Pembelaan Ulama Nusantara terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

0
225

Dalam artikel berseri yang ditulisnya di Majalah Aliran Islam tahun 1950, Prof. Hasbi ash Shiddieqy rahimahullah menyingsingkan lengan untuk ikut berkontribusi membela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dari tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya.

Hasbi menuliskan latar belakang pembelaannya sebagai berikut (ejaan kami sesuaikan) :

“Hasrat yang membangunkan hati untuk memaparkan biografi (riwayat hidup) Pujangga Sunnah yang sangat ulung ini, yakni : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah al Harrany, ialah hembusan-hembusan racun yang dihembuskan oleh para muqallidin-muta’ashshibin di daerah-daerah fanatik dalam kalangan masyarakat surau, terhadap persoonlijkheid Syaikhul Islam yang mulia dan utama ini.

Mereka, golongan muqallidin muta’ashshibin, mulai memburuk-burukkan Ibnu Taimiyah ; mulai lagi menggemakan suara yang telah membisingkan ummat di beberapa masa nan lalu. Mereka, adakala dengan tulisan, adakala dengan lisan, mulai membisikkan ke telinga para murid dan pengikut-pengikutnya, bahwa : Ibnu Taimiyah itu, seorang yang sesat dan menyesatkan. Segala perkataannya dan segala pendapatnya, jangan didengar ; jangan dituruti.

Maksud mereka membusuk-busukkan Ibnu Taimiyah, ialah untuk membendung masyarakat dari melaksanakan hukum-hukum Islam yang kebetulan difatwakan juga oleh Ibnu Taimiyah.

Dimana-mana tempat kita dapati kaum muta’ashshibin itu bila menghadapi lawan yang sukar mereka tantangi ; yang payah mereka debati dengan secara yang harus dilakukan menurut ilmu munadharah, mereka lalu bersegara melepaskan bom atomnya, yaitu mencerca, mencela, menyesat, memasek, dan mengafirkan. Inilah senjata mereka yang sangat mutakhir untuk merobohkan hujjah lawan.

Mereka secara bertaqlid mengcopy saja apa yang telah dicorat-coretkan oleh ikut-ikutannya. Senjata yang mereka pakai dalam menyesat-nyesatkan Ibnu Taimiyah, tiada lain dari tuduhan-tuduhan yang dihadapkan kepadanya, oleh Anak As-Subky, oleh At-Taqiyul Hishny, oleh Mulla ‘Ali Qaary dan oleh Ibnu Hajar al-Haitamy al-Makky, yang kemudian dikembangkan oleh pengarang Syawahidul Haq, Yusuf an-Nabhaany.

Maka untuk mewujudkan keimbangan pengertian dalam soal Ibnu Taimiyah ini dan untuk melepaskan rakyat (ummat Islam) dari bencana bius yang dibiuskan oleh para muta’ashshibin, marilah para pembaca yang munshif menjelajah riwayat hidup Ibnu Taimiyah, pembela Kitab dan Sunnah yang sangat berjasa kepada ummat Islam seluruhnya, sejak dari pertengahan abad ketujuh hijrah hingga masa ini dan seterusnya.”

(selesai nukilan)

Selanjutnya Hasbi memaparkan secara panjang lebar riwayat hidup Ibnu Taimiyah dalam 2 seri artikel, termasuk pendirian dan madzhabnya, fitnah dan tuduhan, serta membersihkan nama Ibnu Taimiyyah dari segala tuduhan tersebut. Bahkan Hasbi mencuplik sebagian muqaddimah kitab Aqidah Hamawiyyah untuk menegaskan bersihnya Ibnu Taimiyyah dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Kemudian Hasbi menukil keterangan beberapa ulama yang memuji Ibnu Taimiyyah, dan memungkasi artikelnya dengan memberikan nasihat, diantaranya sebagai berikut :

“Sesudah kita memperhatikan pengakuan-pengakuan yang diberikan oleh ulama-ulama besar terhadap Ibnu Taimiyah, gugurlah segala cacian dan celaan yang dihadapkan “orang yang ta’ashshub”.

Jika dicacatkan Ibnu Taimiyah lantaran i’tiqadnya, maka ketahuilah bahwa i’tiqadnya (adalah) i’tiqad Salaf. Hal ini telah diakui oleh para ulama yang bermunadharah dengan dia. Kalau demikian, orang yang mencacat i’tiqad yang benar-benar diiktikadkan oleh Ibnu Taimiyah, berarti mencacat i’tiqad ulama-ulama Salaf.

Jika dicacat lantaran beliau memfatwakan thalaq tiga sekaligus jatuh satu, maka ketahuilah bahwa fatwa itu, jauh lebih dahulu telah difatwakan oleh sebahagian shahabat besar, amsal Ali ibn Abi Thaalib, Az Zubair ibnul ‘Awwam, ‘Abdurrahman ibnul ‘Auf, Ibnu ‘Aun, Ibnu ‘Abbas dan oleh para tabi’in, seperti : Athaa, Tha-us ibn Dinar, Sa’id ibn Jubair, Muhammad ibn Ishaq dan Al Hajjaj ibn Artha-ah.

Mengingat yang demikian, kita nasehatkan supaya tuduhan-tuduhan busuk yang dihadapkan kepada Ibnu Taimiyah diperiksai benar-benar. Dilihat adakah tuduhan-tuduhan itu tersebut di dalam kitab-kitab Ibnu Taimiyah sendiri yang sah dibangsakan kepadanya. Jika ada, baharulah kita benarkan.

Selanjutnya, masalah yang difatwakan Ibnu Taimiyah, apakah mempunyai dalil yang sah yang diterima oleh undang-undang munadharah dan qa’idah-qa’idah ushul atau tidak ?

Kalau diterima oleh undang-undang munadharah dan qa’idah-qa’idah ushul, maka fatwanya harus dihargai, walaupun menyalahi faham jumhur. Karena tidak mesti apa yang difahamkan jumhur, selamanya benar, tepat, berdasarkan alasan yang kuat. Karena itu masalah thalaq tiga jatuh satu, jika kita perkatakan, hendaklah diperkatakannya menurut dasar ilmu dan undang-undang munadharah yang muktabar.

Jangan hanya dengan mengatakan : “itu fatwa Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah orang sesat.”

Jangan begini kelakuan kita. Kelakuan yang sedemikian, walaupun laku/laris dimasa jiwa ummat dapat kita kongkong, tidak berharga lagi dalam zaman renaissance ini.”

(selesai nukilan)

Sebagai pelengkap, ketika menulis ini, kami teringat kembali dhawuh Mbah Kyai Mishbah Mustofa Bangilan Tuban rahimahullah (Penulis Tafsir al Iklil, santri Mbah Kyai Hasyim Asy’ari, saudara KH. Bisri Mustofa, paman Gus Mus) dalam Kitab Nurul Mubin fi Adabil Mushallin, saat Beliau mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah tentang bid’ahnya mengadakan perayaan di kubur yang dinukil dari Kitab Mafahim-nya Sayyid Muhammad Alwi al Maliki rahimahullah, selanjutnya Beliau mengatakan (dalam bahasa Jawa) :

“Mumkin poro saweneh kang mirsani ono kang ora seneng sebab penulis nggunakake maqolahe Ibnu Taimiyyah.

Nanging opo wong saiki wus pada ngerti kedudukanne Ibnu Taimiyyah ono ing bidang ‘ilmu lan ‘amal ?

Ulama gede-gede ing zamane Ibnu Taimiyyah podho wegah ngadhepi Ibnu Taimiyyah kang ono ing saweneh katetepan hukume dianggep sasar.

Kang mengkono iku wus kaprah ono ing kalangane para ‘ulama. Jaran balapan kang bagus terkadang kepleset. Pedang kang landhep terkadang ora biso nugelake gulu.”

Terjemahan :

“Mungkin sebagian pemirsa/pembaca ada yang tidak suka, karena penulis menggunakan maqalah/pendapat/perkataannya Ibnu Taimiyyah.

Namun apakah orang-orang sekarang sudah sama-sama mengetahui kedudukan Ibnu Taimiyyah di bidah ilmu dan amal ?

Ulama-ulama besar pada zaman Ibnu Taimiyyah sama-sama tidak bersedia menghadapi Ibnu Taimiyah yang disebagian fatwanya dianggap sesat.

Yang demikian itu sudah menjadi hal lumrah di kalangan para ulama. Kuda Balap yang bagus kadang terpeleset. Pedang yang tajam kadang tidak bisa memenggal leher.

(selesai nukilan)

Dalam kitab Beliau yang lain yang berjudul “Masaa-il ar Rijal”, Mbah Mishbah mengatakan tentang Ibnu Taimiyyah :

“Ono maneh kang ngolo2 marang Ibnu Taimiyyah lan golongan kang seneng marang Ibnu Taimiyyah. Karana andhuweni anggeban yen Ibnu Taimiyyah niqadake yen Allah Ta’ala iku jisim, utawa dhawuh-dhawuh liyane songko Ibnu Taimiyyah kang dianggeb nyimpang songko garis agama.

Wong mau durung ngerti sopo Ibnu Taimiyyah iku, durung nyelidiki dhawuh2 kang dianggeb nyimpang opo bener dhawuhe Ibnu Taimiyyah opo ora.

Sebab yen kita ningali tarikhe para ulama2 zaman biyen, wong kang andhuweni kaistimewaan ono ing lapangan ilmu agama iku tandah dadi sasaran fitnah. Koyo imam Al Ghazali, Muhyiddin, Ibnul Arabi, lan liya2ne. Ora katinggalan uga Ibnu Taimiyyah.”

Terjemahan :

“Ada lagi yang mencela Ibnu Taimiyyah dan golongan yang tidak suka kepada Ibnu Taimiyyah. Karena mereka beranggapan bahwa Ibnu Taimiyyah mengi’tiqadkan bahwa Allah Ta’ala itu jisim, atau perkataan-perkataan lainnya dari Ibnu Taimiyyah yang dianggap menyimpang dari garis agama.

Orang tersebut belum tahu siapa Ibnu Taimiyyah itu ; dan belum menyelidiki perkataan-perkataannya yang dianggap menyimpang tersebut, apakah benar diucapkan Ibnu Taimiyyah atau tidak.

Sebab jika kita perhatikan sejarah para ulama-ulama masa lalu, orang-orang (ulama) yang mempunyai keistimewaan di bidang ilmu agama itu senantiasa menjadi sasaran fitnah. Seperti Imam al Ghazali, Muhyiddin Ibnu Arabi, dan lainnya. Sama seperti halnya Ibnu Taimiyyah.

(selesai nukilan)

Hasbi dan Mbah Mishbah – meski keduanya ulama “berbeda madrasah”, tentu mempunyai alasan masing-masing mengapa mereka perlu meluruskan sentimen negatif terhadap Ibnu Taimiyyah.

Dan sikap inshaf seperti yang mereka berdua contohkan, sangat kita butuhkan hari-hari ini.

Referensi :

“Sjaichul Islam Ibnu Taimijah”, karya Hasbi ash Shiddieqy, artikel dalam Majalah Aliran Islam.

“Nurul Mubin fi Adabil Mushallin”, karya KH. Mishbah bin Zainal Mustofa.

“Masaa-il ar Rijal”, karya KH. Mishbah bin Zainal Mustofa