Surat al-Baqarah dibuka dengan firman Allah: “Alif Lām Mīm.” Huruf-huruf ini bukan sekadar pembuka retoris, melainkan tanda bahwa Al-Qur’an sejak awal mengarahkan pembacanya untuk melampaui lapisan lahiriah. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa huruf-huruf terputus yang membuka surat-surat Al-Qur’an berjumlah empat belas huruf secara asal, dan jika dihitung seluruh kemunculannya mencapai tujuh puluh dua huruf. Allah menjadikannya sebagai pembuka kitab-Nya dan meletakkan rahasia-rahasia-Nya padanya. Alif di antara huruf-huruf itu dipahami sebagai kunci asma Allah, simbol keesaan dan keghaiban Zat Ilahi. (Riwayat Ibnu Abbas; Bihar al-Anwar, jil. 89)
Para ahli tafsir batin menegaskan bahwa setiap ayat Al-Qur’an memiliki sisi lahir dan batin. Lahir adalah makna yang tampak, dapat dipahami oleh kebanyakan manusia, sementara batin adalah makna tersembunyi yang hanya dapat dijangkau oleh orang-orang khusus. Setiap kitab memiliki rahasia, dan rahasia Al-Qur’an terletak pada pembuka-pembukanya. Keajaiban Al-Qur’an tidak hanya pada keindahan lahiriahnya, tetapi pada kedalaman batinnya, yang tidak dapat dicerna oleh mereka yang berhenti pada riwayat-riwayat lahiriah semata. (Riwayat tafsir batin; Bihar al-Anwar, jil. 92)
Huruf-huruf bukan sekadar alat bahasa, melainkan dasar penciptaan makna. Segala sesuatu yang dapat digambarkan oleh benak manusia tidak terlepas dari huruf dan maknanya. Tanpa huruf, tidak ada pembicaraan, bahkan tentang Zat Allah sekalipun. Dengan huruf-huruf itulah Allah menurunkan kitab dan syariat-Nya, dan dengannya pula Dia dikenal dan disembah. Jumlah huruf hijaiyah adalah dua puluh delapan. Jumlah rakaat shalat wajib adalah tujuh belas, yang dalam keadaan safar menjadi sebelas; jika digabungkan, berjumlah dua puluh delapan. Ini adalah isyarat bahwa ibadah dan bahasa wahyu berada dalam satu keteraturan ilahi. (Tafsir huruf dan bilangan; Manāqib Āli Abī Ṭālib, jil. 1)
Pokok dari huruf-huruf muqaṭṭa‘āt adalah alif, lām, dan mīm. Alif melambangkan keghaiban Ilahi, lām melambangkan kenabian, dan mīm melambangkan wilāyah. Dengan demikian, struktur agama tidak berhenti pada tauhid dan kenabian, tetapi mencapai kesempurnaannya pada kepemimpinan ilahi. Inilah poros yang menjadi kunci pembacaan batin Surat al-Baqarah. (Riwayat tafsir huruf; Bihar al-Anwar, jil. 24)
Allah kemudian berfirman: “Alif Lām Mīm. Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” Dalam tafsir batin, “Kitab” tidak hanya dimaknai sebagai mushaf tertulis, tetapi sebagai realitas kepemimpinan ilahi, baik secara lahir maupun batin. Kitab itu adalah hujjah Allah yang hidup di tengah umat. Ia menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yakni mereka yang menerima kepemimpinan yang ditetapkan Allah. (Tafsir batin ayat; Manāqib Āli Abī Ṭālib, jil. 3)
Ketakwaan hakiki bukan sekadar kehati-hatian lahiriah, tetapi kecintaan kepada pemimpin yang ditunjuk Allah. Ketakwaan yang tidak berakar pada kecintaan ini adalah ketakwaan semu. Karena itu, Al-Qur’an tidak menyebut “petunjuk bagi semua manusia,” melainkan secara khusus “petunjuk bagi orang-orang bertakwa,” yakni mereka yang memiliki kesiapan batin untuk menerima wilayah. (Tafsir ayat 2; Bihar al-Anwar, jil. 24)
Allah lalu menyebut ciri-ciri mereka: “(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib.” Dalam tafsir wilayah, yang gaib mencakup tiga perkara utama: kemunculan Imam Mahdi afs, hari kiamat, dan hari raj‘ah. Ketiganya berhubungan langsung dengan Ahlulbait dan penegakan keadilan ilahi di akhir zaman. Keimanan kepada yang gaib berarti keyakinan pada janji-janji Allah yang berpuncak pada kepemimpinan mereka. (Tafsir ayat 3; Bihar al-Anwar, jil. 53)
Allah berfirman: “Dan mereka yang menegakkan shalat.” Shalat dalam makna batin adalah kecintaan kepada Ahlulbait. Adapun shalat lahiriah tanpa kecintaan ini adalah shalat kiasan, yang tidak dicatat dan tidak diterima. Shalat hakiki adalah hubungan batin dengan pemimpin ilahi, karena shalat tanpa wilayah kehilangan ruhnya. (Riwayat tafsir shalat; Manāqib Āli Abī Ṭālib, jil. 2)
Allah melanjutkan: “Dan mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” Infak hakiki adalah mengajarkan keutamaan Ahlulbait kepada orang-orang beriman. Harta terbesar yang dapat diinfakkan adalah kebenaran, dan kebenaran tertinggi adalah pengenalan terhadap pemimpin ilahi. (Tafsir infak; Bihar al-Anwar, jil. 36)
Allah berfirman: “Dan mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu.” Ibnu Abbas berkata bahwa Allah tidak menurunkan satu kitab pun, kecuali di dalamnya terdapat tauhid, pengakuan kenabian Muhammad, dan kepemimpinan Ali. Semua kitab terdahulu memuat perjanjian tentang wilayah ini. (Riwayat Ibnu Abbas; Bihar al-Anwar, jil. 23)
Allah menegaskan bahwa iman lisan tanpa keyakinan batin tidak bernilai. Karena itu Dia mencela orang-orang yang berkata dengan lidah mereka sesuatu yang tidak ada di hati mereka. Fenomena ini mencapai puncaknya setelah peristiwa Ghadir, ketika sebagian orang berbaiat secara lahiriah, tetapi menyimpan penentangan dalam hati. Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini sebagai penyakit hati yang berujung pada azab pedih. (Tafsir ayat munafik; Bihar al-Anwar, jil. 28)
Allah kemudian menjadikan kecintaan kepada Ali sebagai petunjuk-Nya: “Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” Petunjuk ini ditafsirkan sebagai wilayah Ali, yang menjamin keselamatan dunia dan akhirat. (Manāqib Āli Abī Ṭālib, jil. 3, hlm. 207; Bihar al-Anwar, jil. 24, hlm. 52)
Sebaliknya, orang-orang yang berpaling dari wilayah disebut sebagai orang kufur terhadap nikmat Allah. Allah menutup hati, pendengaran, dan penglihatan mereka dari cahaya wilayah, sehingga mereka tidak mampu mendengar keutamaan Ali atau melihat keagungannya. Akibatnya adalah azab yang pedih karena meninggalkan ketaatan kepada pemimpin ilahi. (Tafsir ayat khatam al-qulūb; Bihar al-Anwar, jil. 24)
Allah lalu menyebut mereka yang menolak wilayah sebagai perusak di muka bumi, meskipun mereka mengklaim sedang melakukan perbaikan. Kerusakan terbesar adalah mengganti kepemimpinan ilahi dengan kepemimpinan selainnya. (Tafsir ayat fasād; Bihar al-Anwar, jil. 25)
Allah menyeru manusia: “Sembahlah Tuhan kalian.” Dalam tafsir batin, ibadah ini dimaknai sebagai kesaksian terhadap tauhid, kenabian Muhammad, dan wilayah Ali. Tanpa kesaksian ini, ibadah kehilangan maknanya. (Tafsir ibadah; Manāqib Āli Abī Ṭālib, jil. 1)
Surat al-Baqarah kemudian berulang kali menegaskan bahwa surga, rahmat, dan keselamatan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan iman itu tidak terwujud kecuali dengan wilayah. Karena itu, tidak ada yang kekal di neraka kecuali orang-orang kafir dan pengikut musuh-musuh Ahlulbait. (Tafsir ayat surga–neraka; Bihar al-Anwar, jil. 8)
Dengan demikian, Surat al-Baqarah dalam tafsir batin bukan sekadar surat hukum atau kisah Bani Israil, melainkan peta ideologis tentang wilayah sebagai poros iman, ketakwaan, dan keselamatan. Tauhid tanpa wilayah menjadi abstrak, kenabian tanpa wilayah terputus, dan ibadah tanpa wilayah menjadi formalitas. Inilah rahasia Kitab Tanpa Keraguan yang hanya terbuka bagi mereka yang bersedia membaca dengan mata batin.
Disarikan dari buku 500 ayat untuk Ali bin Abi Thalib – Hafidz Rajab al-Bursi