Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Kita Akan Membuat Musuh Tersungkur!

Pada awal Januari 2026, di Husainiyah Imam Khomeini, Pemimpin Revolusi Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei, bertemu dengan keluarga syuhada: keluarga Jenderal Qasem Soleimani, para sahabatnya, serta keluarga para martir Perang 12 Hari. Momentum ini bertepatan dengan peringatan kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib as dan enam tahun kesyahidan Jenderal Soleimani. Dalam suasana yang sarat makna spiritual dan historis, beliau menyampaikan pidato panjang yang menyatukan zikir, sejarah, analisis sosial-politik, serta pesan strategis bagi umat.

Pidato dibuka dengan pujian kepada Allah dan shalawat atas Nabi Muhammad saw beserta Ahlulbaitnya yang suci. Sejak awal, suasana ditarik ke satu kelahiran yang unik dalam sejarah: kelahiran Imam Ali as di dalam Ka’bah—sebuah peristiwa yang tak tertandingi baik dari sisi tempat maupun pribadi yang dilahirkan. Hari ke-13 Rajab, karena itu, bukan sekadar tanggal, melainkan simpul sejarah yang mempertemukan kesucian tempat dan kemuliaan manusia.

Imam Ali as: Puncak Keadilan dan Ketakwaan

Pemimpin Revolusi menegaskan bahwa khazanah tentang Imam Ali as dalam literatur, hadis, dan sejarah begitu melimpah—bahkan melintasi batas mazhab dan agama. Karya-karya besar seperti Syarh Nahj al-Balaghah Ibn Abi al-Hadid dan beragam syarah atas Nahj al-Balaghah menjadi saksi betapa figur ini tak terbandingkan.

Dari sekian banyak keutamaan, dua sifat dipilih untuk digarisbawahi karena relevansinya yang mendesak hari ini: keadilan dan ketakwaan. Keadilan Imam Ali as hadir dalam beragam wajah: kelembutan tangan yang melayani yatim dan kaum lemah; ketegasan pedang Zulfiqar saat kebenaran terancam; serta kejernihan tutur kata dan hikmah yang melampaui standar sastra Arab. Surat-surat beliau kepada para gubernur—terutama kepada Malik al-Asytar—merupakan pelajaran abadi tentang bagaimana menegakkan masyarakat yang adil. Inilah, tegas beliau, akar dari “jihad penjelasan”: menjernihkan kebenaran dengan argumentasi, keteladanan, dan kejelasan.

Ketakwaan Imam Ali as juga tidak tunggal bentuknya. Ia tampak dalam mihrab, dalam doa-doa yang membuat malaikat takjub; namun juga dalam kesabaran dan diam demi menjaga persatuan umat ketika haknya dirampas. Diam yang berangkat dari maslahat besar adalah puncak takwa. Ia tampak pula dalam keberanian di medan laga—dari Lailatul Mabit hingga Uhud, Hunain, dan Khaibar—karena takwa bukan sekadar ibadah individual, melainkan kekuatan moral yang menegakkan langkah di tengah bahaya.

Teladan Pemerintahan dan Tanggung Jawab Zaman Kini

Selama lebih dari seribu tahun, Muslim Syiah tak memiliki kesempatan historis untuk menerapkan keadilan ala Imam Ali as dalam pemerintahan. Kini, alasan itu tak lagi berlaku. Pemerintahan Islam yang berdiri di atas prinsip wilayah menuntut keadilan sebagai kewajiban paling utama. Ketakutan, keraguan prinsip, pertimbangan relasi yang keliru—baik terhadap kawan maupun lawan—harus disisihkan. Keadilan dan ketakwaan mesti menjadi program nyata, bukan slogan.

Kemenangan di Medan, Ujian di Medan Lunak

Imam Ali as, ditegaskan kembali, tak pernah kalah dalam pertempuran. Bahkan di Uhud ketika banyak yang lari, beliau berdiri teguh. Dalam masa kekhalifahannya pun, beliau menang di Jamal, Shiffin, dan Nahrawan. Namun sejarah menunjukkan, kemenangan militer kerap diganjal oleh taktik perang lunak: penipuan, fitnah, propaganda, dan infiltrasi. Mengangkat mushaf di ujung tombak di Shiffin adalah contoh klasik—cara melemahkan tekad publik ketika pedang tak lagi efektif.

Perang lunak bukan fenomena baru. Ia bekerja dengan menggoyahkan motivasi, menanamkan keraguan, dan memadamkan harapan. Targetnya adalah manusia-manusia aktif yang siap berjuang. Al-Qur’an mengingatkan bahwa pertolongan Ilahi terikat pada peran orang beriman (QS. al-Anfal: 62). Tanpa kesadaran dan dukungan rakyat, kepemimpinan ilahi pun terhambat oleh arus manipulasi.

Bangsa yang Berdiri Teguh dan Aset yang Disembunyikan

Pemimpin Revolusi memuji karakter bangsa Iran yang, dalam situasi sulit, hadir di tempat yang dibutuhkan: membantu, bersuara, dan mematahkan keputusasaan musuh. Karena itulah musuh berusaha melemahkan motivasi ini—salah satunya dengan menutup-nutupi capaian dan kemampuan bangsa. Bangsa yang buta terhadap asetnya akan merasa hina dan akhirnya menyerah.

Beliau menyebut capaian nyata: peluncuran tiga satelit dalam satu hari oleh pemuda-pemuda berbakat; penambahan ribuan megawatt daya listrik dalam waktu singkat; kemajuan di bidang kedirgantaraan, bioteknologi, kedokteran, nanoteknologi, hingga industri pertahanan—semuanya di tengah sanksi. Ini bukan hal kecil. Bahkan seorang ilmuwan rudal Zionis pernah mengaku melepas topinya sebagai tanda hormat atas kemampuan teknis yang lahir di bawah tekanan.

Kekuatan inilah yang membuat musuh, dalam konflik militer, meminta gencatan senjata. Meski tipu daya mereka tak layak dipercaya, fakta itu menegaskan daya bangsa dan pemudanya—bahkan rata-rata berusia 26 tahun. Modal manusia adalah kekayaan besar yang tak boleh diremehkan.

Wajah Musuh dan Kesadaran Publik

Beliau menyinggung retorika provokatif Donald Trump yang mencampur fitnah dan janji palsu. Namun pengalaman mutakhir—terutama selama Perang 12 Hari—membuka mata publik: di tengah perundingan, persiapan perang tetap berjalan. Kini, bukan hanya Iran yang memahami watak Amerika; dunia pun melihatnya. Kesadaran ini adalah aset strategis.

Karena itu, kewaspadaan terhadap perang lunak menjadi keharusan. Miliaran dana digelontorkan untuk media yang menebar kebohongan demi melemahkan persatuan internal. Padahal persatuanlah yang menghasilkan keajaiban. Al-Qur’an menegaskan keseimbangan sikap: tegas terhadap musuh, penuh kasih di antara sesama (QS. al-Fath: 29).

Antara Protes dan Kerusuhan

Menanggapi aksi-aksi pekan sebelumnya, beliau menegaskan loyalitas komunitas bazar terhadap Revolusi. Protes atas instabilitas nilai tukar dan iklim usaha yang terguncang adalah wajar dan benar. Pemerintah menyadari masalah ini dan sedang bekerja—seraya mengingatkan bahwa lonjakan dan volatilitas kurs yang tak normal mengindikasikan peran musuh.

Namun garis tegas ditarik: protes berbeda dari kerusuhan. Ada pihak yang menunggangi tuntutan sah untuk menebar slogan anti-Islam dan anti-Republik Islam. Dengan perusuh, tak ada ruang dialog. Upaya menciptakan ketidakamanan harus ditindak. Musuh selalu memanfaatkan celah; karena itu kesiapsiagaan aparatur dan kedewasaan publik sama-sama krusial.

Menutup Lingkaran: Iman, Ketulusan, dan Aksi

Di ujung pidato, Pemimpin Revolusi kembali pada inti: kualitas yang menjadikan Soleimani—iman, ketulusan, dan aksi—adalah bekal bangsa hari ini. Jangan abai terhadap perang lunak dan rumor. Saat musuh berusaha memaksakan kehendak, pemerintah dan rakyat harus berdiri teguh. Dengan tawakal kepada Allah, kepercayaan pada dukungan rakyat, dan keteguhan prinsip, musuh akan dibawa berlutut—insya Allah.

Pidato ditutup dengan doa bagi para syuhada, perlindungan bagi generasi muda, keberkahan kelahiran Imam Ali as, serta ketenangan bagi keluarga para martir. Sebuah penegasan bahwa jalan sejarah—antara keadilan dan ketakwaan, antara keteguhan dan kejernihan—masih terbuka lebar bagi mereka yang setia pada kebenaran.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT