Press TV – Pada 12 Januari 2026, bangsa Iran mencatat satu hari yang akan dikenang dalam perjalanan panjangnya mempertahankan kedaulatan dan martabat nasional. Dalam suasana penuh tantangan, rakyat mengerahkan diri dalam pertemuan-pertemuan besar yang damai, penuh tekad, dan berakar dari kesadaran sejarah—bukan sekadar unjuk rasa biasa. Peristiwa ini mendapatkan respons tegas dari Pemimpin Revolusi Islam, Imam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang melihatnya jauh melebihi konteks spontanitas sosial: sebuah kembalinya bangsa kepada kesadaran kolektifnya, dan sebuah kegagalan rencana musuh untuk memecah belah Iran melalui struktur internal yang telah mereka coba manfaatkan.
Dalam pesannya kepada publik, beliau menyampaikan bahwa rakyat Iran telah menandai “suatu hari bersejarah.” Himpunan massa yang “dipenuhi oleh tekad yang kokoh” bukan hanya menunjukkan dukungan terhadap Republik Islam, tetapi secara nyata menggagalkan plot pihak asing yang mencoba mendestabilisasi negara melalui agen-agen domestik yang mereka sebut agen-agen upahan. Ungkapan ini bukan retorika biasa, tetapi penghargaan penuh terhadap kesadaran politik dan spiritual rakyat yang mampu melihat, menolak, dan melampaui permainan kekuatan luar yang ingin merusak persatuan nasional.
Imam Khamenei menggambarkan peristiwa ini sebagai peringatan kuat kepada para musuh Republik Islam, terutama para pembuat kebijakan di Washington. Beliau menegaskan bahwa demonstrasi itu memperlihatkan kepada mereka bahwa bangsa Iran memiliki “ketetapan hati dan identitas” yang jelas — suatu identitas yang tidak mudah dipecah belah oleh tipu daya dan tipu muslihat yang berulang kali muncul dari luar. Kesadaran semacam ini, menurut beliau, harus menjadi pelajaran bagi mereka yang “menggantungkan harapan mereka pada agen-agen pengkhianat dan licik,” karena rakyat telah menunjukkan bahwa keutuhan, kesetiaan kepada tanah air, dan komitmen terhadap kedaulatan adalah fondasi kuat yang tidak bisa digoyahkan oleh kekuatan eksternal.
Apa maksud dari istilah “plot musuh” dalam narasi Imam Khamenei? Dalam perspektif beliau, ini bukan sekadar teori konspirasi, tetapi bagian dari pengalaman sejarah panjang yang dialami bangsa Iran: kekuatan besar telah berkali-kali menggunakan tekanan ekonomi, tekanan politik, dan propaganda untuk memecah belah masyarakat Iran atau memaksa mereka menuju perubahan rezim yang diinginkan oleh kekuatan asing. Ini bukan kejadian baru; serangkaian ancaman, tekanan ekonomi, dan bahkan intervensi langsung maupun tidak langsung telah menjadi realitas geopolitik di kawasan ini selama beberapa dekade, dan rakyat Iran telah membentuk kesadaran kolektif terhadap pola-pola tersebut.
Dengan demikian, respon besar rakyat bukanlah sekadar dukungan simbolis terhadap pemerintah, melainkan pengakuan kolektif atas kebenaran bahwa bangsa ini tidak boleh menjadi medan pertempuran bagi kepentingan luar. Kesadaran ini, dalam pandangan Imam Khamenei, memberi sinyal kepada dunia bahwa bangsa Iran mengetahui musuhnya, memahami cara mereka bekerja, serta menolak dominasi ideologi atau politik yang ingin dipaksakan dari luar.
Beliau juga menekankan karakter bangsa Iran sebagai “kuat, berdaya, dan sadar” — sebuah deskripsi yang bukan sekadar pujian, tetapi refleksi bahwa keberadaan rakyat dalam setiap krisis adalah jaminan hidupnya sebuah bangsa yang tegak. Ketika tantangan datang, menurut beliau, rakyat tidak hilang arah atau terpecah, melainkan bertindak sebagai satu kesatuan yang menyadari siapa diri mereka dan apa yang mereka perjuangkan. Ini bukan identitas semu, tetapi identitas yang lahir dari sejarah panjang perlawanan, pengorbanan, dan penghayatan terhadap prinsip-prinsip kemerdekaan dan kedaulatan nasional yang berakar pada keyakinan spiritual dan komitmen terhadap nilai-nilai revolusioner.
Menurut laporan Press TV, konteks pernyataan Imam Khamenei adalah gelombang protes awal yang berangkat dari tekanan ekonomi — tetapi kemudian berkembang menjadi kekacauan yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang merongrong keamanan publik. Dalam kondisi seperti itu, pertemuan-pertemuan besar rakyat yang damai dan tertib menjadi simbol penolakan rakyat terhadap kekerasan, dan sekaligus penegasan bahwa perjuangan sosial tidak boleh diambil alih oleh pihak yang tidak tulus. Hal ini memberikan kontras jelas antara tuntutan kesejahteraan sosial dan upaya sistematis pihak asing yang memanfaatkan keresahan demi agenda geopolitik mereka sendiri.
Imam Khamenei tidak berhenti pada penghargaan atas kehadiran rakyat. Beliau juga menegaskan bahwa bangsa Iran telah memberi peringatan kepada para pembuat kebijakan Amerika untuk mengakhiri tipu muslihat mereka dan berhenti bergantung pada apa yang beliau sebut “agen-agen upahan” — agen-agen yang bekerja demi kepentingan luar yang ingin menciptakan ketidakstabilan. Pesan ini adalah pengakuan tegas bahwa bangsa Iran bukanlah objek pasif yang bisa dimanipulasi oleh kekuatan global, tetapi merupakan subjek aktif yang menentukan sendiri arah sejarahnya.
Dalam pandangan Imam Khamenei, dukungan rakyat bukan berarti negasi terhadap kritik atau tuntutan terhadap perbaikan dalam negeri. Sebaliknya, bela negara dan kritik terhadap kebijakan yang tidak efektif adalah dua wajah dari kesadaran patriotik yang sama. Ini mencerminkan sebuah pemahaman bahwa keadilan sosial dan pemerintahan yang baik harus tetap dicapai tanpa mengorbankan persatuan nasional atau membuka pintu bagi intervensi luar yang berbahaya. Pemimpin Revolusi telah berkali-kali mengingatkan bahwa musuh berusaha melemahkan negeri tidak hanya melalui kekuatan militer atau sanksi, tetapi juga melalui perang psikologis, manipulasi informasi, dan upaya untuk menanamkan keraguan dalam hati rakyat.
Kebijaksanaan semacam ini selaras dengan prinsip-prinsip ajaran Ahlulbait as, khususnya penekanan terhadap keteguhan, kesadaran sejarah, dan pengorbanan demi kebenaran. Sejak masa Imam Ali as hingga para Imam setelahnya, umat Islam diajarkan bahwa perjuangan melawan tirani dan penjajahan bukan hanya sebuah tugas politik, tetapi juga tugas moral yang menuntut ketajaman nalar dan kesetiaan terhadap prinsip. Dalam konteks modern, ajaran ini mengambil bentuk kesadaran kolektif terhadap skenario geopolitik yang kompleks dan kemampuan untuk membedakan antara tuntutan sah rakyat dan manipulasi kekuatan asing.
Akhirnya, pesan Imam Khamenei pada 12 Januari 2026 bukan hanya sebuah komentar politik semata, tetapi seruan kepada rakyat Iran — dan ummah yang lebih luas — untuk tetap teguh dalam keyakinan, sadar terhadap permainan musuh, dan terus membangun persatuan sebagai benteng utama terhadap setiap upaya dominasi. Kesadaran ini, yang tampak dalam respon besar rakyat, adalah mutiara berharga yang menjadi bukti bahwa bangsa yang mengetahui akar sejarahnya akan mampu menghadapi setiap badai, baik datang dari dalam maupun dari luar.