Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Fatwa Global Ulama: Membela Iran sebagai Manifestasi Iman

Di tengah dunia yang dipenuhi manipulasi narasi dan dominasi kekuatan besar, umat Islam kembali dihadapkan pada ujian sejarah: apakah akan berdiri di barisan keadilan, atau larut dalam diam yang mematikan nurani?

Pernyataan bersama ratusan ulama dunia Islam yang mengecam agresi Amerika–Zionis terhadap Republik Islam Iran bukan sekadar respons situasional. Ia merupakan penegasan ulang posisi Islam sebagai agama perlawanan terhadap kezaliman, sekaligus pengingat bahwa iman tidak pernah netral ketika darah kaum tertindas ditumpahkan.


Iran: Lebih dari Sekadar Negara

Bagi mereka yang melihat dunia hanya melalui lensa geopolitik, Iran mungkin sekadar negara dengan kepentingan nasional. Namun bagi para ulama dan kaum beriman yang memiliki bashirah (ketajaman spiritual), Iran adalah entitas yang jauh lebih besar.

Iran adalah:

  • Benteng perlawanan terhadap hegemoni global
  • Manifestasi praktis dari konsep wilayah dan kepemimpinan Islam
  • Representasi keberanian untuk mengatakan “tidak” kepada kekuatan adidaya

Sejak kemenangan Revolusi Islam 1979, Iran telah mengubah peta kesadaran umat. Ia menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi juga kekuatan politik yang mampu menumbangkan tirani. Maka tidak mengherankan jika Iran menjadi target utama proyek imperialisme modern.

Dalam konteks ini, agresi terhadap Iran bukan konflik biasa—melainkan upaya sistematis untuk mematahkan tulang punggung perlawanan umat Islam.


Dari Najaf ke Nusantara: Konsensus Ulama Global

Salah satu aspek paling signifikan dari pernyataan ini adalah luasnya representasi ulama yang terlibat. Dari hauzah-hauzah besar di Qom dan Najaf hingga komunitas Syiah di Afrika dan Asia Tenggara, suara yang muncul seragam: menolak kezaliman dan membela Iran.

Kehadiran ulama Indonesia dalam daftar penandatangan menjadi bukti bahwa semangat perlawanan telah berakar hingga Nusantara. Di antaranya:

  • Sayyid Husain Shahab (Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia)
  • Sayyid Zahir Yahya (Ketua Umum DPP Ahlulbait Indonesia)
  • Segenap Asatidz dan Pengurus Ormas Ahlulbait, para pengajar dan pengelola hauzah seperti Hauzah Imam Shadiq, Shadiqah Zahra, dan Darut Taqrib

Kehadiran mereka menegaskan bahwa Indonesia bukan pinggiran dalam peta kesadaran umat, melainkan bagian aktif dari arus besar perjuangan global.

Ini sekaligus membantah narasi bahwa isu Iran hanyalah isu “Timur Tengah”. Sebaliknya, ini adalah isu umat—dari Qom hingga Jakarta.


Fatwa yang Mengguncang: Tidak Ada Ruang untuk Netralitas

Pernyataan ini disampaikan dengan bahasa yang tegas, lugas, dan tanpa kompromi.

1. Membela Iran adalah Kewajiban Syar’i

Dalam Islam, umat adalah satu tubuh. Ketika satu bagian terluka, seluruh tubuh merasakannya. Dengan logika ini, agresi terhadap Iran bukan hanya masalah Iran—tetapi masalah seluruh umat.

Maka, membela Iran bukan pilihan, melainkan kewajiban agama.

2. Diam adalah Bentuk Pengkhianatan

Pesan paling keras dalam dokumen ini adalah bahwa diam terhadap kezaliman bukanlah sikap netral. Ia adalah keberpihakan yang tersembunyi.

Dalam perspektif Al-Qur’an, membantu kezaliman tidak selalu berarti mengangkat senjata. Diam, membiarkan, atau tidak peduli dapat termasuk dalam:
“ta’awun ‘ala al-itsm wal-‘udwan” (kerja sama dalam dosa dan permusuhan).

Umat Islam ditantang untuk keluar dari zona nyaman dan mengambil posisi yang jelas.

3. Kolaborasi dengan Musuh adalah Haram Mutlak

Para ulama menegaskan bahwa segala bentuk kerja sama dengan agresor—baik politik, militer, maupun logistik—adalah haram.

Negara yang:

  • Membuka wilayah udara
  • Menyediakan pangkalan
  • Memberikan dukungan informasi

dianggap:

  • Berkhianat terhadap umat
  • Turut serta dalam penumpahan darah kaum Muslimin
  • Melanggar prinsip nafy al-sabil (tidak memberi jalan bagi dominasi kafir atas Muslim)

Ini merupakan peringatan keras terhadap rezim yang mengedepankan pragmatisme politik di atas prinsip Islam.


Perang yang Lebih Besar: Narasi dan Kesadaran

Para ulama memahami bahwa perang modern tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di ranah informasi dan kesadaran.

Musuh menyerang melalui:

  • Media
  • Disinformasi
  • Framing ideologis
  • Upaya memecah belah umat

Karena itu, umat Islam dituntut memiliki kesadaran kritis—mampu membedakan antara fakta dan propaganda, antara perlawanan dan terorisme, antara kebenaran dan manipulasi.

Inilah bentuk jihad intelektual: melawan kebodohan dan penyesatan.


Persatuan: Jalan Satu-Satunya

Persatuan ulama dari berbagai mazhab dan negara dalam pernyataan ini mengirim pesan kuat: persatuan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan historis.

Selama umat terpecah:

  • Mereka akan terus menjadi objek permainan global
  • Konflik internal dimanfaatkan oleh musuh
  • Potensi umat terbuang sia-sia

Sebaliknya, ketika umat bersatu di atas prinsip keadilan, mereka dapat menjadi kekuatan yang menentukan arah sejarah.


Optimisme Ilahiah: Janji yang Tak Pernah Ingkar

Di tengah tekanan, para ulama menutup pernyataan dengan keyakinan kokoh:
Allah pasti menolong orang-orang yang menolong agama-Nya.

Sejarah Islam—dari Karbala hingga Revolusi Islam—menunjukkan bahwa kebenaran mungkin tidak selalu menang cepat, tetapi tidak pernah kalah secara hakiki.

Dalam perspektif ini, Iran bukan sekadar bertahan. Ia sedang menjalankan sunnatullah: bahwa perlawanan terhadap kezaliman adalah jalan menuju kemenangan.


Makna bagi Kita Hari Ini

Bagi umat Islam, khususnya komunitas Syiah Ahlul Bait, pernyataan ini adalah panggilan untuk:

  • Menguatkan komitmen ideologis
  • Menolak relativisme moral
  • Berani mengambil posisi
  • Menghidupkan kembali semangat Karbala dalam konteks modern

Karbala bukan sekadar sejarah—ia adalah paradigma perjuangan.


Penutup: Antara Karbala dan Dunia Modern

Jika Karbala adalah simbol perlawanan terhadap tirani Yazid, maka dunia hari ini menghadirkan bentuk baru dari tirani—dengan wajah modern, teknologi canggih, dan propaganda global.

Dan seperti di Karbala, umat kembali dihadapkan pada pilihan:

  • Berdiri bersama kebenaran, meski sedikit
  • Atau larut dalam diam, meski mayoritas

Pernyataan ratusan ulama dunia ini telah menjawab dengan tegas. Mereka berbicara bukan sekadar atas nama politik, tetapi atas nama iman.

Membela Iran bukan hanya sikap politik—ia adalah manifestasi keberpihakan kepada kebenaran.


*Bagi yang ingin mengunduh dokumen klik Surat Pernyataan 700 Ulama Dunia Islam dalam Mengecam Agresi Amerika dan Zionis terhadap Republik Islam Iran (RII)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT