Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Iran, Ulama, dan Kebangkitan Peradaban Ilmu

*Oleh Ustadz Husein Shahab

Membaca Sistem Wilayah Faqih dan Tradisi Keilmuan Republik Islam Iran

Perhatian dunia hari ini tertuju kepada Iran. Di tengah tekanan geopolitik, embargo ekonomi, serta konfrontasi panjang dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran justru tampil sebagai negara yang mampu bertahan, bahkan menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan pertahanan.

Bagi banyak orang, fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apakah kekuatan Iran lahir secara tiba-tiba? Ataukah ia merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang, dibangun oleh tradisi keilmuan, kepemimpinan ulama, dan sistem politik yang khas?

Kemajuan Iran tidak dapat dipisahkan dari Revolusi Islam tahun 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Sayyid Ruhullah al-Musawi al-Khomeini. Revolusi tersebut bukan sekadar pergantian rezim, melainkan momentum kebangkitan Islam modern yang menawarkan jalan alternatif di tengah dominasi dua kutub dunia saat itu: Barat dan Timur.

Pada masa Perang Dingin, dunia seakan terpenjara di antara dua kekuatan besar: blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Di tengah situasi itu, Revolusi Islam Iran menghadirkan slogan yang sangat terkenal:

La Syarqiyyah wa la Gharbiyyah
“Tidak Timur dan tidak Barat.”

Iran menawarkan sebuah gagasan baru: Islam sebagai sistem hidup dan sistem politik yang mandiri.

Wilayah Faqih: Sistem Politik Berbasis Kepemimpinan Ulama

Salah satu konsep yang paling sering dibicarakan tentang Iran adalah sistem Wilayah Faqih. Banyak orang memahami istilah ini secara parsial, bahkan tidak sedikit yang keliru memaknainya.

Wilayah Faqih sejatinya adalah sebuah sistem politik, bukan sekadar kepemimpinan personal. Dalam sistem ini, seorang ulama fakih menjadi pemimpin tertinggi negara, yang dalam istilah modern sering disebut Supreme Leader atau Wali al-Faqih.

Perlu dibedakan antara “wilayah faqih” sebagai sistem dan “wali faqih” sebagai individu. Wilayah faqih adalah tata politiknya, sedangkan wali faqih adalah sosok yang memimpin dalam sistem tersebut.

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran dipimpin oleh para ulama besar. Sepuluh tahun pertama dipimpin oleh Imam Khomeini, lalu dilanjutkan oleh Sayyid Ali Khamenei setelah wafatnya Imam Khomeini pada tahun 1989.

Dalam perbincangan tersebut juga dijelaskan bahwa proses pemilihan wali faqih dilakukan melalui mekanisme yang ketat dan kolektif. Pemimpin tertinggi tidak ditentukan berdasarkan garis keturunan, melainkan melalui pemilihan oleh Dewan Ahli (Majlis Khubregan), yaitu dewan yang terdiri dari para ulama berkualifikasi tinggi.

Dewan ini beranggotakan sekitar 80 ulama yang telah mencapai tingkatan keilmuan tinggi (mujtahid), ditambah sejumlah ahli hukum nasional maupun internasional. Mereka dipilih melalui proses verifikasi dan pemilihan publik yang ketat.

Karena itu, anggapan bahwa kepemimpinan Iran diwariskan secara turun-temurun dianggap tidak tepat. Sistem tersebut memiliki mekanisme institusional yang khusus dalam menentukan pemimpin tertinggi negara.

Tradisi Hauzah dan Lahirnya Ulama Berkualitas

Kemajuan Iran juga tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan ulama yang sangat terstruktur. Ulama di Iran lahir dari lembaga yang disebut Hauzah Ilmiah.

Hauzah dapat disamakan dengan pesantren, tetapi dengan sistem berjenjang dan standarisasi yang sangat ketat. Seorang pelajar harus melewati tahap-tahap panjang sebelum diakui sebagai ulama besar.

Tahap awal disebut muqaddimah, yakni fase dasar yang berlangsung bertahun-tahun. Di sini para pelajar mendalami bahasa Arab, nahwu, sharaf, balaghah, mantik, dan berbagai ilmu dasar lainnya.

Setelah itu mereka memasuki tingkat suthuh ula dan suthuh ulya, mempelajari tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, filsafat, dan kitab-kitab klasik tingkat tinggi. Pada tahap ini, filsafat Islam mendapat perhatian serius. Nama-nama seperti Ibnu Sina dan Suhrawardi menjadi bahan kajian utama.

Tradisi intelektual seperti ini jarang ditemukan di banyak lembaga pendidikan Islam lain, terutama karena filsafat sering dianggap tabu.

Tahap tertinggi dalam pendidikan hauzah adalah bahsul kharij, di mana para pelajar mulai dilatih melakukan istinbath hukum secara mandiri. Dari ribuan pelajar, hanya sebagian kecil yang mampu mencapai tingkat mujtahid.

Di atas mujtahid masih ada tingkatan marja’. Marja’ adalah ulama yang telah diakui keilmuannya, kesalehannya, keluasan pengaruhnya, serta kemampuannya melahirkan murid-murid mujtahid baru. Mereka menjadi rujukan keagamaan bagi jutaan pengikut (muqallid) di seluruh dunia.

Nama-nama seperti Sayyid Ali al-Sistani, Syekh Ja’far Subhani, serta Syekh Wahid Khurasani disebut sebagai contoh marja besar di era kontemporer.

Tradisi Ilmu yang Tidak Anti Barat

Hal lain yang menarik dari Iran adalah sikap mereka terhadap ilmu pengetahuan modern. Meski memiliki konflik politik dengan Barat, Iran tidak menutup diri dari perkembangan ilmu dunia.

Banyak pelajar Iran dikirim belajar ke Eropa maupun Amerika Serikat. Menteri luar negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi, misalnya, dikenal sebagai doktor ilmu politik yang menempuh pendidikan di Inggris.

Dalam pandangan mereka, ilmu pengetahuan bersifat universal dan tidak dapat dikotak-kotakkan menjadi “ilmu Islam” atau “ilmu Barat”. Ilmu dipandang sebagai hasil akumulasi peradaban manusia lintas generasi.

Karena itu, para ulama Iran juga banyak yang menguasai filsafat Barat, psikologi, teori sosial, dan pemikiran modern. Tokoh-tokoh seperti Ali Syariati, Murtadha Muthahhari, serta Muhammad Taqi Misbah Yazdi menjadi contoh ulama yang mampu memadukan tradisi Islam dengan analisis intelektual modern.

Iran juga membangun dua jalur pendidikan secara bersamaan: hauzah untuk ilmu-ilmu agama dan universitas untuk sains modern. Dari universitas-universitas itulah lahir para saintis, teknokrat, dan ilmuwan bidang teknologi serta pertahanan.

Revolusi, Sanksi, dan Ketahanan Nasional

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran hidup di bawah tekanan embargo ekonomi dan sanksi internasional. Namun menariknya, negara tersebut tetap mampu membangun pendidikan gratis dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Dalam kondisi ekonomi yang ditekan, Iran justru mampu melahirkan kemajuan di bidang nano teknologi, teknologi militer, kedokteran, dan drone. Kemajuan itu dipandang sebagai hasil dari manajemen negara yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai prioritas utama.

Bagi banyak pengamat, kekuatan Iran bukan semata-mata soal senjata, tetapi hasil dari budaya ilmu yang dibangun selama puluhan tahun.


*Ditranskrip dari podcast Sinkos Indonesia dengan judul “Ustad Husein Syahab: Urgensi & Peran Strategis Ulama Dalam Perang Iran”.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT