Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Pidato Rasulullah Saw tentang Kematian Seorang Mukmin dan Pecinta Dunia

Kematian adalah kepastian yang paling dekat, namun paling sering diingkari. Ia tidak menunggu kesiapan, tidak menunda karena kekuasaan, dan tidak terhalang oleh kekayaan. Dalam sebuah pidato yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin as, Rasulullah saw mengingatkan umatnya dengan peringatan yang diulang dua kali—seakan ingin mengguncang kelalaian manusia:

“Wahai manusia, waspadailah kematian, waspadailah kematian. Bergegaslah, bergegaslah. Sungguh tidak ada lagi kesempatan untuk kembali—apakah menuju kebahagiaan atau kesengsaraan.”

Pengulangan ini bukan retorika kosong. Ia adalah alarm ruhani. Rasulullah saw ingin menanamkan kesadaran bahwa kematian bukan akhir, melainkan pintu. Pintu itu terbuka menuju dua arah: kebahagiaan abadi atau kesengsaraan tanpa akhir.

Kematian: Berkah bagi Ahli Akhirat, Celaka bagi Ahli Dunia

Dalam riwayat lain yang tercantum dalam al-Kāfī, Rasulullah saw menjelaskan dengan lebih terang:

“Kematian datang membawa kemudahan, kelapangan, dan kepulangan yang penuh berkah ke surga yang tinggi bagi ahli akhirat, yang usaha dan hasrat mereka tertuju kepadanya. Sementara kematian datang membawa kesengsaraan, penyesalan, dan kepulangan yang merugi menuju neraka yang sangat panas bagi ahli dunia, yang usaha dan hasrat mereka hanya tertuju padanya.”

Di sini garis pemisah ditegaskan. Dunia bukan tercela karena keberadaannya, tetapi karena ketika ia menjadi tujuan akhir. Ahli akhirat memanfaatkan dunia sebagai ladang; ahli dunia menjadikannya sebagai rumah terakhir. Perbedaan orientasi inilah yang menentukan makna kematian.

Bagi Mukmin sejati, kematian adalah kepulangan. Bagi pecinta dunia, kematian adalah perampasan.

Manusia Dua Wajah dan Kehinaan Moral

Dalam pidato yang sama, Rasulullah saw mengungkapkan ciri-ciri hamba yang paling buruk. Salah satunya adalah manusia dua wajah—yang datang dengan satu wajah dan pergi dengan wajah lain. Ia tersenyum di hadapan saudaranya, tetapi menyimpan dengki di balik punggungnya. Ia iri ketika saudaranya mendapat nikmat dan berpaling ketika saudaranya tertimpa musibah.

Inilah kemunafikan sosial yang merusak ukhuwah. Penyakit ini lahir dari hati yang terpaut pada dunia dan terobsesi pada kepentingan diri.

Rasulullah saw juga mengingatkan dengan kalimat yang menggugah kesadaran eksistensial:

“Seburuk-buruk hamba adalah yang awalnya sperma lalu menjadi bangkai, namun tidak tahu apa yang harus ia lakukan di antara keduanya.”

Kalimat ini adalah kritik terhadap manusia yang lalai dari tujuan penciptaannya. Ia tahu dari mana ia berasal dan ke mana ia akan kembali, tetapi lupa untuk bertanya: apa yang harus ia lakukan di antara dua titik itu?

Islam Ahlulbait menekankan bahwa hidup bukan sekadar bertahan, tetapi mengabdi. Dunia bukan tempat bersantai, tetapi medan ujian.

Dunia yang Melalaikan dan Nafsu yang Menyesatkan

Rasulullah saw melanjutkan:

“Seburuk-buruk hamba adalah yang diciptakan untuk beribadah, namun dunia melalaikannya dari akhirat hingga ia binasa dengan mencintai dunia dan sengsara di akhirat.”

Kecintaan pada dunia tidak selalu tampak dalam kemewahan. Ia bisa hadir dalam ambisi kekuasaan, kesombongan intelektual, atau ketamakan yang tak pernah kenyang. Rasulullah saw menyebut pula sifat sombong, sewenang-wenang, menyimpang dari kebenaran, serta dituntun oleh hawa nafsu sebagai tanda kehinaan hamba.

Ketika hawa nafsu menjadi pemimpin, akal menjadi tawanan. Ketika ketamakan menjadi jalan, manusia terjerumus dari satu kerakusan ke kerakusan lain.

Ajal dan Angan-angan

Salah satu sabda paling dalam dari pidato ini adalah gambaran tentang posisi ajal dan angan-angan:

“Jika seorang hamba berhak atas kepemimpinan Allah dan kebahagiaan, maka ajal berada di antara kedua matanya dan angan-angan di belakang punggungnya. Namun jika ia berhak atas kepemimpinan setan dan kesengsaraan, maka angan-angan berada di antara kedua matanya dan ajal di belakang punggungnya.”

Ajal di depan mata berarti kesadaran akan kematian selalu hadir dalam pandangan hidupnya. Ia hidup dengan visi akhirat. Sementara orang yang diperbudak angan-angan, hidup dalam ilusi panjang umur dan proyek tanpa akhir. Ia membangun rencana tanpa memikirkan kepulangan.

Mukmin Paling Berakal

Ketika Rasulullah saw ditanya, “Orang Mukmin manakah yang paling berakal?” beliau menjawab:

“Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling keras mempersiapkan diri menghadapinya.”

Akal dalam Islam bukan sekadar kecerdasan logis, tetapi kesadaran eksistensial. Orang yang paling cerdas adalah yang paling sadar akan kepulangan. Ia tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Ia menimbang setiap langkah dengan timbangan akhirat.


Penutup: Kesadaran yang Menghidupkan

Hadis ini, sebagaimana diriwayatkan dalam al-Kāfī dengan beberapa sanad, bukan sekadar nasihat individual, tetapi peta peradaban. Masyarakat yang melupakan kematian akan tenggelam dalam kerakusan. Individu yang melupakan akhirat akan mudah tergelincir pada kemunafikan dan kesombongan.

Dalam tradisi Ahlulbait as, mengingat mati bukanlah simbol ketakutan, tetapi sumber keberanian. Ia membebaskan manusia dari ketergantungan pada dunia dan dari ketundukan kepada kekuasaan zalim.

Sebab pada akhirnya, semua kepemimpinan dunia akan runtuh. Yang tersisa hanyalah kepemimpinan Allah—dan nasib jiwa yang kembali kepada-Nya.


Dielaborasi dari kitab Madinah Balaghah

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT