Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Mengapa Doa Tidak Dikabulkan? Jawaban Menyentak dari Imam Ali as

Diriwayatkan dalam Safinah al-Bihar, jilid 1, halaman 448–449, di tengah kerumunan umat pada hari Jumat yang agung, Imam Ali bin Abi Thalib as—sang pewaris ilmu Nabi dan pemegang panji kebenaran—berdiri di atas mimbar. Suaranya menggetarkan, kata-katanya memecah diam yang sunyi. Di akhir khutbahnya, beliau menyebut tujuh bencana yang telah menggerogoti tubuh umat. Bencana-bencana itu tak kasat mata, namun menghancurkan bangunan iman dari dalam.

Namun hari itu tak hanya khutbah yang disampaikan, melainkan juga peringatan tajam yang menyentuh lubuk jiwa. Dari kerumunan itu, seseorang berdiri dan bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, mengapa doa-doa kami tidak dikabulkan, padahal Allah telah berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan’?”

Maka terbitlah jawaban yang bukan hanya untuk penanya itu, melainkan juga untuk setiap hati yang pernah merintih dalam sujud namun tak kunjung mendapati jawaban langit. Jawaban itu datang dari sumber hikmah, dari lisan suci yang tak pernah menyimpang dari kebenaran.


Tujuh Bencana di Tubuh Umat

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Imam Ali as menyebut tujuh penyakit umat yang merusak akhlak kolektif mereka:

  1. Orang pintar yang culas – Ilmu yang tak dibimbing oleh takwa akan berubah menjadi alat manipulasi dan pengkhianatan. Kecerdasan tanpa cahaya petunjuk adalah jalan tercepat menuju kehancuran.
  2. Orang yang bosan beribadah – Ia mengaku mencintai Allah, namun lelah berjumpa dalam sujud dan zikir.
  3. Orang mukmin yang curang – Iman yang semestinya memancarkan amanah malah menjadi topeng untuk menyembunyikan kecurangan.
  4. Orang dipercaya yang berkhianat – Kepercayaan yang dikhianati tak hanya merusak hubungan manusia, tapi juga mengoyak langit.
  5. Orang kaya yang bakhil – Kekayaan yang seharusnya menjadi jalan berbagi justru menjadi tembok penghalang dari rahmat Allah.
  6. Orang mulia yang merendahkan diri – Ia tak lagi menjaga kehormatan diri di hadapan hawa nafsu dan dunia.
  7. Orang fakir yang sombong – Padahal kefakiran adalah ladang kesabaran dan keikhlasan, bukan tempat untuk meninggikan ego.

Delapan Dosa yang Mengunci Pintu Langit

Lalu Imam Ali as melanjutkan jawabannya terhadap pertanyaan mengapa doa-doa tidak dikabulkan, dengan menyebut delapan pengkhianatan hati yang menjadi dinding penghalang antara manusia dan Tuhan:

  1. Kalian mengenal Allah, tetapi mengabaikan hak-hak-Nya.
    Pengetahuan kalian tentang Tuhan tak membuahkan ketaatan. Maka bagaimana bisa hati yang ingkar berharap dikabulkan?
  2. Kalian beriman kepada Rasul, tetapi menentang syariatnya.
    Kalian angkat syahadat dengan lisan, tapi dalam perbuatan mematikan sunnahnya. Maka di mana letak buah keimanan kalian?
  3. Kalian membaca Kitab Allah, tapi tidak mengamalkannya.
    Ayat-ayat-Nya dibaca sebagai ritual, bukan pedoman hidup. Kalian berkata “kami dengar dan kami patuh”, namun nyatanya membangkang.
  4. Kalian mengaku takut neraka, tapi tetap berbuat maksiat.
    Jika benar takut, mengapa terus menjerumuskan diri dalam dosa? Rasa takut kalian hanyalah ilusi.
  5. Kalian menginginkan surga, tapi menjauhkan diri darinya.
    Surga bukan kata manis dalam doa, tapi jalan panjang yang harus ditempuh dengan amal saleh.
  6. Kalian menikmati nikmat Allah, tapi tak pernah bersyukur.
    Kalian makan dari rezeki-Nya, bernafas dari udara-Nya, hidup dalam karunia-Nya—namun lupa bersyukur, bahkan menggunakannya untuk bermaksiat.
  7. Kalian diperintahkan memusuhi setan, tapi malah mengikutinya.
    Kalian tahu ia musuh, tapi tak pernah sungguh-sungguh menolaknya. Kalian berjalan dalam jejaknya, bukan jejak Nabi dan Ahlulbait.
  8. Kalian mencari-cari aib orang, tapi menutup mata dari aib sendiri.
    Lisan kalian tajam kepada sesama, namun tumpul pada diri sendiri. Kalian mencela saudara kalian, padahal kalian lebih layak dicela.

Doa yang Terpenjara

Di akhir khutbahnya, Imam Ali as meletakkan cermin besar di hadapan kita semua. Ia tidak mengingkari janji Allah tentang terkabulnya doa, tetapi ia mengungkap alasan mengapa doa-doa itu tak sampai ke Arasy:

“Maka doa apa lagi yang mesti dikabulkan untuk kalian; pada saat kalian tetap menutup rapat pintu-pintu dan celah-celahnya?”

Doa bukanlah sihir yang otomatis. Ia adalah komunikasi suci antara hamba dan Rabb-nya. Tapi bagaimana mungkin komunikasi itu berhasil bila hati kita sendiri menjadi pengkhianat? Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan dari lidah yang memohon tapi tangan yang mencuri, hati yang dendam, mata yang berkhianat, dan jiwa yang penuh riya?


Jalan Menuju Terkabulnya Doa

Imam Ali as tidak menutup khutbahnya dengan keputusasaan. Beliau memberi jalan keluar:

“Bertakwalah kalian kepada Allah, perbaikilah amal perbuatan kalian, dan jernihkan hati kalian. Ajaklah orang-orang untuk melakukan kebajikan dan mencegah kemungkaran, niscaya doa kalian akan dikabulkan.”

Takwa, amal saleh, kejernihan hati, dan semangat kolektif untuk amar makruf nahi mungkar—itulah kunci yang membuka pintu langit.


Saatnya Berkaca

Khutbah ini bukan semata untuk umat abad ketujuh. Ia adalah peringatan abadi bagi setiap generasi. Kita hidup dalam dunia yang sama: penuh ilmu tetapi culas, kaya tapi kikir, saleh tapi curang. Maka, barangkali bukan langit yang menutup pintunya. Tapi hati kitalah yang menguncinya dari dalam.

Sudah saatnya kita berhenti memaksa langit, dan mulai membuka kunci-kunci yang menghalangi doa. Sebab, sebagaimana dijanjikan oleh Allah dan ditegaskan oleh Imam Ali as, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan.”


*Dielaburasi dari buku Akibat Dosa – Sayyid Hasyim Ar-Rasuli AI-Mahallati

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.