Fakta Di Balik Belajar Dengan Cara Mengajar

0
217

Kita tentu sering mendengar ucapan “mengajar adalah salah satu cara belajar” atau ungkapan yang senada, dan tentu saja kita mempercayainya.

Akan tetapi, pernahkah kita berpikir, benarkah pernyataan itu? Kemudian, bagaimana cara menerapkannya? Pernahkah kita mencari alasan dan fakta-fakta di balik ungkapan tersebut?

Tsa’lab pernah mengatakan:

قال ثعلب: إنما يتَّسِعُ علمُ العالم بحسب حِذْقِ مَن يسأله

فيطالبه بحقائق الكلام وبمواضع النكت، لأنه إذا طالبه بحقائق الكلام احتاج إلى البحث والتنقير والنظر والفكر، فيتجدَّدُ حفظُه، وتتَّسِعُ معرفتُه، وتقوى قريحتُه

“Ilmu seorang alim dapat bertambah sesuai dengan kecerdasan orang yang bertanya kepadanya”.

“Yaitu dengan memintanya untuk mendatangkan pembahasan yang akurat dan seluk-beluknya, karena dengan cara ia meminta pembahasan akurat, seorang alim tersebut harus melakukan riset, pengamatan, perenungan dan berpikir tajam, dengan ini hafalannya akan selalu terupdate dan pengetahuannya semakin luas serta bakatnya semakin kuat”.

[Al-Jawahir wa Ad-Durar 2/697, ada kemungkinan ucapan Tsa’lab adalah kalimat pertama dan sisanya adalah ucapan As-Sakhawi, wallahu a’lam]

Guru yang baik tidak boleh merasa terpojok dengan pertanyaan-pertanyaan rumit muridnya, atau takut dengan tanggapan-tanggapan kritis muridnya yang mengajak berdialog, karena membuatnya khawatir terkesan lemah jika nanti tidak bisa menjawab atau memberi solusi.

Al-Khalil (wafat 170 H) mengatakan:

إذا لم تعلِّمِ الناسَ ثوابًا، فعلِّمْهم لتدرُسَ بتعليمهم علمَك، ولا تجزعْ بتفريع السؤال، فإنه ينبِّهُك على علم ما لم تعلم

“Jika engkau tidak mengajari manusia pahala, maka ajari mereka agar engkau belajar dengan cara engkau ajarkan ilmumu kepada mereka, jangan berkecil hati dengan banyaknya pertanyaan, karena bisa jadi itu menunjukkan padamu berbagai ilmu yang belum engkau ketahui”. [Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi 1/321]

Ia juga berkata:

اجعل تعليمَك دراسةً لك

“Jadikan pengajaranmu sebagai pelajaran bagimu sendiri”. [Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi 1/426]

Justru, pengajar yang baik harus mampu membuat murid-muridnya terbuka untuk menanyakan pembahasan-pembahasan yang rumit dan berani bertanya jika mendapati masalah yang tidak difahami, juga mampu memotivasi murid-muridnya agar mereka mempersiapkan pelajaran terlebih dahulu sebelum ia membuka pembahasan.

Hal ini berbeda jika seorang guru memiliki murid-murid yang malas berpikir, suka bertanya hal-hal yang sudah jelas dan ringan, cepat putus asa jika membahas materi yang rumit. Sehingga ia memilih untuk mengajarkan ilmunya dengan metode satu arah, yaitu seperti mentalkin orang yang tidak bisa melakukan apa-apa, seolah muridnya tidak perlu lagi menggerakkan pikirannya. Jika demikian, maka sangat minim keuntungan yang didapatkan oleh guru tersebut dan alangkah meruginya ia.

Dikisahkan bahwa Ibnu ‘Arafah (wafat 803 H) dicibir banyak orang karena ia bersusah payah dan kelelahan dalam mengajar, beliau pun akhirnya menjawab:

كيف أنام وأنا بين أسدين: الأُبِّي بفهمه وعقله، والبُرْزُلي بحفظه ونقله؟!

“Bagaimana aku bisa tidur, sedangkan aku berada di antara dua singa: Al-Ubiyyi dengan pemahaman dan kecerdasannya, dan Al-Burzuli dengan hafalan dan nukilannya?!”. [Kifayah Al-Muhtaj li Ma’rifati Man Laisa fi Ad-Dibaj, At-Tanbukti 2/125]

Padahal, bisa saja Ibnu ‘Arafah menginstruksikan kepada seluruh muridnya agar mereka diam dan ia bebas menyampaikan materi yang sudah ia siapkan tanpa harus menghadapi berbagai problem muridnya, akan tetapi beliau menyadari agungnya pengaruh kemampuan muridnya dalam memperkuat ilmunya.

Di antara guru besar yang memiliki majelis belajar diskusi terbaik adalah Imam Abu Hanifah (wafat 150 H).

