Oleh: Zeinab Nadali – Jurnalis Iran
Khamenei.ir – Di media-media dunia, beliau disebut dengan berbagai gelar: Ayatollah Khamenei, Pemimpin Kaum Muslimin, Sayyid Ali, Ayatullah, Pemimpin Iran, hingga “Supreme Leader”. Namun istilah “Supreme Leader” sering kali dipresentasikan oleh media-media permusuhan dengan nuansa tirani dan kediktatoran. Bayang-bayang kata “diktator” kerap menutupi seluruh sisi lain dari kepribadiannya.
Tetapi kali ini, kisah tentang dirinya tidak datang dari lisan para jurnalis atau propaganda politik. Kisah itu justru berbicara melalui dinding-dinding tua di Jalan Keshvar Dost — jalan tempat beliau tinggal selama bertahun-tahun. Dinding-dinding bata yang menjadi saksi bisu kehidupan seorang pemimpin yang kini telah syahid.

Banyak orang mungkin membayangkan jalan tempat tinggal seorang pemimpin besar akan tertutup rapat, dipenuhi penjagaan ketat, dan jauh dari rakyat biasa. Namun Jalan Keshvar Dost tidak demikian. Hingga pagi terjadinya serangan, jalan itu selalu terbuka bagi masyarakat. Pertemuan-pertemuan berlangsung hangat dan sederhana. Pada berbagai kesempatan, beliau duduk bersama rakyat, mendengar langsung keluhan dan harapan mereka.
Jalan itu selalu ramai dan hidup. Mata para pejalan berbinar ketika berkesempatan melihat pemimpin mereka dari dekat. Bagi rakyat Iran, beliau bukan sekadar figur politik, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Kini jalan itu tetap ramai, tetapi dengan suasana yang berbeda. Orang-orang datang membawa kesedihan. Mereka duduk di atas batu-batu trotoar, menumpahkan kerinduan, dan mengenang hari-hari ketika sang pemimpin masih hadir di tengah mereka.

Di sela arus manusia itu, dinding-dinding Jalan Keshvar Dost berubah menjadi lembar sejarah. Ribuan tulisan tangan memenuhi bata-bata jalan tersebut. Setiap kalimat menjadi kesaksian tentang cinta, kehilangan, dan penyesalan rakyat terhadap pemimpin mereka.

Salah satu tulisan berbunyi:
“Aku masih tidak percaya engkau telah pergi, bahkan setelah melihat reruntuhan ini.”
Tulisan lain berkata:
“Dua bulan telah berlalu, tetapi aku masih menunggu kabar yang membantah rumor ini.”
Ada pula yang menuliskan:
“Aku berharap semua ini hanyalah mimpi buruk.”

Kalimat-kalimat seperti ini memenuhi dinding jalan itu. Seolah rakyat belum mampu menerima kenyataan bahwa pemimpin mereka telah tiada.
Sebagian lainnya telah menerima kenyataan pahit tersebut, tetapi mereka tidak sanggup menanggungnya. Mereka menyadari bahwa kehilangan itu lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.
“Tuan yang mulia, aku tidak pernah bertemu langsung denganmu, tetapi kehilanganmu lebih berat daripada kehilangan orang terdekatku.”
“Seluruh ketenanganku hilang; hidup tanpa dirimu begitu sulit.”
“Aku tak pernah membayangkan dunia tanpa dirimu.”
Bahkan ada ungkapan yang sangat menyayat hati:
“Seandainya nyawaku yang diambil dan engkau tetap tinggal, maka demi Allah aku akan menyambut kematian dengan penuh kerelaan.”
“Aku selalu berdoa agar umurku dipendekkan dan umurmu dipanjangkan, tetapi ternyata aku tidak pantas untuk doa itu.”
“Aku menangis karena takut hidupku berlanjut setelah kepergianmu.”
Tulisan-tulisan itu menunjukkan bahwa hubungan rakyat Iran dengan pemimpin mereka bukanlah hubungan formal antara penguasa dan warga negara. Bahasa yang digunakan bukan bahasa politik yang kaku, melainkan bahasa cinta seorang anak kepada ayahnya, atau seorang murid kepada guru ruhaniahnya.
Seorang putri syahid menulis dengan huruf tebal:
“Engkau seperti ayah bagi kami.”
Tulisan lain mengungkapkan:
“Semua semangatku untuk belajar berasal darimu. Aku termotivasi ketika engkau berkata: ‘Anak-anakku tercinta, belajarlah dengan baik.’ Sekarang bagaimana aku hidup tanpa dirimu?”
Seorang ibu menuliskan:
“Tuan yang mulia, ketika engkau menasihatiku tentang mendidik anak-anak, aku membesarkan keempat anakku berdasarkan nasihatmu. Aku selalu berharap suatu hari diundang ke rumahmu, tetapi bukan seperti ini. Aku bersumpah, aku dan anak-anakku siap berkorban demi Islam.”
Kehadiran beliau bahkan membekas dalam detail-detail kecil kehidupan rakyat. Ada yang menulis:
“Kami sebenarnya berencana pindah dan tinggal di sini, tetapi setelah kepergianmu, tak ada lagi alasan untuk datang.”
Dan ada pula yang berkata:
“Setelah lima tahun, Allah memberiku dua anak perempuan. Seharusnya aku menjadi manusia paling bahagia di dunia, tetapi dunia tanpa dirimu tak lagi memiliki makna.”
Namun tulisan-tulisan di dinding itu juga mengungkap kenyataan lain: tidak semua orang dahulu mencintainya sedalam itu. Ada yang pernah termakan propaganda media dan memiliki gambaran buruk tentang dirinya. Akan tetapi, setelah kesyahidannya, sebagian dari mereka mulai mengenalnya kembali dengan lebih jujur.
Seseorang menulis:
“Engkau adalah lelaki paling pemberani di Iran; seandainya aku menyadarinya lebih awal.”
Yang lain menulis:
“Maafkan aku karena pernah mengulang kebohongan-kebohongan tentang dirimu.”
Permintaan maaf seperti ini tersebar di banyak bagian dinding. Kritik berubah menjadi pengaguman. Tuduhan berubah menjadi penyesalan.
Jalan Keshvar Dost kini telah menjadi bagian dari sejarah. Mungkin bertahun-tahun ke depan, orang-orang tidak lagi menyaksikan kerumunan besar yang dahulu datang untuk melihat pemimpin mereka. Bisa jadi tak tersisa lagi jejak kerinduan kolektif itu.
Namun apabila seseorang suatu hari menempelkan telinganya pada dinding-dinding jalan tersebut, mungkin ia masih akan mendengar bisikan rakyat Iran:
“Di tempat ini pernah hidup seorang pemimpin yang mengorbankan dirinya demi rakyatnya.”