
Khamenei.i – Dalam pandangan Imam Khamenei, sejarah Islam tidak pernah netral. Ia selalu berpihak: berpihak kepada kebenaran atau tunduk kepada kezaliman. Karena itu, figur-figur besar Islam tidak dinilai dari kesalehan individual semata, tetapi dari posisi ideologis mereka dalam konflik antara haq dan batil. Dalam garis pembacaan inilah Sayyidah Zainab al-Kubra as ditempatkan—bukan hanya sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai pilar kesadaran revolusioner Islam.
Imam Khamenei menegaskan bahwa Zainab al-Kubra as adalah teladan bagi seluruh manusia, baik perempuan maupun laki-laki, di seluruh dunia. Ia adalah contoh nyata bahwa iman yang hidup akan melahirkan keberanian, kejernihan analisis, dan keteguhan sikap, bahkan dalam kondisi paling ekstrem. Ketika ia dihadapkan pada kelompok yang tidak konsisten, rapuh, dan mudah berkhianat, Zainab tidak mundur. Ia berdiri tegak dan menghadapi mereka dengan keberanian luar biasa.
Inilah sebabnya, sebagaimana ditekankan Imam Khamenei, perempuan seperti Zainab tidak mungkin disebut lemah. Justru dalam situasi paling sulit—ketika keluarga Nabi disembelih, anak-anak dijadikan tawanan, dan kebenaran berusaha dibungkam—jati diri Zainab al-Kubra (as) tampil sepenuhnya. Keperempuannya bukan simbol kepasrahan, melainkan sumber kekuatan moral dan ideologis.
Menurut Imam Khamenei, keistimewaan Zainab as bukan hanya pada keteguhan emosionalnya, tetapi pada kemampuannya membaca situasi umat secara mendalam. Ia menyajikan analisis tajam tentang revolusi Islam pada masanya—revolusi yang dipimpin oleh Nabi Muhammad saw, diteruskan oleh Imam Ali as, dan dipertahankan dengan darah Imam Husain as. Analisis ini bukan wacana teoritis, melainkan lahir dari jantung peristiwa Karbala.
Dalam sejarah Islam, Zainab al-Kubra as adalah bukti bahwa perempuan bukan pelengkap pasif sejarah. Imam Khamenei menekankan bahwa peran Zainab hadir di salah satu titik paling menentukan sejarah Islam: peristiwa Asyura. Secara lahiriah, pasukan kebenaran tampak kalah. Imam Husain as dan para sahabatnya gugur, sementara kekuasaan Yazid berdiri dengan pedang dan pasukan.
Namun sejarah tidak diukur dengan kemenangan militer semata. Di sinilah makna pernyataan Imam Khamenei menjadi jelas: darah mengalahkan pedang. Kekalahan lahiriah di Karbala justru menjadi kemenangan strategis, dan sumber kemenangan itu adalah peran Zainab al-Kubra as. Ia mengubah kekalahan medan perang menjadi kemenangan kesadaran yang abadi.
Hari setelah Asyura adalah hari dimulainya fase baru revolusi Karbala. Imam Khamenei menegaskan bahwa di sinilah Zainab al-Kubra as memainkan peran sentral. Ia membuktikan bahwa perempuan tidak berada di pinggiran sejarah, tetapi mampu menjadi poros perubahan. Al-Qur’an telah menyinggung peran perempuan dalam sejarah umat, namun Zainab menghadirkan contoh yang konkret, dekat, dan hidup—bukan legenda masa lampau, melainkan realitas historis yang dapat diteladani.
Lebih jauh, Imam Khamenei menyoroti bagaimana Zainab al-Kubra as berhasil menghancurkan ilusi kemenangan musuh. Mereka yang merasa telah menang, membunuh seluruh lawan, dan mengamankan kekuasaan, justru dipaksa menghadapi kehinaan moral di pusat kekuasaan mereka sendiri. Dengan kata-kata dan sikap, Zainab menanamkan rasa malu yang tidak pernah bisa dihapus dari sejarah para penindas. Kemenangan yang mereka rayakan berubah menjadi kekalahan permanen.
