Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Kegaiban Imam Mahdi: Hikmah Ilahi, Sejarah Penindasan, dan Tanggung Jawab Zaman

Tidak setiap kebenaran harus diumumkan, tidak setiap ucapan mesti terjadi, dan tidak setiap peristiwa harus disaksikan manusia. Segala sesuatu di alam semesta berjalan dalam lingkup ilmu dan kehendak Allah SWT. Demikian pula perjalanan para nabi, para washi (pengemban wasiat), dan para hujjah-Nya di muka bumi. Ada masa terang dan ada masa tersembunyi; ada zaman kehadiran dan ada zaman kegaiban. Semua itu bukan kekosongan makna, melainkan bagian dari sunnatullah dalam menjaga risalah dan keadilan.

Zaman Pasca Rasulullah dan Akar Penindasan

Rasulullah saw telah memberi isyarat tentang perjalanan sejarah umat setelah wafat beliau: masa para khalifah, lalu kekuasaan para penguasa yang menyimpang, kemudian kerajaan-kerajaan monarkis yang menindas, hingga akhirnya akan muncul seorang lelaki dari Ahlulbait Nabi. Sejarah mencatat, setelah wafat Rasulullah saw, umat Islam dipimpin oleh para khalifah awal, lalu memasuki fase fitnah besar yang berpuncak pada bangkitnya Bani Umayah.

Bani Umayah merebut kekuasaan dengan kekerasan, manipulasi, dan teror. Mereka tidak hanya merampas hak umat, tetapi juga secara terang-terangan memerangi keluarga Nabi. Keinginan umat kepada kepemimpinan Imam Hasan bin Ali dihadang dengan intrik politik yang keji. Puncaknya, Imam Hasan as wafat karena diracun—sebuah tragedi yang membuka jalan bagi kekuasaan Yazid bin Mu‘awiyah.

Kezaliman Yazid mencapai puncaknya di Karbala. Pada 10 Muharram 61 Hijriah, Imam Husain bin Ali as bersama keluarga dan sahabatnya—sekitar tujuh puluh tiga jiwa—dibantai oleh pasukan yang jumlahnya puluhan ribu. Peristiwa ini bukan sekadar pembunuhan, tetapi deklarasi perang terhadap nilai-nilai kenabian. Sejak itu, darah Ahlulbait menjadi saksi bahwa kekuasaan tanpa legitimasi ilahi akan selalu melahirkan tirani.

Dari Bani Umayah ke Bani Abbasiyah: Pola Kekejaman yang Berulang

Runtuhnya Bani Umayah tidak serta-merta menghadirkan keadilan. Kekuasaan berpindah ke tangan Bani Abbasiyah, namun pola penindasan tetap berlanjut. Para imam Ahlulbait terus hidup dalam tekanan, pengawasan, penjara, dan racun. Imam Ja‘far ash-Shadiq as, Imam Musa al-Kazhim as, hingga Imam Ali ar-Ridha as menjadi korban kekuasaan yang takut kehilangan legitimasi.

Tekanan ini mencapai titik paling sensitif pada masa Imam Hasan al-Askari as. Para penguasa Abbasiyah mengetahui riwayat tentang kelahiran Imam terakhir—seorang pemimpin dari keturunan Nabi yang akan menghancurkan kezaliman. Karena itulah, rumah Imam Hasan al-Askari dijaga ketat, para wanita diselidiki, dan setiap tanda kelahiran diawasi dengan penuh kecurigaan.

Kelahiran Imam Mahdi dan Awal Kegaiban

Dalam situasi yang sangat berbahaya itulah Imam Mahdi as dilahirkan. Allah SWT menjaga kelahiran ini dalam kerahasiaan mutlak. Tidak seorang pun mengetahui kehamilan ibunda beliau selain Imam Hasan al-Askari dan seorang perempuan suci dari keluarga Ahlulbait. Bahkan setelah kelahiran, keberadaan Imam Mahdi hanya diberitahukan kepada murid-murid khusus yang terpercaya.

Penguasa Abbasiyah mengirim mata-mata dan algojo. Rumah Imam dikepung, diselidiki, bahkan dijarah. Namun kehendak Allah mengalahkan segala rencana. Imam Mahdi as diselamatkan, dijaga, dan pada akhirnya memasuki fase kegaiban—bukan karena takut, melainkan sebagai strategi ilahi untuk menjaga hujjah-Nya dari pembantaian.

Kegaiban bukanlah pelarian, melainkan bentuk penjagaan. Sebagaimana Allah menjaga Nabi Ibrahim dari api, Nabi Musa dari Fir‘aun, Ashabul Kahfi di dalam gua, dan Nabi Isa dari pembunuhan, demikian pula Allah menjaga Imam Mahdi as untuk sebuah misi besar di akhir zaman.

Kegaiban Kecil dan Perwakilan Khusus

Kegaiban Imam Mahdi terbagi menjadi dua fase. Fase pertama disebut al-Ghaibah ash-Shughra (kegaiban kecil), berlangsung sekitar tujuh puluh empat tahun. Pada masa ini, Imam Mahdi as tetap berkomunikasi dengan umat melalui wakil-wakil khusus yang dikenal sebagai as-Sufara’ al-Arba‘ah.

Empat wakil ini berperan menyampaikan jawaban, fatwa, dan bimbingan Imam kepada umat. Mereka bukan sekadar perantara administratif, melainkan figur amanah yang mendapat pendidikan langsung dari Imam. Melalui merekalah umat belajar bahwa kegaiban tidak berarti terputusnya kepemimpinan ilahi.

Ketika wakil keempat wafat, Imam Mahdi as mengumumkan berakhirnya kegaiban kecil dan dimulainya al-Ghaibah al-Kubra (kegaiban besar). Sejak saat itu, tidak ada lagi wakil khusus yang ditunjuk secara personal.

Kegaiban Besar dan Tanggung Jawab Umat

Pada masa kegaiban besar, Imam Mahdi as sepenuhnya tersembunyi dari penglihatan manusia. Namun, ajaran dan bimbingan beliau tetap hadir melalui para ulama dan perawi yang terpercaya. Imam Mahdi menegaskan agar umat merujuk kepada para fuqaha yang menjaga diri dari dosa, mengendalikan hawa nafsu, dan taat kepada Allah.

Di sinilah tanggung jawab umat menjadi nyata. Menanti Imam Mahdi bukanlah sikap pasif, apalagi sekadar ritual lisan. Penantian sejati adalah “doa dalam bentuk perbuatan”: melawan kezaliman, menegakkan keadilan, menjaga kebenaran, dan menolak tunduk kepada sistem yang menindas manusia atas nama agama, demokrasi, atau hak asasi palsu.

Imam Mahdi dan Krisis Zaman Modern

Zaman ini adalah zaman di mana kezaliman tampil dengan wajah rapi. Sistem global berbicara tentang kebebasan, namun menindas bangsa-bangsa lemah. Agama dijadikan simbol, bukan nilai. Keadilan dijanjikan, tetapi tidak pernah dihadirkan. Inilah kondisi yang membuat kehadiran Imam Mahdi semakin relevan.

Imam Mahdi bukan sekadar figur eskatologis, melainkan simbol perlawanan abadi terhadap tirani. Beliau adalah puncak dari seluruh perjuangan para nabi dan Ahlulbait. Karena itu, mencintai Imam Mahdi berarti membenci kezaliman dalam segala bentuknya—baik yang datang dari monarki, imperialisme, maupun sistem global yang merampas hak manusia.

Penutup: Menjadi Umat Penanti yang Bertanggung Jawab

Kegaiban Imam Mahdi adalah ujian keimanan. Ia memisahkan antara penantian yang tulus dan klaim kosong. Umat yang setia bukanlah mereka yang sibuk mengaku melihat Imam, melainkan mereka yang menjaga nilai-nilai yang Imam perjuangkan.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk tetap berada di jalan Ahlulbait, menjadikan kita penanti yang sadar, dan menguatkan langkah kita dalam menegakkan keadilan—hingga hari ketika Imam Mahdi as muncul dengan izin Allah untuk memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman.


Disarikan dari buku Husain Mazahiri – Imam Mahdi Figur Keadilan

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT