MUTIARA BIDAYATUL MUJTAHID (BAG. III)

0
251

 

Masalah Ketujuh: Jumlah Bilangan Membasuh

Ulama bersepakat bahwa yang wajib dalam membasuh anggota wudhu ialah cukup sekali jika telah menyeluruh. Adapun yang kedua dan ketiga maka sunnah. Berdasarkan hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَتَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ وَتَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا»

“Bahwasanya beliau berwudhu sekali-sekali, dua kali-dua kali, dan tiga kali-tiga kali”.

Dan juga dalam ayat wudhu tidak ada perintah melainkan hanya sekali-sekali basuh saja.

Para ulama berselisih tentang usap kepala, apakah mengulangnya ada keutamaan atau tidak ada. Maka Imam Syafi’i -rahimahullah- berpendapat bahwa: “Siapa yang membasuh anggota wudhunya tiga kali, maka hendaklah ia mengusap kepala tiga kali”. Adapun mayoritas ahli fiqh lainnya menilai tidak ada keutamaan pada pengulangan mengusap kepala.

Sebab perbedaan pendapat dalam hal ini: perbedaan adanya tambahan yang bisa diterima dalam suatu hadits apabila datang dengan satu jalan sedangkan mayoritas lainnya tidak meriwayatkannya. Demikian itu karena kebanyakan hadits menyatakan bahwa beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berwudhu tiga kali – tiga kali. Dari hadits Utsman bin Affan -radhiallahu ‘anhu- dan yang lainnya tidak dinukil melainkan hanya sekali saja. Pada riwayat lain dari Utsman -radhiallahu ‘anhu- terkait sifat wudhu Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau mengusap kepalanya tiga kali, dan Imam Asy-Syafi’i memastikan harusnya menerima tambahan ini dengan yang tampak dari umumnya riwayat “Bahwasanya beliau berwudhu sekali-sekali, dua kali-dua kali, dan tiga kali-tiga kali”. Demikian itu karena yang difahami dari umumnya lafazh ini walaupun lafazhnya dari sahabat ialah menerapkannya kepada seluruh anggota wudhu, namun tambahan lafazh ini bukan dari Shahihain (Shahih Bukhary dan Shahih Muslim), jika benar maka wajib dijadikan pegangan, karena siapa yang diam terhadap sesuatu, bukan hujjah (tidak menjadi dalil) bagi orang yang menyebutkannya. Banyak dikalangan para ulama mengharuskan usap kepala dengan air baru, sebagaimana anggota wudhu lainnya dengan dasar Qiyas. Diriwayatkan dari Ibnul Majisyun beliau berkata: “Apabila airnya habis, maka usaplah dengan sisa air dari janggutnya”, inilah yang dipilih oleh Ibnu Habib, Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’iy.

Dan dianjurkan pada saat mengusap kepala memulainya dari depan kepala menyapu rata hingga tengkuk lehernya lalu kembali lagi ke depan (sesuai dengan batasan tumbuhnya rambut) berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Zaid -radhiallahu ‘anhu-:

أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم مَسَحَ رَأْسَه بِيَدَيْهِ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِيْ بَدَأَ مِنْهُ… (رواه البخاري ومسلم وغيرهما).

“Bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengusap kepalanya dengan kedua tangannya, lalu beliau memulainya dari depan ke belakang, yaitu mulai dari dapan kepalanya kemudian menuju bagian akhir kepala (tengkuk), lalu kembali lagi ke depan (tempat ia memulai)…”. (HR: Bukhary dan Muslim dan yang lainnya).

Namun sebagian ulama ada yang memilih titik mulanya dari bagian belakang dahulu, dan itupun diriwayatkan dalam hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dari jalur Ar-Robi’ binti Mi’wadz, tetapi tidak tercantum dalam Shahihaiin.

Masalah Kedelapan: Penentuan Letak Membasuh

Terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang mengusap sorban (tutup kepala) bagi yang memakainya, menjadi 2 pendapat:

  1. Boleh mengusapnya, sebagaimana pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, al-Qosim bin Sallam, dan Jama’ah.
  2. Tidak boleh dilakukan, sebagaimana pendapat Imam Malik, Asy-Syafi’iy dan Abu Hanifah.

Sebab perselisihan ini ialah: Tentang keharusan beramal dengan atsar dari hadits Al-Mughirah dan yang lainnya, “Bahwasannya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengusap bagian tepi kepala dan atas sorbannya”. Dengan dasar qiyas kepada penutup kaki (khuf), karena itu kebanyakan mereka mensyaratkan ketika memakainya dalam keadaan suci. Hadits tersebut banyak perbincangan dari kalangan yang menolaknya, hal itu bisa dikarenakan tidak shahih baginya, atau karena dalil al-Quran menyelisihinya, yaitu perintahnya ialah mengusap kepala (bukan selainnya), atau karena belum meluas pengamalannya bagi yang mengharuskan demikian untuk jalur riwayat ahad, terutama penduduk Madinah yang diketahui bermadzhab Malik, beliau menilai harusnya diamalkan secara luas. Hadits itu dikeluarkan oleh Imam Muslim, berkata padanya Abu Umar Ibnu Abdil Bar: “Hadits itu memiliki cacat”, dan pada beberapa jalurnya menerangkan bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada sorban saja, tanpa sebut tepi kepala. Karena itu tidak disyaratkan untuk mengusap sorban mengusap tepi kepala, sebab tidak boleh bergabung yang asli dan pengganti dalam satu perbuatan.

Masalah Kesembilan: Termasuk Bagian Rukun

Ulama berbeda pendapat tentang mengusap telinga, apakah termasuk sunnah atau fardhu? Lalu apakah dengan air baru atau dengan sisa usap kepala?

  1. Wajib, sebagaimana pendapat sebagian Malikiyyah dan Hanafiyyah dengan air yang sama, karena sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Keduanya itu termasuk kepala”. Sehingga hukumnya sama.
  2. Sunnah, seperti Imam Asy-Syafi’i beliau berpendapat masing-masing menggunakan air yang berbeda. Sebagian pengikut madzhab Imam Malik juga memegang pendapat ini, mereka menilai itulah pendapatnya, karena ada riwayat dari beliau: “Hukum mengusap keduanya adalah bagaikan hukum kumur-kumur”.

Dasar perselisihan ini ialah perbedaan dalam menilai hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengusap kedua telinganya, apakah ini berarti dalil tambahan untuk usap kepala yang tertulis dalam Al-Quran, sehingga statusnya menjadi sunnah untuk menghindari pertentangan dengan ayat jika menjadi wajib.

Atau dia menjelaskan rincian makna global dari kepala yang ada dalam al-Qur’an, kemudian hukumnya pun menjadi wajib sebagaimana mengusap kepala.

Perselisihan berikutnya ialah perihal apakah membedakan air untuk mengusap kepala dan telinga itu harus? Disini ada yang menilai bahwa telinga ialah bagian tubuh tersendiri, sehingga airnya pun dibedakan. Kalaulah dia termasuk bagian dari kepala, maka diusap bersamaan dengan kepala dengan air yang sama.

Adapun pendapat yang ganjil menyatakan bahwa telinga diusap bersamaan dengan wajah. Disisi lain sekelompok ulama berpendapat bahwa bagian dalam telinga diusap bersama kepala dan bagian luarnya bersamaan dengan wajah.

Semua itu dikarenakan perbedaan dalam menilai telinga, apakah dia itu termasuk bagian dari kepala ataukah termasuk bagian dari wajah.

 

 

Wallahu Ta’ala A’lam bis Showab.

 

Written By: Abu Hatim Hanifuddin