Inilah bentuk jihad terbesar Zainab al-Kubra as: jihad kesadaran. Ia membuktikan bahwa akhlak, kesantunan, dan moralitas feminin dapat menjadi senjata ideologis yang jauh lebih mematikan daripada pedang. Dalam pembacaan Imam Khamenei, inilah pelajaran besar Karbala bagi seluruh zaman.
Keagungan gerakan Zainab as terabadikan dalam khutbah-khutbahnya, terutama khutbah di pasar Kufah. Imam Khamenei menekankan bahwa khutbah ini bukan pidato emosional seorang tawanan, melainkan analisis mendalam tentang kondisi umat Islam saat itu. Khutbah tersebut adalah kritik struktural terhadap masyarakat yang gagal menjaga amanah sejarah.
Bayangkan situasi saat khutbah itu disampaikan. Dua hari sebelumnya, Imam Husain as—imam dan pemimpin kebenaran—telah syahid di padang Karbala. Anak-anak dan keluarga Ahlulbait dibantai. Zainab sendiri berada dalam kondisi tawanan, diarak bersama perempuan dan anak-anak. Namun justru dalam kondisi seperti itulah, suara kebenaran menjadi paling jernih.
Imam Khamenei menunjukkan bahwa gaya dan nada khutbah Zainab mengingatkan pada pidato Imam Ali as saat memimpin umat. Kefasihan, ketepatan diksi, dan kedalaman maknanya mencerminkan kesinambungan risalah. Ia mengecam keras masyarakat Kufah—mereka yang mengaku pengikut Islam dan Ahlulbait, tetapi gagal total dalam ujian fitnah.
Zainab as membongkar kemunafikan mereka: baiat yang diiringi konspirasi, klaim revolusioner tanpa keberanian, kesalehan yang kosong dari tanggung jawab. Mereka mengira masih berada di jalan Imam Ali, padahal telah kehilangan basirah. Karena kebutaan terhadap fitnah dan ketidakmampuan membedakan hak dan batil, mereka menghancurkan seluruh amal dan sejarah mereka sendiri.
Dalam pembacaan Imam Khamenei, khutbah ini adalah kritik tajam terhadap umat yang memilih sikap abu-abu. Zainab menegaskan bahwa tragedi besar tidak lahir semata dari kekuatan musuh, tetapi dari kelumpuhan moral masyarakat. Ketika umat gagal mengambil posisi tegas, kezaliman akan menang.
Yang membuat khutbah ini semakin monumental adalah konteksnya. Zainab tidak berbicara di ruang aman. Ia dikelilingi musuh bersenjata. Di hadapannya berdiri massa yang sama—yang menulis surat kepada Imam Husain lalu meninggalkannya, yang bersembunyi ketika seharusnya melawan Ibn Ziyad. Sebagian menangis, sebagian takut, sebagian bungkam.
Namun Zainab al-Kubra as, sebagaimana ditekankan Imam Khamenei, tidak mundur selangkah pun. Ia berdiri sebagai representasi Islam yang sadar, berani, dan bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa kegagalan umat dalam menghadapi fitnah telah berujung pada kejahatan terbesar: pemenggalan kepala cucu Rasulullah saw.
Di sinilah kita memahami posisi Zainab al-Kubra as dalam garis revolusi Islam. Ia bukan hanya putri Imam Ali dan cucu Rasulullah, tetapi penjaga makna Karbala. Ia memastikan bahwa pengorbanan Imam Husain (as) tidak direduksi menjadi tragedi pasif, melainkan menjadi sumber kesadaran permanen bagi seluruh generasi. Dalam sejarah, sebagaimana ditegaskan Imam Khamenei, Zainab al-Kubra as adalah pemenang sejati.