Mencari Lailatul Qodar Di Malam-Malam Terakhir

0
67

Tanpa terasa bulan Ramadhan yang seakan-akan kemarin baru saja kita sambut sudah mencapai akhirnya. Kita tidak tahu apakah kita bsa menjumpai bulan yang penuh berkah ini pada tahun berikutnya atau ini adalah Ramadhan yang akan kita dapatkan. Seandainya ini adalah bulan Ramadhan terakhir yang kita dapatkan maka jangan sampai kita menyia-nyiakannya hingga detik terakhir. Namun kita dapati bahwa sebagian kaum muslimin semangat mereka mulai meredup. Padahal perlu kita ketahui bahwa akhir bulan ramadhan adalah adalah detik-detik penentu akan keberhasilan kita dalam meraih kebaikan dalam bulan Ramadhan, Rasulullah bersabda:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ

 

“sesungguhnya amalan ditentukan dengan penutupan.” [1]

Kita semua tidak dapat mengetahui apakah kita bisa menutup bulan ini dengan penuh keimanan dan membawa banyak keburuntungan atau kita menutupnya dengan amalan yang buruk sehingga hanya kerugian yang kita dapat. Maka hendaknya kita terus bersemangat dengan disertai penuh rasa harap agar amal saleh kita dari awal bulan Ramadhan hingga akhir ditulis sebagai amalan yang diterima oleh Allah. Begitu juga hendaknya kita senantiasa berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan taufiq dan istiqomah agar bisa terus beramal saleh hingga detik akhir kehidupan kita, Rasulullah bersabda:

«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ» فَقِيلَ: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ المَوْتِ»

“jika Allah  menginginkan kebaikan kepada seorang hamba maka Dia akan membuatnya beramal. Kemudian ada yang bertanya: bagaimana Dia membuatnya beramal wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Allah akan memberikannya taufiq agar ia beramal saleh sebelum meninggal.” [2]

Maka selama jantung kita masih berdetak dan selama kita masih bernafas hendaknya kita tetap semangat untuk beramal saleh terutama di bulan yang penuh berkah ini. Semoga dengan senantiasanya kita beramal saleh merupakan kebaikan yang Allah inginkan kepada diri kita.

 

Kita semua juga tahu bahwa di akhir-akhir bulan Ramadhan ini terdapat 1 malam yang sangat mulia yang keberadaannya disembunyikan, namun Rasulullah mengatakan bahwa malam tersebut terbatas pada sekitar 10 malam terakhir. Betapa banyak kaum muslimin yang sangat semangat ketika mencarinya di malam ke 27. Namun semangat tersebut hilang pada malam-malam berikutnyanya. Memang benar malam ke 27 adalah malam yg paling diharapkan untuk mendapatkan lailatul qodar, namun ini sifatnya tidak 100 persen pasti terjadi di malam tersebut. mungkin bisa kita katakan malam ke 27 adalah malam yg 70 atau 80 persen yang sangat diharapkan terjadinya lailatul qodar, sisanya 20 persen ada kemungkinan tidak terjadi. Para ulama juga mengatakan bahwa lailatul qodar itu perpindah-pindah pada tiap tahunnya, Imam An-Nawawi ketika menggabungkan tentang riwayat-riwayat yang menjelaskan kapan terjadinya malam lailatul Qodar berkata:

. ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘِّﻘُﻮﻥَ : ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﺗَﻨْﺘَﻘِﻞ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥ ﻓِﻲ ﺳَﻨَﺔ : ﻟَﻴْﻠَﺔ ﺳَﺒْﻊ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳﻦَ ، ﻭَﻓِﻲ ﺳَﻨَﺔ : ﻟَﻴْﻠَﺔ ﺛَﻠَﺎﺙ ، ﻭَﺳَﻨَﺔ : ﻟَﻴْﻠَﺔ ﺇِﺣْﺪَﻯ ، ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺃَﻇْﻬَﺮ . ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺟَﻤْﻊ ﺑَﻴْﻦ ﺍﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳﺚ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﻠِﻔَﺔ ﻓِﻴﻬَﺎ

 

“para ulama yang meneliti mengatakan: lailatul qadar itu berpindah-pindah.Terkadang pada suatu tahun terjadi pada malam ke-27, terkadang pada malam ke-23, atau pada malam ke-21, atau di malam lainnya. Inilah pendapat yang lebih kuat dan di dalamnya terdapat penggabungan  antara hadits-hadits yang berbeda.” [3]

Jadi bisa saja tahun lalu terjadi di malam ke 27 namun tahun ini berpindah ke malam yg lainnya. Demikian juga dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kita semangat agar mencari malam lailatul qodar hingga detik terakhir terutama 7 malam terakhir, beliau ﷺ bersabda:

الْتَمِسُوْ مَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُ كُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya” [4]

Dalam hadits ini Rasulullah menekankan agar kita jangan sampai terluputkan dari 7 malam terakhir, artinya hingga malam ke- 28, 29, dan 30 pun kita harus tetap semangat.

