
Sejarah Ahlulbait as tidak hanya ditulis dengan darah para syuhada di medan perang, tetapi juga dengan air mata, kesabaran, dan penderitaan panjang di balik tembok-tembok penjara. Di antara figur yang paling merepresentasikan bentuk perjuangan sunyi ini adalah Imam Musa al-Kazhim as. Ia bukan hanya Imam ketujuh dalam silsilah Imamah, tetapi juga simbol keteguhan spiritual yang menghadapi tirani dengan kesabaran sadar dan perlawanan bermartabat. Kehidupan dan kesyahidannya merupakan potret tajam tentang bagaimana kekuasaan politik berhadapan dengan legitimasi ilahi.
Imam Musa al-Kazhim as lahir dan tumbuh dalam situasi politik yang penuh kecurigaan terhadap Ahlulbait Nabi saw. Setelah wafatnya Imam Ja‘far al-Shadiq as, kekhalifahan Abbasiyah semakin menguat dan mulai memandang para Imam sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kekuasaan. Abbasiyah memahami bahwa meskipun para Imam tidak mengangkat senjata, mereka memimpin hati dan kesadaran umat. Pengaruh semacam ini jauh lebih berbahaya dibandingkan pemberontakan bersenjata, karena ia menggerogoti legitimasi negara dari akarnya. (Al-Tabarsi, I’lam al-Wara bi A’lam al-Huda).
Sejak awal masa imamahnya, Imam Musa al-Kazhim as berada di bawah pengawasan ketat aparat kekhalifahan. Setiap pergerakannya dicurigai, setiap relasinya diawasi. Namun, Imam tidak menempuh jalan konfrontasi terbuka. Ia memilih strategi yang khas Ahlulbait pada masa represif: membina umat melalui pendidikan, akhlak, dan penguatan spiritual. Melalui sistem wakalah—para perwakilan Imam di berbagai wilayah—ajaran Islam Ahlulbait tetap hidup dan mengalir, bahkan ketika Imam berada dalam tekanan dan isolasi. (Al-Kulaini, Al-Kafi).
Gelarnya al-Kazhim—orang yang menahan amarah—lahir dari pengalaman konkret menghadapi penghinaan dan provokasi. Riwayat-riwayat menyebutkan bagaimana Imam menahan diri dari pembalasan pribadi, bukan karena kelemahan, tetapi karena visi perjuangan yang lebih luas. Ia memahami bahwa satu tindakan emosional dapat berujung pada pembantaian massal terhadap para pengikutnya. Kesabaran Imam adalah kesabaran strategis, yang berpijak pada tanggung jawab sejarah dan perlindungan umat. (Al-Majlisi, Bihar al-Anwar).
Puncak ketegangan antara Imam Musa al-Kazhim as dan penguasa Abbasiyah terjadi pada masa khalifah Harun al-Rashid. Dalam satu peristiwa yang masyhur dalam literatur Syiah, Harun berziarah ke makam Rasulullah saw dan menyebut dirinya sebagai “kerabat Nabi”. Imam Musa al-Kazhim as dengan tenang namun tegas menegaskan bahwa Ahlulbait memiliki kedekatan nasab dan spiritual yang tak dapat disandingkan. Dialog ini menyingkap pertarungan mendasar antara legitimasi kekuasaan politik dan legitimasi ilahi. Sejak itu, Harun memutuskan bahwa keberadaan Imam harus disingkirkan dari ruang publik. (Al-Mufid, Al-Irsyad).
Penangkapan demi penangkapan pun terjadi. Imam Musa al-Kazhim as dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain—dari Madinah, Basrah, hingga Baghdad—dalam upaya memutus hubungan beliau dengan umat. Namun penjara justru menjadi ruang transformasi spiritual. Para sipir dan tahanan menyaksikan ketekunan ibadah Imam, sujud panjangnya di tengah malam, serta ketenangan batinnya menghadapi penderitaan. Banyak riwayat menyebutkan bahwa sebagian penjaga penjara berubah sikap, bahkan menaruh hormat dan kecintaan kepada Imam. (Al-Saduq, Uyun Akhbar al-Ridha).
Di balik jeruji besi, Imam Musa al-Kazhim as menampilkan wajah lain dari jihad: jihad melawan keputusasaan dan ketakutan. Doa-doa beliau yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis menunjukkan kedalaman tauhid dan kepasrahan total kepada Allah. Penjara tidak melemahkan ruh perjuangan Imam, justru memurnikannya. Dalam kesunyian sel, Imam mendidik umat dengan teladan hidup, menunjukkan bahwa kebebasan sejati tidak dapat dirampas oleh kekuasaan mana pun. (Al-Majlisi, Bihar al-Anwar).
Hari-hari terakhir kehidupan Imam Musa al-Kazhim as berlangsung di penjara Baghdad, pusat kekuasaan Abbasiyah yang kala itu menjadi simbol kemegahan sekaligus kekejaman negara. Di kota Baghdad inilah penguasa akhirnya memilih jalan senyap untuk menghentikan pengaruh Imam. Berbagai literatur secara konsisten menyebutkan bahwa beliau diracun atas perintah kekhalifahan. Kesyahidan Imam Musa al-Kazhim as terjadi pada 25 Rajab tahun 183 Hijriah, sebuah tanggal yang kemudian dikenang sebagai hari duka dan peringatan kezaliman negara terhadap Ahlulbait.
Dalam kondisi fisik yang semakin melemah akibat racun, Imam Musa al-Kazhim as tetap menjaga ketenangan dan kejernihan spiritual. Riwayat menyebutkan bahwa beliau menghabiskan saat-saat terakhirnya dengan doa, dzikir, dan sujud panjang. Tidak ada kemarahan, tidak ada keluhan terhadap takdir. Yang tampak hanyalah kepasrahan seorang hamba yang telah menunaikan amanah ilahi. Wasiat-wasiat moralnya kepada para sahabatnya menekankan kesabaran, ketakwaan, dan kesinambungan kepemimpinan Imamah setelahnya. (Al-Saduq, Al-Amali).
Setelah wafatnya Imam Musa al-Kazhim as, penguasa Abbasiyah berusaha menutupi kejahatan mereka dengan mengumumkan bahwa Imam meninggal secara alami. Bahkan, jenazah beliau diletakkan di sebuah jembatan di Baghdad agar masyarakat menyaksikan dan menerima narasi resmi negara. Namun tindakan ini justru menjadi kesalahan fatal. Banyak orang melihat tanda-tanda kezaliman dan menyadari bahwa seorang wali Allah telah disingkirkan oleh kekuasaan yang takut pada kebenaran. Simpati publik pun mengalir deras kepada Ahlulbait. (Al-Tabarsi, I’lam al-Wara bi A’lam al-Huda).
Jenazah Imam Musa al-Kazhim as kemudian dimakamkan di kawasan Maqabir Quraisy, sebuah pemakaman di pinggiran Baghdad yang kelak berkembang menjadi kota Kadhimiyah. Makam beliau hingga hari ini menjadi pusat ziarah dan simbol perlawanan spiritual terhadap tirani. Kesyahidan Imam Musa al-Kazhim as pada 25 Rajab 183 H di Baghdad menegaskan satu pesan sejarah: kekuasaan mungkin mampu mengalahkan tubuh para wali Allah, tetapi tidak pernah mampu memadamkan cahaya kebenaran yang mereka wariskan. (Al-Majlisi, Bihar al-Anwar).
Warisan Imam Musa al-Kazhim as bukan hanya kisah penderitaan, tetapi juga paradigma perjuangan. Ia mengajarkan bahwa menjaga kesadaran umat di bawah tekanan adalah bentuk jihad yang paling berat sekaligus paling menentukan. Dari balik penjara Abbasiyah, Imam menanam benih ketahanan spiritual yang memungkinkan komunitas Syiah bertahan melewati berabad-abad penindasan. Inilah kemenangan sejati: kemenangan nilai atas kekuasaan, dan kemenangan iman atas ketakutan. (Al-Kulaini, Al-Kafi).