Di Balik Sejarah Masjid Al-Noor New Zealand, Perseteruan Antara Sunnah dan Syi’ah

0
154

Jumat (15/03/2019 – 8/7/1440) umat manusia, terkhus umat Islam, dikagetkan dengan munculnya berita diiringi vidio menyedihkan, yaitu pembantaian yang dilakukan oleh seorang teroris bernama Brenton Tarrant yang tergabung dalam Islamphobia. Peristiwa pembantaian itu terjadi di sebuah masjid bernama Masjid Al-Noor yang terletak Kota Christchurch, Selandia Baru (New Zealand). Aksi pembantaian ini dilakukan sewaktu umat Islam tengah melakukan ibadah shalat Jumat sehingga korban yang berjatuhan pun mencapai 50 orang. Semoga Allah mengkategorikan para korban dalam barisan para syuhada’ dan semoga pristiwa ini melahirkan dampak positif bagi para umat non Islam di sana sehingga membuat mereka semakin simpati pada ajaran agama Islam, seperti pristiwa 11 September 2011 silam.

Terlepas dari pristiwa menyedihkan di atas, ada satu pristiwa unik yang menjadi tanda kemenangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Kisah ini disampaikan oleh Syaikh Dr. Walid bin Idris Al-Manisi[1] , rektor Islamic University of Minnesota, di laman facebook beliau.

Dalam kisanya itu disebutkan bahwa ada sebuah negeri yang terletak di Timur Jauh Selandia Baru yang juga masyhur disebut sebagai Kota Kristiani. Pasalnya di sana terdapat gereja terbesar. Di negeri yang mayoritas penduduknya adalah umat Kristiani itu terdapat sebuah masjid bernama Masjid Al-Noor. Alasan kenapa masjid ini disebut Al-Noor karena ia merupakan masjid pertama kali yang disinari oleh matahari manakala ia terbit di permukaan bumi. Oleh karena itu, dari Masjid Al-Noor inilah azan pertama kali dikumandangkan setiap harinya, mendahului masjid-masjid manapun di seluruh penjuru dunia.

Namun sayangnya, pada suatu saat didapati ternyata jama’ah masjid diminoritasi oleh kalangan Syi’ah Rafidhah yang berasal dari Lebanon, India, Pakistan, dan lainnya dibanding jama’ah Ahlussunnah wal Jama’ah yang di antaranya adalah para mahasiswa Saudi Arabiya yang diutus untuk belajar di sana.

Syi’ah Rafidhah di manapun sebagaimana biasanya sering melakukan perbuatan licik dan tipu muslihat untuk menyebarkan ajaran sesat mereka, tidak terkecuali di Selandia Baru. Terkait Masjid Al-Noor ini, karena mereka merasa sebagai jama’ah mayoritas mengalahkan jumlah jama’ah Ahlussunnah wal Jama’ah, tiba-tiba mereka mengangkat imam shalat dari kalangan mereka sendiri yang padahal mereka tidak ada hak dalam ketakmiran masjid. Melihat ulah mereka yang lancing itu, Ahlussunnah tidak mau tinggal diam selaku penanggungjawab ketakmiran masjid. Mereka pun menolak apa yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah tersebut. Sehingga terjadilah persengketaan yang sengit antara jama’ah Ahlussunnah dengan jama’ah Syi’ah Rafidhah. Sangking sengit dan tajamnya persengketaan itu, hingga akhirnya dibawa pula ke pengadilan Selandia Baru.

Ketika masing-masing kedua belah pihak menghadap ke pengadilan negara, tentu saja pihak pengadilan tidak mungkin bisa memecahkan masalah itu kecuali berdasarkan bukti sehingga memungkinkan baginya menyerahkan ketakmiran masjid itu kepada pihak yang memiliki bukti pembangunan. Namun sayang, kedua belah pihak tidak dapat menunjukkan bukti dokumen pembangunan masjid sehingga membuat pihak pengadilan harus melerai dan mendasarkan keputusannya pada kuantitas. Oleh karena jumlah Syi’ah Rafidhah lebih banyak dibanding jumlah Ahlussunnah, pihak pengadilan negara pun mememberikan kewenangan masjid kepada kaum Rafidhah tersebut.

Kejadian itu membuat jama’ah Ahlussunnah wal Jama’ah sangat menyayangkan keputusan pengadilan negara. Pasalnya, Masjid Al-Noor adalah masjid yang dibangun oleh komunitas Ahlussunnah wal Jama’ah. Namun apa boleh buat, selama mereka tidak memiliki bukti dokumen yang menguatkan suara mereka, maka sekali-kali pengadilan tidak mungkin memenangkan mereka.

Namun kabar baiknya, pemberian hak kepada minoritas ini hanya berlaku sementara waktu. Pihak pengadilan masih memberikan kesempatan kepada kedua belah pihak untuk dapat mendatangkan bukti dokumen hak kepengurusan. Dari keputusan itu, mulailah salah seorang da’i asal Kerajaan Saudi Arabia di sana menghubungi sejumlah organisasi keislaman untuk meminta tolong agar dapat mendapatkan bukti dokumen yang dimaksud agar masjid Al-Noor kembali kepihak Ahlussunnah.

Ketika da’a asal KSA tersebut kembali ke negaranya, namun ia sudah lupa akan polemic yang terjadi di  Christchurch. Sehingga kepulangannya ke Saudi tersebut tidak ia manfaatkan untuk mencari dokumen yang dimaksud.

Qaddaraullah, suatu ketika sang da’i itu mendapat undangan dari salah satu pesta pernikahan (walimatul ‘urs). Ternyata salah satu tamu undangan walimah itu ialah Syaikh Al-‘Abudi yang pada saat itu duduk persisi di samping da’i tadi. Terjadilah diolog ringan antara kedua tamu undangan yang sama-sama sebagai da’i.

“Beberapa hari yang lalu saya baru saja pulang dari Selandia Baru,” kata sang da’i.

Mendengar kalimat itu, Syaikh Al-‘Abudi pun tertarik untuk menanyakan kabar kondisi New Zeiland dan umat Islam di sana. Da’i itu kemudian kembali mengingat persengketaan antara Ahlussunnah dan Syi’ah Rafidhah dan menceritakannya kepada Syaikh Al-‘Abudi.

“Sayalah yang membangun masjid ini pada 30 tahun silam,” tanggap Syaikh Al-‘Abudi, “…dengan bantuan biaya dari Raja Fahd. Dan segala dokumen pembangunan ada pada simpanan saya. Sebab pada waktu itu, saya tidak menjumpai orang terpercaya yang bisa kupercaya agar menyimpan dokumen tersebut. Karena itu, aku terpaksa menyimpannya sendiri.”

Mendengar pernyataan Syaikh Al-‘Abudi itu, gembiralah sang da’i tersebut. Dan sangking gembiranya, ia segera menghubungi saudara-saudara Ahlussunnah di New Zeiland akan berita menggembirakan itu yang menjadi tanda kemenangan kaum Ahlussunnah. Tidak lama kemudian, dokumen yang disimpan oleh Syaikh Al-‘Abudi itu dikirim ke New Zeiland untuk diserahkan dan ditunjukkan kepada pihak pengadilan negara. Tanpa berpikir panjang, pengadilan pun segera memenangkan Ahlussunnah dari persengketaan tersebut. Tidak cukup sampai di situ, pihak pengadilan negara pun mengeluarkan perintah agar komunitas Syi’ah Rafidhah diusir dengan cara tidak terhormat dari Masjid Al-Noor milik komunitas Ahlussunnah wal Jama’ah di Christchurch.

Alhamdulillah awwalan wa akhiran, segala puji kembali kepada Allah yang telah memenangkan Ahlussunnah dari bala tentara kaum sesat!

 

[1] https://www.facebook.com/almeneesey/posts/1998684633758479 Kisah ini kemudian dibenarkan oleh Isma’il Asy-Syaikh yang mendengar dari salah seorang saksi persengketaan itu.