Dalam khazanah hadis Ahlulbait as, terdapat nasihat-nasihat Rasulullah saw yang begitu tajam dan menyentuh inti kehidupan ruhani manusia. Nasihat itu bukan sekadar petuah moral, melainkan peta keselamatan bagi hati—pusat kesadaran iman dan takwa. Di antara sabda beliau yang diriwayatkan melalui jalur para Imam suci as, terdapat keterangan tentang empat perkara yang menjadi sebab keselamatan, sekaligus peringatan tentang empat perkara yang merusak hati.
Empat Perkara yang Mengantarkan ke Surga
Ash-Shadiq meriwayatkan di dalam kitab al-Khishal dengan sanad yang dipercaya dari Abu Abdillah as yang berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda:
“Siapa saja dari umatku yang selamat dari empat perkara berikut maka dia berhak mendapat surga: selamat dari masuk ke dalam dunia, selamat dari mengikuti hawa nafsu, selamat dari syahwat perut, dan selamat dari syahwat kemaluan.”
Sabda ini menegaskan bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia terkait langsung dengan kemampuan manusia menjaga dirinya dari keterikatan berlebihan pada dunia, dari dominasi hawa nafsu, serta dari dua syahwat yang paling kuat mengikat manusia: perut dan kemaluan. Dunia yang dimaksud bukanlah sekadar kehidupan material, melainkan kecenderungan hati yang tenggelam dan terbelenggu olehnya. Hawa nafsu adalah dorongan liar yang jika tak dikendalikan akan menyeret manusia kepada kebinasaan.
Rasulullah saw melanjutkan sabdanya:
“Siapa saja dari kaum wanita umatku yang selamat pada empat perkara berikut maka dia berhak mendapat surga: menjaga kemaluan yang ada di antara kedua kakinya, menaati suaminya, salat lima waktu, dan puasa di bulan Ramadhan.”
Di sini, Rasulullah saw memberikan tuntunan yang jelas tentang fondasi keselamatan bagi kaum wanita: penjagaan kehormatan, ketaatan dalam rumah tangga, serta pemeliharaan ibadah pokok seperti salat dan puasa. Semua itu merupakan bentuk penghambaan yang menghadirkan ketundukan kepada Allah Swt dalam dimensi pribadi maupun sosial.
Empat Perkara yang Merusak Hati
Rasulullah saw juga bersabda:
“Ada empat perkara yang merusak hati: berduaan dengan wanita, mendengarkan suara mereka, mengambil pendapat mereka, dan duduk bersama orang mati.”
Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan duduk bersama orang mati?”
Beliau menjawab:
“Duduk bersama orang yang sesat dari iman dan sewenang-wenang dalam hukum.”
Penjelasan ini menunjukkan bahwa kerusakan hati bukan hanya disebabkan oleh perbuatan lahiriah, tetapi juga oleh pergaulan dan kecenderungan batin. Duduk bersama “orang mati” bukanlah sekadar duduk dengan jasad tak bernyawa, melainkan bergaul dengan orang yang mati hatinya—yang menyimpang dari iman dan berlaku zalim dalam hukum. Hati manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan teman duduknya.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thusi secara bersanad dalam kitab al-Majalis.
Luasnya Rahmat Allah dalam Catatan Amal
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda:
“Empat perkara yang jika keempat perkara itu ada pada diri seseorang niscaya dia tidak akan binasa kecuali orang yang binasa: Jika seorang hamba berniat melakukan kebaikan namun dia tidak melakukannya maka Allah tuliskan baginya satu kebaikan karena niat baiknya. Namun jika dia melakukannya maka Allah tuliskan baginya sepuluh kebaikan. Jika seorang hamba berniat melakukan keburukan namun dia tidak melakukannya maka tidak dituliskan keburukan baginya. Namun jika dia melakukannya maka dia diberi waktu tujuh jam.”
Dalam riwayat itu disebutkan bahwa malaikat pencatat kebaikan berkata kepada malaikat pencatat keburukan—yang berada di sebelah kiri:
“Jangan tergesa-gesa mencatatnya. Mungkin saja dia akan menyusul keburukan itu dengan kebaikan yang dapat menghapusnya karena Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Sesungguhnya kebaikan dapat menghapus keburukan,’ atau dia ber-istighfar.”
Jika hamba itu berkata:
“Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat Yang tiada tuhan kecuali Dia, Yang Maha Mengetahui sesuatu yang gaib dan yang tampak, Yang Maha Perkasa, Mahabijaksana, Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Aku bertobat kepada-Nya,”
maka malaikat tidak mencatat keburukannya.
Namun jika telah berlalu tujuh jam dan dia tidak menyusulnya dengan kebaikan atau istighfar, maka malaikat pencatat kebaikan berkata kepada malaikat pencatat keburukan:
“Tuliskanlah keburukan itu bagi hamba celaka ini.”
Hadis ini diriwayatkan dalam al-Kafi melalui sanad sahih dari Fudhail bin Usman, dari ash-Shadiq as, bahwa Rasulullah saw telah bersabda demikian. Riwayat ini juga datang dalam bentuk redaksi lain.
Ath-Thusi meriwayatkan dalam al-Majalis dengan sanad dari Ja‘far bin Muhammad as, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Malaikat sebelah kanan adalah pemimpin malaikat sebelah kiri. Jika seorang hamba melakukan keburukan maka malaikat sebelah kanan berkata kepada malaikat sebelah kiri, ‘Jangan tergesa-gesa mencatatnya. Tangguhkan hingga tujuh jam. Jika sudah berlalu tujuh jam namun dia tidak ber-istighfar maka malaikat sebelah kanan berkata kepada malaikat sebelah kiri, ‘Tuliskanlah keburukan itu. Betapa sedikitnya rasa malu yang dimiliki hamba ini.’”
Hadis-hadis dengan kandungan seperti ini sangat banyak.
Dosa dan Istighfar
Diriwayatkan dalam kitab al-Jafariyyat dengan sanad dari Amirulmukminin as bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya dosa akan mengkhianati dan membakar pelakunya, dan tidak ada yang dapat memadamkannya kecuali istighfar.”
Rasulullah saw juga bersabda:
“Siapa yang pada dirinya ada empat perkara berikut niscaya dia masuk surga: orang yang penjagaannya adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah; orang yang jika diberi satu nikmat mengucapkan alhamdulillah; orang yang jika melakukan dosa dengan segera mengucapkan astaghfirullah; dan orang yang jika ditimpa musibah mengucapkan inna lillahi wa inna ilayhi raji‘un.”
Dalam riwayat kitab Lubb al-Lubab, Nabi saw bersabda:
“Maukah kalian aku beritahu obat penyakit kalian? Penyakit kalian adalah dosa dan obatnya adalah istighfar.”
Beliau juga bersabda:
“Cepatlah beristighfar setelah melakukan dosa lebih cepat dari kedipan mata. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan berinfak. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan menahan amarah. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan memaafkan orang lain. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan berbuat baik kepada orang lain. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan tidak terus-menerus melakukan dosa. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan harapan. Karena itu, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
Banyak sekali hadis-hadis yang mendorong manusia untuk beristighfar dan berbicara tentang keutamaannya.
Penutup
Rangkaian sabda Rasulullah saw ini menggambarkan dengan jelas bahwa keselamatan hati dan keselamatan akhirat bertumpu pada pengendalian diri, penjagaan kehormatan, pengelolaan niat, serta kesadaran untuk segera kembali kepada Allah melalui istighfar. Hati dapat rusak oleh pergaulan yang salah dan kecenderungan yang tak terkontrol. Namun hati juga dapat diselamatkan oleh niat yang tulus, kebaikan yang disegerakan, dan taubat yang tidak ditunda.
Dalam ajaran Ahlulbait as, rahmat Allah selalu didahulukan atas murka-Nya. Bahkan setelah dosa dilakukan, pintu ampunan masih terbuka. Tujuh jam penangguhan adalah simbol keluasan rahmat Ilahi dan kesempatan yang diberikan kepada manusia untuk kembali.
Karena itu, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Penyakit kita adalah dosa, dan obatnya adalah istighfar. Siapa yang menjaga lisannya dengan syahadat, mensyukuri nikmat dengan alhamdulillah, menyucikan dosa dengan astaghfirullah, dan menerima musibah dengan inna lillahi wa inna ilayhi raji‘un, maka baginya janji surga sebagaimana sabda Rasulullah saw.
Semoga hati kita diselamatkan dari empat perkara yang merusaknya dan dihiasi dengan empat perkara yang mengantarkannya menuju surga.