Sejarah Pembukuan AlQur’an

0
80
  1. Muqaddimah

Allah ta’ala menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya, namun tidak ada satu pun kitab yang selamat dari perubahan kecuali hanya Al-Quran saja, karena Allah ta’ala berjanji akan senantiasa menjaga Al-Quran, Allah azza wa jalla berfirman:

 إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” QS. Al-Hijr: 9

Dan diantara bentuk penjagaan dari Allah ta’ala adalah dimudahkannya Al-Quran untuk dihafal, oleh karenanya tidak ada suatu zaman pun melainkan ada diantara manusia yang hafal Al-Quran, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٖ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran”. QS. Al-Qamar: 17

 

  1. Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Allah ta’ala menurunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dahulu Al-Qur’an belum dikumpulkan didalam mushhaf seperti sekarang, pembukuan Al-Qur’an mengalami beberapa tahapan, berikut ini 3 tahapan pembukuan Al-Quran,

  1. Masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pada masa ini Al-Qur’an terjaga dengan cara dihafal, hal ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya adalah hafalan yang kuat dan sarana untuk mencacat yang tidak memadai. Ada 7 orang sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling menunjol hafalannya: Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qil, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan, dan Abu Darda’.

Pada masa ini bukan berarti tidak ada yang menulis Al-Qur’an sama sekali, ada banyak sahabat yang menulis Al-Qur’an namun yang ditunjuk oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 4: Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sofyan, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit.

 

  1. Masa Abu Bakr

Setelah perang Yamamah, yaitu perang melawan orang-orang yang murtad, banyak para penghafal Al-Quran yang syahid, yang jumlahnya 70 orang. Hal ini membuat Umar bin Al-Khattab cemas, kemudian beliau mendatangi Abu Bakar agar Al-Qur’an dibukukan dalam satu tempat, pada awalnya Abu Bakar menolak, namun Umar terus membujuk dan pada akhirnya Allah ta’ala melapangkan dada Abu Bakar untuk membukukan Al-Qur’an. Dan pada waktu itu yang bertanggung jawab atas amanah yang besar ini adalah Zaid bin Tsabit atas perintah dari Abu Bakar karena Zaid bin Tsabit adalah orang yang cerdas, penghafal Al-Qur’an dan diantara penulis Al-Quran pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah terkumpul Al-Qur’an disimpan oleh Abu Bakar, kemudian setelah Abu Bakar wafat disimpan oleh Umar, dan setelah Umar wafat disimpan Hafshah binti Umar.

  1. Masa Utsman bin Affan

Ketika islam sudah mulai tersebar luas terjadilah perselisihan diantara kaum muslimin dalam dialek (bentuk bacaan) Al-Quran, karena bahasa arab memiliki 7 dialek. Puncaknya saat penahlukan kota Armenia dan Azerbaijan, sampai-sampai sebagiannya mengkafirkan Sebagian yang lain. Hal ini mendorong utsman bin Affan dengan kesepakatan Para sahabat yang lain untuk menyalin lembaran-lembaran Al-Quran yang dikumpulkan pada masa Abu Bakr, agar menyatukan kaum muslimin diatas satu dialek bahasa saja. Kemudian Salinan itu disebar ke seluruh penjuru dunia dan Utsman memerintahkan agar membakar lembaran-lembaran mushhaf yang lain.

Penyalinan ini dilakukan oleh 4 orang sahabat: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Tiga orang terakhir ini adalah orang qurasy, dimana saat Zaid bin Tsabit berselisih bacaan dengan tiga orang sahabat dari qurasy itu, maka Al-Qur’an ditulis dengan bahasa Qurasy, karena Al-Qur’an turun dengan bahasa Qurasy.

 

Sumber: diringkas dari kitab “Mabahits Ulumil Qur’an” karya Manna’ Al-Qaththan