 

Tidakkah kita ingin di usia kita yg sedikit ini namun tertulis orang yang beramal dengan usia yg ratusan tahun? Ingat 1 malam lailatul qodar lebih baik dari beramal 1000 bulan, Allah berfirman,

يْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” [5]

Dan kita tahu bahwa usia dari sebagian kita tidak sampai 1000 bulan atau sekitar 83 tahun. Jika tiap tahunnya kita berusaha untuk mendapatkan keutamaan dari lailatul qodar maka seakan-akan kita beramal selama ratusan atau ribuan tahun. Ini merupakan nikmat terbesar yangAllah berikan kepada umat ini.

 

Satu malam terhitung dari tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya:

حدَّ الليل: من غروب الشمس إلى طلوع الفجر

“batasan malam: dari terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar.” [6]

Jadi semenjak kita berbuka puasa maka amalan kita yang bertepatan dengan lailatul qodar terhitung amalan yang lebih baik dari 1000 bulan, maka hendaknya kita bersungguh dalam beramal saleh dari waktu tersebut hingga terbutnya fajar dengan berdoa, berdzikir, istighfar, shalat malam, bersedekah, dan amalan saleh lainnya hingga terbutnya fajar. Jika dalam mencari lailatul qodar seseorang mampu untuk menghidupkan seluruh malamnya maka ini kenikmatan yang luar biasa. Namun ada sebagian orang yang hanya mampu menghidupkan sebagiannya saja, maka baginya untuk mencari waktu yg paling utama dalam 1 malam tersebut, yaitu sepertiga malam terakhir, karena:

  1. Di waktu tersebut Allah turun ke langit dunia, mengabulkan doa setiap hambanya, juga memgampuni hambanya yg memohon ampunan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

 

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

 

”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” [7]

 

 

  1. Amalan di akhir malam adalah amalan yang disaksikan dan amalan diwaktu tersebut lebih utama. Dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ خَافَ أَنْ لا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

 

“Siapa yang khawatir tidak dapat bangun di akhir malam, hendaknya dia melakukan shalat witir di awal malam. Siapa yang bersemangat untuk bangun di akhir malam, hendaknya dia shalat witir di akhir malam. Sesungguhnya shalat di akhir malam disaksikan dan itu lebih utama.” [8]

 

Dalam hadits ini Rasulullah menjelaskan tentang beribadah di wakhir malam: pertama amalan tersebut disaksikan dan kedua amalan yang dikerjakan di waktu tersebut lebih utama. Maksud dari disaksikannya amalan di akhir malam tersebut adalah amalan tersebut disaksikan oleh malaikat rahmat, Imam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits Jabir di atas:

وَذَلِكَ أَفْضَلُ أَنْ يَشْهَدَهَا مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَفِيهِ دَلِيلَانِ صَرِيحَانِ عَلَى تَفْضِيلِ صَلَاةِ الْوِتْرِ وَغَيْرِهَا آخر الليل

“hal tersebut lebih utama dengan disaksikan oleh malaikat rahmat. Dan di sini terdapat 2 dalil yang jelas akan lebih utamanya shalat witir dan lainnya di akhir malam.” [9]

  1. Termasuk ciri-ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa beristighfar di waktu sahur, dan waktu sahur terjadi di akhir malam. Allah berfirman tentang orang yang bertakwa tersebut,

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

 

 

“Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 15)

Kemudian pada ayat berikutnya Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa tersebut, diantaranya.

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)

Juga disebutkan dalam bahasa bahwa waktu sahur adalah di akhir malam,

والسَّحَرُ: آخِرُ الليل

“dan waktu sahur adalah akhir malam.” [10]

 

Semoga kita semua diberikan taufiq oleh Allah untuk bisa beramal saleh hingga akhir hayat kita terutama di bulan yang penuh berkah dan di malam yang penuh berkah. Wallahu a’lam.

[1] HR. Bukhori no. 6607

[2] HR. At-Tirmidzi no. 2142, dan ia mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[3] Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim bin Al Hajjaj atau yang biasa dikenal dengan Syarhu An-Nawawi ‘Alaa Muslim 6/43

[4] HR. Bukhori no.1165

[5] QS. Al-Qodar: 3

[6] Al-Jami’ Liahkamil Quran 19/34

[7] HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808

[8] HR. Muslim no. 755

[9] Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim bin Al Hajjaj atau yang biasa dikenal dengan Syarhu An-Nawawi ‘Alaa Muslim 6/35

[10] Al-‘Ain 3/135