Majelis beliau bukanlah dengan metode ceramah, tetapi dengan cara menyuguhkan berbagai masalah, lalu mendiskusikannya bersama murid-murid beliau, beliau menyimak apa yang ada di dalam benak dan pikiran murid-muridnya, beliau juga menyebutkan apa yang ada di pikiran beliau, lalu mendiskusikannya sampai menetap pada satu pendapat. Dengan cara ini madzhab beliau kuat dan kokoh, jadi beliau bukan hanya sekedar membuka pintu kesempatan untuk murid, apakah ada pertanyaan ataukah tidak, jika ada maka dijawab dan jika tidak maka mencari pembahasan lain, justru beliau yang memegang kendali untuk menumbuhkan bibit-bibit pertanyaan di pikiran mereka.

Al-Muwaffaq Al-Makki (wafat 568 H) menerangkan metode Imam Abu Hanifah: “Abu Hanifah meletakkan madzhabnya berdasarkan musyawarah di antara mereka, beliau tidak bermain sendiri, tujuan beliau adalah bersungguh-sungguh membela agama dan membela Allah, Rasul-Nya dan umat islam. Beliau mencetuskan masalah satu per satu, membolak-baliknya, mendengarkan apa yang mereka miliki, menyebutkan apa yang beliau punya, dan mendebat mereka selama satu bulan atau lebih lama, sampai menetap pada satu pendapat”. [Manaqib Abi Hanifah 2/133-143]

Metode ini menggerakkan semua yang bergabung dalam majelis untuk selalu mempersiapkan materi sebelum ia kemukakan di hadapan kawannya, sehingga butuh banyak penelitian, mempelajari, merenungi dan seterusnya.

Sangat tepat bila Ibnul Qayyim (wafat 751 H) menuturkan: “Seorang alim setiap kali menyuguhkan ilmunya kepada manusia dan menginfakkannya, maka akan semakin terpancar dari mata airnya, semakin bertambah banyak, bertambah kuat dan bertambah jelas, sehingga dengan mengajarkannya ia mendapat keuntungan ia hafal apa ia ketahui, mendapatkan ilmu yang belum ia ketahui, dan bisa jadi ada satu pembahasan yang menurutnya membingungkan, akan tetapi jika ia membicarakannya dan mengajarkannya justru menjadi jelas dan menjadi pintu menuju ilmu-ilmu yang lain”. [Miftah Dar As-Sa’adah 1/363]

Karenanya tidak mengherankan jika sebagian ulama memandang bahwa mengajar lebih bagus daripada menulis, walaupun keduanya sama-sama penting, karena pengaruh tulisan lebih lama, akan tetapi karena mengajar dapat mengembangkan kemampuan guru tersebut sendiri.

Abu Ishaq Ibrahim bin Futuh (wafat 866 H) salah satu mufti Granada, dan syaikh ulama Andalusia di zamannya, menyadari kemuliaan dan keagungan aktifitas mengajar, beliau menyatakan: “Seandainya aku bisa meninggalkan berbagai tugasku maka akan kutinggalkan semuanya kecuali tugas mengajar, karena aku bisa mendapatkan manfaat berdiskusi dengan murid-murid”. [Raudhatul I’lam bi Manzilah Al-Arabiyah min Ulum Al-Islam 2/915].

Syaikh kami, Dr. Muhammad Al-Hasan As-Syinqithi -semoga Allah menjaganya- seringkali menekankan hal ini, di antara ungkapannya adalah: “Guru yang kuat tidak akan pernah takut dengan pertanyaan-pertanyaan rumit muridnya”. Dan guru yang benar-benar mencintai ilmu tidak akan merasa kecil hati ketika berdiskusi dengan muridnya, mendengar penjelasan dan faedah dari muridnya, bahkan mengakui kesalahannya jika ia salah. Beliau juga menyatakan “Murid yang tidak pernah bertanya karena takut salah maka dia tidak akan pernah belajar”.

Guru yang memiliki ilmu kokoh tidak akan menjadi lemah hanya karena terkadang ia salah dan ternyata muridnya yang benar dalam beberapa pembahasan.

Di penghujung tulisan ini, tentu saja tidak boleh dilupakan bahwa murid pun harus tetap memperhatikan adab-adab dalam bertanya, cara berdiskusi yang baik dengan sesama murid atau guru, dan adab-adab lainnya dalam menuntut ilmu, sehebat apapun murid guru tetaplah guru, tidak akan pernah ada istilah mantan guru, karena jasa mereka sangat besar.

Akhirnya, semoga Allah azza wa jalla mencatat segala kebaikan semua guru yang pernah mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan telah membimbing kita, semoga Allah memberkati ilmu dan waktu mereka.

Fida’ Munadzir Abdul Lathif

Jakarta, 26 Juni 2019