
Di antara mutiara hikmah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad saw kepada umatnya adalah wasiat-wasiat mendalam yang beliau sampaikan kepada dua sahabat agung: Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi. Keduanya bukan sekadar sahabat biasa. Abu Dzar dikenal sebagai simbol keberanian melawan tirani dan ketamakan kekuasaan, sementara Salman adalah representasi pencari kebenaran yang setia hingga mencapai puncak ma’rifat dan wilayah.
Riwayat-riwayat tentang pesan Rasulullah saw kepada keduanya tersebar dalam berbagai kitab, di antaranya Majma’ az-Zawa’id, al-Mahasin, al-Majalis karya Syaikh ath-Thusi, serta karya-karya lain dalam khazanah hadis Ahlulbait as. Wasiat-wasiat ini bukan sekadar nasihat moral individual, melainkan peta jalan spiritual dan sosial bagi setiap mukmin yang ingin berjalan di atas shirathal mustaqim.
Tujuh Wasiat Pokok: Fondasi Jiwa yang Merdeka
Dalam satu riwayat, Abu Dzar berkata bahwa Rasulullah saw berpesan kepadanya tujuh hal yang menjadi prinsip hidupnya.
Pertama, agar ia melihat kepada orang yang berada di bawahnya dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasnya. Ini adalah fondasi syukur dan pembebasan jiwa dari penyakit iri. Dalam masyarakat yang terobsesi pada status dan pencitraan, wasiat ini adalah revolusi batin: jangan menjadikan kemewahan sebagai ukuran keberhasilan.
Kedua, mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka. Bukan sekadar memberi, tetapi bergaul, duduk bersama, menjenguk ketika sakit, dan menyalati ketika wafat. Islam yang dibawa Rasulullah saw adalah Islam yang membela mustadh’afin, bukan agama yang berjarak dari penderitaan rakyat.
Ketiga, mengatakan kebenaran meskipun pahit. Inilah karakter Abu Dzar yang membuatnya diasingkan ke Rabadzah. Kebenaran seringkali berat dan tidak populer, tetapi di situlah kemuliaan seorang mukmin.
Keempat, menyambung silaturahmi meskipun kerabat membelakangi. Islam tidak mengajarkan relasi transaksional. Ia menuntut keluhuran akhlak, bahkan kepada yang menyakiti.
Kelima, tidak takut pada celaan orang yang mencela di jalan Allah. Seorang pejuang kebenaran tak boleh tunduk pada opini publik yang dimanipulasi.
Keenam, tidak meminta-minta kepada manusia. Kemuliaan seorang mukmin terletak pada izzah dan ketergantungannya hanya kepada Allah.
Ketujuh, memperbanyak ucapan la hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim, karena ia adalah perbendaharaan surga. Kalimat ini adalah deklarasi tauhid dalam bentuk ketundukan total: tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung.
Tauhid dan Wilayah: Poros Keselamatan
Dalam wasiat panjangnya kepada Abu Dzar, Rasulullah saw menegaskan fondasi ibadah adalah ma’rifat kepada Allah: Dia Yang Awal tanpa permulaan, Yang Esa tanpa sekutu, Yang Kekal tanpa akhir. Tauhid bukan sekadar konsep teologis, melainkan kesadaran eksistensial yang membebaskan manusia dari penyembahan terhadap dunia, harta, dan kekuasaan.
Setelah tauhid, beliau menegaskan iman kepada risalahnya dan cinta kepada Ahlulbait as—keluarga suci yang telah Allah sucikan dengan sesuci-sucinya. Rasulullah saw menyamakan Ahlulbait dengan bahtera Nabi Nuh: siapa yang menaikinya selamat, siapa yang berpaling akan tenggelam. Juga seperti pintu pengampunan Bani Israil: siapa yang memasukinya akan selamat.
Pesan ini bukan simbolik belaka. Ia adalah penegasan bahwa keselamatan umat terletak pada keterikatan dengan garis wilayah Ahlulbait as—wilayah yang menjaga agama dari distorsi kekuasaan dan hawa nafsu.
Kesadaran Akhirat: Mematahkan Panjang Angan-Angan
Rasulullah saw berulang kali mengingatkan Abu Dzar tentang kematian dan kefanaan dunia. “Hiduplah di dunia seperti orang asing atau pengembara,” sabda beliau. Dunia adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir.
Beliau mengingatkan agar memanfaatkan lima sebelum lima: masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati. Wasiat ini adalah tamparan bagi budaya menunda kebaikan.
Beliau juga menegaskan bahwa dua nikmat sering dilupakan: kesehatan dan waktu luang. Dalam konteks zaman kini—di mana distraksi digital menyita hari-hari kita—pesan ini semakin relevan. Waktu adalah ladang akhirat. Siapa yang menanam kebaikan, ia akan menuai kebahagiaan; siapa yang menanam keburukan, ia akan memetik penyesalan.
Ilmu dan Tanggung Jawab Moral
Rasulullah saw memperingatkan tentang bahaya ilmu tanpa amal. Orang yang mengajarkan kebaikan tetapi tidak mengamalkannya akan menjadi penghuni neraka, meskipun ilmunya menjadi sebab orang lain masuk surga. Ilmu bukan alat pencitraan, bukan sarana mencari pengaruh dan kekaguman.
Beliau mengajarkan kerendahan hati ilmiah: jika tidak tahu, katakan “aku tidak tahu.” Fatwa tanpa ilmu adalah jalan menuju kebinasaan.
Dalam satu perumpamaan yang keras, beliau menyebut bahwa jika “garam” rusak, maka tak ada lagi obat. Ulama yang rusak merusak masyarakat. Maka integritas ilmiah dan ketakwaan adalah harga mati.
Zuhud dan Perlawanan terhadap Dunia
Rasulullah saw menegaskan bahwa cinta harta dan kedudukan lebih cepat menghancurkan agama daripada serigala yang menerkam kambing. Dunia terkutuk kecuali yang digunakan untuk mencari ridha Allah.
Namun zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, melainkan menempatkannya di tangan, bukan di hati. Orang yang zuhud adalah yang tidak melupakan kematian, tidak menganggap esok pasti miliknya, dan lebih memilih yang kekal daripada yang fana.
Beliau bahkan menyebut bahwa orang-orang mukmin yang miskin akan lebih dahulu masuk surga, karena mereka tidak dibebani hisab panjang tentang harta.
Zuhud adalah sikap ideologis: menolak tunduk pada sistem yang menjadikan materi sebagai tuhan.
Salat, Tangis, dan Kedekatan dengan Allah
Rasulullah saw menjadikan salat sebagai penyejuk matanya. Dalam salat, seorang mukmin mengetuk pintu Raja Diraja. Selama ia mengetuk, pintu akan dibukakan.
Beliau mengajarkan keutamaan salat sunah dalam kesendirian, sujud sebagai bentuk kedekatan tertinggi, dan zikir perlahan (khafiyy) yang lahir dari hati yang sadar.
Tangisan karena takut kepada Allah memiliki kedudukan istimewa. Orang yang banyak menangis karena kesadaran akan dosa dan kebesaran Allah akan dibangunkan istana khusus di surga.
Sebaliknya, hati yang keras jauh dari Allah meski tidak menyadarinya.
Muhasabah dan Rasa Malu kepada Allah
“Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab,” sabda beliau. Muhasabah adalah revolusi batin yang melahirkan masyarakat adil. Tanpa evaluasi diri, manusia mudah terjerumus dalam kemunafikan.
Rasulullah saw bahkan mencontohkan rasa malu kepada Allah hingga dalam perkara paling pribadi. Rasa malu ini bukan kepura-puraan sosial, tetapi kesadaran akan pengawasan Ilahi.
Beliau juga mengingatkan agar niat meliputi seluruh aktivitas, bahkan tidur dan makan. Islam adalah proyek total: seluruh hidup harus terhubung dengan Allah.
Kebenaran Itu Berat
“Kebenaran itu berat dan pahit, sedangkan kebatilan itu ringan dan manis.” Pesan ini adalah cermin zaman. Kebatilan sering dibungkus indah dan mudah diterima. Kebenaran sering sepi dan menyakitkan.
Namun jalan para nabi dan Ahlulbait as adalah jalan yang berat itu. Abu Dzar memilih kebenaran meski harus hidup dalam pengasingan. Salman memilih kesetiaan pada wilayah meski harus menanggalkan identitas lama.
Penutup: Wasiat yang Menjadi Jalan Keselamatan
Wasiat-wasiat Rasulullah saw kepada Abu Dzar dan Salman bukan sekadar nasihat personal. Ia adalah manifesto perlawanan terhadap dunia yang menipu, terhadap ilmu tanpa amal, terhadap kekuasaan tanpa keadilan, dan terhadap ibadah tanpa kesadaran.
Di dalamnya terdapat fondasi tauhid, wilayah Ahlulbait, kesadaran akhirat, keberanian moral, dan kepekaan sosial.
Jika umat ingin bangkit dari kehinaan, maka jalan itu telah digariskan: mencintai kebenaran meski pahit, membela kaum tertindas, memurnikan niat, memperdalam ma’rifat, dan mengikatkan diri pada bahtera keselamatan Ahlulbait as.
Sebagaimana sabda beliau kepada Abu Dzar: jagalah wasiat ini, niscaya engkau menjadi orang yang berbahagia di dunia dan akhirat.
Semoga kita termasuk yang mampu menjaga wasiat langit itu—bukan sekadar membacanya, tetapi menghidupkannya dalam diri dan masyarakat.