Sejak awal sejarah penciptaan, manusia selalu bertanya: apakah yang pertama kali diciptakan Allah SWT? Sebagian riwayat menyebut “cahaya Muhammad saw” sebagai makhluk pertama. Riwayat lain menyebut “akal” sebagai ciptaan mula. Namun, ketika hadis-hadis ini diperdalam, ternyata keduanya bukanlah sesuatu yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Cahaya kenabian dan akal sebagai pusat kesadaran ruhani sejatinya menunjuk pada satu realitas: makhluk pertama yang diciptakan Allah SWT adalah sumber cahaya petunjuk. Dari situlah segala rahmat, ilmu, dan hikmah dipancarkan ke seluruh semesta.
Hadis tentang Penciptaan Akal
Ash-Shaduq, salah seorang ulama besar Syiah abad ke-4 H, dalam kitab al-Khishal bab ke-10, meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Dalam riwayat itu, Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah SWT menciptakan akal dari cahaya yang tersimpan dalam ilmu-Nya yang terdahulu, yang tidak diketahui seorang nabi dan seorang malaikat pun. Kemudian Allah menjadikan ilmu sebagai dirinya, pemahaman sebagai ruhnya, zuhud sebagai kepalanya, malu sebagai kedua matanya, hikmah sebagai lisannya, belas kasihan sebagai keinginannya, dan kasih sayang sebagai hatinya. Lalu Allah mengokohkannya dengan sepuluh hal: yakin, iman, kebenaran, ketenangan, ikhlas, kelembutan, pemberian, kerelaan, penerimaan, dan syukur.”
Riwayat ini menunjukkan betapa agung kedudukan akal. Ia bukan sekadar daya berpikir logis, melainkan entitas ruhani yang di dalamnya melekat sifat-sifat ilahiah. Allah bahkan mengujinya: memerintahkan akal untuk berbalik, menghadap, dan berbicara. Ketika diperintahkan berbicara, akal mengucapkan tasbih: “Segala puji bagi Allah yang tiada tandingan, tiada yang sepadan, tiada yang menyerupai-Nya, dan segala sesuatu tunduk pada keagungan-Nya.”
Kedudukan Akal menurut Allah
Dalam kelanjutan hadis, Allah Azza wa Jalla berfirman kepada akal:
“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih baik darimu, lebih taat darimu, lebih tinggi darimu, lebih mulia darimu, dan lebih agung darimu. Denganmu Aku diesakan, denganmu Aku disembah, denganmu Aku diseru, denganmu Aku diharap, denganmu Aku dicari, denganmu Aku ditakuti, denganmu Aku diperingatkan, denganmu Aku memberi pahala, dan denganmu Aku memberi siksa.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa akal adalah poros ibadah. Tanpa akal, manusia tak bisa memahami Tuhan, tak mampu menimbang antara kebaikan dan keburukan, tak bisa mengerti tujuan ibadah. Akal adalah pintu untuk mengenal Allah dan memahami syariat-Nya.
Disebutkan pula bahwa akal bersujud kepada Allah selama seribu tahun. Setelah itu Allah mengizinkannya untuk memohon. Akal pun berkata: “Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu supaya Engkau menerima syafaatku untuk orang yang aku diciptakan untuknya.” Maka Allah pun berfirman kepada para malaikat: “Saksikanlah bahwa Aku telah menerima syafaatnya bagi orang yang Aku ciptakan ia padanya.”
Ini menunjukkan hubungan erat antara akal dengan manusia. Akal adalah mediator antara manusia dengan Tuhannya; ia pemberi syafaat, penuntun, sekaligus cahaya penerang jalan hidup.
Tafsir Riwayat: Akal dan Cahaya Muhammad saw
Ash-Shaduq sendiri menjelaskan bahwa yang dimaksud akal dalam hadis-hadis ini bukanlah akal dalam pengertian biasa. Ia bisa dipahami sebagai cahaya Muhammad saw, sebab banyak riwayat menyebut bahwa makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah cahaya Nabi Muhammad saw. Dengan kata lain, istilah “akal” di sini menunjuk pada realitas ruhani pertama yang menjadi sumber segala karunia dan petunjuk.
Namun, jika tidak ditafsirkan sebagai cahaya Muhammad saw, maka ia tetap dapat dipahami sebagai makhluk rohani lain yang dari padanya mengalir segala karunia Allah. Imam Ali as bahkan menegaskan dalam riwayat lain bahwa akal memiliki peran kosmis: ia laksana malaikat dengan kepala sebanyak jumlah makhluk yang pernah dan akan diciptakan hingga Hari Kiamat. Setiap manusia memiliki satu kepala dari kepala-kepala akal itu, dan pada setiap kepala tertulis nama manusia tersebut.
Akal sebagai Cahaya dalam Hati
Riwayat lain dari Rasulullah saw menyebutkan:
“Ketika seorang manusia mencapai usia balig, tirai yang menutupi wajah akal itu tersingkap, lalu dalam hatinya terdapat cahaya sehingga ia dapat memahami yang wajib dan yang sunah, serta yang baik dan yang buruk. Ketahuilah, perumpamaan akal di dalam hati seperti pelita di dalam rumah.”
Analogi ini sangat indah: hati manusia ibarat rumah yang bisa gelap gulita tanpa cahaya. Adapun akal adalah pelita yang menerangi ruangan, menyingkap arah, dan memberi petunjuk. Rumah tanpa pelita akan kacau, begitu pula manusia tanpa akal akan tersesat.
Relevansi dengan Kehidupan Manusia
Riwayat-riwayat ini menegaskan bahwa akal adalah anugerah agung yang Allah berikan kepada manusia. Dengan akal, manusia dapat membedakan yang benar dan salah, yang baik dan buruk, serta yang membawa keselamatan atau kebinasaan. Bahkan ibadah tanpa akal tidak bernilai, karena tidak dilandasi kesadaran.
Ulama Syiah menekankan bahwa akal adalah hujjah batin, sedangkan para nabi dan imam adalah hujjah lahir. Dengan akal, manusia mampu mengenali kebenaran para nabi dan imam, lalu menapaki jalan hidayah.
Penutup
Hadis Rasulullah saw tentang penciptaan akal bukan hanya kisah kosmogoni, melainkan pelajaran mendalam tentang hakikat manusia. Akal adalah cahaya ilahi yang membuat manusia layak menerima beban syariat. Tanpa akal, manusia tidak lebih dari makhluk jasmani semata. Tetapi dengan akal, manusia menjadi khalifah Allah di muka bumi.
Dengan demikian, kita memahami bahwa menghargai akal berarti menjaga cahaya Allah dalam diri. Dan mengabaikannya sama dengan memadamkan pelita dalam rumah hati, hingga yang tersisa hanyalah kegelapan.
Sumber: Madinah Balaghah