
Malik al-Asytar (Malik bin al-Harits al-Nakhaʾi) adalah salah satu figur paling mulia dan berpengaruh di antara sahabat Imam Ali bin Abi Thalib as. Ia bukan hanya seorang panglima perang yang gagah berani, tetapi juga representasi loyalitas, keadilan, dan cinta kepada Ahlulbait as. Nama dan perjuangannya dikenang sepanjang zaman oleh umat Islam, terutama di kalangan Syiah, sebagai lambang pengorbanan dan iman yang teguh dalam menghadapi ujian zaman yang penuh kekacauan politik dan peperangan.
Latar Belakang dan Kehidupan Awal
Malik lahir di Yaman, dari suku Nakhaʾyang terkenal dengan keberanian, semangat sosial, dan kekuatan militernya. Ia hidup pada masa akhir kehidupan Nabi Muhammad saw dan memiliki kesempatan untuk menyaksikan masa perkembangan awal Islam, sehingga ia tumbuh sebagai seorang Muslim yang kukuh dalam iman dan keyakinan. Dari awal masuk Islam, ia dikenal sebagai individu yang setia dan teguh dalam mempertahankan hak serta kebenaran.
Nama “al-Asytar” sendiri diberikan kepadanya karena luka yang dialaminya saat berjuang di medan perang — suatu bekas luka di bawah mata yang menjadikannya mudah dikenali di antara para sahabat.
Keikutsertaan dalam Perang-Perang Besar Islam
Malik al-Asytar adalah seorang pejuang yang berani dan menjadi bagian dari pasukan Muslim dalam banyak pertempuran penting di era awal Islam:
- Pertempuran Yarmuk melawan Bizantium, di mana keberaniannya terlihat nyata dan ia kehilangan satu mata akibat serangan musuh.
- Perang-perang internal umat Islam (Fitnah Pertama) seperti Perang Jamal dan Perang Siffin, di mana ia menjadi komandan sayap kanan pasukan Imam Ali as. Dalam perang Jamal, ia menunjukkan keberanian luar biasa di medan laga dan menjadi tokoh penting dalam struktur komando pasukan Ali.
Karena kesetiaannya kepada Ali as dan kewibawaannya di medan tempur, ia mendapat penghormatan tinggi di kalangan para pejuang dan masyarakat Muslim. Bahkan Imam Ali as sendiri memberikan kepercayaan besar terhadapnya dalam berbagai operasi militer dan tata pemerintahan.
Peran Politik dan Administratif
Lebih dari sekadar panglima perang, Malik al-Asytar juga dikenal sebagai seorang pemimpin administrasi yang adil. Imam Ali as mengangkatnya sebagai gubernur di beberapa wilayah penting seperti Al-Jazirah dan kemudian Mesir. Tugas Malik bukan hanya memimpin pasukan, tetapi juga menjaga ketertiban sosial dan mengimplementasikan prinsip-prinsip keadilan dalam pemerintahan.
Dalam surat yang ditulis Imam Ali as kepada Malik ketika ia diangkat menjadi gubernur Mesir, terdapat instruksi yang sangat mendalam tentang bagaimana seorang pemimpin harus bersikap terhadap rakyatnya — baik Muslim maupun non-Muslim — serta kewajiban negara untuk memajukan kesejahteraan masyarakat secara adil dan seimbang tanpa penindasan. Surat ini kemudian dikenal sebagai salah satu tulisan yang paling lengkap dan penting mengenai prinsip pemerintahan adil dalam tradisi Islam. (
Kesetiaan kepada Imam Ali as
Kesetiaan Malik kepada Imam Ali as tidak tergoyahkan sepanjang hidupnya. Dalam berbagai situasi yang sulit dan penuh tekanan politik, terutama saat Fitnah Pertama yang memecah belah umat Islam, ia berdiri teguh di sisi Ali as. Ketika sebagian besar pasukan mulai goyah dan terpecah di medan Siffin akibat penipuan politik musuh, Malik tetap tegar mengikuti perintah Imam Ali as dan tidak tergoda oleh janji-janji atau tipu daya pihak lawan.
Konteks peristiwa ini menunjukkan betapa tinggi kualitas loyalitas dan disiplin moral yang ia miliki — di tengah kebingungan dan fitnah, ia tak pernah berpaling dari prinsip kebenaran dan komando yg syar’i.
Kemartiran dan Akhir Hidup yang Tragis
Saat situasi Mesir genting akibat konflik antara kekuasaan Imam Ali as dan Mu’awiyah, Imam Ali as menunjuk Malik al-Asytar sebagai gubernur Mesir yang baru agar dapat menertibkan wilayah tersebut. Namun dalam perjalanan menuju Mesir pada tahun 38/39 H (658-659 M), Malik diracuni oleh agen-agen Mu’awiyah yang bersikeras mencegahnya mencapai posisi itu.
Setelah menyadari dirinya telah diracun, Malik al-Asytar menerima kematian dengan penuh ketabahan. Ia mengangkat tangannya ke perutnya dan mengucapkan kalimat “Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un” — pengakuan bahwa ia kembali kepada Sang Pencipta — sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Kabar kesyahidan Malik membawa duka mendalam, terutama bagi Imam Ali as yang sangat mencintai dan mengagumi kepribadian Malik. Menurut catatan sejarah, Ali as sampai menangis untuk pemergian sahabat kesayangannya ini, menandakan besarnya kehilangan yang dirasakan oleh komunitas Muslim saat itu.
Warisan dan Teladan Abadi
Malik al-Asytar menjadi simbol dari beberapa kualitas luhur yang sangat dihargai dalam tradisi Syiah dan Islam pada umumnya:
- Kesetiaan yang tak tergoyahkan, terutama kepada Imam Ali as dan prinsip-prinsip keadilan.
- Keberanian dalam menghadapi musuh, baik secara fisik di medan perang maupun dalam menghadapi tekanan politik.
- Keteguhan moral dan integritas pemimpin, yang tercermin dari surat Imam Ali as kepada dirinya — sebuah panduan etika pemerintahan yang terus relevan sampai hari ini.
Anak dan keturunannya juga melanjutkan budaya perjuangan, seperti Ibrahim bin Malik al-Asytar, yang kemudian menjadi tokoh di kalangan pejuang yang mengangkat isu keadilan setelah tragedi Karbala.
Kesimpulan
Malik al-Asytar bukan sekadar sosok militer yang berani, melainkan juga contoh teladan dalam kesetiaan, integritas, dan keadilan. Ia adalah cermin dari pemimpin sejati yang menempatkan prinsip keadilan di atas kenyamanan pribadi, bahkan sampai titik pengorbanan tertinggi dalam hidupnya. Dalam tradisi Syiah, perjuangan Malik dipandang sebagai bagian dari narasi yang lebih luas tentang penegakan kebenaran melawan ketidakadilan — sebuah pesan yang terus menginspirasi umat hingga kini.
Disarikan dari artikel di Wikishia tentang Biografi Malik al-Asytar