Salah satu persoalan akidah yang kerap menimbulkan perdebatan panjang adalah bagaimana memahami qadha dan takdir Allah. Banyak orang beranggapan bahwa Allah menciptakan sistem takdir dan hukum-hukum alam, lalu membiarkannya berjalan begitu saja tanpa keterlibatan-Nya. Mereka membayangkan alam seperti pabrik otomatis: seorang insinyur merancang mesin, menyalakannya, lalu pergi—dan mesin itu bekerja sendiri tanpa kehadirannya.
Pemahaman seperti ini merupakan warisan teologi lama kaum Yahudi, yang menyatakan bahwa setelah Allah menciptakan alam, Dia tidak lagi terlibat dalam pengaturannya. Pandangan ini ditegaskan dalam firman Allah:
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu.'” (QS Al-Maidah: 64)
Al-Qur’an menolak konsep tersebut dan menegaskan sebaliknya: “Tetapi kedua tangan Allah terbuka.” Allah tidak pernah berhenti mengurus, mengawasi, dan menopang seluruh ciptaan-Nya. Dia Mahahidup, tidak mengantuk, dan tidak tidur. Kehadiran-Nya tidak pernah terputus sesaat pun dari segala sesuatu di alam semesta.
Takdir yang Selalu Terhubung dengan Kehendak Allah
Menurut pandangan Al-Qur’an dan Ahlulbait, seluruh sistem qadha dan takdir berjalan di bawah kehendak Allah secara langsung, bukan hanya pada momen penciptaan awal. Alam semesta dan manusia tidak pernah mandiri dari kehendak-Nya. Bahkan setiap kehendak manusia sendiri berada dalam lingkup kehendak Allah.
Allah Swt. berfirman:
“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS At-Takwir: 29)
Juga ditegaskan dalam firman lain:
“Kamu tidak mampu (menempuh jalan-Nya) kecuali bila dikehendaki Allah.”
(QS Al-Insan: 30)
Pandangan ini memperoleh penjelasan yang lebih mendalam dari riwayat-riwayat Ahlulbait. Dalam riwayat dari Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ash-Shaduq, Allah berfirman kepada anak Adam:
“Dengan kehendak-Ku kalian berkehendak… Dengan nikmat-Ku kalian mampu bermaksiat kepada-Ku, dan dengan penjagaan-Ku kalian mampu menaati-Ku.”
Ungkapan ini menggambarkan hubungan antara kehendak manusia dan kehendak Allah: manusia memiliki kehendak dan tanggung jawab, tetapi kekuatan dan kemampuan itu diberikan Allah, bukan muncul secara independen.
Imam Ali as ketika ditanya tentang perjalanan ke Shiffin menjelaskan bahwa Allah tidak menyerahkan seluruh kekuasaan kepada manusia hingga mereka menjadi otonom sepenuhnya. Artinya, manusia tidak berjalan dengan kuasa Allah yang dicabut darinya, dan tidak pula memiliki kuasa sejajar dengan Allah.
Tiga Kelompok dalam Memahami Takdir
Imam Ja’far ash-Shadiq as menjelaskan bahwa manusia terbagi dalam tiga kelompok dalam memahami takdir:
- Kelompok yang meyakini manusia dipaksa oleh Allah.
Ini adalah kezaliman terhadap Allah karena menisbatkan keburukan kepada-Nya. - Kelompok yang meyakini Allah telah melepaskan urusan kepada manusia secara penuh.
Ini merendahkan kekuasaan Allah. - Kelompok yang meyakini bahwa Allah mewajibkan kepada manusia sesuai kemampuan mereka, dan tidak membebani mereka di luar batas.
Mereka memuji Allah ketika berbuat baik dan memohon ampun ketika berbuat buruk. Inilah kelompok Muslim yang benar. Konsep ini dikenal sebagai “al-amru bayna al-amrayn”—bukan jabr (pemaksaan), bukan tafwidh (pendelegasian total), tetapi posisi tengah yang adil dan seimbang.
Perbuatan Manusia dan Lingkup Takdir Ilahi
Jika segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah, maka perbuatan manusia—baik maupun buruk—berlangsung dalam wilayah kehendak-Nya. Al-Qur’an menegaskan:
“Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengannya, kecuali dengan izin Allah.” (QS Al-Baqarah: 102)
“Kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya.” (QS Al-An’am: 137)
Namun, penting untuk dipahami: Allah tidak memaksa manusia bermaksiat. Manusia bermaksiat menggunakan kemampuan yang diberikan Allah kepadanya, tetapi penggunaan kemampuan itu bertentangan dengan perintah-Nya.
Imam ash-Shadiq as menegaskan:
“Allah tidak memaksa seseorang bermaksiat, dan tidak menghendaki kekufuran dari siapa pun. Namun ketika seseorang memilih kufur, itu terjadi dalam lingkup pengetahuan dan kehendak (izniyyah) Allah, bukan kehendak kepastian (ijbariyyah).”
Artinya, Allah mengetahui, mengizinkan dalam arti memberi ruang eksistensial, namun tidak memerintahkan atau meridai.
Bagaimana “Kemampuan” Manusia Bekerja?
Imam-imam Ahlulbait menjelaskan bahwa kemampuan (istitha’ah) manusia tidak mendahului perbuatan. Kemampuan itu hadir bersamaan dengan tindakan—dan merupakan ciptaan Allah.
Imam ash-Shadiq berkata:
“Manusia tidak memiliki kemampuan sebelum berbuat, tetapi bersamaan dengan perbuatan itu mereka mampu.”
Beliau memberikan contoh sederhana:
- Seorang pezina dapat berzina ketika ia berzina—karena Allah memberikan alat dan kemampuan.
- Jika ia memilih meninggalkan zina, ia juga mampu meninggalkannya—karena Allah menciptakan alat untuk meninggalkannya.
Dengan demikian, kemampuan yang dimiliki manusia bukanlah kekuasaan independen, melainkan alat yang diberikan Allah agar manusia dapat memilih.
Mengapa Allah Tetap Menyiksa Pelaku Maksiat?
Seorang penanya bertanya kepada Imam ash-Shadiq:
“Kalau begitu, atas dasar apa Allah menyiksa mereka?”
Beliau menjawab:
“Dengan hujah dan alat yang disertakan pada mereka.”
Manusia diberi:
- akal,
- kemampuan,
- perintah dan larangan,
- dan kehendak untuk memilih.
Karena itu, ia bertanggung jawab atas pilihannya. Allah tidak memaksa, tetapi memberi ruang untuk memilih; dan ruang itu berada dalam lingkup qadha dan takdir.
Allah Tidak Terpisah dari Alam dan Kehidupan
Riwayat-riwayat Ahlulbait menegaskan bahwa tidak ada satu peristiwa pun—kesempitan maupun kelapangan, musibah maupun nikmat—kecuali berada di bawah hukum, kehendak, dan qadha Allah.
Imam ash-Shadiq as berkata:
“Tidak ada cengkeraman dan kelapangan kecuali atasnya Allah memiliki kehendak, qadha, dan ujian.”
Inilah makna kehadiran Allah yang terus-menerus (tadbir da’im). Dia tidak meninggalkan alam seperti insinyur yang meninggalkan pabrik. Dia hadir dalam setiap perubahan dan setiap tarikan napas makhluk.
Al-Qur’an menegaskan:
“Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup dan Maha Pengurus; tidak mengantuk dan tidak tidur.”
(QS Al-Baqarah: 255)
Kesimpulan
Ajaran Ahlulbait memberikan fondasi yang seimbang dan jauh dari ekstrem:
- Tidak seperti kaum Jabariyyah yang meniadakan kehendak manusia,
- Tidak seperti kaum Muktazilah dan sebagian filosof yang menihilkan kehadiran Allah setelah penciptaan.
Ahlulbait menawarkan jalan tengah:
Manusia memilih, tetapi Allah mengizinkan.
Manusia berkehendak, tetapi Allah memberi kemampuan.
Manusia bertindak, tetapi Allah tetap menjadi Pengatur yang tidak pernah berhenti.
Ajaran ini memperlihatkan betapa dekatnya Allah dengan hamba-hamba-Nya, sekaligus menegaskan tanggung jawab moral manusia. Takdir bukan pembenaran untuk pasrah, dan kehendak bukan alasan untuk sombong.
Inilah keseimbangan tauhid: Allah tidak jauh dari kita—Dia hadir dalam setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap peristiwa.
Disarikan dari buku Keadilan Tuhan, Determinisme Sejarah & Kemandirian Tindakan Manusia – Markaz ar-Risalah