Semarak Menyambut Bulan Ramadhan

0
297

Ramadan. Itulah sebuah nama indah untuk bulan yang benuh berkah. Berjuta kebaikan tertuang di bulan yang suci ini. Bak pasar tahunan bagi pejuangan akhirat. Semua orang, dari yang muda maupun yang tua, selalu menantikan bulan  ini. Meski demikian, tidak sedikit orang lalai akan keistimewaan bulan Ramadan ini.

Asal Kata Ramadhan

Ramadhan (Arab رمضان) merupakan pecahan kata dari الرَّمْضُ yang artinya sangat panas. Al-Jauhari, seorang ulama pakar bahasa, mengatakan, “Konon ketika orang-orang Arab hendak mengubah istilah-istilah bulan lama, mereka mengambil istilah-istilah yang selaras dengan waktu bulan tersebut. Sedangkan bulan ini jatuh pada saat terik matahari begitu panas sehingga merekapun menamainya Ramadhan.”

Sementara itu ada sejumlah ulama memberikan keterangan lain. Mereka menyampaikan bahwa korelasi kata itu ialah bahwa pada bulan banyak dosa-dosa yang dibakar dan diampuni.

Baik pendapat pertama maupun kedua, kita bisa mengkompromikan keduanya. Sebab, pada bulan Ramadhan memang panas matahari memang sangat terik di muka bumi. Selain itu pula Allah banyak mengampuni dosa para hamba-Nya.

Keistimewaan Ramadhan

Banyak sekali ayat dan hadits yang menjelaskan keistimewaan dan kelebihan bulan Ramadhan. Di sini penulis hanya akan mencukupkan dengan satu hadits mulia berikut:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ ، وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ ، وَيُنَادِي مُنَادٍ : يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

“Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan, maka setan dan jin yang jahat akan diblenggu, pintu-pintu neraka akan ditutup sehingga tidak ada satu pintupun yang terbuka, pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak ada satupun pintu yang tertutup, dan aka nada yang menyeru, ‘Hai orang yang mencari kebaikan, sambutlah, hai orang yang menginginkan keburukan, kurangilah”, dan Allah akan membebaskan sejumlah penduduk neraka. Hal tersebut berlaku di setiap malam Ramadhan.” [Riwayat At-Tirmidzi (no. 682) dan Ibnu Majah (no. 1642)]

Persiapan Menyambut Bulan Ramdhan

Sebagaimana yang telah penulis singgung di muka, Ramadhan merupakan musim tahunan yang penuh dengan keberkahan. Ia merupakan musim perniagaan antara umat manusia dengan Tuhan semesta alam. Bahkan semata-mata ada orang yang berkemauan ‘berdagang’ di bulan itu, hanya keuntungan jualah yang akan ia peroleh.

Kalau saja para pedagang selalu bersiap-siaga untuk menyambut musim-musim perniagaan, maka sudah sepantasnya umat Islam bersiap-siap menyambut musim keuntungan ini.

Diriwayatkan bahwa generasi terdahulu berdoa selama enam bulan agar ibadah mereka diterima selama Ramdhan. Sedangkan enam bulan berikutnya mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan Ramadhan selanjutnya.

Riwayat ini sekaligus sebagai motivasi kita agar tidak melewatkan persiapan-persiapan itu. Di antaranyan ialah

Memperbanyak Taubat

Pertama, segera bertaubat kepada Allah dan menyudahi segala bentuk dosa. Ramadhan memang bulan yang penuh dengan ampunan. Segala bentuk ketaatan akan terasa mudah dilakukan. Namun, seseorang yang sudah terbiasa melakukan dosa di luar Ramadhan, tetap akan meraka kesulitan meninggalkan dosa manakala Ramadhan tiba.

Oleh karena itu, masih saja ada aksi-aksi kejahatan yang dilakukan sebagian orang. Bukan karena setan yang membisiki mereka, namun karena setan telah sukses mendidik manusia selama 11 bulan sebelumnya. Sehingga ketika setan dibelenggu pun, anak didiknya secara otomatis mempraktikkan didikannya.

Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Kedua, membiasakan puasa sejak di bulan Sya’ban. Di antara kebiasaan Rasulullah demi menyambut datangnya bulan Ramadhan ialah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Sehingga ketika beliau ditanya akan hal tersebut, beliau menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Pada bulan antara Rajab dan Ramadhan itu banyak orang yang melalaikannya. Padahal saat itu amal perbuatan sedang diserahkan kepada Allah. Karena itu, aku suka jika amalku sedang ditunjukkan pada Allah pada saat aku puasa.” [Riwayat Ahmad dan An-Nasa’i]

Berbekal Ilmu Sebelum Ramadhan Tiba

Ketiga, berbekal ilmu sebelum Ramadhan tiba. Berilmu sebelum beramal adalah prinsip penting yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Urgensi ilmu dapat terlihat nyata manakala kita tahu bahwa Allah tidak akan menerima amal perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat-Nya. Bahkan orang yang hanya bermodalkan semangat tanpa diimbangi dengan ilmu akan tersesat. Seperti kaum Nasrani yang Allah singgung dalam Surat Al-Fatihah.

Umar bin Abdul ‘Aziz pernah menuturkan:

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Apa yang dirusak oleh orang yang beribadah tanpa dasar ilmu lebih besar daripada apa yang ia perbaiki.”

Pernyataan semisal juga pernah disampaikan oleh Al-Hasan Al-Bashri, Ibnul Qayyim, dan ulama-ulama berar lainnya.

Oleh karena itu sangat disarankan agar setiap muslim mengkaji kembali hukum-hukum yang bertautan dengan Puasa, Zakat, dan Shalat Tarawih. Hal tersebut bisa dilakukan, antara lain, dengan menghadiri kajian-kajian yang bertemakan Ramadhan. Bisa juga dengan membaca buku-buku fiqih puasa. Di antara buku-buku yang cukup menarik dalam hal ini ialah Fiqih Puasa karya Dr. Yusuf Al-Qardhawi dan Panduan Ramdhan karya M. Abduh Tuasikal, MSc.

Sebagai contoh kasus nyata betapa pentingnya berilmu sebelum beramal.  Banyak orang menyangka bahwa jika azan subuh telah dikumandangkan sedangkan di tangan masih ada makanan atau minuman, maka masih boleh meneruskan bahkan menyelesaikannya.  Mereka ‘berdalil’ dengan hadits Abu Dawud, “Apabila kalian mendengarkan kumandang azan sedangkan di tangan kalian masih ada makanan, maka tidak perlu meninggalkannya sampai ia memenuhi kebutuhannya.”

Padahal kaum muslimin sejak dahulu hingga sekarang bersepakat bahwa imsak harus segera terlaksana manakala fajar shadiq telah tiba. Sehingga orang yang masih makan ketika fajar shadiq telah tiba dengan ditandai azan subuh, maka puasanya tidak sah.

Lalu bagaimana dengan hadits di atas?

Al-Baihaqi menjelaskan bahwa pada zaman Rasulullah terdapat dua muazin subuh. Pertama Bilal yang biasa mengumandangkan azan beberapa saat sebelum fajar shadiq sebagai tanda bahwa waktu subuh akan segera tiba. Kedua, Ibn Ummi Maktum yang bertugas mengumandangkan azan manakala fajar shadiq benar-benar telah tiba.

Sehingga kumandang azan yang dimaksud hadits di atas ialah azan pertama yang dikumandangkan oleh Bilal.  Sedangkan di Indonesia, umumnya hanya dikumandangkan ketika fajar shadiq benar-benar telah tiba. Sehingga orang tidak boleh melanjutkan sahurnya ketika itu dan bahkan kalau di mulutnya masih ada sisa makanan, maka ia wajib memuntahkannya.

Membiasakan Melakukan Ibadah

Ketiga, membiasakan diri untuk memperbanyak ketaatan. Sebelum bulan puasa benar-benar tiba, maka latihlah diri Anda untuk banyak melakukan ibadah. Mulailah membiasakan diri berdoa dengan durasi panjang. Mulailah membaca Al-Quran dengan jumlah ayat yang banyak.

Di samping itu pula, mari kita biasakan diri kita meminimalisir melakukan hal-hal yang tidak manfaat. Kurangilah durasi bermain game dan internet. Apabila Anda suka menonton film atau televisi, maka mulailah membiasakan diri untuk tidak bergantung padanya. Demikian juga perokok. Cobalah untuk menyedikitkan jumlah batang rokok yang Anda hisab.

Dengan demikian ketika bulan puasa benar-benar tiba, Anda sudah akan terbiasa melakukan ketaatan. Tingkat ketaatan Anda akan meroket dan Anda akan menjalani ibadah puasa dengan penuh kenikmatan. Jauh lebih nikmat daripada nikmat-nikmat dunia lainnya.

Abu Bakar Al-Warraq Al-Balkhi, sebagaimana dikutib oleh Ibnu Rajab, pernah berkata:

شَهْرُ رَجَبَ شَهْرٌ لِلزَّرْعِ ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ لِلزَّرْعِ  ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ

 “Bulan Rajab adalah bulan bercocok tanam yang diairi pada bulan Sya’ban. Sedangkan panennya adalah pada bulan Ramadhan.”

Terakhir penulis mengingatkan kepada sidang pembaca yang budiman tentang sebuah hadits yang akan menjadi cambuk pemicu ketaatan di bulan Ramadhan.

Anas bin Malik menceritakan, “Pernah suatu saat Rasulullah naik tangga mimbar. Beliau bersabda, ‘Amin.’ Ketika beliau naik ke tangga berikutnya, beliau bersabda pula, ‘Amin.’ Ketika beliau naik ke tangga berikutnya, beliau juga bersabda, ‘Amin.’ Lalu beliau duduk.

“Orang-orang pun bertanya terheran-heran, “kata Anas, “Apa gerangan yang engkau amin-kan, Rasulullah?

Beliau menajwab:

أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ ، فَقَالَ : رَغِمَ أَنْفُ مَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ ، فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، ثُمَّ قَالَ : رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ أَحَدَ أَبَوَيْهِ أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، ثُمَّ قَالَ : رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ

“Aku kedatangan Jibril –‘alaihissalam- lalu ia berkata, ‘Kecelakaan bagi orang yang tidak bershalawat padamu manakala namamu disebut di sisinya.’ Aku pun menjawab, ‘Amin.’ Lalu ia berkata, ‘Kecelakaan bagi orang tidak masuk Surga padahal ia menjumpai kedua orangtuanya atau salah satu di antara keduanya.’ Aku pun menjawab, ‘Amin.’ Kemudian ia berkata lagi, ‘Kecelakaan bagi orang yang bertemu bulan Ramadhan namun dosanya belum diampuni.’ Aku pun menimpalinya, ‘Amin.’” [Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad]