Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Ali Larijani Ingatkan Dunia: Ada Rencana Serangan Bergaya 9/11 untuk Menyudutkan Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Republik Islam Iran dan poros Amerika–Israel, sebuah peringatan keras datang dari Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Ia mengungkap adanya informasi mengenai rencana operasi “false flag” yang diduga dirancang untuk menciptakan insiden teror berskala besar—mirip dengan peristiwa 11 September—yang kemudian akan disalahkan kepada Iran.

Pernyataan tersebut tidak sekadar peringatan keamanan biasa. Ia membuka kembali perdebatan panjang mengenai bagaimana narasi terorisme sering digunakan sebagai instrumen geopolitik untuk membangun legitimasi perang, intervensi, dan tekanan internasional terhadap negara-negara yang menolak dominasi Barat.

Melalui sebuah unggahan di akun X miliknya pada hari Minggu, Larijani menegaskan kembali posisi prinsipil Republik Islam Iran terhadap terorisme. Menurutnya, Iran secara ideologis dan politik menolak segala bentuk operasi teror, terlebih yang dirancang untuk manipulasi politik global.

“Iran secara fundamental menentang program-program teror semacam itu dan tidak memiliki perang dengan rakyat Amerika,” tegas Larijani.

Pernyataan ini penting karena sejak awal Revolusi Islam 1979, Republik Islam selalu membedakan antara pemerintah Amerika Serikat dan rakyatnya. Kritik Tehran tidak diarahkan kepada masyarakat Amerika, melainkan kepada kebijakan hegemonik Washington dan sekutunya yang selama puluhan tahun melakukan tekanan militer, ekonomi, dan propaganda terhadap Iran.

Larijani juga mengungkap informasi yang cukup mengejutkan. Ia menyebut adanya dugaan bahwa sisa-sisa jaringan yang ia sebut sebagai “tim Epstein” tengah merancang sebuah skenario untuk menciptakan insiden besar yang kemudian dapat dijadikan alasan untuk menyalahkan Iran.

Walaupun detail mengenai jaringan ini tidak dijelaskan secara rinci, pernyataan tersebut mengisyaratkan adanya operasi manipulatif yang melibatkan aktor-aktor dalam lingkaran elite Barat. Dalam konteks sejarah modern, operasi semacam ini bukanlah hal yang sepenuhnya asing. Sejumlah operasi intelijen di berbagai belahan dunia pernah menggunakan skenario provokasi atau manipulasi untuk membenarkan tindakan militer.

Karena itu, peringatan Larijani bukan hanya pesan kepada Iran, tetapi juga kepada komunitas internasional agar lebih kritis terhadap narasi yang sering muncul secara tiba-tiba untuk membenarkan eskalasi konflik.

Iran dalam Posisi Bertahan

Dalam pernyataannya, Larijani menekankan bahwa Iran saat ini berada dalam posisi defensif. Republik Islam tidak mencari perang, tetapi tidak akan ragu untuk mempertahankan kedaulatannya apabila diserang.

Ia menegaskan bahwa setiap agresi terhadap Iran akan dihadapi dengan respons yang kuat dan tegas.

“Hari ini, berdasarkan agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, negara ini berada dalam posisi pertahanan. Tentu saja dalam pertahanan ini Iran sangat kuat dan tegas dalam menghukum para agresor,” ujar Larijani.

Penegasan ini sejalan dengan doktrin keamanan Republik Islam yang sejak lama menekankan konsep defensive deterrence—pertahanan yang kuat untuk mencegah agresi. Berbeda dengan strategi militer negara-negara imperialis yang membangun pangkalan militer di berbagai belahan dunia, Iran mengembangkan kemampuan pertahanan yang berfokus pada perlindungan wilayahnya sendiri.

Dalam beberapa dekade terakhir, Iran mengembangkan sistem rudal, drone, dan kemampuan pertahanan regional yang dirancang untuk menciptakan keseimbangan strategis terhadap kekuatan militer Amerika dan Israel.

Eskalasi Setelah Serangan Besar

Ketegangan terbaru bermula setelah Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran. Serangan tersebut dilakukan setelah terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari.

Serangan itu melibatkan gelombang serangan udara yang menargetkan berbagai lokasi militer maupun sipil di Iran. Infrastruktur strategis mengalami kerusakan signifikan dan sejumlah korban jiwa dilaporkan jatuh dalam serangan tersebut.

Bagi Iran, serangan ini dipandang sebagai agresi langsung terhadap kedaulatan negara. Oleh karena itu, respons militer menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan.

Angkatan Bersenjata Iran kemudian melancarkan operasi balasan yang menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan Palestina serta berbagai pangkalan militer di kawasan.

Serangan balasan tersebut dilakukan melalui gelombang rudal dan drone yang diarahkan ke berbagai target strategis. Operasi ini menegaskan bahwa Iran memiliki kemampuan militer yang mampu menjangkau kepentingan Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Politik Narasi dan Legitimasi Perang

Peringatan Larijani mengenai kemungkinan skenario “9/11 baru” juga membuka dimensi lain dari konflik ini: perang narasi.

Sejarah menunjukkan bahwa legitimasi perang sering kali dibangun melalui peristiwa dramatis yang mengguncang opini publik. Peristiwa 11 September 2001, misalnya, menjadi dasar bagi Amerika Serikat untuk melancarkan perang global melawan terorisme yang kemudian berujung pada invasi Afghanistan dan Irak.

Dalam banyak analisis geopolitik, peristiwa semacam itu sering digunakan untuk menciptakan momentum psikologis yang membuat masyarakat menerima kebijakan perang yang sebelumnya sulit dibenarkan.

Karena itu, peringatan dari Larijani dapat dibaca sebagai upaya pencegahan terhadap kemungkinan manipulasi narasi global yang bertujuan menjadikan Iran sebagai kambing hitam dalam konflik yang lebih luas.

Pesan kepada Dunia

Di balik pernyataan kerasnya, Larijani juga menyampaikan pesan yang cukup jelas: Iran tidak menginginkan konflik dengan rakyat Amerika.

Pesan ini penting untuk menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukanlah konflik antarbangsa, melainkan konflik antara proyek hegemoni global dengan negara yang menolak tunduk pada dominasi tersebut.

Republik Islam Iran sejak awal berdiri menempatkan dirinya sebagai bagian dari poros perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme modern. Karena itu, setiap upaya untuk menggambarkan Iran sebagai ancaman global sering kali dipandang oleh Tehran sebagai bagian dari strategi propaganda yang lebih besar.

Dengan memperingatkan dunia tentang kemungkinan operasi manipulatif, Iran pada dasarnya sedang mencoba mengubah medan konflik dari sekadar konfrontasi militer menjadi juga pertarungan kesadaran politik.

Pertanyaannya kini bukan hanya apakah konflik akan meluas, tetapi juga apakah komunitas internasional akan cukup kritis untuk membaca berbagai narasi yang muncul di tengah eskalasi ini.

Jika sejarah mengajarkan sesuatu, maka itu adalah bahwa perang sering dimulai bukan hanya oleh senjata, tetapi juga oleh cerita yang sengaja dibangun untuk membenarkannya. Dan dalam cerita itulah, sering kali kebenaran menjadi korban pertama. (Tasnemnews)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT