dosa yang pernah dikerjakan. Sebab sikap penyesalan ini menunjukkan bahwa taubat yang dilakukan seorang hamba memang sesuatu yang benar, bukan reka-reka apalagi untuk mengalihkan pandangan orang-orang di sekitarnnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, “Penyesalan adalah taubat.”

Ketiga, menyudahi dosa yang menjadi lubang kubangannya. Syarat ketika ini termasuk syarat terpenting di antara lima syarat agar taubat dapat diterima di sisi Allah Ta’ala. Sedangkan cara menyudahi taubat ialah:

  • Apabila dosa itu berkaitan dengan suatu kewajiban yang ditinggalkan,
  • maka menyudahinya adalah dengan cara melaksanakan kewajiban tersebut. Seperti misalnya orang yang enggan mengerjakan shalat lima waktu, maka cara menyudahi dosa meninggalkan shalat ialah dengan mengerjakan shalat lima waktu sesuai dengan ketentuan syariat. Orang yang sebelumnya tidak mau mengeluarkan zakat, maka menyudahinya adalah dengan menunaikannya.
  • Apabila dosa itu berpautan dengan mengerjakan suatu maksiat,
  • maka cara menyudahinya ialah dengan benar-benar meninggalkannya segera, tidak menundanya. Misalnya pelaku riba, cara menyudahi dosa ribanya tersebut adalah dengan cara menjauhi muamalah ribanya segera dan memberhentikan segala transaksi ribanya tersebut serta membuang segala harta yang ia dapat selama ini dengan cara riba, semisal bunga bank, bunga utang, dan lain sebagaimanya. Dan apabila ada harta orang lain yang masih ada pada dirinya, maka seyogyanya segela ia kembalikan kepada empunya jika cara mendapatkan harta itu tidak dengan cara yang syar’i. Bila dosa yang ingin ia bertaubat darinya berupa menggunjing orang lain, maka agar supaya ia dianggap menyudahi dosa menggunjing tersebut ialah dengan menahan diri darinya dan tidak bermajelis dengan orang-orang yang sedang menggunjing orang lain. Inilah yang seharusnya ia lakukan, bukan malah menikmati majelis ghibah atau dosa-dosa yang ingin ia bertaubat darinya.
  • Adapun jika dosa itu berkaitan dengan hak sesama makhluk,
  • apabila tentang harta, maka wajib dikembalikan kepada empunya, sehingga taubat tidak mungkin diterima kecuali dengan cara mengembalikannya kepada empunya tadi. Seandainya empunya sudah tidak lagi diketahui keberadaannya atau mungkin telah meninggal, maka harta tersebut wajib dikembalikan kepada ahli warisnya jika mereka masih bisa dilacak, namun sekiranya tidak dapat dilacak, maka bisa disedekahkan atas namanya.
  • Kalau dosa itu berupa pukulan atau semisalnya, maka cara taubatnya adalah dengan mendatangi orang yang pernah dipukul dan membiatkannya membalas pukulan tersebut atau minta agar dihalalkan saja tanpa membalas dengan pukulan yang semisal. Demikian halnya dengan dosa menyakiti melalui lisan, maka harus dengan cara minta agar dihalalkan dan dimaafkan.
  • Lalu bagaimana dengan dosa ghibah? Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa ia harus mengaku di hadapan orang yang pernah ia ghibahi dan kemudian meminta maaf kepadanya. Namun sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa apabila orang yang pernah dijadikan target ghibah mengetahui persoalan ghibah tersebut, maka ia harus menjumpainya dan minta agar dihalalkan. Namun jika belum terkuak ghibahnya oleh orang yang pernah dijadikan target ghibah, maka tidak perlu mendatanginya, dan kemudian beristighfarlah untuknya, dan sebut-sebutlah nilai-nilai positif yang ada padanya di hadapan orang lain. Pendapat terakhir inilah yang dianggap kuat oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.

Dalam sebuah hadits disebutkan:


كَفَّارَةُ مَنِ اغْتَبْتَهُ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لَهُ

“Menebus dosa mengibahi orang lain adalah dengan cara memintakan istighfar untuknya.” [HR Ibnu Abi Ad-Dunya, Abu Asy-Syaikh, dan Al-Kharaithi, namun dinilah dha’if oleh Al-‘Iraqi dalam Takhrij Al-Ihya’]

Cara memintakan ampun adalah –umpamanya- dengan mengatakan:


اللهُمَّ اغْفِرْ لَهُ

“Ya Allah, berilah ampunan untuknya.”

Atau ungkapan-ungkapan semisalnya.

Syarat keempatberkeinginan kuat untuk tidak kembali mengerjakan dosa tersebut. Adapun jika masih ada keinginan untuk kembali mengerjakan dosa itu apabila datang kesempatan, tentu taubatnya tersebut tidak sah dan boleh jadi malah justru terjerumus dalam bab istihza’, yaitu menghina Allah Ta’ala.

Syarat kelima, taubat itu dilakukan pada saat pintu taubat masih terbuka lebar seperti yang telah disinggung di muka.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari sebelah Barat, maka Allah akan menerima taubatnya tersebut.”  [HR Muslim, dari Abu Hurairah]

Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla  akan senantiasa taubat selama nyawa belum sampai kerongkongan.” [HR At-Tirmidzi, dan beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan]

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu memberikan taufiq-Nya kepada kita semua agar selalu menyadari kesalahan yang kita kerjakan dan bertaubat dari seluruh dosa. Aamiin. []